Press Release Seminar Nasional Social WellFair 2015

20150319_111839

Apa sih Social WellFair?

Social WellFair 2015 merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMIKS) FISIP-UI, yang dimulai pada hari Kamis, 19 Maret 2015 hingga Sabtu, 21 Maret 2015.[1]

Setiap tahunnya, kegiatan tersebut mengangkat tema yang berhubungan dengan disiplin ilmu Kesejahteraan Sosial, dan diekspresikan melalui serangkaian sub-acara. Tahun ini, tema yang diangkat dalam Social WellFair 2015 adalah isu perlindungan anak, dengan jargon  “Save The Children, Save The Future”.

Terdapat tiga rangkaian sub-acara yang diselenggarakan pada Social WellFair 2015, yakni, Seminar Nasional, Film Screening, dan Creative Fun Campaign.

Kali ini, wepreventcrime berkesempatan untuk meliput salah satu sub-acara Social WellFair 2015, yakni Seminar Nasional dengan tema “Child Protection System”, yang dilaksanakan pada hari Kamis, 19 Maret 2015, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Seminar Nasional itu turut menghadirkan tiga tokoh yang berkaitan dengan isu perlindungan anak untuk menjadi pembicara Seminar Nasional. Ketiga pembicara tersebut antara lain; Widyawati Rindayani, Ketua Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Kota Depok, Jawa Barat; Cahyo Prihadi, Wahana Visi Indonesia; dan Fajar, Pembimbing Anak Cilincing. Seminar tersebut dimoderatori oleh Derry Fahrizal Ulum, Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP-UI.

Seminar Nasional tersebut dihadiri oleh civitas academica Universitas Indonesia, dan perwakilan civitas academica dari perguruan tinggi lain, seperti; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Institut Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung, Universitas Cendrawasih, Institus Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Negeri Yogyakarta, dan Universitas Padjajaran.

Merenungkan Gagasan Child Protection System Pada Tataran Teoritis dan Praktis dalam Seminar Nasional Social WellFair 2015

Secara garis besar, alur seminar tersebut membicarakan bagaimana usaha menciptakan sistem perlindungan anak dalam tataran teoritis hingga ke tataran praktis. Pada tataran teoritis, idealnya, sistem perlindungan anak harus melibatkan seluruh elemen lingkungan, baik fisik, sosial, biologis, budaya. Upaya menciptakan suatu sistem yang efektif untuk ‘melindungi’ anak memerlukan keterlibatan dan kontribusi aktif ketiga institusi berikut, yakni, keluarga, masyarakat/komunitas, dan negara. Keluarga, tak hanya berperan sebagai agen sosialisasi awal anak, tetapi juga berperan sebagai agen yang ‘memproduksi’ kasih sayang. Komunitas, berperan sebagai agen sosialisasi lanjutan bagi anak, khususnya ketika anak mulai menjadi bagian komunitas/masyarakat, seperti sekolah dan lingkungan sosial sekitar. Dan terakhir, keterlibatan negara menjadi komplementer vital untuk memproduksi kebijakan hingga landasan hukum untuk mempertegas kerangka sistem perlindungan anak yang diterapkan pada tataran di bawahnya.

Cahyo Prihadi, memoles gagasan teoritis di atas dengan argumennya yang menjelaskan bahwa ekologi lingkungan anak sesungguhnya terbagi menjadi tataran yang lebih kompleks, luas, dan tidak terbatas hanya pada tiga elemen khusus; keluarga, komunitas, dan negara. Tataran yang kompleks dalam sistem perlindungan anak meliputi; (1) anak itu sendiri, sebagai entitas yang wajib dipenuhi hak-nya, (2) keluarga, (3) masyarakat/komunitas, (4) negara, dan (5) global yang merepresentasikan hukum internasional yang mengatur hak anak, seperti Konvensi Hak Anak. Kelimanya membentuk suatu jaringan, yang oleh Cahyo lazim dikenal sebagai Ekologi Anak.

Gagasan Cahyo menarik untuk dikomentari lebih jauh dalam tulisan ini. Mengapa?

Gagasan tersebut memiliki kesamaan dengan gagasan yang dicetuskan oleh Urie Bronfenbrenner, akademisi yang menggagas Teori Ekologi Manusia. Teori atau pendekatan ekologi manusia ini memberikan perspektif multidisiplin dalam isu anak, menggunakan penjelasan mengenai hubungan ekologi manusia yang dipengaruhi oleh kombinasi dari; lingkungan sosial, politik, ekonomi, hukum, psikologi, lingkungan fisik, kultur/budaya, dan hubungan antar manusia[2]. Penjelasan sistematis dari pendekatan tersebut, oleh Bronfenbrenner, dibagi menjadi 5 sistem ekologi manusia yakni;

  1. Sistem Mikro. Sistem ini menjelaskan anak sebagai entitas individu beserta hubungannya dengan faktor bio-psikologis dan hubungannya dengan individu yang ada di dekatnya
  2. Sistem Meso. Sistem ini mejelaskan anak dengan agen sosialisasi yang pertama bagi anak, yakni keluarga, sekolah, dan peer group
  3. Sistem Exo atau semi-makro. Sistem ini mencakup anak yang berada di dalam suatu komunitas atau masyarakat umum
  4. Sistem Makro. Sistem ini merupakan representasi negara dan keterlibatannya dalam isu anak. Bentuk keterlibatannya berupa sistem hukum, politik, budaya, dan kebijakan yang diinstitusionalisasikan oleh negara, serta bagaiman penerapannya.
  5. Sistem Global. Sistem ini mencakup tataran global seperti badan PBB, konvensi, deklarasi, dan segala bentuk instrumen hukum serta bagaimana kerjasama bilateral/multilateral dan regional/internasional antar negara terhadap isu anak.

Mengomentari gagasan Cahyo, Widyati Rindayani berpendapat bahwa intisari dari perdebatan teoritis terkait sistem perlindungan anak yang dapat diekstrak pada tataran praktis adalah mengenai bagaimana pihak yang bertanggungjawab terhadap anak harus memenuhi kebutuhan mereka, para anak. Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika usaha pemenuhan kebutuhan anak cenderung digeneralisasi. Padahal, menurut Widyawati, kebutuhan anak tak semua sama. Hal ini juga dipertegas oleh Cahyo, bahwa persoalan anak bersifat relatif, tergantung pada konteks situasi sosial, kondisi spasial anak (berada di wilayah urban atau rural), dan konteks budaya. Kebutuhan anak yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, menurut Widyawati, mengharuskan pemerintah untuk jeli dalam melihat persoalan. Kejelian pemerintah dalam mengidentifikasi kekhususan kebutuhan antara satu anak dengan yang lain merupakan sebuah keharusan untuk merumuskan kebijakan dan menyusun anggaran terkait perlindungan dan kesejahteraan anak.

Setelah berbagai macam materi disampaikan oleh pembicara, sesi tanya jawab pun dibuka.

Berbagai pendapat, argumen, komentar, dan pertanyaan atas materi yang disampaikan pembicara,  dilayangkan oleh mahasiswa peserta seminar pada sesi diskusi dan tanya jawab. Latar belakang studi dan asal universitas yang beragam, menghasilkan komentar yang variatif dan beragam pula dari para peserta. Pembicara yang menguasai bidangnya juga mampu menanggapi dengan baik tanggapan dari para peserta. Selain itu, atmosfir diskusi yang komunikatif dan bersifat dua arah, menurut wepreventcrime, semakin melengkapi nilai plus Seminar Nasional Social WellFair tahun ini.

[1] Reporter; Rayhan Pratama dan Rizki Akbar Hasan. Juru Kamera; Rayhan Pratama. Penulis; Rizki Akbar Hasan. Untuk kritik dan saran dapat melalui redaksi.wepreventcrime@gmail.com

[2] Helander, Einar A. (2008). Children and Violence; The World of the Defenceless. Inggris: Palgrave Macmillan

Redaksi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s