FISIP-ku Dulu Rumah, Lantas Sekarang?

Sumber: manshurzikri.wordpress.com
Sumber: manshurzikri.wordpress.com

Menyandang status sebagai bagian dari keluarga universitas terbaik yang satu-satunya memegang nama negeri ini adalah hal yang didamkan banyak orang. Dengan label “Universitas Indonesia (UI)” yang tersemat di belakang namanya, menjadi bagian dari FISIP-UI adalah suatu kebanggaan tersendiri. Tak sekedar kampus, bagi sebagian orang, FISIP-UI sudah dianggap “rumah kedua”.

Di sini, saya—sebagai bagian dari orang-orang yang menganggap FISIP-UI sebagai “rumah kedua”—menemukan keunikan dari tiap-tiap jurusan yang ada di FISIP-UI. Satu fakultas dengan delapan jurusan, tentunya memiliki ciri khas tersendiri. Saya temukan kenyamanan saat berada di dalamnya. Kebebasan yang terarah, adalah hal yang saya rasakan saat awal dimulainya kehidupan saya di FISIP.

FISIP memiliki tempat-tempat terpisah sebagai “kamar” bagi masing-masing jurusan, yang berfungsi sebagai tempat “nongkrong”, berbagi wawasan, atau sekedar berukar informasi bagi para “penghuninya”. Saya bebas untuk bertukar pikiran di tempat ini tanpa ada batasan waktu. Saya dan beberapa sejawat FISIP-UI lain, sebagai orang yang sudah dewasa, tentunya mampu memahami batasan-batasan yang telah ada serta peraturan yang sudah dibuat. Bagi saya, inilah arti rumah yang sebenarnya. Tidak sulit untuk mendefinisikannya. Tempat saya berlindung, menikmati kehidupan, dan mendapatkan kenyamanan. Memberikan kebebasan yang terarah, di mana kami tetap leluasa, bebas berinteraksi dengan mereka-mereka yang tinggal di dalamnya, namun juga taat pada peraturan atau kebijakan-kebijakan yang diterapkan.

Namun, itu dulu.

Sumber: megapolitan.kompas.com
Sumber: megapolitan.kompas.com

FISIP Kini; Masih Pantaskah?

Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat beberapa kebijakan yang dirombak menyesuaikan keinginan “ayah” (baca: dekan) yang menurutnya akan menjadi sebuah pembaharuan yang baik bagi anak-anaknya (para mahasiswa) dan warga FISIP-UI lainnya. Sorot mata saya tertuju pada dua aturan baru yang bagi saya cukup mengganggu aktifitas beberapa warga FISIP-UI.

Kawasan Tanpa Rokok atau biasa disebut dengan KTR. Sejujurnya, saya sendiri masih sedikit bingung mengenai pengadaan peraturan ini. Berhubung saya bukanlah seorang perokok, saya memang tidak terganggu dengan aturan ini. Akan tetapi, melihat banyaknya warga FISIP-UI yang merokok, saya cukup prihatin akan peraturan ini. Mengapa? Jika tujuannya untuk menghilangkan kebiasaan merokok, dapat diketahui bahwa menghilangkan suatu kebiasaan adalah hal yang sangat sulit, terlebih jika hal itu sudah menjadi kebiasaan, a way of living, dari individu itu sendiri. Bukankah hal itu justru membatasi hak-hak individu? Selain itu, jika tujuan dari peraturan ini adalah untuk menjadikan FISIP sebagai kampus yang bersih, tidakkah terlihat bahwa kotornya FISIP tidak ditentukan oleh banyaknya orang-orang yang merokok? Peraturan ini sudah berlaku dan tetap tidak ada perubahan dari warga FISIP. Tersedianya ruang untuk merokok pun terlihat minim manfaat. Orang-orang tetap merokok di manapun mereka mau. Berlakunya peraturan ini sama sekali tidak mendapat respon yang positif, karena saya sendiri tidak melihat aturan ini dipandang positif oleh sebagian besar warga FISIP. Lalu, untuk apa peraturan dibuat kalau pada akhirnya hanya untuk dilanggar?

Pemberlakuan jam malam. Peraturan inilah yang cukup kontroversial bagi saya pribadi, juga tentunya bagi hampir seluruh warga FISIP. Kami, warga FISIP, masih meraba-raba akan tujuan dari peraturan ini. Menciptakan keamanan bagi FISIP kah? Faktor ketentraman kah? Kalau dipikir-pikir, apa selama ini FISIP menjadi tidak aman karena warganya yang sibuk bekerja keras menimba ilmu pengetahuan dan mencari rezeki hingga malam hari? FISIP memiliki orang-orang yang bertanggung jawab di bidang keamanan, yang selalu siap sedia selama 24 jam penuh, bukan? Lalu, untuk apa mengkhawatirkan keamanan dan ketentraman? Adalah hal yang cukup aneh, ketika saya yang biasanya masih bisa duduk di PAU FISIP-UI hingga larut malam, bertukar pikiran, wawasan atau informasi, dan memanfaatkan fasilitas wifi kampus untuk mengerjakan tugas, kini sekitar jam sebelas malam seluruhnya harus ‘direnggut’ dari saya. Apakah kini FISIP-UI membatasi waktu mahasiswanya untuk menimba ilmu?

Kedua aturan tersebut membuat saya berpikir kembali, masih pantaskah FISIP disebut sebagai rumah? Kenyamanan yang nyaris tidak terasa lagi oleh kebijakan yang tak tepat guna ini mulai terasa meresahkan. “Salah siapa?”, pikir saya dalam hati. Kamikah sebagai warga FISIP yang dinilai tidak bertanggung jawab, atau Dekan, sebagai “ayah” FISIP yang memimpikan rumah yang sempurna? Mimpi itu akan berjalan baik jika ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Mendapat persetujuan dan bernilai positif bagi para warga yang tinggal di dalamnya. Karena seindah apapun bangunan suatu rumah, sebaik apapun peraturannya, kalau tidak didukung oleh para penghuninya, tidak akan berhasil, bukan?

Raihan Yusuf

Seorang mahasiswa Kriminologi angkatan 2014 mendedikasikan tulisannya sebagai kritikannya terhadap kehidupan kampus, khususnya di FISIP UI.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s