Sembunyi (Bagian 1)

Foto Sniper Bersembunyi Yang Sulit Ditemukan4Kala ini, jantungku berdebar- debar tak menentu. Nafas tersengal- sengal bagaikan dikejar anjing. Tak aman. Beceng sudah ditempel saja di pelipisku. Peluru di pistol ini siap membocorkan isi kepalaku. Aku sudah pasrah. Isi mulut bukan lagi air liur lagi, tapi darah encer. Entah berapa kali aku kena bogem dari si tangan besar itu. Habis mukaku dihajar dia. Sekujur tubuh sudah tidak karuan. Tangan dan kaki tak lepas dari tali. Aku ingin muntah. Ueeeeeekk… masih pusing.

“Hei…hei… jangan kau muntah disitu! Sini ku kasih tempat. Halah kau ini bikin repot saja!” gerutu Baba

Tertidurlah aku saat itu. Beberapa saat kemudian, suara kreeeeek…kreeeek….kreeeek….hanyut dalam kuping aku hingga terbangun. Aku menoleh ke depan.

“Hei kau diam disitu ya! Aku kumpulkan kalian para penghianat!” bentaknya

Aku lihat si Borok juga sedang diikat dengan kondisi yang mengenaskan pula. Dia hanya mengerang. Sepertinya darah dia lebih segar dariku dan lebih banyak. Darah seperti memuncrat dari jari kirinya, entah yang mana, tapi aku lihat jarinya berdarah banyak sekali. Ini membuat aku ingin muntah lagi. Ueeeeeeek…….

Beberapa saat kemudian, suara kerekan berbunyi lagi, memengingkan telinga. Kreeeeek….kreeeek…kreeeeek… begitu bunyinya. Aku lihat si Lapo sedang diikat juga dan tak kalah mengenaskan dengan aku dan si Borok. Kali ini kakinya yang berdarah- darah. Aku kira dia tertembak di pahanya. Ia menyerengit kesakitan. Kreeeeeek…kreeeeek…kreeek…saat ini si Boneng yang dibawa ke ruangan. Dia berteriak- teriak histeris.

“Ampun bang, ampuuun.” Teriaknya sambil memohon dan mulai merintih kesakitan.

“Berisik kau, Boneng!” teriak Togar sambil menamparnya.

“Lengkap sudah yah kalian! Para penghianat! Empat orang tolol yang coba main- main dengan aku!” teriaknya

Aku sudah pasrah mendengarnya. Terbongkar sudah penyamaran selama ini. Tiga tahun ini, tiga tahun yang sia- sia. Bau amis semakin menyengat. Ruangan ini layaknya rumah tukang jagal. Togar pun tak habisnya memukuli kami hingga akhirnya satu persatu dari kami dia antarkan menuju ajal.

“Kita mulai yang mana dulu? Mau kau dulu anak setan!” teriaknya sambil mencekik si Borok. Ia tak menjawab.

“atau kau dulu, Pantek!” sambil mencekik aku.

“Huaah..huaah…” teriak si Boneng.

“Oke, Kau dulu Boneng! Kau yang dari tadi banyak bicara!” sambil mengarah mata pisau ke mata Boneng.

“Ampun bang, aku salah apa bang? Aku tak tahu .” Katanya sambil mengucurkan air mata.

“Kau tanya salah kau apa? Kau kira aku tak tahu! Kau curangi bisnis plesiranku, kau simpan duit dari pengunjung! Kau sudah berkhianat memberikan pengunjung ke plesiran lain! Biadab!” Gerutu Togar

“Tapi Bang, aku sedang butuh uang bang. Hutangku dari hasil judi sudah ditagih. Habis sudah duitku, Bang.”

“Tapi tidak dengan berkhianat!” teriak Togar

“Kalau kau butuh uang bilang! Kalau kau butuh apa- apa bilang! Aku paling tidak suka kau tidak jujur begini! Kita sudah bagai saudara. Kau malah berkhianat begini.” Lanjutnya

Si Boneng pun tidak bergeming. Parang telah terasah cukup tajam. Aku bisa melihat dari cahaya lampu yang memantul dari parangnya. Si Boneng hanya bergumam tidak jelas.

Sekali itu pun keheningan menyelimuti di ruangan itu. Percikan darah, basah, tak jelas suaranya. Aku hanya menutup mata. Tak tega.

Kroookkk…krookkk..kroookkk… suara Boneng

***

“Kalau kau butuh apa- apa bilang saja. Tak usah sungkan. Kau sendiri yang sudah bantu abangku (Togar). Sudah terseok- seok dia kemarin. Untung ada kau.” Kata Boneng sambil merangkulku.

Togar, seorang preman keturunan suku Batak dan dikenal mempunyai 1000-an anak buah di wilayah Jabodetabek. Ia memilki bisnis terlarang seperti jasa keamanan dan prostitusi. Ia tak segan membunuh siapa pun yang menghalangi bisnisnya. Ia pun dikenal sebagai bodyguard handal kelas kakap. Para pejabat tertinggi di nusantara selalu aman di belakangnya bahkan beberapa dari menteri sudah pernah mencoba jasanya, hingga membunuh rivalnya.

Kata- kata itu yang selalu penging di kepalaku saat ini. Togar penjahat kelas kakap.

“Kau mau minum?” kata Boneng sambil menawarkan bir.

“Hei kenapa kau bingung begitu? Mau minum tidak? Atau kau mau ku ambilkan lonte?” Tanya dia sambil meneguk bir sesekali.

“Tidak boneng. Bagaimana abangmu? Di mana abangmu sekarang?” tanyaku

“Oh itu, dia sedang dirawat bersama mama. Dia sudah baikan. Santai saja kawan. Ambil saja wanita yang kau suka. Bersenang- senanglah.” Kata Boneng sambil meneguk birnya.

“Yah, aku memang bukan saudara kandung bang Togar. Dia yang bantu aku waktu di jalan. Sekarang aku sudah dianggap saudara dan sekarang kau bisa kaya aku. Ha…Ha…Ha…” Lanjut Boneng sambil tertawa

Sehabis Boneng meminum minumannya. Ia yang dalam keadaan setengah mabuk mengantarkanku ke tempat Togar yang dirawat di salah satu bilik di perkampungan itu. Kakinya terluka parah karena terkena timah panas saat kabur dari tangkapan polisi. Sedikit lagi habislah Togar waktu itu. Namun dalam operasi itu, ku sarankan agar jangan menangkapnya dulu. Aku sendiri sangat penasaran dengan penyelundupan manusia yang ia lakukan untuk menyokong tempat prostitusinya. Segala penyidikan pun mengindikasikan Togar juga yang menculik salah satu anak pejabat yang dijadikan bagian dari prostitusinya. Sampai saat ini, anak menteri tersebut belum ditemukan.

Akhirnya, kami pun membuat siasat penangkapan palsu dan aku lah yang menjadi aktor utama penyelamatan Togar. Saat ditemui, ia sudah terkapar karena tidak mampu berjalan. Ia hanya berteriak hingga serak. “Tolong…Tolong…”

Saat kubawa, ia pun hanya menyebutkan tempatnya. Dengan motor yang baru saja kupinjam, aku membawanya ke tempat yang tidak pernah kukunjungi. Prostitusi.

Memasuki kawasan prostitusi tersebut, mereka yang berbadan tegap besar, hitam, dan bertato sudah siap memegang parang. Di belakangnya, beceng sudah diacungkan dari jauh. Aku yang membawa orang terkapar hanya bisa tertunduk sambil merangkul Togar. Satu orang maju, berbadan tegap, cepak, sawo matang, dan kepalan tangannya seakan dapat menghancurkan tiang listrik, bernama Lapo mengacungkan parangnya ke depan kepalaku.

“Mau apa kau? Siapa itu orang, berani kau bawa ke sini?” Tanya Lapo sambil menyerengit dari giginya.

“Ini Boss mu, Togar. Dia hampir ditangkap polisi!” seruku

Lapo yang tak percaya ikut merangkul tangan Togar yang sudah tak sadarkan diri.

“Ini benar Bang Togar! Ayo bawa dia, cepat! Cepat!” seru Lapo sambil memberi perintah kepada bawahannya.

Mereka yang panik akhirnya bergerombol berbagi tugas. Akhirnya, kulihat dari kejauhan mereka memapah Togar masuk ke sebuah mobil Avanza hitam. Mereka pun bergegas ke suatu tempat.

Sementara, parang masih dihadapanku bersama Lapo. Ia masih terdiam dan sesekali mengambil nafas yang panjang dan berat.

“Hei! Hei! Kenapa Bang Togar bisa seperti itu? Kau siapa?” tanyanya sambil menempelkan ke pipiku.

“Saya hanya membantu. Saya bertemu dia di jalan sambil berteriak kesakitan. Tak lebih.” Kataku

“Nama saya Gelar, bang.” Lanjutku

Ia menurunkan parangnya dan mengambil dompetnya. Dia rogoh 3 juta dalam dompetnya dan memberikan kepadaku.

“Ambil! Ambil! Kalau kurang biar kuberi duitnya.” Sambil memberikan kepadaku

“Kemana dia dibawa?” tanyaku sambil menghiraukan uangnya.

“Apa urusanmu?” sambil melangkahkan kakinya lebih dekat ke arahku.

“Saya cuma ingin tahu, bang. Dia, Togar, telah menjanjikan sesuatu kepada saya.”

Dengan mata yang menyelidik, ia pun memasukan uangnya ke dalam dompetnya. Memasukan parang ke dalam sakunya.

“Ikut aku.” Dengan nada khas Batak

Mengambil kunci mobil dan kami berdua pun masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobilnya, ia tak berkata sedikit pun. Ia hanya menatap lurus dan terkadang mengembuskan nafas panjang dan berat. Kala itu rintik- rintik hujan sudah mulai berjatuhan. Ku lihat sudah menuju jam 3 pagi. Lapo pun tetap menatap lurus dengan kesunyian. Aku pun tertidur.

“Bangun kau bangun!” Lapo membangunkan ku.

Jam pun menuju pukul 7 pagi dan hari itu rintik- rintik hujan masih berdatangan.

***

20140707_145526

Rayhan Pratama

Pria pecinta buku Pramoedya Anantatoer ini lahir di Bogor tahun 1993. Berada di wepreventcrime dan terlibat dalam dunia jurnalistik tidak pernah ia pikirkan selama hidupnya. Pernah bercita- cita menjadi arsitek sekaligus editor musik semenjak SMP. Ia pernah mengemban tugas sebagai Project Officer Social Project wepreventcrime pada tahun 2014 yang bertemakan women empowerment. Pada tahun 2015 ini, ia diamanahkan untuk menjadi Pimpinan umum wepreventcrime 2015. Hobi bermain game, menulis, dan berolahraga. Tak heran, jika teman kampusnya memanggilnya bujang. Pernah phobia darah dan sering jahil kepada keluarga dan teman- temannya. Pecinta Radiohead, The Police, dan The Strokes. Karya- karyanya dapat dilihat di Di Bawah Kolong Langit.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s