Review Filem: Gerimis Sepanjang Tahun (2015)

Gerimis-Sepanjang-Tahun-e1433254372466

Pukul 5 sore, saya, Yanuar Permadi (Pemimpin Umum WPC tahun 2014), dan Riefki Bagas Prastowo (Founder WPC dan Penanggap Filem dan Buku Gerimis Sepanjang Tahun dari Interseksi Foundation) berangkat ke Ruang Rupa bersama- sama. Harapan saya di sana hanya mau menonton filem dan dapat buku. Sesampainya di sana pukul 6 lebih, kami beberapa orang pertama hadir sebagai penonton. Setelah menulis buku tamu, kami diberi secara gratis buku Gerimis Sepanjang Tahun ini. Berarti niatan saya sudah tercapai satu, tinggal menonton filem saja. Kami pun langsung membaca buku tersebut dan setidaknya kami seolah- olah sudah menonton spoiler nya dulu. Filem dimulai pukul 7 malam. Filem Gerimis Sepanjang Tahun menjadi salah satu karya yang dihasilkan dalam workshop akumassa (Forum Lenteng) dengan Jatiwangi Art Factory (JaF) di Kampung Wates, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Dalam berjalannya workshop akumassa tersebut, berdirilah komunitas lokal yang menjadi partisipan dalam workshop akumassa ini, yaitu Komunitas Ciranggon. Filem ini merupakan hasil karya dari Komunitas Ciranggon yang difasilitasi oleh Forum Lenteng dan JaF. Selain filem, workshop ini juga menerbitkan buku dengan judul yang sama. Periode masa produksi filem dan buku pada Maret- Mei 2015. Filem Gerimis Sepanjang Tahun berdurasi sekitar 50 menit. Biasanya, Forum Lenteng dalam program akumassa memproduksi video yang berdurasi pendek dan filem yang berdurasi panjang ini baru pertama kali dibuat oleh Akumassa (Forum Lenteng).

***

Pada menit- menit awal, scene dibuka dengan sebuah lapangan luas dan hijau dan beberapa domba yang diam dan berjalan berbarengan. Kemudian, scene dilanjutkan pada warga yang memakai jalan aspal dengan kanan- kiri jalan tersebut adalah sawah serta kendaraan yang berlalu lalang. Scene selanjutnya menjelaskan tentang pembuatan genting yang berada di Kampung Wates, dari mulai pengangkatan tanah liat hingga memasukkannya ke mesin. Satu sama lain saling membantu dalam pembuatan genting tersebut. Pembagian kerja yang jelas, antara pemanggul tanah, pengoperasian mesin, pencetakkan, dan finishing. Scene ini terbagi- bagi dan diselingi dengan footage yang lain. Footage yang lain adalah proses pembuatan beras. Dari mulai pengaritan padi, proses ‘pemukulan’ padi, masuk ke mesin, hingga dikemas kembali ke dalam karung menjadi scene yang menarik, bagi saya. Footage ini pun terbagi- bagi pada waktu yang berbeda. Suasana para pekerja genting maupun petani padi terlihat serasi dengan adanya mesin yang mereka pakai untuk memudahkan kerja mereka. Selain itu, footage perkebunan pun tidak luput dari sorotan. Suasana nan asri di pemukiman Kampung Wates dan guyub terlihat di sana. Footage ini menampilkan interaksi pada pagi hari menjelang siang.

Gambar pembuatan jalan Tol di Jatiwangi sangat terasa pada scene yang memperlihatkan alat besar atau pengeruk mengeruk tanah dan dari arah bersamaan dari kamera. Terlihat satu motor yang membawa barang besar di tengah tanah yang basah dan suasana saat itu pun sedang gerimis. Motor tersebut ternyata membawa barang dagangannya, yaitu minuman sachet seperti kopi dan minuman manis serta bala- bala. Interaksi pun terbangun dengan para pekerja. Ada pula cuplikan pekerja menghancurkan cor yang telah dibuat dan sedang dimandori. Ada pula cuplikan wawancara dengan pekerja dan pembicaraan antara pekerja dengan pekerja pembuat jalan Tol.

Cuplikan percakapan antara pemuda yang mencuci mobil pun terlihat di dalam filem itu sebagian. Selain itu, ada footage yang menampilkan pada seorang ibu yang mengembala domba dan beristirahat dengan memutarkan lagu dangdut ‘kekinian’. Arena permainan anak- anak tersaji pada footage anak- anak yang sedang berenang dan bermain air di suatu empang. Terlihat salah satu orang dewasa sedang memotret mereka melalui kamera handphonenya, hingga akhirnya mereka pun diusir oleh salah satu warga untuk tidak lagi bermain air di situ lagi. Salah satu scene yang menarik pula bagi saya adalah ketika sebuah mobil yang berusaha parkir dan sepertinya sopir mobil tersebut sedang belajar dan terlihat kesulitan dalam memarkirkan mobilnya.

***

Saya pribadi dalam posisi ini tidak paham tentang dunia filem, apalagi filem dokumenter. Niatan saya saat itu ingin menonton filem saja dan ingin melihat filem Forum Lenteng. Saya pun di sini berusaha memaparkan pendapat saya mengenai filem dan buku ini melalui tulisan ini. Filem itu saya rasa sudah menampilkan sisi visual yang bagus dan suara yang jelas. Cara pengambilan gambar awal pun sangat bagus dengan menggambarkan begitu luasnya kampung ini dan sabananya.

Saya melihat ada kesamaan filem dokumenter ini dengan penelitian yang biasanya menghasilkan jurnal, skripsi, tesis, atau disertasi. Hanya saja medium kali ini adalah filem. Secara garis besar, filem ini sudah menjadi suatu representasi empirical problem (masalah empiris) yang berada dalam latar belakang penelitian. Namun sayangnya, jika kita samakan lagi apakah filem ini menjadi salah satu produk penelitian, saya bisa bilang tidak karena belum ada conseptual problem– nya. Hal ini berkaitan sudut pandang yang kita pakai, terlepas dari subyek penelitian itu. Pada dasarnya penelitian itu adalah The Art Of Framming. Sebuah frame yang akan kita pakai dalam melihat, merasakan, dan memaknai. Dari filem tersebut, saya rasa ini hanya sebuah profil sebuah desa. Masalah- masalah sebenarnya sudah terangkum dalam filem itu, tapi ketika saya membahas ini melalui sudut penelitian, kita harus melihat masalah yang mana dan di mana. Sayangnya masalah- masalah tersebut tidak menjadi fokus yang ada dalam filem ini.

***

Pada diskusi yang berlangsung setelah pemutaran filem, Akumassa menjelaskan bahwa mereka ingin memberikan medium atau wadah bagi masyarakat lokal untuk berkarya bagi dirinya, oleh dirinya, dan untuk dirinya. Sebagai salah satu counter culture terhadap media mainstream yang sudah memiliki berbagai kepentingan politik. Saya pun pernah membaca tentang salah satu buku akumassa yang berjudul Seni Di Batas Senen. Dalam salah satu tulisannya, membahas tentang bagaimana hegemoni yang terjadi pada Adzan Maghrib. Kebanyakan Adzan Maghrib menayangkan visual perkotaan, seperti Jakarta. Selain itu, jam Adzan Magrib kenapa harus seragam sesuai dengan Jakarta, sementara orang yang berada di daerah lain tidak bertinggal di Jakarta. Momentum yang terjadi saat Adzan Magrib menjadi suatu simbol bahwa penggambaran Adzan harus sentralistik di Ibukota Jakarta. Hal semacam ini yang kemudian menjadi pemicu bagaimana sebenarnya masyarakat harus mengatasi penguasaan media yang hanya dimiliki oleh sekelompok orang. Selama ini tidak ada tayangan alternatif yang menawarkan unsur kelokalan, bahkan kalau pun ada TV lokal pun hanya berada di kota- kota besar saja. Sebuah konglomerasi media ini akan terus memaksa para penonton untuk menonton programnya.

Saya berpikir, oke, saya setuju bahwa masyarakat harus mengedukasi dirinya sendiri dengan kearifan lokal mereka sendiri melalui tayangan- tayangan yang harus mereka buat sendiri sebagai bagian dari kebutuhan mereka. Lalu apa lagi? Akumassa menjelaskan bahwa masyarakat di daerah yang jauh dari pusat Ibukota Negara berada dalam posisi tidak menguntungkan. Contohnya, reklamasi pantai di Bali, Rembang, dan lainnya menjadi gambaran bahwa posisi tawar dari masyarakat turun bahkan tidak ada. Oleh karena itu, mereka membuat segala macam media dan menjadi pusat perhatian setelah diliput media. Saya melihat betapa berkuasanya para pemilik media dalam memberikan wacana- wacana melalui program- program televisi atau filem Hollywood sebagai media arus utama kepada masyarakat. Jadi saya menyimpulkan, media sebagai cara alternatif untuk menaikkan posisi tawar kita terhadap penguasa.

***

Dalam buku Gerimis Sepanjang Tahun, dijelaskan bahwa ada perbedaan tempat tongkrongan pencucian mobil para pemuda. Namun di dalam filem, saya tidak melihat hal tersebut. Hanya beberapa percakapan santai antara satu sama lain. Hal seperti ini yang menjadi kurang didalami dalam filem tersebut. Dari tempat tongkorongan yang berbeda, dapat dilihat hal ini bisa menyulut pertikaian di suatu saat nanti.

Saya pun berdiskusi dengan Yanuar yang pernah mengikuti workshop akumassa.

“Yah itu, AKU yang berada dalam masyarakat (AKUMASSA) sehingga representasi itu yang mewakilkan realitas masyarakat dan konteks daerah tersebut.” Kata Yanuar

“Itu seperti apa, yan ,cara penngambilan gambarnya?” Tanya saya

“Yah itu harus dalam satu sudut, diam, dan tidak ada narasi.” Jawabnya singkat

“Kalo gua liat yah itu wideshoot terus yan, tapi cuma beberapa yang gua agak bingung, kenapa ada scene proses pengilingan itu? Terlalu fokus.” Tanya saya

“Iya, itu yang salah. Sama harusnya ga ada narasi. Bahkan kalo perlu ga ada wawancara. Waktu itu Mba Otty bilang (dari workshop yang pernah ia lakukan) kalo lo lagi males cari informasi, yah, pake wawancara.” Kata Yanuar

Saya melihat ternyata ada salah satu interaksi tanya jawab, yang menurut saya, justru merusak sistem dan pendokumentasian filem itu. Misal, dalam scene salah satu mandor atau apa, yang bercerita bahwa ada perlu Tol ini paling bagus, sudah dicor 10 cm. Interaksi itu justru menurut saya dapat menganggu sistem itu sendiri apalagi kondisi tersebut adalah wawancara yang waktu dan tempat menganggu aktivitas informan. Bahkan di filem itu pun, atau saya yang tidak sadar, aktivitas apa yang sedang ia lakukan? Apakah dia sedang bekerja? Saya khawatir hal itu justru memberikan dampak, walau kecil, terhadap sistem kerja yang telah ada.

Selain itu, khususnya dalam pengambilan gambar pada pabrik terlalu fokus, sehingga hal ini berbeda dengan apa yang dibicarakan dari workshop yang Yanuar katakan. Yanuar pun menerangkan bahwa jika ada suatu lapangan yang harus diambil gambarnya. Ia harus mengambil gambar tidak terfokus pada satu hal saja. Ia mencontohkan sebuah lapangan yang menjadi obyek, bisa saja dia hanya menyorot gawang, yang artinya desa ini suka bermain bola, atau dia bisa saja merekam tanahnya saja, atau rumputnya karena pasti dalam diri masing- masing perekam punya suatu obyek yang menurut mereka anggap menarik, atau dalam konteks ini adalah masalah.

***

 “Yan, emang kalo akumassa tuh kaya gitu yah? Gua sih mengutip apa yang dikatakan Zikri tadi. Media sebagai salah satu alternative “bernegosiasi” dengan penguasa, masyarakat punya bergainiing position yang kuat dengan pemerintah, tapi kalo ga ada konseptual problem yang ditawarkan dalam filem itu. Gua ngeliatnya itu masalah- masalah itu jadi satu. Makanya gua pas nonton filem gua mau menyimpulkan. Oh ini filem  tentang modernisasi di mana masyarakat Jatiwangi bisa survive dengan perubahan yang ada. Tapi lama kelamaan, setelah diskusi berlangsung, saya sadar bahwa komunitas Ciranggon membuat suatu profil untuk desanya. Kembali pada tadi, kalo emang niatnya semacam propaganda atau memperlihatkan realitas terhadap suatu permasalahan yang ada mestinya langsung aja ke pokok permasalahan. Missal, gua mau shoot tentang jalan daerah gua rusak. Yah gua bakal shoot jalan rusak. Kaya mengandaikan, ini loh pemerintah jalan gua rusak. Ga harus gua menggambarkan secara keseluruhan. Karena ya tadi maksudnya untuk meninggikan posisi tawar kita kepada pemerintah.” Tanya saya

“Iya emang cara akumassa gitu. Kalo missal jalan rusak, gua bakal shoot lama, sampai motor yang lewat situ gimana caranya lewat jalan rusak itu. Sesimpel itu. Oh iya, pernah juga Forum Lenteng di mana yah itu, yang warga dikasih kamera satu- satu terus mereka cari foto selama sehari sampai 3 hari terus dikumpulin. Jadi bisa diliat tuh orang ini interestnya ini. Bahkan bisa diliat orang itu jagoan atau bukan. Bisa diliat dari ruang privasi yang bisa dia ambil dari warga sampe kaya ke WC- WC juga. Artinya dia udah masuk ruang privat udah jagoan banget tuh.” Jawab Yanuar

“Itu kalo ga salah di Jakarta Bienale deh” kata Bang Bagas

“Oh iya itu.” Kata Yanuar

“Yah menurut gua, emang harusnya gitu yan, akumassa dengan perspektif semua warga. Jadi apakah filem itu sudah merepesentasikan warga Jatiwangi? Apakah hasil rekaman yang dibuat pun sudah merpesentasikan kebutuhan masyarakat itu? Kalo menurut gua sih, gua kembali pake perspektif penelitian sih. Jadi untuk ngeliat signifikansi kepada bagaimana missal jalan itu dibenerin adalah dengan wawancara mendalam, investigasi kaya gitu.” Tanya saya

“Iya, tapi kan ini konteksnya Filem bukan Penelitian.” Bang Bagas

Menutup diskusi kami

***

Berangkat dari situ, saya berpikir berarti ada masalah yang ingin diangkat di Jatiwangi itu sendiri. Isu- isu modernisasi yang terdapat pada tulisan pengantar Zikri di buku Gerimis Sepanjang Tahun seperti isu genting yang para pekerjanya saling bekerja sama dengan suatu sistem kerja yang telah dimodernisasi dengan dibantu mesin, isu padi yang juga telah memperlihatkan kemudahan cara kerja petani dalam mengolah hasil taninya, isu jalan Tol, isu perbedaan tempat tongkrongan cuci mobil, dan lainnya memicu saya untuk dapat berhipotesis bahwa sebenarnya isu- isu tersebut sudah dapat mencangkup hal yang lebih spesifik dan dalam konteks penelitian, sudah dalam tataran conceptual problem. Pertanyaan saya lagi apakah filem ini sudah menjadi representasi masalah- masalah yang ada di Jatiwangi?

Kemudian, saya melihat dari segi metode yang dipakai dalam pembuatan filem ini adalah dengan metode akumassa di mana masyarakatnya sendiri yang membuat karya dan melalui sudut pandang masyarakat Kampung Wates. Dalam bukunya, tiga orang dari Jatiwangi telah memberikan kontribusinya terhadap buku ini. Menurut saya, buku ini sudah cukup merepesentasikan beberapa golongan seperti Pak Maman, Ibu Iin, Ibu Imas yang pada profesinya sendiri berbeda. Tapi apakah hanya dari golongan atau kelompok itu saja, seperti Pak Maman sebagai mantan pekerja pabrik. Apakah filem ini telah menjadi suara yang mewakilkan warga Kampung Wates?

Saya pribadi masih ragu atau lebih tepatnya belum tahu tentang komposisi tim dalam filem itu. Misalnya warga yang membuat karya adalah berada dalam sebuah blok (dari segi territorial) yang sama atau dengan profesi (segi profesi) yang sama. Dari diskusi yang berjalan kemarin, ada hal menarik dari sesi tanya jawab yang dibuat oleh salah satu penonton kepada Pak Maman.

Apa bapak kenal dengan orang di sana?

Tempat genting itu bapak kenal juga?

Anak- anak itu bapak kenal?

Memang biasanya seperti itu?

Dari interaksi itu, saya hanya melihat dari reaksi Pak Maman yang mengangguk dan mengartikan benar- benar kenal pada orang- orang tersebut dan lokasi yang ia jadikan obyek rekam. Saya hanya berpikir bahwa bagaimana ketika Pak Maman memang ada kecendrungan rasa keterasingan saat membawa kamera dan begitu pula dengan masyarakat di sekitarnya. Keterasingan yang saya maksud di sini adalah suatu kondisi yang tidak biasa, baik dari keseharian Pak Maman itu sendiri serta obyek rekam yang Pak Maman ingin rekam. Itu artinya rasa keterasingan ini akan menimbulkan kecanggungan atau mungkin suatu hal yang berlebihan, sehingga apa yang saya maksud sebelumnya, yaitu menganggu sistem kerja akan terjadi dan hal tersebut mengindikasikan realitas yang terbangun dalam film akan berbeda. Misalnya ketika anak- anak sedang direkam melalui kamera, kira- kira apa interaksi yang terbangun sebelum, sedang, dan sesudah Pak Maman merekam dengan kamera?

Kondisi interaksi yang (mungkin) terbangun

  • Bapak kenapa bawa kamera?
  • Jangan shoot saya Pak jangan ya, malu.
  • Atau overacting terhadap kamera.

Saya berpikir kalau saja pak maman tidak membawa kamera. Pasti interaksi yang berjalan akan berjalan alami. Namun dengan membawa kamera, ada hal yang tidak biasa pada saat Pak Maman membawa kamera yang artinya dapat saya katakan, hal itu menganggu sistem.

Saya berpikir instrumen kamera sebagai alat perekam, walaupun dikatakan hanya “mendokumentasikan” dan tidak mengintervensi suatu ekosistem. Saya melihat ada hal asing atau tidak biasa yang nampak ketika seseorang membawa kamera yang di daerahnya tidak biasa dilakukan. Saya pernah beberapa kali ke suatu tempat yang memang jarang sekali melihat orang membawa kamera. Sampai pada akhirnya saya ke daerah konflik di kampung nelayan di Jakarta Utara, perseturuan antara nelayan dan polisi laut. Perseteruan ini hingga saling lempar bom ikan kepada polisi laut tersebut. Para informan saya menggebu- gebu dan mengutarakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebenaran. Mereka berharap dengan saya membawa kamera dan mewawancarai mereka dapat menyelesaikan masalah mereka. Mereka yakin pada media yang dapat mempunyai kekuatan untuk membantu mereka para nelayan. Pada awalnya, ketika saya bertemu informan- informan saya, saya ditanya “Apakah kamu wartawan?” saya bilang tidak dan saya hanya bisa bilang saya mahasiswa biasa. Hal berbeda saya temui saat saya berkunjung ke Danau Lio, Depok. Danau ini sering dikunjungi oleh banyak orang. Namun berbeda ketika saya membawa kamera. Ketika itu, saya berbicara dengan salah satu koordinator kontrakan di tanah konflik tersebut. Pertanyaan yang terlontar pertama kali adalah apakah saya wartawan atau bukan? Bahkan pernah saya dengar salah satu bapak bilang, jangan shoot saya, nanti saya dipenjara lagi. Hal ini menunjukan bahwa kamera menjadi suatu simbol asing di beberapa tempat yang memang tidak biasa melihat kamera dan orang yang membawa kamera.

***

20140707_145526

Rayhan Pratama

Pria pecinta buku Pramoedya Anantatoer ini lahir di Bogor tahun 1993. Berada di wepreventcrime dan terlibat dalam dunia jurnalistik tidak pernah ia pikirkan selama hidupnya. Pernah bercita- cita menjadi arsitek sekaligus editor musik semenjak SMP. Ia pernah mengemban tugas sebagai Project Officer Social Project wepreventcrime pada tahun 2014 yang bertemakan women empowerment. Pada tahun 2015 ini, ia diamanahkan untuk menjadi Pimpinan umum wepreventcrime 2015. Hobi bermain game, menulis, dan berolahraga. Tak heran, jika teman kampusnya memanggilnya bujang. Pernah phobia darah dan sering jahil kepada keluarga dan teman- temannya. Pecinta Radiohead, The Police, dan The Strokes. Karya- karyanya dapat dilihat di Di Bawah Kolong Langit.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s