Cakrawala

Sumber: roosan.blog.fc2.com/blog-date-201403.html
Sumber: roosan.blog.fc2.com/blog-date-201403.html

Desir pasir dibawah kakinya terasa begitu menusuk, seakan-akan ia tengah berdiri di atas paku-paku tajam dan bukan di atas butiran pasir yang terlalu jauh dari rumah. Mungkin sekarang orang tuanya sedang panik setelah menyadari bahwa ia telah kabur dari rumah, atau mungkin mereka tidak peduli. Entah apapun alasannya, ia berusaha untuk tidak memikirkannya.

Airlangga Dewantara menatap ke bawah, mencari alasan mengapa kakinya yang telanjang terasa begitu sakit seperti ada yang menusuknya. Dahulu, pasir di pantai Ancol merupakan teman terbaiknya. Lelaki dengan mata kayu jati itu menghela nafas panjang dan akhirnya mengalah kepada suara-suara di belakang kepalanya.

Kamu cuma bingung, sayang.

Ayah nggak pernah didik kamu kayak begini, Ngga.

Laki-laki tercipta untuk sama perempuan, nggak ada laki-laki yang suka sama dua-duanya, Angga sayang. Kamu cuma bingung nak, percaya sama Bunda.

Angga mulai melangkah- awalnya pelan, satu demi satu langkah ia pijakkan sebelum akhirnya ia berlali kencang menuju lautan bebas. Celana batik yang merupakan piyama andalannya mulai basah seiring langkahnya mulai membawanya menuju lautan. Ia bisa merasakan pasir di bawah lautan yang dingin. Ia bisa merasakan angin malam menerpa wajahnya tanpa ampun.

Lautan mulai menyelimuti kakinya, dan membasahi setengah dari celana yang dikenakannya. Tetapi Angga tidak peduli. Mungkin lebih baik ia menghilang saja jika tidak ada yang bisa menerimanya. Mungkin lebih baik ia tenggelam di bawah lautan daripada mengecewakan Ayah dan Bunda yang selama ini selalu mengerti dan menyayanginya apa adanya.

Lautan telah mencapai pinggangnya, namun ia masih tetapi berlari dan mecoba menerjang lautan yang mulai terasa dingin. Perlahan airpun mulai membasahi dadanya, lalu lehernya, tetapi saat ini ia yakin sekali bahwa ia akan berhasil mati kali ini, sepasang tangan yang sangat amat familiar mendekapnya dengan erat.

“Angga,” desahan suara baritone rendah itu terdengar sangat amat lembut, sangat khawatir, dan sangat sedih serta putus asa. Namun desahan itu juga terdengar amat sangat lega. “Syukurlah aku belum terlambat…” Suara itu berbisik ke telinganya, dan pada saat itu juga ombak pasang menerpa mereka berdua. Seketika tenggorokan Angga tercekat, tak mampu berkata apapun saat sang pemilik suara lembut itu menyeretnya keluar dari lautan. Sesaat Angga merasa lega karena lautan telah menyembunyikan air matanya yang tengah mengalir kencang.

“Kamu nggak apa-apa, Ngga?” Rayi Anggara tetap berdiri tegak, ekspresi khawatir tertera dengan jelas di raut mukanya yang masih basah. Angga menatap sahabat terkaribnya lekat-lekat, seraya mengutuki jantungnya yang berdetak yang lebih kencang di depan sahabatnya yang baru sebulan lalu menyatakan cinta kepadanya. Rayi berbadan tegap dengan paras muka yang amat gagah dan tampan, bahkan semenjak mereka masih di sekolah menengah, perempuan-perempuan selalu mondar-mandir menyerukan atraksi mereka terhadap sahabat terkarib Angga tanpa suara. Tetapi mata Rayi yang sehangat musim panas dan secokelat batang pohon selalu tertuju kepada satu orang, dan hanya satu orang.

Dan Angga tidak merasa aneh akan hal itu, ia malah merasa senang.

Rayi mengerutkan bibirnya saat ia tidak mendengar jawaban dari Angga. Ia duduk bersila di depan Angga yang masih terdiam lalu mengambil tangan Angga yang ia genggam dengan erat dan hangat. “Ngga, kamu berantem lagi sama Om Bowo dan Tante Tari?” Angga menghela nafas panjang, dan hal itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Rayi.

Keduanya terdiam, seakan menunggu satu sama lain untuk bicara. Semilir angin yang tadinya terasa sejuk di kulit Angga sekarang serupa menusuk saking dinginnya. Deru ombak dan suara angin malam mengisi sunyi di antara kedua lelaki tersebut.

Kali ini giliran Rayi yang menghela nafas panjang. “Kamu ke sini sama siapa?” Tanyanya, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan. Angga menengok ke arah mobil putih yang terparkir manis di pinggir pantai tempat mereka sekarang. “Kamu kabur dari rumah ya? Sejak kapan? Sekarang kamu tinggal di mana?” Angga mengangguk. “Udah hampir seminggu, tapi Ayah sama Bunda memang lagi nggak ada di Jakarta saat aku pergi. Baru pulang tiga hari yang lalu. Mungkin mereka baru sadar kalau aku kabur dari rumah…” Jawab Angga dengan suaranya yang bergetar. Entah karena dingin atau karena ia malu, Angga sendiri tidak mengerti kenapa. “Sekarang aku tinggal di apartemen, tapi ya… aku belum ke sana.” Karena aku mau bunuh diri, ucapan tersebut tertahan di lidah Angga, ia bahkan tak berani menyebutkannya se-eksplisit itu.

Tanpa kata-kata, Rayi menarik Angga ke pelukannya. Dekapan Rayi begitu kuat dan hangat, dan seperti biasa Rayi tidak pernah memaksa Angga untuk melakukan apapun, termasuk bercerita. Tetapi kebisuan Rayi justru menimbulkan rasa bersalah yang awalnya tidak disadari keberadaannya oleh Angga. Dengan bisikan yang amat pelan, Angga menyerukan pikiran utamanya.

“Mereka bilang aku cuma bingung, Yi.” Angga mendesah pelan. “Mereka bilang nggak ada laki-laki yang suka dua-duanya. Aku cuma bingung.” Angga berbisik, akan tetapi suaranya panik. “Lebih baik aku mati daripada harus mengecewakan Ayah dan Bunda, Yi. Perasaan aku ini pasti salah. Aku cuma bingung. Aku masih cinta sama Melvira. Aku… aku nggak suka sama laki-laki.”

Rayi terdiam, seakan menunggu kelanjutan cerita Angga. Tetapi Angga tidak melanjutkan kisahnya. Ia hanya terdiam dalam pelukan sahabatnya. “Kamu bingung sama perasaan kamu ke aku, Ngga?” Pertanyaan Rayi bagaikan pisau yang menusuk tajam ke hati Angga. Tetapi ia hanya diam.Rayi akhirnya melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut ke arah Angga.

“Aku bisa meyakinkan kamu, Ngga, perasaan kamu nggak salah. Tapi bagaimana kalau pembicaraan ini kita lanjutkan di hotel? Aku udah book kamar kok di Putri Duyung, dan nggak mungkin juga kalau kamu nyetir ke Depok sambil basah kuyup begini. Kamu mau Ngga?”

Angga mengangguk, lega Rayi sama sekali tidak menanyakan kenapa dia mencoba bunuh diri dengan menenggelamkan diri di lautan luas.

Saat mereka berdua berdiri, Rayi mengenggam tangan Angga dan menuntunnya ke arah mobil. Tanpa berpikir, Angga membisikkan perasaannya yang terdalam.

“Aku sayang kamu Yi.”

Rayi tersenyum, ada keliaran yang tersirat dalam sorot matanya.

“Aku cinta kamu Ngga.”

Kesunyian pun menyelimuti kedua sahabat karib tersebut selama perjalanan mereka menuju hotel.

***

Angga masih ingat kapan ia pertama kali jatuh cinta kepada seseorang.

Pada saat itu, Angga jatuh cinta kepada seorang perempuan pendiam yang selalu tersenyum saat menyapa orang-orang yang ingin meminjam buku di perpustakaan. Melvira Sarastri merupakan orang pertama yang mengajarkan Airlangga Dewantara bagaimana rasanya jatuh hati kepada orang lain. Melvira mengajarkan manis, pahit, dan indahnya perasaan cinta kepadanya dan Angga sampai detik ini masih memiliki perasaan sayang terhadap gadis yang akhirnya memutuskan hubungan mereka karena ia harus pindah sekolah ke luar negeri.

Angga yakin bahwa apa yang ia rasakan terhadap Melvira merupakan apa yang disebut cinta, dan oleh karena itulah dia bisa yakin bahwa apa yang ia rasakan terhadap Rayi sekarang ini bukanlah sekedar rasa sayang antar sahabat. Setelah Melvira, ada juga beberapa perempuan yang menarik hati Angga dan ada juga beberapa laki-laki yang menarik perhatian Angga, walaupun keduanya hanyalah sekedar rasa suka sepintas belaka. Namun pada saat Rayi menyatakan bahwa ia mencintai Angga-lah permainan emosi yang membuatnya mempertanyakan seksualitasnya dimulai.

Hampir tiga minggu telah silam semenjak kejadian di pantai Ancol dan tak sekalipun mereka pulang ke kediaman mereka masing-masing. Rayi mengajaknya bertualang, entah ke pesisir pantai atau ke puncak gunung di seluruh pulau Jawa. Rayi juga membelikannya hand phone baru karena hand phone lama Angga rusak akibat tidak dikeluarkan saat ia mencoba menenggelamkan diri. Orang tua Rayi merupakan pemilik dari salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara dan mereka tidak pernah peduli dengan apa yang Rayi lakukan selama ia tidak melakukan hal yang dapat menarik perhatian media. Uang bukanlah masalah untuk Rayi, dan apa yang tidak permasalahkan oleh Rayi menjadi luput dari perhatian Angga.

Jujur, Angga merasa bahwa kehidupannya sekarang bagaikan mimpi. Mimpi dimana tak ada yang mempertanyakannya dan Rayi mengapa jemari mereka tertaut bak kekasih dalam kencan pertama, atau mengapa tatapan mereka bertahan terlalu lama saat mereka menatap satu sama lain. Tak ada yang mengenali mereka dan tidak ada satupun orang yang peduli dengan hubungan mereka.

Akan tetapi setelah tiga bulan, Angga menyadari bahwa ada beberapa hal yang janggal dari Rayi.

Pertama, Rayi sama sekali tidak pernah membiarkan Angga menonton berita. Setiap kali mereka sedang bersantai sambil menonton televisi di hotel atau di villa, Rayi pasti memiliki sejuta alasan agar mereka tidak menonton berita. Begitu juga dengan koran, walaupun hal ini baru menjadi perhatian Angga baru-baru ini karena memang dasarnya ia tidak suka membaca koran.

Pada awalnya, Angga tidak begitu peduli. Ia punya Rayi dan dunia ini baik-baik saja karena hal itu. Tetapi lama-kelamaan, rasa penasaran dan gelisah mulai mengintai Angga dalam setiap langkahnya. Apa kabar Ayah dan Bunda? Apakah mereka peduli dengan menghilangnya Angga? Apakah mimpi ini akan berakhir? Apakah Ayah dan Bunda bisa menerimanya jika ia menjelaskan hubungannya dan Rayi secara baik-baik?

Pikiran-pikiran ini masih menghantui Angga saat mereka berdua sedang duduk di pesisir pantai Carita, menyaksikan mentari terbenam bersama seribu orang lain yang sedang menikmati pemandangan senja. Angga menatap sahabatnya yang sedang tersenyum ke arah lembayung senja. “Yi,” panggilnya.

“Hmm?”

“Aku udah siap untuk menghadapi Ayah sama Bunda, Yi. Aku mau meyakinkan mereka tentang aku, tentang kita. Saatnya kita pulang.”

Rayi terdiam, seakan tidak mendengar pernyataan Angga. Tetapi genggaman Rayi semakin erat sehingga Angga meringis kesakitan. “Ngga, kamu tahu…” Rayi memulai, sama sekali tidak menghiraukan ringisan Angga. “Saat senja seakan membunuh mentari untuk terbitnya sang rembulan, itu adalah waktu yang paling mengingatkan aku pada kamu.” Ucapan Rayi yang penuh rasa sayang seakan mengingatkan Angga bahwa ada garis tipis yang membedakan cinta dan kegilaan.

“Yi, aku nggak main-main.” Ujar Angga penuh peringatan. Rayi mengangguk. “Aku juga nggak main-main, Ngga. Aku cinta sama kamu. Kamu cuma butuh aku, terbukti dari tiga bulan ini kan?” Angga terdiam. Ia menarik tangannya dari tangan Rayi dengan paksa. “Kamu kenapa sih Yi? Aku sekarang udah siap untuk menghadapi Ayah sama Bunda. Aku nggak mau lari lagi. Aku mau mereka tau kalo aku… aku biseksual dan aku lagi menjalani hubungan sama kamu. Ini bentuk komitmen aku, Yi. Aku nggak mau lari terus.”

“Kalau mereka nggak mengerti bagaimana Ngga? Kamu mau coba bunuh diri lagi? Mau coba menenggelamkan diri lagi?” Rayi tidak tersenyum, tapi nadanya juga tidak mengancam. Ekspresinya begitu datar sehingga Angga menjadi was-was. Rayi adalah orang yang hangat dan penuh senyuman pengertian, selama pertemanan mereka dari SMP hingga sekarang, tak sekalipun Rayi memasang ekspresi datar yang ia gunakan sekarang.

Angga menarik nafas dalam-dalam. “Justru itu yang mau aku perjuangin Yi. Tolong biarin aku usaha dulu. Selama tiga bulan ini kamu telah mengajarkan ke aku kalau perasaan aku itu nggak salah, aku nggak cuma bingung dan memang mungkin bagi seseorang untuk tertarik ke kedua gender. Tolong dukung langkah aku Yi, bantu aku meyakinkan Ayah sama Bunda tentang aku, tentang kita.”

Rayi termenung, tatapannya tidak meninggalkan wajah Angga sama sekali. Bibirnya mengerut, tetapi bukan dalam kekhawatiran seperti yang pernah Angga sebelumnya. Rayi sedang berpikir dan Angga tahu itu.

Langit senja tengah berganti malam dan orang-orang telah meninggalkan pantai Carita, seakan takut akan angin malam akan menghembuskan nafasnya yang dingin. Tetapi baik Angga ataupun Rayi tidak bergeming, keduanya masih terkunci dalam tatapan mereka. Angga, panas meyakinkan dan Rayi, dingin penuh kalkulasi.

Angga menghela nafas.

“Kamu pernah merasa yang kita lakukan ini salah atau nggak, Yi?” Angga berbisik lemah, suaranya hampir kalah dengan suara deruan ombak di depan mereka. Rayi menggelengkan kepalanya. “Nggak pernah sama sekali, Ngga.”

“Semenjak SMA, aku tahu kalau aku nggak tertarik sama perempuan seperti teman-teman kita yang lain. Aku nggak pernah berpikir untuk kencan sama perempuan, aku nggak pernah penasaran terhadap tubuh perempuan, dan jujur aku sangat-sangat bingung waktu kamu cerita kamu jatuh cinta sama Melvira karena aku kira kita sama karena kita dari awal selalu bersama-sama…” Kali ini, Angga-lah yang termenung atas cerita Rayi. Sahabatnya tidak pernah menceritakan hal ini kepada Angga sebelumnya. Cerita bagaimana Rayi bisa mendapatkan kepastian bahwa ia… homoseksual.

Rayi menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan ceritanya. “Aku justru lebih penasaran ke laki-laki. Aku penasaran apa rasanya mencium laki-laki, aku penasaran akan tubuh laki-laki lain, dan aku bahkan pernah berfantasi kencan dengan laki-laki. Dan kamu…” Rayi mengepalkan tangannya. “Selalu kamu, Ngga. Aku penasaran apa rasanya mencium kamu, aku penasaran akan tubuh kamu, dan aku selalu, selalu ingin tahu apa rasanya berkencan dengan kamu. Aku nggak main-main saat aku bilang aku cinta sama kamu, Ngga. Kalau fakta bahwa kamu nggak mengerti soal seksualitas kamu sendiri adalah apa yang membuat kamu ingin bunuh diri, fakta bahwa aku mengerti-lah yang menggiring aku ke batas kegilaan.”

Mata Rayi yang awalnya dingin tanpa ekspresi kini berkaca-kaca, dan pada detik itulah Angga mengerti bahwa bukan cuma ia sendiri yang berkutat dengan seksualitasnya sendiri. Rayi, walaupun ia selalu terlihat lebih yakin dibandingkan Angga, juga sedang bergumul dengan dirinya sendiri mengenai seksualitasnya. Bibir Angga mengerut dan kali ini, Angga-lah yang mengenggam tangan Rayi. Tiga bulan ini juga pasti bagaikan mimpi bagi Rayi. Bahkan, bagi Rayi, ini benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan.

“Yi-“

“Kamu nggak akan pernah ngerti perasaan aku saat kamu cerita sama aku tentang Melvira, tapi aku sangat-sangat mengerti kalau kamu heteroseksual. Tapi sehabis Melvira pindah kamu juga cerita soal Kevin, soal Rama, soal Dhito, soal laki-laki lain. Walaupun kamu masih cerita tentang perempuan-perempuan, kamu juga cerita soal laki-laki dan aku berpikir mungkin aku punya kesempatan. Aku nggak pernah bisa kasih dengan pasti kalau mungkin kamu biseksual, karena orientasi seksual cuma bisa ditentukan oleh orang yang bersangkutan.” Rayi menunduk, seakan takut untuk menemui mata Angga. “Tapi waktu aku menyatakan dengan jelas kalau aku cinta sama kamu, kamu nggak jijik sama aku. Malah, aku bisa melihat kalau kamu juga tersemu. Walaupun aku sangat menyayangkan konflik antara kamu sama Om Bowo dan Tante Tari, dan sekarang mereka mencari kamu lewat berita-berita di TV dan di koran! Ngga, aku juga bersyukur aku tiba-tiba ingin kembali ke pantai tempat kita sering main dulu. Aku bersyukur aku belum terlambat untuk mencegah kamu bunuh diri dan aku sangat amat bersyukur atas tiga bulan yang bagaikan mimpi jadi kenyataan ini… kamu mengerti kan Ngga, yang aku rasakan? Yang aku takutkan?”

Angga tidak menjawab apa yang Rayi tanyakan, tetapi lelaki bermata jati itu langsung memeluk sahabat- kekasihnya dengan erat. Iya, iya, Angga amat sangat mengerti atas perasaan dan ketakutan Rayi. Bagaimana jika saat ia kembali, Ayah dan Bunda malah menjauhkan dia dari Rayi? Bagaimana jika Ayah dan Bunda tidak peduli akan perasaan dan argumen-argumennya?

Tetapi, apakah melarikan diri kenyataan lebih baik dari hal itu?

Tidak ada yang bicara, tidak ada yang bersuara kecuali ombak yang terus menderu. Pantai Carita telah lama kosong dan baik Angga ataupun Rayi tidak tahu berapa lama mereka telah di pantai ini. Angga tidak melepaskan pelukannya, dan perlahan, Rayi melepaskan kepalan tangannya dengan mendekap Angga dengan erat.

“Aku tahu betapa susahnya tidak mengetahui tentang dirimu sendiri, Ngga, tapi-“

“Tapi aku nggak pernah berpikir bahwa mungkin mengetahui bahwa kita memiliki seksualitas yang berbeda dengan yang normatif juga sama susahnya, Yi, maafkan aku.”

Kesunyian kembali menyelimuti kedua lelaki yang masih dalam dekapan erat satu sama lain, dan keduanya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melepaskan pasangannya. Angga berharap waktu berhenti berputar untuk sementara, karena pelukan ini sebenarnya tak mungkin bisa mengobati sakit hati yang telah ditanggung Rayi setelah sekian lama.

Rayi perlahan melepaskan pelukan Angga, tetapi keduanya masih begitu dekat sehingga Angga dapat melihat betapa merahnya mata Rayi. Sahabatnya yang selalu tersenyum… rupanya telah menangis tanpa suara di dalam pelukannya…

“Aku sayang kamu, Ngga.”

Angga meneteskan air mata yang sejak tadi telah tertahan di pelupuk matanya.

“Aku cinta kamu, Yi.”

Dan bibir mereka bersentuhan.

Singkat, cepat, tetapi berjuta-juta perasaan dapat tertukar dalam jangka waktu tersebut. Rayi telah mencintai Angga semenjak bangku SMA, dan Angga dapat dengan pasti mengatakan bahwa ia mencintai Rayi sama seperti ia mencintai Melvira dulu.

Seiring dengan datangnya cahaya mentari pertama, Rayi dan Angga menolehkan pandangan pertama ke arah cakrawala, pada saat garis yang memisahkan langit dan bumi terlihat dengan jelas seiring dengan datangnya fajar.

“Aku tetap mau coba, Yi, aku mau ketemu sama Ayah dan Bunda.” Ujar Angga, penuh determinasi.

Rayi menghela nafas, seakan mengalah.

“Baiklah, Ngga, aku akan mengikuti kamu kemanapun kamu pergi.”

Angga menyenderkan kepalanya ke bahu Rayi, keduanya siap menyongsong hari baru yang penuh tantangan… bersama.

Irnasya Shafira

Seorang Mahasiswi Kriminologi angkatan 2014 ini menyukai sastra dan isu tentang LBGT. Dalam cerita tersebut, ia mengisahkan romantisme antara sepasang kekasih Gay di tengah nilai dan norma yang menentang percintaan sesama jenis.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s