Miss UniPas: Parodi Kontes Kecantikan di Lembaga Pemasyarakatan

20150414_085508
Dokumentasi: Khanifudin Latif

Bandung, wepreventcrime- Selasa, 14 April 2015, Dalam rangka memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan ke-51, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas IIA Bandung menyelenggarakan kegiatan Miss UniPas 2015 pada hari Selasa, 14 April 2015, bertempat di Aula Lapas Wanita Bandung.

Kegiatan tersebut diramaikan oleh seluruh Warga Binaan Pemasyarkatan (WBP), petugas Lapas Wanita Bandung, perwakilan Kantor Wilayah Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Barat, dan tamu undangan khusus, seperti Maman Suherman (Kriminologi FISIP-UI 1984, penulis buku “Re:”, Indonesia Lawak Klub), Indri Budiharjo dan Dian Andriani (OQ Modelling), serta Herman Felani (aktor senior). Keempat tamu undangan khusus tersebut diminta datang secara sukarela untuk menjadi juri kontes Miss UniPas 2015.

Miss UniPas mengadopsi dan memparodikan konsep pertunjukkan kontes bakat dan kecantikan (beauty and talent show) seperti Putri Indonesia atau Miss Universe  dan diikuti oleh para perempuan WBP Lapas Wanita Bandung. “Ini merupakan acara dari dan untuk kami”, kata salah satu WBP perempuan yang menjadi panitia acara.

Peserta kontes Miss UniPas 2015 terdiri dari delapan belas WBP perempuan yang berusia 40 tahun ke atas. “Kita ingin memberi kesempatan untuk yang berumur ‘senior’ untuk tampil, sebagai ajang apresiasi dan penyulut rasa semangat mereka”, tutur Surta Duma Sihombing, Kepala Lapas (Kalapas) Wanita Kelas IIA Bandung saat memberikan kata sambutan.

Sebelum masuk pada acara utama, terdapat dua mata acara pembuka. Pertama adalah simbolisasi penyerahan sejumlah buku oleh Maman Suherman—yang turut hadir sebagai salah juri kontes—kepada Surta Duma Sihombing. Sejumlah buku merupakan donasi dari Maman Suherman dan wepreventcrime, yang diserahkan untuk Perpustakaan Lapas Wanita Bandung. Kedua adalah pagelaran busana hasil karya bengkel seni Lapas Wanita Bandung yang diperagakan oleh para WBP perempuan. Kedua mata acara pembuka tersebut cukup memicu riuh para penonton yang hadir.

20150414_095837
Empat juri Miss UniPas 2015 (dari kiri ke kanan); Dian, Maman, Indri, dan Herman. Dokumentasi; Khaniffudin Latif

Setelah keempat juri—Maman, Indri, Dian, dan Herman—diperkenalkan, selanjutnya pembawa acara mempersilahkan ke-18 peserta untuk menampilkan, memperagakan busana yang dikenakan, dan mengenalkan diri ke hadapan keempat juri, tamu, dan penonton. Ke-18 perempuan berusia rata-rata di atas 40 tahun berlenggak-lenggok, berusaha untuk membuat juri dan penonton terkesima dengan kreatifitas paduan busana yang nyentrik serta riasan wajah yang tak kalah menarik. Selama sesi perkenalan, seisi ruangan bising oleh riuh tepuk tangan serta gelak tawa dari seluruh orang yang hadir.

Tak hanya memperagakan paduan busana hasil kreatifitas sendiri, para peserta juga dihadapkan dengan sesi tanya jawab untuk memicu daya kompetisi dan menguji pengetahuan umum para peserta, khususnya seputar kehidupan Pemasyarakatan di Lapas Wanita Bandung. Pertanyaan yang ditanyakan bervariasi, dengan tingkat kesulitan yang relatif. Misal, peserta diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai nama orang yang menduduki jabatan Kasi Pembinaan di Lapas Wanita Bandung;

“Bu Inna!”, sahut salah satu peserta yang mendapat giliran menjawab dengan semangat.

“Nama lengkapnya?!”, timpal Pembawa Acara. “Kalau tidak lengkap, jawabannya absah!”.

Penonton sumringah melihat si peserta gagap menjawab, mencoba mengingat nama lengkap petugas Lapas yang digadang-gadang sebagai petugas favorit para WBP di Lapas Wanita Bandung.

“Yaah, sah dong mas, mba.. Ya Bu Inna ya?”, kata peserta yang mendapat giliran menjawab, berusaha meyakinkan juri dan si pemilik nama.

“Ya…ya..”, sahut Bu Inna diikuti tawa kecil.

Selain tanya jawab, peserta juga diminta untuk menunjukkan bakat maupun keahliannya masing-masing. Sebagian besar memilih untuk menyanyi dengan lagu-lagu tembang. Beberapa mengekspresikan bakat seni lain, seperti membaca puisi, aksi teatrikal, hingga berjoged tarian dangdut yang cukup populer dikalangan WBP perempuan di Lapas Bandung, yakni Goyang Dumang. Meskipun beberapa peserta nampak demam panggung dalam sesi pertunjukkan bakat, terlihat bahwa seluruh peserta memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta kemampuan unjuk gigi yang mumpuni.

***

Memang unik melihat jenis kontes seperti Miss UniPas, mengingat kegiatan yang memparodikan kontes beauty pageant seperti yang ditayangkan televisi, dilaksanakan di dalam Lembaga Pemasyarakatan yang lazim dikenal—meminjam konsep Erving Goffman—sebagai total institution; institusi yang ditujukan untuk memberikan kekangan terhadap individu.

“Miss UniPas ini merupakan salah satu rangkaian acara memperingati Hari Pemasyarakatan tahun 2015, dan juga sebagai salah satu bentuk kegiatan pembinaan di Lapas Wanita Bandung”, tambah perempuan keturunan Sunda tersebut.

Inna menambahkan, “Lagipula, kontes serupa seperti ini sebetulnya sudah cukup lazim dan sering dilaksanakan di setiap Lapas Wanita, tak hanya di Bandung saja. Peragaan busana memperingati Hari Kartini misalnya, tiap tahunnya rutin dilaksanakan di sini. Namun mungkin, kegiatan yang mengundang orang dari luar Lapas untuk terlibat, mungkin masih jarang ditemui”.

Pendapat Inna terkait Miss UniPas 2015 sebagai program pembinaan, dibuktikan dengan keterlibatan sebagian besar WBP perempuan dalam  kegiatan tersebut, entah sebagai pengisi acara sampingan (seperti fashion show pembuka, kontes Goyang Dumang di sela-sela acara utama, dan peserta games), peserta acara utama, maupun pendukung dan panitia acara.

Sebagian besar bukan berarti seluruhnya. Berdasarkan hasil observasi tim liputan wepreventcrime yang ikut meliput kegiatan tersebut, terdapat beberapa WBP perempuan yang tidak terlibat aktif pada kegiatan Miss UniPas. Sekitar 3-5 orang terlihat berada di luar Aula dan sibuk menyulam serta bersenda gurau. Beberapa asik dengan kegiatan di workshop sulam bulu mata. Sekitar 1-2 orang hanya duduk di perpustakaan.

Selain perihal konsep kegiatan dan keterlibatan para WBP, ada beberapa hal lain yang menarik untuk dikomentari dari sudut pandang kriminologi.

Wepreventcrime mewawancarai dua dosen Kriminologi FISIP-UI, Mamik Sri Supatmi dan Arthur Josias Simon pada waktu dan tempat yang terpisah, untuk meminta komentar mereka dari perspektif kriminologi mengenai kegiatan Miss UniPas 2015.

Secara umum, mereka berpendapat bahwa kegiatan tersebut cukup positif. “Menurut saya, itu (Miss UniPas 2015) merupakan kegiatan yang bagus, memicu inovasi dan memaksimalkan potensi para WBP untuk diekspresikan dalam suatu wadah kompetisi”, tutur Arthur Josias Simon. Sementara itu Mamik Sri Supatmi berpendapat, “Kegiatan tersebut (Miss UniPas 2015) bagus untuk hiburan mereka (para WBP perempuan)”.

Menjelaskan pandangannya secara lebih spesifik mengenai kegiatan Miss UniPas 2015 dengan menggunakan perspektif studi kepenjaraan, Arthur Josias Simon menuturkan, “Kegiatan tersebut membuat para WBP, bukan hanya sekedar killing time, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri mereka kembali. Tak hanya kepercayaan diri secara personal, namun juga interpersonal, yakni ketika adanya masyarakat luar yang turut hadir untuk menyaksikan mereka, sehingga mereka mampu berperilaku kembali seperti masyarakat luar”. Ia juga menambahkan bahwa semakin banyak kegiatan serupa memicu WBP untuk terus menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan latihan, persiapan, maupun beragam aktifitas lain yang variatif.

Arthur Josias Simon menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dari luar Lapas merupakan salah satu bentuk inovasi pembinaan di dalam institus Lapas. “Apalagi ditambah dengan kehadiran tokoh ternama seperti Maman Suherman sebagai representasi publik yang semakin memicu para WBP yang menjadi peserta atau pengisi acara untuk tampil sebaik-baiknya”, tutur dosen yang mengajar matakuliah Sosiologi Kepenjaraan di Departemen Kriminologi FISIP-UI.

Tak Lepas Dari Kritik

Kritik terhadap kegiatan Miss UniPas turut dilayangkan oleh kedua kriminolog tersebut, Mamik Sri Supatmi dan Arthur Josias Simon.

Mamik Sri Supatmi, pemerhati isu perempuan dalam perspektif kriminologi, berpandangan, “Kegiatan tersebut bukti bahwa penjara merupakan sebuah total institution yang kental sebagai tempat pelanggengan, atau dengan meminjam istilah Foucault, sebagai tempat pendisiplinan tubuh perempuan terhadap konstruksi feminitas maupun gender stereotyping”.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut tak buruk seutuhnya, namun, suatu kegiatan yang memang ditujukan untuk pemberdayaan WBP perempuan seharusnya memerhatikan aspek minat dan bakat mereka yang sesungguhnya. “Ini kan bukti bahwa pembinaan di dalam Lapas masih tidak sensitif jender. Apakah dengan membuat mereka percaya diri tampil dimuka umum dengan menggunakan berbagai macam riasan dinilai sebagai tolak ukur keberhasilan pembinaan di dalam Lapas? Apakah semua perempuan di dalam Lapas memiliki minat di bidang tata rias? Tentu tidak. Seharusnya masing-masing individu diikutsertakan pada kegiatan pembinaan yang mampu menggali bakat, minat, dan potensi sesungguhnya yang terpendam dalam diri mereka”, tutur pengajar matakuliah Perempuan dan Keadilan di Departemen Kriminologi FISIP-UI tersebut.

Mamik Sri Supatmi mengakui bahwa untuk sekedar hiburan, kegiatan Miss UniPas dinilai menarik. Namun, sebagai seorang feminis, ia beranggapan bahwa kegiatan yang mencerminkan gender stereotyping tersebut—seperti menyulam, keterampilan merias diri, kontes kecantikan—dirasa tidak memberikan signifikansi dan kegunaan yang berarti dalam pemberdayaan perempuan yang ideal di dalam Lapas, terlebih lagi jika para WBP perempuan tersebut kembali ke masyarakat dikemudian hari. “Apabila masyarakat di luar penjara masih patriarkis, maka jangan harap rezim penjara (beserta segala macam bentuk pembinaan) yang ada sesuai dengan prinsip kedilan dan kesetaraan jender”, tutur Mamik.

Kritik yang hampir serupa dikemukakan oleh Arthur Josias Simon. Dosen pemerhati isu kepenjaraan tersebut mengangkat masalah keterlibatan para WBP dalam pelaksanaan kegiatan Miss UniPas. “Pertanyaannya adalah, apakah semua WBP terlibat dalam kegiatan itu?”, kata Simon beretorika.

“Biasanya tidak semua. Ini menunjukkan bahwa pembinaan di dalam Lapas masih memihak terhadap sekelompok WBP tertentu saja, yakni kelompok-kelompok WBP yang bisa bekerja, paham dengan nuansa kegiatan yang dilaksanakan, atau memiliki kedekatan khusus dengan petugas Lapas, sehingga WBP tertentu dilibatkan dalam proses perumusan dan pelaksanaan kegiatan. Maka yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan WBP lain yang tidak terlibat? Apakah nilai-nilai pembinaan yang termanifestasi dalam kegiatan tersebut juga mampu menyentuh WBP yang hanya jadi penonton saja? Permasalahannya adalah di pertanyaan itu. Bagaimana memberdayakan juga WBP yang tidak ikut terlibat sama sekali dalam proses perumusan maupun pelaksanaan, dan hanya sekedar menjadi penonton, atau bahkan tidak terlibat sama sekali dalam setiap aspek kegiatan yang dilaksanakan”, tutur Arthur Josias Simon.

Menurut Simon, jika persoalan ketidakmampuan program pembinaan untuk melibatkan seluruh WBP terus dibiarkan, dalam jangka panjang akan mengakibatkan terbentuknya struktur atau kasta sosial WBP dan menghasilkan pola-pola diskriminasi di dalam lapas. “Inilah tantangan dari Bidang Pembinaan di dalam Lapas. Mampukah memberikan solusi atas permasalahan tersebut”, tutur Simon.

Reporter: Khanifuddin Latif, Rizki Akbar Hasan.

Penulis: Rizki Akbar Hasan.

Juru Kamera: Khanifuddin Latif.

Untuk kritik dan saran dapat melalui surel redaksi wepreventcrime di redaksi.wepreventcrime@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s