Catatan Harian Lokakarya Seni – Hari Keempat: “Aktivisme Visual”

12107413_1172867752730151_194304002_n

“Abi…”

Aku berteriak ketika melihat sosok yang menjadi pemateri hari ini sedang mengendarai motor maticnya, persis di depan Gang Kober, Jalan Margonda Depok. Namun, orang yang kupanggil tidak mendengar dan ngeloyor pergi begitu saja dengan motornya. Maklum saja, suasana Jalan Margonda pada pukul setengah lima sore pasti penuh dengan suara bising kendaraan bermotor, karena bertepatan dengan jam sibuk, jam menjelang waktu pulang kantor. Tanpa basa-basi, karena aku tahu, pemateri hari ini tidak tahu letak basecamp wepreventcrime, langsung saja aku nyalakan sepeda motorku untuk mengejarnya. Singkat kata, kami berdua sampai ke tempat tujuan, dengan sedikit melanggar peraturan lalu lintas.

Ketika sampai di basecamp wepreventcrime, ruangan yang biasa dipakai untuk lokakarya juga telah disiapkan oleh tuan rumah, Rayhan. Tapi, lagi-lagi hal begini terjadi di awal-awal kegiatan lokakarya, baru hanya dia yang berada di sana. Sambil menunggu kedatangan peserta lain, aku, Rayhan, dan Abi Rama, menyempatkan diri ngobrol-ngobrol singkat mengenai pameran yang akan diselenggarakan di Galeri Nasional dengan tajuk, “BEBAS TAPI SOPAN”, salah satu pameran seni yang harus kami, peserta Lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI, datangi. Sebab, mendatangi pameran itu, sudah dijadikan tugas oleh pemateri di hari terakhir lokakarya, Mahardika Yudha.

Tidak lama kemudian, para peserta lain pun mulai berdatangan. Ada yang datang sendirian, berkelompok, dan ada pula yang minta tolong untuk dijemput.

“Bi, pembukaan BEBAS TAPI SOPAN itu hari Senin, kan?” tanyaku

“Iya, hari Senin,” Jawab Abi.

“Emang, hari Senin, Meik?” tanya Rayhan kepadaku, mengulangi.

Liat aja kalender, deh, coba!”

“Iya, Han. Hari Senin.”

Sebelum lokakarya dimulai, aku, Rayhan, dan Abi Rama, menyempatkan diri berdiskusi mengenai cara agar warga sekitar mau terlibat dengan rangkaian acara pameran kami nantinya.

12120347_1633625140220540_1709469143_n

Warga terlibat. Itu menjadi salah satu tujuan utama dari proyek sosial kami. Abi Rama mengatakan, bahwa kami harus melakukan pendekatan kepada Ketua RT dan pemuda yang memang ‘memegang’ wilayah ini. Sebab, sebagai pendatang, kami tidak bisa dengan begitu saja mengadakan acara yang sudah kami rancang. Misalnya saja, pameran karya seni rupa, musik, menonton film, dan diskusi. Tanpa aku sadari, hal inilah yang nantinya yang akan didiskusikan dalam materi hari itu.

Selasa, 13 Oktober, 2015. Demi menjaga intensi diskusi, tanpa mengenal lelah, diskusi harus terus dijalankan, tentunya dengan materi yang berbeda dan pembicara yang berbeda. Dengan menghormati kegiatan beribadah, kami semua sepakat untuk memulainya tepat setelah maghrib. Sebenarnya, materi hari itu sangat menarik perhatianku. Sebab, selain masih berhubungan dengan tema dan materi hari sebelumnya, pembicara di hari keempat itu merupakan salah satu seniman muda yang sedang naik daun, tetapi namanya sebagai street artist sudah lama dikenal: Lykerex.

Abi Rama, atau biasa dipanggil Abi, merupakan seorang seniman dan pegiat Visual Jalanan. Dalam penjelasannya ketika menyampaikan materi, Visual Jalanan merupakan jurnal rekam berbasis online berisikan tulisan dan visual mengenai aktivitas di jalanan, baik di Indonesia maupun luar negeri. Dalam perkembangannya, pada tahun 2013, Visual Jalanan menggunakan sarana Instagram sebagai media mereka untuk “bermain-main” dengan visual. Hasil dari “main-main” itu dapat dilihat dengan tagar Visual Jalanan (#visualjalanan) yang sudah mencapai 10.000 lebih. Hadirnya Visual Jalanan di Instagram, tidak dipungkiri lagi, membuat masyarakat sadar akan visual-visual yang ada di jalanan.

12120347_1633625140220540_1709469143_n (2)

Ada yang berbeda antara Abi dengan pemateri-pemateri sebelumnya. Jika pemateri yang sebelumnya lebih banyak menyampaikan konsep dan contoh karya dari seniman-seniman lain, Abi menyampaikan materinya dengan cara berbagi pengalamannya sebagai seniman dan juga contoh karya seni yang ia cipatakan sendiri. Misalnya saja, sebuah karya dari Klub Karya Bulu Tangkis (sebuah kelompok seni di mana Abi tergabung di dalamnya), berupa instalasi yang persis berada di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, memanfaatkan konstruksi pembangunan monorel yang tidak jelas kelanjutannya. Menurut Abi, instalasi ini berusaha untuk memanfaatkan ruang sebagai sarana berkarya. Instalasi ini bertahan selama sebulan, sebelum akhirnya dicopot oleh pihak pemkot.

Dari banyak karya yang diberikan Abi sebagai contoh, ada salah satu karya yang cukup aku suka. Karya itu merupakan sebuah karya yang diciptakan oleh Klub Karya Bulu Tangkis dengan judul “Petualangan Nasi Uduk.” Karya ini sempat dipamerkan di ARTE Indonesia Arts Festival 2014. Melalui karya itu, Klub Karya Bulu Tangkis mencoba melakukan mapping tentang penjual nasi uduk yang berjualan dengan kontrakan mereka, tepatnya di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Karya ini sendiri tercetus karena kegiatan makan nasi uduk yang biasa dilakukan oleh Klub Karya Bulu Tangkis pada pagi hari. Abi menyatakan, bahwa ternyata penjual nasi uduk yang berada di sana sangat banyak. Masing-masing penjual nasi uduk juga mempunyai ciri khas msing-masing. Oleh karena itu, melalui karyanya, Klub Karya Bulu Tangkis sepakat untuk melakukan pemetaan para penjual nasi uduk.

Sebenarnya, pada lokakarya hari keempat ini, ada beberapa peserta yang mulai semakin mempertajam rencana dan rancangan karyanya. Walaupun, masih ada di antara mereka yang bingung dengan karyanya sendiri, ingin membuat apa. Abi sempat menanyakan konsep secara keseluruhan di lokakarya ini. Rayhan menjelaskan bahwa latar belakangnya adalah sebuah bentuk proyek sosial yang melibatkan warga sekitar Kober. Nantinya, acara-acara itu sendiri juga akan diiadakan di sekitar basecamp wepreventcrime.

12063218_1232512633440893_1740742095_n

Terkait dengan ide melibatkan warga sekitar itu, Abi memberikan para peserta sebuah contoh proyek seni, yaitu KALEIDIOSKOP 2015, yang beberapa waktu lalu diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara tersebut merupakan proyek kolaborasi para seniman-seniman muda yang ada di Indonesia. Dalam proyek seni tersebut, warga diundang untu turut serta berpartisipasi dalam pembuatan karyanya. Bahkan, saat pembukaan acara, Pak Lurah desa setempat mau memberikan kata sambutan. Kegiatan itu menggunakan salah satu tempat yang menurut warga sekitar yang tinggal di sana angker, yaitu garasi perusahaan Damri yang sudah tidak terpakai. Para seniman berusaha memecahkan mitos keangkerannya itu. Berbagai acara, seperti musik, nonton film, dan lain sebagainya, juga diadakan di malam hari guna memecahkan mitos angker yang sudah melekat di tempat tu.

Contoh lain, adalah proyek kerja sama antara Klub Karya Bulu Tangkis dengan Divisi Artlab ruangrupa. Proyek kerja sama ini menghasilkan sebuah karya yang disebut dengan gerobak bioskop, sebuah bioskop keliling dengan menggunakan gerobak. Abi mengatakan, pemilihan film dalam gerobak bioskop juga melibatkan partisipasi warga dalam pemilihannya. Dengan kata lain, para seniman gerobak bioskop tidak asal dalam meimilih film apa yang akan diputar, tetapi mereka melihat selera dari warga atau masyarakat yang berada di sebuah lokasi.

Dari dua contoh di atas, Abi mengatakan bahwa jika target utama dari acara ini adalah warga sekitar, maka kita juga harus membuat karya yang mudah dimengerti oleh warga sekitar. Akan tetapi, dibutuhkan pendekatan yang berbeda-beda untuk dapat melibatkan warga sekitar. Untuk itu pula, para peserta lokakarya juga harus mau melakukan pendekatan kepada warga Kober. Misalnya, dengan ikut nongkrong bersama pemuda sekitar, ikut acara warga sekitar, atau masih banyak lagi. Menanggapi penjelasan Abi, Rayhan sendiri mengatakan, bahwa ia sudah berbiacara dengan Ketua RT setempat dan beberapa warga sekitar. Ia mengatakan bahwa Ketua RT di wilayah basecamp wepreventcrime sudah mendukung acara kami. Namun, tentu saja masih ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan atensi warga mengenai acara kami nantinya.

Menurut pengamatanku, para peserta mengerti dengan perkataan Abi. Akan tetapi, tetap saja, ada beberapa peserta yang bingung akan membuat apa.  Abi menambahkan, “Jangan memikirkan medium karya kalian, karena justru itu yang akan membatasi kalian nantinya dalam berkarya. Kuatkan dulu konsep dan ide karya terlebih dahulu. Carilah fenomena-fenomena sosial yang ada di sekitar kita.”

12142569_908638679216896_685053157_n1

Saat perjalanan menuju basecamp wepreventcrime, Abi mengamati banyak yang bisa dieksplor dari Kober. Mulai dari kos-kosan, warung makan, laundry, dan masih banyak lagi.

Aku juga baru sadar, bahwa banyak fenomena-fenomena yang sebenarnya bisa diangkat oleh peserta Lokakarya Seni wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI. Tinggal bagaimana menguatkan konsep dan ide karya agar kami tahu apa yang harus kami lakukan saat riset untuk mendapatkan datanya.

Tepat pukul delapan malam, kami harus mengakhiri kegiatan lokakarya pada hari itu. Sebab, Abi harus menyiapkan pameran “BEBAS TAPI SOPAN” yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Setidaknya, sampai hari keempat lokakarya, ada pekerjaan kecil yang harus peserta lokakarya lakukan, yaitu melakukan pendekatan kepada warga sekitar.

Jakarta, 14 Oktober 2014
Andreas Meiki Sulistyanto
wepreventcrime


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s