Catatan Harian Lokakarya Seni – Hari Ketiga: “Kriminologi Visual”

Setelah tidak ada kegiatan selama 3 hari, akhirnya hari Senin, 12 Oktober, 2015, lokakarya dimulai lagi untuk pertemuan ketiga. Masih di tempat yang sama, basecamp wepreventcrime. Bagiku, ada yang spesial pada hari itu. Mengapa? wepreventcrime mampu mendatangkan salah satu dosen beken di jurusan kriminologi. Terlihat biasa memang, tapi menjadi luar biasa karena suasana diskusi tidak seperti di dalam ruang kelas perkuliahan. Dosen yang kami undang itu mau dengan santai duduk lesehan bersama dengan kami, para peserta lokakarya. Seakan tidak ada yang membedakan kami dengan dosen tersebut.

12063689_911199395639763_5907762646397622305_n

Sebelum lokakarya dimulai, Rayhan, Pimpinan Umum wepreventcrime, sudah memberikan woro-woro kepada semua peserta lokakarya melalui group whatsapp. Ia meminta seluruh peserta lokakarya untuk dapat hadir tepat waktu, jam lima sore. Tujuannya jelas, supaya waktu yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik untuk berdiskusi dengan pembicara hari itu. Rayhan juga mengimbau kami untuk lebih menghargai waktu, terutama dengan hadirnya pemateri hari itu, yang merupakan dosen, yang sudah mau meluangkan waktunya di luar jam perkuliahan. Walaupun kegiatan lokakarya di pertemuan ketiga tidak dimulai tepat pada pukul lima sore, tapi setidaknya kami sudah memulai kegiatan lokakarya di hari itu lebih cepat dari dua hari sebelumnya, pukul setengah enam sore.

…suatu bentuk keresahan terhadap mata kuliah Kriminologi Visual…

A video posted by wepreventcrime (@wepreventcrime) on

Hari ini, aku menjadi ‘korban’ para peserta. Tiba-tiba saja, aku ditugaskan untuk membuka lokakarya. Tapi, itu tak menjadi masalah. Toh, ada hal yang ingin aku sampaikan di awal kepada pak dosen, terkait materi hari itu, yang kebetulan juga menjadi salah satu mata kuliah mahasiswa kriminologi, yaitu Kriminologi Visual. Pada pembukaan, aku menyampaikan ke tengah-tengah forum lokakarya, bahwa materi Kriminologi Visual versi lokakarya seni SOSPRO diharapkan dapat membuka perspektif baru mengenai teori-teori dan konsep-konsepnya, yang sebenarnya tidak kami dapatkan secara maksimal di ruang kelas perkuliahan.

12088338_911195408973495_1373318122169400350_n

Seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan, pembicara atau pemateri hari itu adalah seorang dosen beken di Departemen Kriminologi. Beliau adalah Dr. Iqrak Sulhin, S.Sos, M.Si. Mas Iqrak, begitu ia biasa disapa oleh para mahasiswanya, merupakan dosen pengampu berbagi macam mata kuliah. Akan tetapi, ia juga mendalami secara khsusus pemikiran posmodern, studi mengenai budaya, dan media massa. Sebelum memulai materinya, Mas Iqrak mengatakan bahwa dalam lokakarya hari itu, jangan memposisikan dirinya sebagai dosen yang ada di ruang kelas perkuliahan. Ia meminta supaya para peserta diskusi dan dirinya memiliki posisi yang sama. Dalam artian, “Kita saling berbagi ilmu dalam diskusi nantinya.”

12141589_911211645638538_2049665955549060365_n

Dengan bantuan slide power point, Mas Iqrak, memulai presentasinya dengan tajuk “Penelitian Visual: Bagaimana dan untuk apa?” Mas Iqrak menjelaskan bahwa visual, baik itu foto, video, maupun film, adalah representasi, mempunyai makna. Oleh karena itu, visual mempunyai implikasi yang sangat beragam di masyarakat. Di telusuri lebih lanjut, kriminologi visual sebenarnya berangkat dari antropologi visual. Berangkat dari pemikiran John Collier dan Malcolm Collier (1990) mengenai visual anthropology, Mas Iqrak menjelaskan bahwa ketika berbicara mengenai tradisi visual, sebenarnya akan sama pemahamanannya ketika berbicara mengenai tradisi teks, dan berkembang hingga pemahaman kita mengenai realitas dunia tidak lepas dari peran kamera. Hal itu ditunjukan dengan adanya hal-hal yang tidak bisa di­-cover oleh tulisan (teks), tetapi dapat dilakukan oleh visual.

12106763_911197172306652_3129403143284768291_n

Berbicara mengenai visual, tentu saja tidak lepas dari ranah fotografi. Fotografi sendiri, masih dalam ranah antropologi visual, merupakan tiga proses cara berkomunikasi, yang di dalamnya terdapat (1) peran fotografer, (2) subjek yang di-frame-kan, dan (3) viewer atau penikmat dari hasil fotonya. Akan tetapi, dalam fotografi, ada unsur etika dalam visual yang tidak bisa dilepaskan. Selain itu, menurut saya, juga ada unsur artistik yang juga tidak bisa dilepaskan dalam visual. Sedangkan melalui media video atau film, antropologi visual menjelaskan bahwa melalui gambar bergerak, alam dan signifikansi mengenai tingkah laku sosial menjadi lebih mudah untuk didefinisikan. Tentu, hal itu harus itu diiringi dengan tanggung jawab yang rinci dari peneliti.

Berangkat ke kriminologi visual, mengutip pemikiran dari Cecil Greek (2005), Mas Iqrak menjelaskan bahwa kriminologi visual merupakan salah satu metode dalam penelitian kriminologi. Hal itu disebabkan oleh pemikiran bahwa visual, dan audio-visual, dapat dijadikan pisau bedah atau bahan untuk membantu analisis tentang realitas kejahatan dan sekaligus dapat digunakan untuk merekonstruksi gambaran tentang kejahatan, pelaku kejahatan, dan sistem peradilan pidana. Pada saat menjelaskan hal ini, para peserta diskusi sempat mengalami kebingungan. Namun, dengan bantuan power point, Mas Iqrak membantu para peserta diskusi dengan menunjukkan foto-foto street photography. Contohnya, foto polisi Inggris dalam sebuah karnaval, dan foto polisi yang melakukan kekerasan kepada demonstran. Nah, Mas Iqrak menjelaskan bahwa foto-foto tersebut memiliki makna yang bisa diambil oleh penonton terkait dengan persoalan-persoalan yang kriminologis.

Kriminologi visual sendiri dapat dijadikan bahan analisis karena sesuai dengan pemikiran Christopher Pole (2004). Dalam hal ini, visual menjadi suatu kumpulan bentuk data. Misalnya, data-data visual itu adalah foto, lukisan, film, video, gambar dan kartun, web-based source, graffiti, iklan, clothing dan packaging. Tentu, data-data visual itu mempunyai kegunaan secara metodologis, kampanye media, dan dapat dilihat sebagai bagian dari konstruksi sosial tentang kejahatan.

….visual itu memang mempunyai implikasi yang amat sangat beragam…

A video posted by wepreventcrime (@wepreventcrime) on

Alasan mengapa visual memiliki implikasi, juga dijelaskan oleh Mas Iqrak. Secara kerangka konseptual, visual yang dihasilkan dan lantas “dipamerkan”, akan menjadi suatu representasi makna tertentu bagi masyarakat yang menikmatinya. Representasi itu kemudian akan menghasilkan diskursus. Misalnya saja, terjadi obrolan sana-sini karena dipicu oleh visual yang ditampilkan tersebut. Nah, diskursus itu akan menghasilkan implikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena juga terkait dengan pengalaman-pengalaman visual yang dimiliki masyarakat. Mas Iqrak juga menambahkan, melalui suatu proses kriminologi konstitutif (salah satu perspektif dalam paradigma kriminologi kultural), visual sebagai hal yang representatif akan menimbulkan suatu kesan di mata pengamat sehingga visual tersebut menghadirkan wacana yang berimplikasi pada agen-agen dengan memproduksi bentuk-bentuk visual lainnya.

kc
Kevin Carter, “Struggling Girl”, Sudan 1993

Secara tidak langsung, pemaparan Mas Iqrak ini semakin jelas saat ia menunjukkan salah satu karya foto Kevin Carter yang memenangkan Putlizer Prize kategori fotografi pada Maret 1993. Tentu kita semua tahu, betapa terkenalnya foto tersebut. Mas Iqrak menjelaskan bahwa, karena foto itu mendunia, banyak bantuan-bantuan luar negeri yang datang dalam menanggapi keadaan dan realitas negara Sudan pada waktu itu. Walaupun, bantuan yang diberikan bukan merupakan bantuan jangka panjang.

Melalui foto itu juga, terjadilah diskusi yang menurutku asik di antara para peserta lokakarya dan Mas Iqrak. Berawal dari komentarku, yang melihat foto tersebut terlalu dramatis, muncullah begitu banyak pertanyaan yang juga terkait dengan visual. Mas Iqrak menjelaskan, bahwa cara pandangku yang menganggap foto itu terlalu dramatis, mungkin, dapat tergambarkan melalui sudut pengambilan gambar sang fotografer. Hal itu juga didukung dengan narasi tentang bunuh dirinya Kevin Carter akibat depresi yang dideritanya menyusul komentar-komentar masyarakat luas terkait persoalan moral dan etika dari karya foto yang dihasilkannya itu.

Kokok, salah satu peserta lokakarya, sempat menanyakan tentang interpretasi para penikmat dalam menanggapi sebuah karya, dengan mengutip kalimat Zikri—pemateri di pertemuan kedua. Bahwa, ketika sebuah karya dipamerkan, penikmat akan diberi kebebasan dalam menanggapinya. Mas Iqrak membenarkan hal itu. Menurutnya, ketika sebuah karya visual dipertontonkan di hadapan publik, maka kita dapat dengan sah menganggap bahwa sang pengkarya telah tiada, atau telah mati. Dengan demikian, para penikmat dapat dengan bebas menginterpretasikannya. Akan tetapi, hal ini yang menurut saya juga harus diiringi dengan tanggung jawab dan etika. Pertanyaan Kokok itu, memberikan keberuntungan baginya, karena ia mendapatkan sebuah hadian berupa buku dari Mas Iqrak, berjudul Researching the Visual: Images, Objects, Contexts and Interactions in Social and Cultural Inquiry karya Michael Emmison dan Phillip Smith (Sage Publications, 2007), yang juga masih berhubungan dengan kriminologi visual.

12107157_911335398959496_4340686925557395491_n

Sebenarnya, acara diskusi masih berjalan seru. Sebab, Mas Iqrak mengatakan, bahwa diskusi terkait hal ini bisa berjalan lebih panjang lagi. Namun, karena waktu yang terbatas, lokakarya dan diskusi harus diakhiri. Mas Iqrak mengatakan, bahwa para peserta dapat berdiskusi lebih jauh lagi dengannya di kampus nantinya. “Jika kalian menginginkannya,” kata Mas Iqrak. Sebelum diskusi ditutup, Mas Iqrak juga sempat mengatakan, apa yang sedang dilakukan oleh wepreventcrime, melalui Lokakarya Seni wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI, telah menyadarkan juga sekaligus telah mengamplifikasi kita (mahasiswa kriminologi FISIP UI) bahwa teks dan visual adalah sarana yang sama dalam mempublikasikan sebuah karya.

12022515_911050362321333_2737198898024856989_o

Tepat pukul delapan malam, kami semua meninggalkan basecamp. Aku melihat, para peserta diskusi cukup senang dengan kehadiran Mas Iqrak. Apalagi, para peserta diskusi banyak yang bertanya mengenai kriminologi visual. Sebab, sekali lagi aku tegaskan, ada banyak hal terkait kriminologi visual yang tidak kami dapatkan di ruang kelas perkuliahan, malah baru kami dapatkan di lokakarya ini.

Jakarta, 13 September 2015
Andreas Meiki Sulistiyanto
wepreventcrime


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s