Kasus


Jumat 13 Agustus 2010. Jakarta Selatan.

Perfect Mother.

“ Ibu yang sempurna? ”

“ Apa kau bilang? Tattoo itu lagi? Sudah jelas, Ray, ini adalah pembunuh yang sama. Karakteristik mayat memiliki kesamaan dengan 7 mayat sebelumnya.”

“ Ya, tetapi aku masih belum mengerti apa motif dibalik pembunuhan berantai ini.”,

“ Itulah tugas kita, bukan, Ray? ”, ujar Michael kepada partner kerjanya, sambil membakar rokok ditangan kanannya.

“ Ya, tapi semakin lama kasus ini justru membuatku depresi, Mich.”, suara Ray terdengar lelah dan parau. Lelaki berbadan atletis itu menatap nanar kepada mayat seorang perempuan yang diduga berusia 23 tahun. Ia pun memberikan kode kepada timnya untuk membawa jenazah ke rumahsakit agar dapat diotopsi.

“ Haahh……apa sebenarnya yang diincarnya? Kasus ini gila, pelaku ini gila.”

“ Hahaha tenang, Ray, kita pasti bisa menangkapnya. Kita hanya perlu bersabar dan teliti hingga ia melakukan kesalahan yang menguntungkan kita”

“ Sudah kubilang, ini lebih dari satu orang, Mich. Dugaanku ini seperti eksperimen ekstrim yang mengujicobakan sesuatu kepada perempuan-perempuan ini…..”

“ ….atau anaknya”, potong Michael. Perkataan Michael membuat Ray tertegun dan berpikir. Ia melayang jauh dalam lamunannya.Ia pun mulai memikirkan semua korban.

“ Ya, sepertinya kita harus membuat ulang pola kejahatan, motif-motif yang memungkinkan, dan karakteristik korban. Ayo kita ke kantor!”

“ Hei! Sabarlah, Ray! Rokokku masih setengah! Hei….HEI! Ah, sial, selalu saja meninggalkan aku, ckckckck”, Michael pun berjalan dibelakang Ray yang berlari menuju mobil Honda Jazz hitam.

“ AH! Pantas saja kau tidak mengejarku! Cepat ke sini! Lemparkan kuncinya!”

” Hahaha, sudah kuduga! Kali ini aku yang bawa mobil. Kau sedang tidak fokus.”

“ Ah! ”, desah kesal Ray sambil berjalan memutari mobil. Ia pun membuka pintu dan duduk di kursi depan. Lalu sejenak ia berpikir.

“ Hmmm…..thank you, Mich! Aku emang butuh istirahat sejenak. ”

I know you so well, pal! Take a rest, Michael does the rest” , ujar Michael sambil menepuk-nepuk dadanya. Ray hanya cekikikan melihat tingkah laku rekan kerjanya itu. Tak lama, ia pun larut dalam lamunannya.


Mari kita pikirkan kembali!

Semua korban memiliki persamaan. Pembunuh ini memiliki karakteristik korban. Ketujuh korban merupakan perempuan dengan usia 21-23 tahun, memiliki tinggi tubuh 165-170 cm, berat tubuh 48-54 kg, dan rambut hitam panjang.

Mayat korban ditemukan dalam kondisi yang sama pula yakni kehabisan darah, dehidrasi, memiliki luka disepanjang perut yang diduga luka sesar, rahim masih terdapat gumpalan darah seperti sehabis melahirkan, dan vagina yang mengalami pembesaran ukuran. Dugaan kuat, korban meninggal pasca melahirkan. Ditangan kanan dan kiri korban terdapat tanda bekas injeksi atau tusukan jarum. Bagian hidung korban dan kisaran telinga pun terdapat bekas merah seperti saluran oksigen ke hidung. Dugaan sementara korban sebelumnya berada pada perawatan medis.

Hasil otopsi memperkuat asumsi ini. Obat bius jenis propofol dan sodium thiopental dalam tes darah korban. Korban diperkirakan meninggal dalam keadaan tidak sadar karena bius. Korban berada pada kondisi koma. Bagian dada korban pun terdapat bekas tempelan yang diduga merupakan alat untuk monitoring jantung.

Permasalahannya, kenapa aku belum juga bisa menemukan petunjuk lain untuk mengembangkan kasus ini? Apa sebenarnya yang ia inginkan dengan membius, menghamili, dan membunuh ketujuh perempuan ini?

Tunggu.

Menghamili? Kenapa ia menghamili korban? Jika memang ia merupakan seorang ilmuwan gila, mengapa ia perlu menghamili korbannya? Bagaimana caranya? Apakah ia seorang sexual predator? Tidak. Itu terlalu aneh.

Tunggu. Tunggu.

Dokter Oz mengatakan bahwa setiap korban diduga telah melahirkan lebih dari satu kali. Selain itu, jarak antar mayat tidaklah terlalu lama. Jarak waktu hilangnya para korban pun tidak terpaut jauh. Ketujuh korban memang berbeda daerah tetapi ada kemungkinan mereka hamil pada waktu yang relatif bersamaan.

Ah! Aku sudah tidak waras sepertinya.


“ Ray ”, panggil Michael

…………..

“ Ray “, Michael memanggil lebih keras lagi.

…………..

“ Woi Ray! ”, teriak Michael tepat di telinga Ray. Teriakan Michael jelas membuat Ray tersontak dari jok mobil. Ia terperanjat dan menatap heran kepada Michael.

“ Buset deh! Itu HP bunyi daritadi. Getar juga, masa iya enggak berasa ? ckckck.”, Michael menggelengkan kepalanya. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju kantor.

“ Oh….tut…(menerima telepon) Halo, Pak…..Iya, Pak……saya masih belum bisa memberikan dugaan lain…..Iya, masih belum ada petunjuk mengenai motif pelaku, Pak……Saya dengan Michael sekarang menuju kantor…..Baik Pak…..Selamat malam, Pak…tut (menutup telepon)..”

“ Ada apa, Ray ?”

“ Ada petunjuk baru kata Pak Joki. Kita disuruh secepatnya ke kantor.”

“ Oalah, kirain nitip makan ahahahaha ”

“ Iya itu juga, baru mau bilang ”

“ Hmmmm, puter balik deh. Pasti doi minta AW kan? Ah, Pondok Labu deh”

“ Iya ya, sampe afal kita ahahaha. Sini aku yang nyetir, Mich, biar cepet”

“ Oke oke ”, Michael pun menepikan mobil dan mereka bertukar tempat duduk.

 


BRAK!

Suara tumpukan berkas menghantam meja.

“ Ini data keenam korban dan data awal korban ketuujuh. Coba kalian lihat kembali.”, perintah Pak Joki yang kemudian berjalan menjauh sambil membawa plastik AW berisi pesanannya. Tinggalah Ray dan Michael di rungan Pak Joki yang memulai membuka berkas demi berkas.

“ Apa maksudnya? Kita sudah beberapa kali membuka dan menilik berkas-berkas ini.”, Michael menggerutu.

“ Ray, kau sajalah. Jika Pak Joki memiliki informasi baru kenapa tidak langsung memberitahukannya? Selalu saja lempar batu sembunyi tangan.”

“ Hahaha, kau ini. Bagaimana kau akan menemukan info baru kalau dibenakmu penuh dengan rasa kesal? Sudah ayo bantu aku.”

Srek…srek…..srek…..

Hanya suara lembar demi lembar kertas serta desau nafaas yang terdengar.


Apa yang dimaksudkan Pak Joki? Aah! Pria tua itu selalu saja membuat teka-teki. Hmmm, bila kulihat dari reaksi wajahnya tadi ketika memberikan berkas, sepertinya informasi ini menarik. Informasi penting. Apa mungkin di dalam berkas ini sebenarnya sudah jelas? Apa aku yang tidak jeli?

Sial! APA?!

………..

Berkas ini hanya mengenai keterangan tentang korban. Latar belakang korban. Kehidupan korban dan bla-bla-bla. Aku sudah membacanya berkali-kali. Mereka semua hilang ketika selesai beraktivitas. Tidak ada yang bersama mereka ketika hilang. Tidak ada hubungan pula perempuan ini antara satu dengan yang lain.

Maya. 23 tahun ditemukan tewas dengan pakaian pasien pada Jumat 25 Desember 2009 berdekatan dengan rumah sakit Panti Rapih Jogja.

Desty. 21 tahun ditemukan dalam kondisi yang sama Jumat 29 Januari 2010 berdekatan dengan rumah sakit Premier Surabaya.

Kusuma. 21 tahun ditemukan dalam kondisi serupa pada Jumat 9 Apirl 2010 berdekatan dengan rumah sakit PMI Bogor.

Citra. 23 tahun ditemukan dalam kondisi serupa pada Jumat 21 Mei 2010 berdekatan dengan rumah sakit Sari Asih Karawaci.

Bella. 22 tahun ditemukan dalam kondisi sama pada Jumat 30 Juli 2010 di dekat rumah sakit Mekar Sari Tangerang.

Tika. 21 tahun ditemukan dalam kondisi yang serupa Jumat minggu lalu di dekat rumah sakit Permata Depok.

Terakhir. Annisa. 23 tahun.


“ Masa enggak nemu juga?”, pertanyaan Pak Joki mengembalikan Ray dari alam pikirnya.

“ Belum, Pak.”

“ Walah, Ray…Ray…Mereka itu semua dulunya mahasiswa cerdas. Liat itu. Punya prestasi nasional dan internasional juga ada. Lulus pun tepat waktu dan nilai cum laude. Fisik mereka serupa.”

“ Jadi pelaku mengincar perempuan berprestasi?”

“ Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari intel kita. Kasus ini sepertinya berkaitan dengan kasus perjualan bayi dari Indonesia yang meningkat.”

“ Hmmm…..pernah dengar sih omongan orang mengenai ibu yang cerdas akan cenderung melahirkan anak yang cerdas. Anehnya saya pikir itu mengenai pola asuh bukan secara biologis.”

“ Michael, itu berdasarkan penelitian. Hmmm saya juga tidak tahu hahahaha. Ah sudahlah, kalian pulang dulu sana, sepertinya sudah tidak fokus.”

“ Nah itu yang saya tunggu daritadi”, Michael menyambut perkataan Pak Joki dengan senang sambil beranjak dari tempat duduknya. Ketika ia berdiri, ia menyadari Ray masih menatap berkas dan terlihat berpikir keras.

“ Sudahlah bung. Ayo istirahatkan dulu otakmu itu. Nanti malah kau yang jadi berkas tambahan, ‘polisi reserse ditemukan tewas kelelahan karena kasus pembunhan berantai tak terpecahkan’, hahahaha, keren juga”

“ Hehehe sue lu! Ayolah. Mari Pak Joki. Terimakasih buat info tambahannya ya, Pak.”, Ray pun bangkit dari kursinya lalu menepuk pundak Pak Joki.

Michael pun berjalan keluar ruangan diikuti dengan Ray. Keduanya larut dalam lamunan masing-masing.

“ Ray, duluan ya. Si Meira udah khawatir daritadi. Ini istri rasa rentenir bank, teror telepon sama sms.”, ujar Michael memecah keheningan sembari mengenakan semua kelengkapan berkendaranya.

“ Ahahahah iya sana, hati-hati, Mich”

“ Sip! Hati-hati juga, bro.” Michael pun menjalankan motornya dan pergi menjauh. Hanya Ray yang masih berdiri terdiam menatap motor Pulsar miliknya.


Hmmm…orang macam apa yang menculik perempuan cerdas dari berbagai daerah kemudian menghamilinya dan menjual bayinya? Apa maksudnya? Jika memang untuk generasi yang cerdas……ah tidak tidak. Terlalu aneh.

Atau ini seperti berita stem cell ? Bayi tersebut untuk dikonsumsi? Ibu dicari yang berkualitas sehingga bayi juga memiliki kualitas tinggi? Ah, gila! Lama-lama aku yang gila.

Harus bilang apa untuk laporan kepada media? ‘Kasus masih dalam investigasi’? Sudah tujuh perempuan meregang nyawa.

Perempuan cerdas? Hmm….

Eh, tunggu!

Kalau begitu, aku perlu mencari daftar orang hilang yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Ya..ya! Benar! Lalu apakah perlu mengatakan kepada media mengenai ciri-ciri korban? Sepertinya perlu. Setidaknya perlu untuk adanya pencegahan.

Hmmmm…..

Aku harus berbagi tugas dengan Michael. Data ini harus secepatnya terkembul. Ahh…..hari Sabtu dan Minggu, pasti Meira akan mengomeliku kalau mengajak Michael pergi. Baiklah. Istirahat satu atau dua hari tidak menjadi masalah, bukan?

Ya, Sabtu dan Minggu aku akan membuat daftar tempat dan jalur pencarian data orang hilang. Sekali jalan bisa berhenti dibeberapa tempat. Ya, efektif.


“ Jadi gimana, Pak hasil dari olah TKP dan otopsi?”

“ Apakah kasus masih berkatan dengan yang sebelumnya?”

“ Apakah sudah ada nama palaku?”

………….

Media menyerbu dengan berbagai pertanyaan kepada juru bicara Polda Metro Jaya, Pak Ahmad. Ia pun menjelaskan semua yang telah diberitahukan kepadanya oleh Ray, Michael, dan Pak Joki.

“…..kemungkinan pelaku terlibat dalam perdagangan manusia, bayi dari setiap korban. Karakteristik korban pun sudah kami paparkan dan akan kami buat himbauan untuk pencegahan.”, kalimat tersebut menutup jumpa pers pihak kepolisian dengan media, meski media merasa masih belum puas dengan penjelasan yang diberikan.

Senin, Jumat 20 Agustus 2010.

Polisi Ditemukan Tewas Tergantung di Rumah

Polisi Tewas Ditabrak Truk Pasir

Kasus Tidak Terpecahkan, Polisi Bunuh Diri

Honda Jazz Hitam Polisi Ditabrak Truk Hingga Remuk, 2 Korban Tewas

Dua Anggota Reskrim Tewas: Adakah kaitan dengan tujuh mayat misterius?’

…………….

“ Pak, hasil otopsi sudah keluar. Ray terkena bius salah saru jenis anastesi total sedangkan Michael terkena bius chloroform. Ditubuh Ray terdapat bekas memar karena pukulan benda tumpul. Ini bukan gantung diri, Pak. Michael pun dari rekaman CCTV tidak terlihat jelas kondisinya di dalam mobil. Resolusi tidak memadai.”

“ Lima orang sudah tewas karena kasus ini. Ini bukan kasus biasa.”, ujar Pak Joki.

“ Pak, ini ada email masuk, kemarin jam 17.47 WIB dari Ray….”,

“ Apa, Riska? Itu…”

“ Iya, Pak, sebelum Ray meninggal pada malam harinya.”, sambung Riska, sekretaris Pak Joki.

“ Apa isinya ?”

“ Daftar nama orang hilang……dari berbagai daerah…….”

“ Semuanya sesuai dengan karakteristik korban. Hmmm….Ray mengumpulkan informasi ini bersama Michael.”

Hening.

“ Pelaku memiliki keterkaitan dengan orang dalam kepolisian. Kita semua harus berhati-hati. Rekan intel kita yang mengawasi perdagangan manusia pun sudah tiga orang yang terbunuh. Sepertinya pelaku sedang mengawasi.”

“ Lalu bagaimana, Pak? Apa yang harus kita lakukan?”

“ Tenang dulu. Mari kita persiapkan untuk pemakaman Ray dan Michael. Setelah itu baru kita bahas kasus ini lagi.”



Ide awal cerita dari The Blacklist.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s