Sembunyi (Bagian 2)

hutan3Kala itu misi pertamaku. Aku dan Boneng menjadi partner dalam sebuah tugas yang aku tak tahu. Togar hanya memberi tahu aku untuk ikuti Boneng, temani dia, dan jaga dia. Sampai akhirnya aku tahu, Boneng membawaku ke Pelabuhan Merak hari Sabtu dini hari. Kesibukan yang kiranya biasa dilakukan sebuah pelabuhan tidak nampak saat ini. Bongkar muat barang yang biasanya terjadi pun tidak seperti biasanya. Aku yang hanya mengurusi barang- barang selundupan kiriman Togar biasanya pun tidak pernah merasakan aktivitas yang sepi seperti ini.

“Ada apa ini Boneng? Kok sepi?” tanyaku

“Ada kiriman.” Jawabnya sambil menghisap rokoknya menghadap ke laut.

Setengah jam kemudian, tiga buah kapal speedboat muncul dari kejauhan. Kami berdua pun hanya menghisap rokok kami. Sesampainya ketiga speedboat itu datang, salah satu laki- laki berperawakan kurus, mengenakan topi, dan sudah paruh baya mendatangi Boneng.

“Hei Boneng! Apa kabar? Lama tak jumpa!” serunya sambil merangkul Aku dan Boneng

“Siapa ini Boneng?” tanyanya

“Gelar nama saya.”

“Ia rekrutan Bang Togar langsung. Jangan main- main Yosep.”

“Oh iya? Nama saya Yosep.” Sambil menyalami saya.

Boneng pun segera mematikan rokoknya dan segera mengambil bungkusan yang ada di mobilnya.

“Ini sudah sekalian dengan ongkos kalian. Ambillah.” Seru Boneng.

Salah satu orang lagi datang, berbadan tegap, cepak, berbadan besar, dan berkacamata. Ia sepertinya ingin mengikuti obrolan kami. Yosep pun mengambilnya dan menyuruh orang itu untuk mengambilnya. Sambil orang itu menghitungnya, salah satu orang di speedboat segera membawa ‘kirimannya’ ke dek pelabuhan. Satu persatu perempuan datang ke perkumpulan kami. Mereka berjumlah tujuh orang. Aku pun tak bergeming melihat satu persatu perempuan itu jalan mendatangi kami. Aku pun terkejut. Mereka cantik dan rupawan seperti model kenamaan. Walau Sabtu malam tidak diterangi cahaya bulan, kecantikan mereka terpancar walau di tengah malam. Aku pun hanya menelan ludah sendiri dan tersadarkan waktu Boneng menepuk pundakku.

“Mau yang mana? Ha..Ha..Ha…” tertawanya lepas

Aku terhanyut dalam kecantikan mereka. Sampai salah satu dari orang tadi berteriak.

“Ini kurang!” serunya

“Maksudnya apa? “ Tanya Yosep. Mereka pun berbisik dan berbicara sesuatu.

“Oke barang sudah sampai. Bagaimana bagus- bagus bukan?” Tanya Yosep kepada kami.

“Kalo yang ini emang rada sipit, dia dari Manado! Kalo yang ini bule, kita dapat susah sekali sesuai pesanan….” Sambil Yosep menerangkan dan belum selesai ia berbicara, bawahannya memotongnya.

“Uangnya kurang, Boneng!” serunya

Boneng yang mendengar hal itu langsung naik pitam. Beceng dicelananya ia hadapkan kepada bawahan Yosep.

“Hei Hei Tenang dulu. Kenapa tegang sekali. Maaf Boneng, dia memang anak baru. Sudah saya bilang dia harus tegas dan galak. Tapi maksudnya bukan begitu.” Jawab Yosep sambil berusaha menenangkan kami. Namun sifat Boneng yang sering tidak terkontrol jika sedang marah langsung menodongkan beceng itu ke bawahan Yosep. Bawahan Yosep pun juga ikut menodongkan pistolnya ke arah Boneng.

“Hei Romena turunkan senjata! Cepat!” dengan nada timur Yosep.

Dooor…. Kepala Romena hancur dan bercecer darah dek itu. Romena terkapar dan tak berkepala. Para perempuan itu menjerit ketakutan dan berlarian menuju mobil. Salah satu perempuan pingsan dan kubopoh tubuhnya ke dalam mobil. Aku suruh mereka semua masuk mobil. Ceceran otak dan darah menempel pula ke bajuku. Menjijikan. Aku pun langsung menghubungi Togar.

“Bang, ada satu mayat dari Boneng.” Kataku

“Sudah ku bilang, kau jaga dia. Sudahlah, hubungi Si Borok. Suruh dia bereskan.”

“Oke, Bang!”

Yosep dan salah satu bawahannya pun hanya terdiam. Tak sempat dia mencegah Boneng menahan tembakannya itu. Segera aku pun menepuk pundak Boneng dan menyadarkannya.

“Apa yang kau buat Boneng! Menambah kerjaan saja.” Seruku

“Sudah kuberi dia pelajaran dia Gelar.” Jawabnya

“Tapi dia tidak bakal mendapatkan pelajara apapun, dia sudah mati. Mati!” seruku

“Sudahku panggil Si Borok.” Lanjutku

Ia pun langsung panik. Segera ia bereskan otak dan ceceran darah dengan segala macam benda. Mencari cara agar tidak terlihat berserakan besar.

Beberapa menit kemudian, Borok datang dengan mobilnya. Ia berjaket dan sedikit rada tua menurutku. Ia menyalamiku dan mengenalkan dirinya dan begitu dengan Yosep dan bawahannya. Boneng yang sedang asik mengumpulkan ceceran otak itu tidak menyangka Borok akan datang secepat itu.

“Hei Boneng! Apa yang kau perbuat lagi?”

“Kau tahu apa yang kau harus perbuat?” Tanya Si Borok

“Tahu.” Jawabnya singkat. Sepertinya Boneng sering bertemu dengan Si Borok dan ia seperti tidak banyak bicara.

Yosep dan bawahannya segera pamit dan diberikannya sejumlah uang dari Si Borok untuk kerugian yang dibuat Boneng.

Sambil menghisap rokok, Aku dan Borok mengawasi Boneng dengan bajunya yang berpenuhkan darah. Setelah selesai, Borok memberikan Boneng tempat sampah plastik besar untuk memasukan mayat. Boneng pun dengan berlumuran darah segera membuang kaosnya dan membersihkan dirinya di pancuran dekat kamar mandi. Si Borok memberikan baju kepada Boneng  dan menyuruhnya membawa mayat ke dalam mobil kami.

“Boneng. Ikuti saya dan kita akan bereskan masalah ini.” Kata Borok

Tanpa menjawab, kami pun yang berisikan tujuh orang perempuan dan satu mayat mengikuti Borok. Dalam perjalanan, tiada di antara kami pun yang berbicara. Kami sibuk menutupi hidung kami dari bau amis dan mayat yang tak karuan. Selama kurang lebih setengah jam, kami sampai ke tempat pembuangan sampah. Boneng sendiri yang membuangnya dan menyalami Borok. Tanpa sepatah kata pun terlontar dari Boneng. Saya pun ikut menyalami Borok dan berterima kasih. Boneng pun sibuk menyemprotkan pewangi ke dalam mobil kami dan sekitar pukul 3 pagi, kami bergegas kembali menuju markas.

***

Dalam tempat ini, aku, Borok, Lapo, dan Togar terdiam. Hanya suara Boneng saja yang menganggu keheningan. Koook….kroook…kroook…. beberapa menit kemudian, keheningan mulai tercipta. Boneng sepertinya sudah tewas. Togar sepertinya menitihkan air mata. Ia terdiam sejenak di pojokan. Aku pun dengan mata sayu tidak dapat melihat dengan jelas Togar ke mana. Beberapa saat kemudian, ia ambil botol minuman, ia minum sedikit, dan memukulnya ke kepala Borok.

“Sudah gila kau yah! Dasar cepu biadab!” serunya

“Kepada siapa lagi aku meminta pertolongan selain kepada kau Borok!”

“Ini bukan lagi menyoal antara bisnis saja. Tapi soal hidupku!”

“Sudah kulakukan sebisa diriku, Togar. Kita sudah berteman lama dan kau tau diriku melebihi siapapun di sini.” Jawab Borok

“Menculik anak menteri untuk kau buat bisnis bukan menjadikan kau kaya! Tapi jadikan kau orang gila!” lanjutnya

“Anak itu sudah kubebaskan. Dia berjanji akan meringankan hukumanmu di bui.” Kata Borok

Tiada satupun di sini yang tahu kenapa Togar menculik anak menteri tersebut. Aku pun baru sekali bertemu dengan anak itu dan tak pernah kutemui lagi. Lapo selalu mengawasiku sampai detik ini. Ia selalu curiga dengan keberadaanku dan setiap apa yang kukerjakan.

“Togar! Togar! Jangan kau susahkan diri kau! Pulanglah ke kampung halaman kita. Mari kita bersenang- senang di sana. Aku sudah bosan. Bosan sekali Togar.” Kata Borok

Aku yang mendengar pun terkejut karena baru pertama kali Borok mengeluarkan logat Bataknya di depanku. Ia yang selalu berpenampilan lebih rapih dari siapapun selalu menunjukan kesantunannya kepada siapapun. Ia pun tidak pernah berbahasa daerah apapun sepengamatanku.

“Borok…Mari kita pulang….” Ia ambil pecehan beling botol tadi dan ia tancapkan ke leher Borok. Hampir sama seperti Boneng, suara Borok terdengar nyaring dari sebelumnya. Groookkk…groookkk…groookkk…

***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s