Berkenalan dengan Pemateri Lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI

Tanggal 7 Oktober, 2015, lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI akan dihelatkan di markas wepreventcrime, yang berlokasi di Gang Kesadaran, Jalan Kober, Depok. Lokakarya ini mengundang akademisi, seniman dan peneliti profesional untuk berbagi wawasan kepada para peserta. Mereka adalah Leonhard Bartolomeus (RURU Gallery); Mahardika Yudha (OK. Video – Indonesia Media Arts Festival); Abi Rama (Visual Jalanan); Riefky Bagas Prastowo (Yayasan Interseksi); Tyas Wardhani Pusposari (Fotografer Independen); dan Iqrak Sulhin (Departemen Kriminologi, Universitas Indonesia).

Baik kiranya, jika kita mengenal mereka satu per satu sekaligus mengetahui apa topik yang akan mereka bagi kepada para peserta lokakarya. Pada terbitan kali ini, redaksi wepreventcrime dengan bangga mengenalkan para seniman, peneliti dan akademisi yang terlibat dalam proyek KONSTRUKSI.

***

BartoLeonhard Bartolomeus adalah lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Program Studi Keramik, Institut Kesenian Jakarta. Selain sebagai kritikus seni, dia juga seorang kurator dan penanggung jawab di RURU Gallery, salah satu program divisi ruangrupa yang fokus pada pengelolaan galeri seni rupa kontemporer sejak 2008 untuk memberi ruang bagi karya visual seniman, penulis, dan kurator muda melalui enam pameran dalam setahun. Sebagai kritikus, Barto, sapaan kurator ini, aktif menulis esai-esai yang membahas perkembangan dan geliat seni kontemporer, terutama di kalangan seniman muda. Salah satunya, dia turut berkontribusi sebagai pemateri sekaligus pengamat untuk perhelatan Jakarta 32°C. Tulisan-tulisannya untuk festival tersebut, di antaranya, dapat diakses di sini.

Dalam lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI, Barto akan berbagi wawasan tentang dasar-dasar pengetahuan seni dan keterkaitannya dengan ranah disiplin di luar seni. Dalam sesi tersebut, Barto akan menjelaskan secara menyeluruh dasar-dasar pengetahuan seni (khususnya seni rupa modern dan kontemporer) dan perkembangannya hingga hari ini, baik dari segi teoritik dan praktik. Barto juga akan menjelaskan bagaimana kemungkinan ilmu pengetahuan seni dapat berkolaborasi dengan ilmu pengetahuan lainnya, termasuk juga dengan mencontohkan berbagai peristiwa dan output seni (misalnya, art project, exhibition, symposium, works, article, dsb) di lingkup nasional, regional dan internasional yang telah menerapkan praktik-praktik tersebut.

Rekomendasi dari kami untuk mengenal lebih jauh pemikiran-pemikiran Barto:

Street Art in Indonesian Social and Political Life

Educating the Educated

***

DikiMahardika Yudha adalah seorang seniman, penulis, kurator dan peneliti seni yang sangat aktif, terutama di ranah seni media dan film. Dia kini menjabat sebagai Direktur OK. Video – Indonesia Media Arts Festival, sebuah festival seni video (dan kini, seni media) pertama dan terbesar di Indonesia. Selain menyelenggarakan festival, Diki, sapaannya, juga aktif menyelenggarakan berbagai pameran bagi seniman-seniman di Indonesia, terutama dengan mengembangkan cara produksi berbasis proyek (project-based art). Salah satu pameran terbaru yang dia kurasi di tahun 2015 adalah Pameran Tunggal Benny Wicaksono, bertajuk PROTOTIPE: Instrumen Analog Visual. Sebagai seorang seniman, Diki aktif membuat karya audio-visual. Beberapa karyanya telah dipresentasikan di berbagai perhelatan seni nasional dan internasional. Salah satu karya terbaiknya, Sunrise Jive (2005), tahun lalu dipresentasikan di SeMA Biennale Mediacity Seoul 2014, Korea Selatan. Beberapa karya seni lainnya yang dibuat Diki dapat dilihat di daftar ini. Tidak hanya itu, Diki juga aktif memproduksi karya film—salah satunya, Rangjebor (2014)—dan menulis berbagai topik mengenai seni dan film.

Di lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI nanti, Diki akan berbagi wawasan mengenai seni media (media art), seni visual (visual art) dan citra bergerak (moving image). Dalam sesi itu, Diki akan menjelaskan pengertian dan sejarah mengenai tiga ranah tersebut, terutama terkait dengan pengimplementasian kerangka berpikir, teori, dan sejarah seni dan media dalam proses penciptaan karya. Ruang lingkup pembahasan materi ini mencakup perkembangan wacana global dan wacana lokal. Dia juga akan menjelaskan bagaimana ranah seni visual, di masa sekarang, telah melebur dengan praktik-praktik artistik lainnya, terutama film, video, aksi pemberdayaan, dan kritik sosial dan kultural. Diki juga akan berbagi pengetahuan kepada para peserta perihal cara-cara mengeksekusi sebuah ide menjadi karya seni, lantas tentang strategi mempresentasikan karya tersebut ke hadapan publik, misalnya melalui penyelenggaraan pameran. Rencananya, seniman dan kurator beken ini akan mendampingi para peserta selama mengerjakan aktivitas berkarya.

Rekomendasi dari kami untuk mengenal lebih jauh pemikiran-pemikiran Diki:

7 Film Favorit Mahardika Yudha

21 Desember 2008, Arya Kemuning

Saya dan Periferry 1.0

Sunatan Massal

JAFTV, Mengembalikan Video ke Khitahnya

***

AbiAbi Rama adalah seorang seniman dan pegiat Visual Jalanan, sebuah jurnal rekam berbasis online yang memuat visual dan tulisan mengenai aktivitas di jalanan. Sebagai seorang seniman, Abi lebih dikenal sebagai street artist dengan nama Lykerex dan aktif mempublikasikan karyanya melalui instagram @lykerex.  Tahun 2014, Abi telah menghelatkan pameran tunggalnya sebagai seniman di bawah arahan Kurator Andang Kelana. Pameran bertajuk Graphic Interchange (di Awanama Art Habitat, Kemang) tersebut memamerkan karya-karya Abi, baik sebagai street artist maupun sebagai pegiat seni visual. Baru-baru ini, Abi juga menjadi salah satu seniman partisipan yang terlibat dalam proyek KALEIDOSKOP di Yogyakarta.

Pada lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI nanti, Abi akan berbagi pengetahuan dan pengalamannya terkait aktivisme visual. Dia secara khusus akan menjelaskan bagaimana wacana dan praktik berkesenian dengan materi visual dapat bekerja di ranah publik, baik di ruang publik yang nyata maupun yang maya (seperti media sosial), dan berpotensi sebagai perangsang atau pengaktivasi beragam kegiatan aktivisme sosial. Dengan latar belakangnya sebagai street artist dan pegiat jurnal online http://www.visualjalanan.org, Abi juga akan berbagi wawasan dan pengalaman terkait aksi-aksi berkesenian yang pernah ia lakukan, baik secara individu maupun kolektif. Seperti Diki, rencananya dalam proyek KONSTRUKSI ini, Abi akan mendampingi para peserta ketika membuat karya.

Di Visual Jalanan, Abi aktif mendokumentasikan fenomena aktivisme dan kegiatan seni visual. Berikut beberapa daftar dokumentasi Abi di Visual Jalanan yang kami rekomendasikan untuk teman-teman simak, demi mendapatkan gambaran mengenai minat, fokus dan pemikiran dari si seniman ini:

Monster Culapo

GIF-ITI: Animasi Grafiti dari London

Gregory Kloehn: Homeless Home Project

Bricksy: Reka Ulang Karya Banksy Dengan Lego

***

BagasRiefky Bagas Prastowo adalah lulusan S1 Kriminologi, Universitas Indonesia. Dia kini menjadi peneliti di Yayasan Interseksi, sebuah organisasi nonprofit yang aktif menyelenggarakan berbagai penelitian di bidang sosial dan budaya. Perlu teman-teman ketahui, Bagas, sapaannya, adalah salah satu pendiri wepreventcrime. Dia juga aktif mengelola blog pribadi, bernama Bagaspras, yang berisikan tulisan-tulisannya mengenai kegiatan sehari-hari, esai atau opini, dan lain-lain. Sebagai seorang peneliti, Bagas telah melakukan perjalan ke wilayah Indonesia bagian Timur, yakni pulau Sulawesi, untuk melakukan riset mengenai masyarakat lokal di sana. Kabarnya, proyek penelitian yang dia lakukan bersama Yayasan Interseksi ini akan diterbitkan menjadi buku. Bagas juga aktif menjadi pembicara di berbagai perhelatan diskusi mengenai ilmu-ilmu sosial dan kemasyarakatan.

Di lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI nanti, Bagas akan berbagi wawasan mengenai metode riset dan beragam pendekatannya di masyarakat. Dia akan berbagi cerita mengenai pengalamannya dalam menerapkan metode-metode penelitian sosial di lingkungan riil, terutama untuk konteks masyarakat lokal. Dengan latar belakangnya sebagai peneliti itu, Bagas diharapkan dapat memberikan saran dan rekomendasi terkait strategi bagaimana cara merumuskan suatu persoalan ke dalam kerangka penelitian, lantas menyusun rancangan atau kerangka teoritik, dan langkah-langkah untuk mengembangkannya menjadi instrumen penelitian, serta trik-trik yang layak digunakan saat bernegosiasi dengan lokasi dan narasumber. Wawasan dari Bagas ini berguna bagi para peserta lokakarya meskipun aksi dalam proyek ini lebih berupa kegiatan seni, karena pada dasarnya seni adalah sebuah penelitian, dan penelitian adalah seni. Pendekatan-pendekatan ilmu sosial yang didapatkan dari Bagas akan menunjang para peserta untuk mengumpulkan bahan-bahan, misalnya data-data lapangan, yang dibutuhkan untuk merealisasikan karya.

Rekomendasi dari kami untuk mengenal lebih jauh pemikiran-pemikiran Bagas:

Pengembangan Sektor Perikanan di Kabupaten Donggala

Ketika Kami Jadi Komentator Sepakbola

Berdamai dengan Pembela Islam

The Criminal Network: Jaringan Perederan Narkoba di Indonesia

Konflik & State Crime: Belajar dari Konflik Timor Timur

***

TyasTyas Wardhani Pusposari adalah lulusan S1 Kriminologi, Universitas Indonesia. Ia adalah salah satu anggota pertama wepreventcrime. Tyas aktif sebagai fotografer independen. Kesenangannya dengan fotografi ditunjang dengan hobinya berjalan-jalan ke berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri. Tahun 2015, Tyas mendapat penghargaan sebagai Pemenang Pertama “Suara Kota Tua’s Photo Workshop & Grant” yang diselenggarakan oleh Erasmus Huis dan Kedutaan Belanda. Perempuan yang suka dan pandai menari ini juga memiliki pengalaman di bidang ilmu sosial dan metode penelitian. Tahun 2014-2015, sempat menjadi periset di beberapa lembaga, seperti Indonesia Corruption Watch, Centre for Democracy and Human Rights Studies, dan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Tyas mengelola blog pribadinya, bernama Herstory, sedangkan beberapa karya-karya fotografinya dapat di lihat di sini.

Di lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI nanti, Tyas akan berbagi wawasan dan pengalamannya dalam beraktivitas memproduksi karya-karya fotografi. Ia juga akan memberikan saran dan rekomendasi terkait strategi bagaimana merancang konsep karya dan eksekusinya di lapangan. Salah satunya, dengan memaparkan latar belakang pembuatan karya-karya fotografi yang dimilikinya. Tyas juga akan berbagi pandangan tentang aksi berkarya fotografi yang berkaitan dengan salah satu bidang di kriminologi, yakni visual criminology. Tyas juga berencana akan menjadi pendamping para peserta selama berkarya di dalam proyek lokakarya KONSTRUKSI ini.

Rekomendasi dari kami untuk mengenal lebih jauh Tyas:

11 Fakta Tyas Wardhani Pusposari

Satire

Menuju Demokrasi Bermakna: Persoalan-persoalan Perbaikan Representasi Politik di Indonesia

***

IqrakIqrak Sulhin adalah seorang kriminolog, mengajar disiplin kriminologi di Universitas Indonesia. Fokus ilmu pengetahuan yang didalaminya adalah penologi, kebijakan kriminal, dan filsafat kriminologi. Di lingkungan akademik UI dan di kalangan mahasiswa, Mas Iqrak, sapaannya, juga dikenal sebagai salah satu dosen yang memiliki ketertarikan dengan isu-isu kebudayaan. Menurut beberapa mahasiswa, beliah adalah salah satu pengajar yang gencar mengenalkan “kriminologi visual” dan “kriminologi kultural” sebagai perspektif yang dapat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa. Selain dalam bentuk karya-karya akademik, kesenangannya menulis menggunakan sudut pandang kriminologi dengan kemasan populer juga dituangkannya dengan mengelola situs online pribadi, http://www.iqraksulhin.com/.

Di lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI nanti, Mas Iqrak akan berbagi wawasan mengenai kriminologi visual dan keterkaitannya dengan ranah disiplin di luar kriminologi. Kriminologi visual adalah pengetahun kultural yang cukup signifikan di dalam disiplin kriminologi sehubungan dengan perkembangan masyarakat global saat ini, dan juga paling relevan untuk dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan artistik. Dalam sesi tersebut, Mas Iqrak akan memberikan dasar-dasar konseptual, teori dan perspektif serta metode untuk memahami kriminologi visual, bagaimana implementasinya terhadap sebuah aksi penciptaan karya akademik dan nonakademik, serta potensinya untuk dielaborasi oleh disiplin seni. Mas Iqrak juga akan membantu para partisipan untuk menajamkan perspektif kriminologi sebagai bingkai utama untuk membedah subject matter yang akan diambil oleh setiap partisipan sebagai fokus untuk membuat karya.

Rekomendasi dari kami untuk mengenal lebih jauh pemikiran-pemikiran Mas Iqrak:

Kriminologi Katastropi [1] Bencana Asap

Correctional governance: an Indonesian experience

Melihat Begal Secara Proporsional

Mengapa Saya Menolak Hukuman Mati

Identifikasi Faktor Determinan Residivisme

Newsmaking Criminology

Kejahatan dalam Masyarakat Kapitalis

Menciptakan Kos-kosan yang Aman

***

Dengan kesediaan para seniman, akademisi dan peneliti yang teruji kredibilitasnya (sebagaimana yang tertera di pengantar di atas) untuk menjadi pemateri di lokakarya wepreventcrime SOSPRO III (2015): KONSTRUKSI, kita berharap pelaksanaan proyek ini akan membuahkan hasil yang maksimal. Adalah sebuah cita-cita yang layak untuk dicapai: menggalakkan gerakan yang memperluas cakupan disiplin kriminologi ke wilayah-wilayah aksi performatif, melibatkan publik dan pelaku-pelaku di berbagai ranah disiplin pengetahuan.

Dalam waktu dekat, kita akan melihat sejauh apa komitmen para peserta lokakarya untuk mendukung kegiatan ini sekaligus mengaktualisasikan dirinya sebagai pemuda yang kreatif. Sampai bertemu pada KONSTRUKSI!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s