Catatan Harian Lokakarya Seni – Hari Kelima: “Fotografi”

12070636_553774231444943_2048608199_n

Mau tak mau, aku datang terlambat ke basecamp wepreventcrime, di lokakarya hari kelima. Sebelumnya, aku menikmati diskusi dengan Zikri di sebuah tempat mengenai kelanjutan karyaku dalam Lokakarya Seni SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI.

“Tidur dulu, Zik. Ngantuk berat gue, nih!”

“Tidurlah. Gue juga ngantuk. Udah jam 5 pagi pula.”

“HAH…. Jam lima pagi? Harus tidur kalo begitu, mah!”

“Pagi-pagi bangunin gue yang, Meik”

“Pagi jam berapa? Waduh, mana entar jam 10 harus lokakarya lagi di basecamp, baru inget lagi, gue. Udahlah, tidur dulu aja.”

Aku sempat terbangun pukul sembilan pagi, di tempat aku berdiskusi dengan Zikri. Tentunya dengan sedikit rasa kantuk yang masih tersisa. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Aku berpikiran, mandi dan makan menjadi jawaban untuk menyegarkan badan dan mataku kembali. Ternyata, alasanku untuk mandi dan makan di rumah adalah pilihan yang salah. Perjalananku pulang ke rumah sungguh menyiksa, perasaan kantuk yang hebat malah kembali datang saat mengendarai motor, ditambah mataku yang semakin berat untuk melek ketika aku harus menahan hembusan angin.

12080544_1487470791554451_516754156_n

Singkat cerita, aku ketiduran di rumah. Memilih untuk sejenak mengistirahatkan mata, sebab kedua mataku malah semakin berat untuk melek dan tidak kuat untuk menerima hembusan angin lagi ketika harus mengendarai motor. Untungnya, aku hanya tertidur sebentar, karena kaget ketika waktu menunjukan pukul setengah duabelas siang. Aku langsung mengambil smartphone-ku dan menghubungi Rayhan melalui whatsapp.

“Masih di sana?? Gue ketiduran, nih…” tulisku di whatsapp yang aku kirim kepada Rayhan.

“Iya, datang aja! Belum mulai, kok…” balas Rayhan.

Membaca chat dari Rayhan, langsung saja aku mandi dan makan. Tepat pukul setengah satu aku sudah berada di basecamp wepreventcrime. Seperti dugaanku, aku terlambat. Lokakarya hari kelima sudah dimulai. Lokakarya hari itu, merupakan lokakarya hari kelima dengan Tyas Wardhani Pusposari sebagai pematerinya. Tyas, biasa ia kami sapa, merupakan alumni S1 Kriminologi, Universitas Indonesia. Ia merupakan salah satu anggota angkatan pertama wepreventcrime. Saat berada di wepreventcrime, Tyas aktif berkarya dan ditugaskan sebagai fotografer untuk buletin wepreventcrime. Hingga hari ini, Tyas aktif sebagai  fotografer independen. Oleh karena itu, Tyas dihadirkan sebagai pemateri lokakarya hari kelima untuk berbicara mengenai fotografi.

10358330_1633310786941952_404799378_n

Ada yang menarik pada lokakarya hari kelima, Rabu, 14 Oktober, 2015. Walaupun bertepatan dengan hari libur keagamaan (Tahun Baru Islam: 1 Muharram), para peserta lokakarya tetap semangat untuk hadir dalam lokakarya. Mereka juga turut aktif dalam berdiskusi. Menanggapi keaktifan itu, Tyas berbagi pengalaman dan wawasan mengenai fotografi. Dalam materinya, Tyas banyak menjelaskan mengenai teknik dalam fotografi. Mulai dari jenis-jenis fotografi, pencahayaan, pemilihan warna, sudut pengambilan gambar, jenis-jenis presentasi fotografi, tips dan trik saat mengambil gambar, cara menyusun ide, dan masih banyak lagi. Selain itu, Tyas, juga menjelaskan mengenai jenis-jenis fotografi, ada yang disebut dengan single photo, photo story, dan photo essay.

Untuk mendukung materi presentasinya, Tyas menunjukan sebuah buku, berupa karya fotografi, yang berjudul “The Riders of Destiny” karya Romy Perbawa. Karya itu berbicara mengenai fenomena pacuan kuda yang berada di daerah Nusa Tenggara Barat. Karya fotografi itu bercerita juga mengenai fenomena joki anak dalam pacuan kuda, di mana budaya pacuan kuda malah menjadikan anak-anak harus bekerja, menjadi joki pacuan kuda. Tyas menjelaskan, bahwa untuk menciptakan karyanya, Romy Perbawa harus tinggal dan menetap selama empat tahun. Mungkin karena hal itu, aku beranggapan, karya Romy Perbawa, terasa begitu dekat dengan apa yang dibicarakan dalam karyanya itu. Aku juga membayangkan, banyaknya foto yang dihasilkan oleh Romy Perbawa dalam jangka waktu empat tahun tersebut, walaupun dalam buku fototrafinya, hanya beberapa foto saja yang ia muat.

12106142_976252542441955_48543703_n

Menurut saya, ada hal menarik yang Tyas kemukakan dalam materinya. Pertama, Tyas menjelaskan bahwa jangan menghapus foto yang hasilnya blur atau jangan meremehkan foto yang hasilnya blur. Dalam konteks photo story, menurut Tyas, foto yang hasilnya blur, dapat menjadi bagian dari cerita yang diungkapkan dalam rangkaian photo story. Kedua, mengutip sebuah kalimat Bahasa Inggris yang dipresentasikan oleh Tyas, Remember strory telling take practice. You don’t have to be an incredible writer. All you need is a bit of photographic technique, some creativity, and lot of heart.”  Intinya, kita harus benar-benar mencurahkan hati kita dalam fotografi, karena dengan demikian, kita akan mendapatkan karya fotografi yang bagus. Menurutku, hal itu juga dapat dilakukan dalam semua bidang pekerjaan atau aktivitas. Sebab, jika kita benar-benar mencurahkan hati, tentu saja kita akan total dalam proses pengerjaanya. Hingga pada akhirnya, cepat atau lambat, sesuai dengan proses, kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

11348193_477822159065995_1356329077_n

Tidak dipungkiri lagi, cuaca lokakarya hari kelima begitu panas. Bahkan ada beberapa peserta lokakarya yang sempat mengeluh karena kegerahan. Atas inisiatifnya sendiri, Rayhan pergi sendirian untuk membeli rujak dan buah-buahan, semangka, melon, dan nanas. Efeknya, para peserta yang sempat kegerahan, kembali bersemangat untuk melanjutkan ke sesi selanjutnya. Sesi berikutnya adalah para peserta diminta untuk mem-breakdown rencana karya yang akan mereka buat masing-masing. Dimulai dengan Akbar, ia menjabarkan karyanya yang rencananya akan berbicara mengenai “Mobilitas Warga Kober”. Dalam menjabarkan konsep dan indikator karyanya, kami, para peserta lokakarya, berusaha untuk membantu Akbar dalam menjabarkan dan mengelaborasikannya dalam konteks disiplin kriminologi.

12063206_974574085937406_3170008_n

12142189_1508411359482119_2012394027_n

Berikutnya adalah Marrie. Peserta lokakarya ini, melalui konsep dan indikator yang ia pilih, dalam breakdown karyanya ia memaparkan bahwa ia ingin berbicara mengenai bunyi (atau audio) yang dapat membatu warga Kober dalam mencegah kejahatan. Sebenarnya, apa yang dibicarakan Marrie berkaitan dengan mata kuliah kriminologi, bernama “Strategi Pencegahan Kejahatan”. Jadi, melalui suara-suara yang sering lalu-lalang di telinga warga Kober, kira-kira mana yang dapat membantu warga Kober untuk mencegah kejahatan. Oleh karena ide itu berkaitan dengan Kriminologi, Marrie dapat berangkat dari konsep “kriminologi audial” dalam mengelaborasi karyanya. Konsep yang masih baru menurut Marrie, dan ia sendiri mengaku baru mendengar konsep itu saat lokakarya.

12144104_1024634767560245_1572445527_n

12144179_169363426740440_1793144862_n

Berikutnya, Kokok, yang mendapatkan giliran ketiga untuk menjabarkan karyanya. Kokok, dalam rancangan karyanya, yang tergambar dalam konsep dan indikator yang ia rancang, membicarakan konstruksi dan kapitalisasi kecantikan perempuan melalui kosmetik. Para peserta yang mayoritas adalah laki-laki, sempat mengalami kesulitan ketika harus membantu Kokok. Oleh karena itu, kami meminta bantuan Merrie, salah satu peserta perempuan dalam lokakarya, dalam mengkategorisasi jenis-jenis kosmetik yang sering digunakan oleh perempuan. Bukan tanpa alasan mengapa Marrie kami minta bantuannya. Sebab, menurut pengalaman pribadinya, Marrie juga akrab dengan berbagai macam kosmetik.

Niatnya, para peserta harus bergantian untuk mejabarkan karyanya dalam konsep dan indikator. Akan tetapi, banyak peserta yang belum mempunyai ide besar yang matang untuk pembuatan karyanya. Sebagian besar dari mereka masih saja bingung. Menurut pengamatanku, mereka semua masih terjebak dalam ide yang terlalu luas (tidak menemukan fokus) dan medium yang akan dipakainya nanti.

Untungnya, Zikri juga turut hadir dalam proses penjabaran karya para peserta saat itu. Oleh karenanya, para peserta mendapatkan sedikit bantuan dan pencerahan untuk dapat mengelaborasi ranah seni dengan ranah krminologi hingga dapat dibicarakan dengan konteks kriminologi. Dalam membantu para peserta, Zikri juga memberikan referensi beberapa contoh karya yang telah ada sebelumnya. Hal itu, selain dapat membantu peserta memberikan gambaran mengenai konsep dan indikator dalam penjabarannya, juga memberikan opsi para peserta dalam memilih medium karya nantinya.

12135158_1077891142244504_1424925439_n

Aku sendiri lupa pukul berapa lokakarya hari kelima itu berakhir. Sebab, pada akhirnya, aku, Zikri, dan Akbar memutuskan untuk menginap di basecamp wepreventcrime karena kelelahan. Sebenarnya, dari tadi, dengan susah payah aku berusaha menahan rasa kantuk yang masih tersisa. Memilih untuk tidak mengambil risiko, akhirnya aku memutuskan untuk menginap saja. “Daripada celaka di jalan,” pikirku.

Hari itu, dalam lokakarya hari kelima, banyak hal yang dibicarakan (bahkan berlanjut setelah kegiatan lokakarya selesai). Mulai dari medium foto yang ternyata bisa digunakan oleh semua peserta, sampai pekerjaan yang harus dikerjakan oleh peserta untuk memikirkan ide besar, konsep, dan indikatornya. Kelelahan yang kurasakan juga bukan tanpa hasil, diskusi dengan Zikri sampai begadang, membuat aku berhasil menjabarkan ide besar karyaku. Akan tetapi, jujur saja, aku sendiri pun masih mengalami kebingungan dalam memilih mediumnya.

Mudah-mudahan, pertemuan lokakarya berikutnya kami bisa menajamkan lagi rencana karya yang akan kami buat. Semoga saja!

Jakarta, 15 Oktober 2015
Andreas Meiki Sulistyanto
wepreventcrime


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s