Media dan Kejahatan: Representasi dan Mistifikasi Fenomena Begal

44945_begal-motor-kian-merajalela_663_382

“The press may not be successful much of the time in telling people what to think, but it is stunningly successful in telling its readers what to think about.” – Bernard Cohen (1963).

Sekapur Sirih

Maraknya fenomena begal di berbagai media massa Ibukota menimbulkan reaksi yang beragam bagi masyarakat luas. Representasi media massa mengenai kejahatan begal ini juga tergolong masif dan berlebihan; dimana berita mengenai kejahatan begal ini mendapat frekuensi peliputan yang cukup tinggi karena dianggap memiliki nilai jual dan rating yang tinggi pula bagi media. Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat dalam pemberitaan fenomena begal yang sempat menjadi topik pilihan dengan rating tertinggi dalam Kompas.com (2015), dengan  judul yang cukup hiperbolis yaitu “Aksi Begal Menebar Teror”. Begitu pula portal-portal media massa lainnya yang juga banyak membahas topik serupa. Kemunculan berbagai informasi viral, dalam bentuk broadcast message, yang tersebar di sosial media maupun dunia maya secara keseluruhan pun juga semakin menambah porsi pemberitaan tentang begal. Padahal, setiap informasi yang terkandung di dalamnya pun belum benar-benar teruji kebenarannya dan kebanyakan bersifat hoax atau palsu.

Lalu, mengapa representasi media dapat dikatakan berlebihan?

Dari hasil data yang dihimpun oleh Kapolda Metro Jaya, terdapat 904 kasus pencurian dengan kekerasan dan 3.513 kasus pencurian dengan pemberatan. Kasus pencurian dengan kekerasan menurun sekitar 9,96 persen jika dibanding pada 2013, yang tercatat 1.004 kasus. Kasus pencurian dengan pemberatan juga menurun 31 persen dari 5.101 kasus pada 2013 (Tempo, 2015). Berdasarkan data tersebut, tentu dapat disimpulkan bahwa kasus kejahatan begal yang terjadi belakangan ini pun masih tergolong kasus kejahatan normal dan secara kuantitas justru malah menurun. Namun peningkatan kualitas dari kejahatan begal yang terjadi sekarang ini memang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Peningkatan kualitas aksi pembegalan yang dilakukan oleh para aktor disorot oleh media massa secara hiperbolis, dengan pemberian tagline maupun headline yang terkesan ‘angker’ dan mengerikan. Lalu, bagaimana kriminologi memandangnya?

Melihat Fenomena Begal dan Pemberitaannya dari Sudut Pandang Newsmaking Criminology

Gregg Barak (1994) mengutip pendapat Cecil Greek dalam tulisannya yang berjudul Becoming a Media Criminologist: Is Newsmaking Criminology Possible, yang mengatakan  adanya sejumlah masalah yang muncul dalam pemberitaan kejahatan di media massa seperti penggunaan terminologi yang menyebabkan misinterpretasi. Menarik melihat bagaimana media massa menggunakan berbagai terminologi yang cenderung hiperbolis sebagai salah satu gimmick atau penarik perhatian. Fenomena begal jelas-jelas mengalami penurunan dan hanya terjadi di beberapa wilayah kota saja. Namun fenomena tersebut sudah mampu meneror dan membuat takut masyarakat. Terdapat semacam hegemoni interpretasi bahwa begal sebagai teror dan ancaman, dimana media mengemukakan interpretasi yang serupa mengenai fenomena begal sebagai teror yang menakutkan, dan akhirnya, bagi sebagian masyarakat yang pasif dan cenderung menerima opini yang sudah ada, interpretasi ini dimakan mentah-mentah tanpa dikritisi terlebih dahulu.

Disfungsi media massa juga terlihat ketika pemberitaan yang seharusnya bersifat informatif mengalami pergeseran menjadi sebuah produk hiburan bagi masyarakat. Terjadi mistifikasi (pengaburan) dalam proses pembentukan realitas pemberitaan media massa. Dramatisasi pemberitaan begal dianggap memiliki news values yang tinggi bagi jurnalis maupun editor media. Dengan maraknya pemberitaan fenomena begal di media massa juga menunjukkan aspek ambang batas (threshold) yang digunakan oleh jurnalis dalam proses pembuatan berita. Ambang batas yang dimaksud adalah sejauh mana kasus kejahatan dianggap melampaui batas ambang konten berita yang dianggap newsworthy. Begal pada dasarnya merupakan kejahatan biasa yang seharusnya hanya sampai pada ambang batas berita lokal, bukan nasional. Namun dengan adanya peningkatan kualitas aksi begal yang dapat mencelakakan korban dengan dampak yang lebih parah, fenomena begal pun akhirnya melampaui ambang batas berita kriminal yang sesuai untuk masuk ke dalam konten berita nasional. Berita-berita kriminal seperti itu seringkali digunakan sebagai ‘filler’ (pengisi) selama periode berita yang tenang dan cenderung dilaporkan dalam gelombang, yang menunjukkan masalah sosial yang meluas dan mendekati titik krisis secara cepat (Jewkess, 2004).

Terminologi crime wave digunakan para kriminolog untuk menggambarkan tingkat kenaikan dan penurunan persepsi masyarakat terhadap suatu bentuk kejahatan. Gelombang kejahatan bisa saja atau tidak berkaitan dengan fluktuasi aktual dari kejahatan itu sendiri (Berger dkk, 2009). Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, fenomena begal justru mengalami penurunan, namun gelombang kejahatan yang diciptakan media massa menghisap masyarakat untuk berpikir bahwa kejahatan begal menjadi sebuah fenomena yang meneror keselamatan mereka.

Terlihat pula aspek kedekatan (proximity) di dalam pemberitaan begal, yang menunjukkan bahwa kedekatan geografis maupun kultural pada kejahatan begal dengan masyarakat itu sendiri. Kejahatan begal yang sesungguhnya kejahatan biasa dan muncul dalam berita lokal, menjadi berita nasional karena ada unsur kekerasan dan kejahatan yang dianggap lebih sadistik; hal ini pun menjadikan berita kejahatan begal adalah konsumsi masyarakat secara nasional.

Dalam menjaga gelombang suatu pemberitaan kejahatan, media massa juga akan selalu menciptakan ambang batas berita baru. Hal ini mungkin akan melibatkan peningkatan level drama dalam berita atau membutuhkan implementasi dari struktur berita dan nilai berita lainnya untuk membuat berita selalu terasa ‘hidup’ (Hall, 1978). Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk video dramatis. Sejumlah media massa seringkali menayangkan pemberitaan dalam bentuk video dramatis yang sebenarnya tak terlalu relevan dengan unsur informasi mengenai fenomena begal.  Adanya video dramatis juga menjadi bagian dari pembuatan berita kriminal. Reith dalam Lipschultz dan Hilt (2002), mengatakan bahwa video dramatis juga menjadi faktor yang menentukan tingginya rating suatu berita, karena video ataupun pengambilan gambar yang menarik, dapat menarik perhatian pasar media. Karena drama merupakan hal yang sangat penting dalam program hiburan. Stasiun televisi TV One misalnya, yang menayangkan wawancara dengan ibu pelaku begal yang dibakar massa pada program “Apa Kabar Indonesia” medio 26 Februari lalu. Yang awalnya hanya memberitakan daerah rawan begal kemudian pun merambah menjadi bagaimana kehidupan pelaku begal dan keluarganya. Air mata memang terbukti selalu menjadi senjata terbaik dalam setiap program ‘hiburan’.

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap industri bisnis di dunia ini memiliki tujuan meraih keuntungan, tak terkecuali industri media massa. Menurut Albarran dalam Lipschultz dan Hilt (2002), media massa akan menyediakan informasi dan hiburan sesuai dengan apa yang dituntut (demands) oleh pasar untuk mendapatkan keuntungan dari iklan. Jewkess (2004) mengatakan bahwa berita mengenai kejahatan selalu menjadi konten dalam meja kerja media. Kejahatan begal sendiri bukanlah tipe kejahatan baru yang terjadi di ibukota. Kejahatan begal pun termasuk ke dalam kategori kejahatan jalanan (street crimes), yang tak jauh beda dengan kejahatan pencurian, pencopetan atau perampokan. Graber (1993) mengatakan bahwa masyakarat, meskipun melayangkan komplen atau kritik, memiliki kehausan akan berita kriminal yang menarik. Dapat dikatakan berita kriminal akan cenderung mengalahkan berita-berita politik dengan konten kejahatan yang lebih sedikit. Kejahatan street crimes seperti begal menjadi sebuah konten berita kriminal yang menarik dan mengundang reaksi masyarakat yang lebih masif karena dianggap dekat dengan kehidupan masyarakat.  Maka dari itu, berita kriminal dapat menjadi sebuah cara untuk mendongkrak rating media massa.

Namun, pemberitaan fenomena begal yang masif ini juga dapat memunculkan pertanyaan. Apakah fenomena begal menjadi manuver yang dilakukan oknum tertentu sebagai pengalihan isu KPK vs POLRI yang juga sedang heboh pada saat itu? Hingar bingar wacana KPK vs POLRI yang tadinya santer diberitakan di berbagai media massa memang tak terlalu terdengar lagi gaungnya ketika fenomena begal mulai mencuat di media massa. Yvonne Jewkes (2004) mengatakan bahwa media tidak merepresentasikan realita yang sebenarnya, tetapi merepresentasikan realitas yang secara kultural telah ditentukan dan salah satunya melalui proses agenda setting. Teori agenda setting model menekankan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan (Ardianto, Komala, dan Karlinah, 2009). Apa yang disukai dan dianggap penting oleh media juga akan disukai oleh masyarakat, begitu pula sebaliknya. Isu apa yang sedang menarik untuk ditayangkan atau membuat suatu isu yang kurang menarik menjadi hal yang menarik di kalangan publik menjadi fungsi dari agenda setting. Dalam konteks ini, fenomena begal menjadi konten yang dianggap penting bagi media massa. Pengalihan isu pun menjadi salah satu dampak dari adanya agenda setting. Adanya konstruksi realitas media massa yang seringkali mengagungkan bahaya kejahatan kekerasan dan street crimes ketimbang tipe-tipe kejahatan lainnya dapat menunjukkan tingkat keseriusitasan kejahatan bagi masyarakat. Hal ini juga ditakutkan dapat mempengaruhi pemahaman masyarakat terhadap kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan lainnya. Bisa saja masyarakat menilai kejahatan white-collar crime memiliki dampak yang biasa saja dibanding dampak kerugian yang ditimbulkan kejahatan kekerasan dan street crime.

Jewkes (2004) menjelaskan pendekatan teoritis mengenai bagaimana media massa membentuk ide, nilai, opini, dan perilaku kita. Pendekatan cultivation analysis dalam media massa juga berpendapat bahwa penekanan yang berlebihan oleh televisi pada tayangan – tayangan yang memunculkan kegelisahan, terutama kisah – kisah kejahatan kekerasan menyebabkan mereka yang terlalu banyak menonton TV akan menjadi ketakutan dan merasakan kegelisahan yang luar biasa sehingga berdampak pada masyarakat secara luas (Gerbner & Gross, 1976 ; SIgnorielli & Morgan, 1990). Maka dari itu, adanya ketidakberimbangan proporsi dengan pemberitaan media dan realita juga menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat, salah satunya adalah munculnya fear of crime. Fear of crime didefinisikan oleh James Garofalo (1981) sebagai rasa takut akan kejahatan, sebagai suatu reaksi emosional yang ditandai dengan adanya perasaan terancam bahaya dan kecemasan terutama dalam hubungannya dengan bahaya secara fisik atau faktor dari lingkungannya. Dengan maraknya pemberitaan begal yang masif, masyarakat akan dihadapkan dengan ketakutan aktual dan antisipatif dalam menyikapi fenomena begal. Ketakutan aktual dimana masyarakat merasa benar-benar terancam dan terjebak dalam situasi yang mendukung terjadinya kejahatan, seperti misalnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan begal. Sedangkan, ketakutan antisipatif adalah bentuk ketakutan masyarakat dari bayangan menjadi korban kejahatan itu sendiri. Kedua bentuk ketakutan ini tentu dapat menimbulkan efek paranoid bagi masyarakat dan mempengaruhi pola kegiatan yang biasa dilakukan. Hal ini pun turut dialami masyarakat, khususnya dari daerah-daerah yang dianggap rawan kejahatan begal seperti Tangerang, Depok, Jakarta Timur dan Bekasi (Vivanews, 2015). Depok, misalnya, yang menjadi rumah dari banyak institusi-institusi pendidikan juga mengalami dampak dari adanya fenomena begal yang marak terjadi di wilayah ini, terutama bagi kalangan para mahasiswa. Mahasiswa UI, misalnya, lebih cenderung untuk langsung pulang setelah kuliah usai ketimbang nongkrong atau melakukan kegiatan organisasi dan meninggalkan kendaraan bermotor yang dimiliki mereka di tempat tertentu seperti kosan (Tempo, 2015). Crime wave yang diciptakan media pun terbukti mampu mempengaruhi publik.

Menjadi Audiens Yang Cerdas dan Kritis

Media memang selalu memberi banyak warna dan perspektif baru bagi masyarakat kita. Adanya fenomena begal memang patut untuk diwaspadai dan wajib untuk diberitakan; dengan catatan, dalam takaran yang sewajarnya. Bukan masalah harus jatuh korban dulu agar bisa memahami urgensi dari fenomena begal ini. Yang perlu dipahami oleh masyarakat sekarang adalah bagaimana efek domino dari media dapat semakin memperparah keadaan dan meningkatkan kesempatan bagi pelaku begal yang dapat memanfaatkan situasi mencekam yang dibuat oleh media ini. Begal memang berbahaya dan patut diwaspadai, namun media bukanlah cermin yang selalu merefleksikan kebenaran sosial di dalamnya. Kita dituntut untuk menjadi audiens yang cerdas dan kritis sehingga media tak dapat dengan mudahnya menyetir pemikiran kita. Fenomena begal ini pun normal-normal saja, jadi tak usah takut berlebihan.

Daftar Pustaka

Buku & Jurnal

Ardianto. E, Komala. L, Karlinah. R. 2009. Komunikasi Massa. Bandung: Refika Offset.

Barak, Gregg. 1994. Media, process, and the social construction of crime: Studies in Newsmaking Criminology. NY: Garland Press.

Garofalo, James. 1981. The Fear of Crime : Cause and Consequences. Journal of Criminal Law and Criminology. Amerika : Northwestern University School of Law Publication. 72 (2), 839-857.

Graber, D. A. 1993. Mass Media and American Politics (4th ed.). Washington, DC: CQ Press.

Hall, S., Critcher, C., Jefferson, T., Clarke, J. and Roberts, B. (eds). 1978. Policing the Crisis: Mugging, the State and Law and Order. London: Macmillan.

Jewkes, Yvonne. 2004. Media and Crime: Key Approaches to Criminology. Sage Publications. London.

Lipschultz, Jeremy H. dan Michael L. Hilt. 2002. Crime and Local Television News : Dramatic, Breaking and Live From The Scene. London : Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers.

Ronald J. Berger, Marvin D. Free, Jr., and Patricia Searles. 2009. Crime, Justice, and Society: An Introduction to Criminology : Third Edition. Amerika : Lynne Rienner Publisher.

Signorielli, Nancy dan Michael Morgan. 1990. Cultivation analysis: new directions in media effects research. London : Sage Publications.

Berita

“Aksi Begal Menebar Teror”, topik pilihan pembaca Kompas.com. http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/3416/1/aksi.begal.menebar.teror. Diakses pada 14 Maret 2015, pukul 23.22 WIB.

“Cemaskan Begal, Mahasiswa UI Jadi Kupu-Kupu”. http://www.tempo.co/read/news/2015/02/07/064640576/Cemaskan-Begal-Mahasiswa-UI-Jadi-Kupu-Kupu. Diakses pada 15 Maret 2015, pukul 01.55 WIB.

“Ini Empat Wilayah Paling Rawan Begal di Ibu Kota.” http://metro.news.viva.co.id/news/read/596529-ini-empat-wilayah-paling-rawan-begal-di-ibu-kota. Diakses pada 15 Maret, pukul 01.11 WIB.

“Kenapa Begal di DKI Sekarang Lebih Parah”.  http://www.tempo.co/read/news/2015/02/26/064645536/Kenapa-Begal-di-DKI-Sekarang-Lebih-Parah. Diakses pada 04 Maret 2015, pukul 22.19 WIB.

Gambar

m.news.viva.co.id

 Aulia A. Dhianti

Mahasiswi Kriminologi angkatan 2013 ini merupakan anggota baru wepreventcrime pada tahun 2015. Mahasiswi yang punya banyak nama panggilan mulai dari Uli, babi terbang, dugong hingga lumba-lumba ini sebelumnya aktif sebagai staff Biro Dana Usaha BEM FISIP UI 2014. Gagal meyakinkan ibunya untuk kuliah di FSRD ITB dan akhirnya pun memutuskan untuk mengomersilkan hobinya di bidang desain grafis. Hasil karyanya dapat dilihat di 2795.blogspot.com. Masih awam dalam dunia jurnalistik namun sangat antusias untuk terus belajar. Menyukai Radiohead, Harvest Moon dan Indomie goreng rendang.

 


One thought on “Media dan Kejahatan: Representasi dan Mistifikasi Fenomena Begal

  1. Agak pusing ya bacanya, terlalu banyak konsep yang dipakai. Mengaburkan pertanyaan awal, sebenarnya bentuk representasi dan mistifikasi begal di media itu seperti apa sih?

    Apresiasi untuk penulis yg baru lebih kurang dua tahun, tapi sudah banyak referensi mengenai newsmaking criminology.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s