Catatan Harian Lokakarya Seni – Hari Pertama: “Seni”

12063233_151431375208065_1924516224_n

Ketika waktu menunjukan pukul setengah enam sore, aku sudah memakirkan motorku di tempat biasanya. Setelah sekian lama, kontrakan itu hidup kembali. Akhirnya, ada diskusi. Diskusi yang menjadi bagian dari kegiatan lokakarya yang aku dan kawan-kawan se-Kriminologi UI lakukan untuk menyambut perhelatan Kriminologi Festival di bulan November mendatang.

Setelah perdebatan begitu panjang beberapa hari yang lalu, akhirnya kami semua sepakat bahwa Lokakarya Seni wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI diadakan di kontrakan markas kami sendiri, di luar lingkungan kampus UI. Markas itu sebenarnya merupakan sebuah kontrakan yang disewa oleh Rayhan dan keluarganya. Karena orang tuanya jarang singgah ke Depok, Rayhan pun menjadikannya markas untuk tempat kami biasa melakukan aktivitas. Kontrakan yang sudah kami anggap sebagai basecamp wepreventcrime itu berada di daerah Margona, tepatnya Jalan Kober, Gang Kesadaran No. 59, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok. Sedikit merepotkan untuk mencapai markas tersebut. Aku sendiri butuh waktu yang lama untuk mengingat jalan masuknya. Akan tetapi, tentunya itu bukan menjadi penghalangku untuk mengikuti lokakarya. Toh, akhirnya aku bisa sampai juga.

Markas wepreventcrime, di Jalan Kober, Gang Kesadaran, No. 59, Depok.

Sore itu, di basecamp sudah ada beberapa rekan-rekan yang datang lebih dulu. Mereka semua sedang duduk berbincang sembari menunggu kehadiran fasilitator untuk lokakarya hari pertama. Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan Dharmo, salah satu anggota wepreventcrime, mengenai karya yang nanti akan dibuatnya untuk Pameran Seni yang akan diselenggarakan pada penghujung kegiatan lokakarya.

“Mau bikin apa, Mo?”

Nggak tahu, masih bingung!” jawabnya. “Tunggu nanti aja setelah dapet ilmunya. Lu sendiri mau bikin apa?”

Gue juga nggak tahu mau bikin apa. Pusing…!”

Ya udah! Nunggu ilmunya dulu hari ini, baru kita bisa tahu mau bikin apa.”

Bener banget itulah…!”

Bukan hanya aku dan Dharmo yang kebingungan. Sepengamatanku, kawan-kawan yang lain juga masih bingung ingin mempresentasikan karya apa. Bagi kami, mahasiswa jurusan kriminologi, mempresentasikan sebuah karya yang bukan karya tulisan atau makalah, masih merupakan sebuah hal yang baru. Ya, kami masih bingung bagaimana caranya mengkonstruksi kajian dalam kriminologi menjadi sebuah karya seni. Karya “art”!? Aku juga yakin, ide ini pun juga pasti masih asing di mata para dosen di kampus kami.

3292932249036(1)

Hari itu Rabu, 7 Oktober, 2015. Rencananya, kami semua akan berdiskusi mengenai seni rupa. Agar kami semua bisa mengerti dengan baik apa itu seni rupa, kami mengundang Leonhard Bartolomeus untuk menjadi fasilitator lokakarya di hari pertama itu.  Barto, sapaannya, adalah Kurator di RURU Gallery—sebuah divisi di ruangrupa. Menurut pengakuannya saat menyampaikan materi, Barto juga dapat ditemui di Institut Kesenia Jakarta (IKJ) karena kesibukannya sebagai dosen di sana. Melihat latar belakang itu, mendatangkan Barto di basecamp wepreventcrime bagiku merupakan pilihan yang tepat.

Kira-kira sejam sebelum maghrib, kami semua memulai diskusi di pertemuan pertama itu. Barto memberi judul materinya “Ini Itu Seni Rupa”. Dengan bantuan power point, ia menjelaskan mengenai fungsi seni rupa, praktik seni rupa, elemen seni rupa, teori seni rupa, presentasi seni rupa, cara presentasi karya seni rupa, dan agen-agen dalam seni rupa. Sampai pada tahap itu, setidaknya kami semua sudah cukup tahu mengenai seni rupa, walaupun hanya permukaannya saja. Barto juga banyak bercerita mengenai pengalamannya dalam menghadapi karya-karya selama berkegiatan di ruangrupa, terlibat di perhelatan Jakarta Biennale, dan lainnya. Selain itu, Barto juga menunjukan beberapa karya seni milik beberapa seniman yang bisa kami jadikan referensi dalam proses pembuatannya. Menurut Barto, sebuah karya seni tidak melulu harus berupa lukisan, instalasi atau video. Karya seni bisa dalam bentuk yang bukan benda. Misalnya, jika nantinya kami melakukan lokakarya semacam ini di tempat lain untuk orang lain, menurut Barto, itu bisa dilihat sebagai karya seni. Atau, kami bisa menampilkan sebuah performance art kepada para pengunjung pameran nantinya.

Aku sendiri mulai mendapatkan titik terang saat Barto menunjukkan beberapa karya seniman. Ada yang berupa samsak tinju yang digantung di halte. Sayangnya, aku lupa mencatat judul karya dan nama senimannya. Tapi, karya berupa ayunan yang digantung di halte, aku tahu. Itu adalah karya dari Juan Zaki Ershad, berjudul Ayunan (2006), berdasarkan hasil penelusuran di internet.

sampul-stiker-kota

Ada juga karya seni berbentuk buku, berisikan kumpulan stiker. Nama bukunya, Stiker Kota (2008) yang disusun oleh Ugeng T. Moetidjo, Ardi Yunanto, Ade Darmawan, Mirwan Andan. Kata Barto, latar belakang ide pembuatan Stiker Kota itu berasal dari obrolan-obrolan ringan para senimannya, bertukar koleksi stiker. Bukan suatu ide yang tahu-tahu datang dari langit, lalu membuat buku. Ada banyak karya lain yang ditunjukkan Barto, yang tidak bisa kuingat judul dan nama senimannya, dan ternyata sulit mencari keterangannya di internet. (Seperti yang aku katakan di awal, kegiatan seni itu sesuatu yang baru bagiku!)

Tapi, yang jelas, yang aku pahami dari presentasi Barto adalah penekanannya tentang “proses penciptaan” sebagai bagian dari berkesenian.

12093374_826454057473396_826921646_n

Diskusi terus berlanjut walaupun, sejauh yang kuamati, masih ada beberapa peserta diskusi yang masih bingung (seperti aku…).

12120541_990047101060328_683451704_ni

Barto terus melanjutkan penjelasannya mengenai pembuatan karya. Intinya, Barto mengatakan bahwa dalam pembuatan karya, kita harus melihat sumber daya apa yang kita punya. Kita jangan memaksakan diri untuk membuat sebuah karya seni yang “besar” dan “wah” jika kita tidak memiliki sumber daya, misalnya saja modal atau bahan-bahan untuk membuatnya. Untuk masalah interpretasi karya, biarlah penikmat yang melakukannya. Kita, sebagai orang yang membuat karya, tidak bisa memaksa orang lain untuk memiliki interpretasi yang sama persis dengan kita.

Barto juga berbicara mengenai seni berbasis riset. Menurutnya, hal ini sedang booming dan seakan menjadi sebuah tren baru di masa sekarang. Padahal, sejak dahulu, setiap karya seni itu sudah pasti berbasiskan riset. Tidak ada karya seni yang tidak menggunakan riset dalam proses pembuatannya. Dari riset itu, akan diperoleh data yang nantinya bisa dibahasakan untuk digubah menjadi karya.

Sebenarnya, kata “riset” dan “data” bukan barang baru bagi para peserta lokakarya yang umumnya adalah mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik. Terlebih mahasiswa kriminologi. Siapa yang tak pernah merasakan “kejamnya” mata kuliah penelitian sosial dan statsitik sosial?

3292932223025(1)

Menurutku, penjelasan Barto itu menegaskan bahwa ranah seni dan kriminologi, sesungguhnya, tidaklah berbeda dalam konteks membuat karya. Intinya sama: agar karya dapat tercipta dan bisa dipresentasikan ke publik, ada proses riset yang harus dilalui untuk mendapatkan datanya. Setelah berdiskusi dengan Zikri, salah seorang alumni Kriminologi, aku memiliki kesimpulan sendiri. Dari segi metode, seni dan kriminologi sesungguhnya sama, tapi tetap berbeda. Mungkin, bedanya adalah kriminologi menyajikan data sebagaimana adanya. Dengan kata lain, empiris. Sedangkan seni, data-data itu bisa saja “dibengkokkan” atau “dimainkan”, “didistraksi”, “dibalikkan” dan lain sebagainya. Contohnya, kelompok musik The Kuda. Barto menjelaskan, The Kuda adalah proyek seni. Narasi tentang kelompok musik itu sesungguhnya adalah fiksi, tapi dibuat seakan fakta: sebuah kelompok musik beraliran rock legendaris yang hidup di tahun 70-an (di masa ketika Peristiwa Malari terjadi). Menurutku, langkah-langkah untuk menciptakan fiksi tersebut, tentunya melalui sebuah riset mendalam tentang sejarah Indonesia. Jika ditarik lebih jauh, karya seni semacam itu bisa saja diinterpretasikan sebagai cara untuk menciptakan sejarah: sejarah bisa dibuat.

3292932282106(1)

Bagiku, yang menarik dari materi yang disampaikan oleh Barto adalah penjelasannya tentang karya seni yang tidak tercipta dari seniman yang tiba-tiba mendapatkan wangsit, wahyu, atau pencerahan. Barto menambahkan, bahwa kita tidak diharuskan untuk membayangankan seperti apa karya seni itu akan berbentuk pada hasil akhirnya. Akan tetapi, pada tahap awal, kita dituntut untuk melihat dan peka atas ketersediaan data yang kita miliki, yang nantinya bisa kita buat untuk menjadi sebuah karya seni yang bisa dipamerkan. Tentu saja, bagiku, hal ini malah mempermudah kami, mahasiswa kriminologi, dalam mengolah ide-ide sebagai seniman newbie untuk menciptakan karya yang “art”. Sekali lagi aku tegaskan: kami tidak asing untuk berurusan dengan data. Toh, kami bisa mendapatkan data dengan mudah dalam penelitian-penelitian kriminologi, karena sumber daya (literatur dan fasilitas lainnya) yang kami miliki di kampus.

Tepat pada pukul setengah sepuluh malam, sesi hari pertama lokakarya itu pun berakhir. Tampaknya, beberapa peserta lokakarya sudah memiliki sedikit gambaran mengenai apa dan bagaimana proses berkarya yang akan mereka lakukan nantinya. Jika masih ada yang bingung, menurutku itu bukanlah masalah, karena masih ada pertemuan-pertemuan lain yang tak kalah menarik di hari-hari berikutnya, membahas hal yang berbeda dan dengan pembicara yang berbeda pula.

Depok, 8 Oktober 2015
Andreas Meiki Sulistiyanto
wepreventcrime


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s