Salahku Berpakaiankah?

Menjadi cantik, memakai pakaian bagus, dan terlihat menarik adalah impian sebagian besar perempuan pada abad ini, bahkan pada abad-abad sebelumnya.

            “Cantik itu relatif”. Ya, pernyataan tersebut tidak salah. Namun, tidak sepenuhnya benar. Ada standar-standar tertentu yang membuat perempuan dinilai cantik atau tidak, sehingga relatifitas kecantikkan perempuan adalah omong kosong manis belaka. Seorang perempuan cantik seringkali identik dengan bentuk tubuh yang ramping, kaki yang jenjang, rambut yang panjang, dan kulit yang putih. Apakah itu merupakan definisi baku cantik? Tentu tidak. Ada konstruksi sosial yang bermain di sana. Konsruksi itu menyebabkan penilaian perempuan cantik didasari atas indikator-indikator seperti yang disebutkan di atas.

Pembentukan diri seorang perempuan tidak dapat lepas dari penilaian masyarakat tentang perempuan itu sendiri. Sayangnya, hal ini sudah tertanam sejak proses sosialisasi paling awal, yakni sosialisasi oleh keluarga. Seorang anak perempuan akan diajarkan untuk bersikap manis, memakai pakaian yang manis dan bagus, serta hal-hal lainnya agar anak perempuan tersebut layak disebut sebagai perempuan yang baik di mata masyarakat.

Hal ini menjadi semakin parah ketika media juga ikut mengkonstruksikan konsep perempuan ideal melalui tayangan yang diproduksinya. Media merepresentasikan perempuan sebagai kesatuan tubuh. Banyak media yang justru menampilkan lekuk dan bentuk tubuh perempuan seperti dada, bokong, pinggul dan kaki (Berberick, 2010). Konstruksi inilah yang selanjutnya diinternalisasi oleh masyarakat dan diterima sebagai konsep perempuan ideal.

Demi memenuhi harapan masyarakat untuk menjadi ‘perempuan ideal’, beberapa perempuan berusaha untuk dapat menampilkan bentuk tubuh yang ideal dengan menggunakan beberapa mode pakaian tertentu. Jika kita melihat majalah-majalah busana, pakaian yang menunjang lekuk tubuh menjadi pilihan utama beberapa perempuan; jeans yang menampilkan lekuk pinggang, blus yang memberikan kesan ramping pada perut, kaos yang mempertegas lekuk tubuh, rok atau celana yang membentuk kaki agar terlihat jenjang, dan sebagainya. Tak ada yang salah dari kebebasan perempuan memilih pakaiannya. Permasalahannya adalah, pakaian perempuan seringkali menjadi bandul pemberat misogini. Pada beberapa kasus kekerasan seksual yang dilakukan laki terhadap perempuan, pakaian perempuan dijadikan penyebab perempuan menjadi korban. Tak ayal, komentar-komentar minor yang diskriminatif, seperti “salah sendiri, kenapa pake baju seksi?!”, seringkali dilontarkan kepada para survivor kasus kekerasan seksual.

Masyarakat Ikut Menyalahkan

Perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual seringkali disalahkan atas perbuatan yang menimpanya. Menyalahkan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual menjadi praktik yang seringkali ditemukan akhir-akhir ini. Perilaku menyalahkan korban ini juga sering disebut rape myths, yaitu asumsi bahwa korban ikut berkontribusi atas dirinya yang menjadi korban dan dengan demikian bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tersebut (Moor, 2010). Contoh saja kasus pemerkosaan yang sempat mencoreng nama baik kampus ‘makara kuning’ oleh ‘S’, seorang seniman dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya terhadap mahasiswi dari fakultas yang sama. Beberapa media memunculkan opini bahwa perbuatan tersebut terjadi atas dasar suka-sama suka, dan sang korban memiliki kesadaran sepenuhnya atas perbuatannya. Padahal menurut pengakuan korban, pelaku melancarkan bujuk rayu hingga ancaman, sehingga korban tidak berdaya. Pelaku, dengan bujuk rayu dan ancaman, berhasil memposisikan korban berada pada posisi subordinat; membuatnya tak berdaya tanpa pilihan. Di sisi lain, pelaku yang menjustifikasikan perbuatan kejinya sebagai hubungan yang consent, menurut saya, berpikir dangkal berbasis hasrat seksual semata dan menyalahartikan beberapa perbuatan perempuan untuk konteks tertentu dalam berbagai hal, sebagai godaan atau ajakan untuk melakukan hubungan seksual.

Salah satu yang menjadi alasan perempuan menjadi korban yang justru disalahkan adalah jika perempuan menggunakan pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya untuk menggoda laki-laki dan menunjukkan maksud seksual tertentu.

Seorang anak perempuan pasti pernah mendapatkan sosialisasi dari kedua orangtuanya untuk berperilaku sopan dan menjaga dirinya dari objek kekerasan seksual. Anak perempuan, ketika memasuki masa remaja, pasti diwanti-wanti untuk menjaga sikap, membatasi omongannya, dan memerhatikan pakaian yang ia kenakan. Agar dapat tetap aman, perempuan harus mematuhi nilai-nilai tertentu yang membuatnya seakan terhindar dari ancaman yang ada.

Masyarakat mengkonstruksi perempuan sebagai objek untuk dipandang dan dinikmati serta menjadi pemicu nafsu seksual laki-laki. Penggunaan pakaian tertentu menurut laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang ‘mengundang’.

Selain itu, tak hanya masyarkat sipil yang membuat stereotip tersebut mengakar. Fenomena victim blaming juga terkadang dipertegas dengan pernyataan otoritas. Fauzi Bowo pada tahun 2011 sempat mengeluarkan statement untuk mengimbau perempuan agar tidak memakai rok mini di angkutan umum terkait banyaknya kasus pemerkosaan di angkutan umum kala itu (Tribunnews, 2011). Sebagai seorang pejabat publik, komentar tersebut tidak sensitif gender. Pernyataan tersebut tak hanya menjadikan perempuan sebagai objek, namun juga korban. Pejabat publik tidak seharusnya menyalahkan perempuan atas gaya berpakaian, karena adalah hak setiap manusia untuk mengekspresikan dirinya. Komentar dan solusi permasalahan yang tepat terdapat selentingan kasus yang diungkapkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu seharusnya terkait dengan penyediaan sarana transportasi yang aman bagi semua dan adil secara gender. Komentar Fauzi Bowo dirasa tidak tepat dilontarkan oleh seorang pejabat publik yang kadar intelektualnya seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Komentar tersebut juga dapat dijadikan salah satu bukti bahwa pola pikir beberapa masyarakat Indonesia masih memandang perempuan sebagai objek yang boleh dilecehkan.

Pakaian bukan Alasan

Pakaian bukanlah alasan deterministik yang relevan yang membuat seorang perempuan menjadi korban kejahatan, khususnya kejahatan kekerasan seksual. Mengapa? Menurut harian Reuters, negara-negara di kawasan Timur Tengah memperlakukan kaum perempuan dengan sangat buruk, bahkan paling buruk jika dibandingkan dengan negara lain. Salah satu bentuk perlakuan buruk yang dialami perempuan adalah kekerasan seksual, yang merupakan salah satu kejahatan terhadap perempuan dengan tingkat yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan bentuk kejahatan lain. Padahal, seperti yang kita tahu, sebagian besar penduduk perempuan di negeri Timur Tengah menggunakan pakaian yang tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan dalam beberapa situasi, hanya mata perempuan saja lah yang masih boleh dibiarkan terbuka. Kontradiktif dengan gagasan kalimat di atas bukan?

Pakaian atau atribut pada tubuh perempuan bukan merupakan faktor yang membuat seorang perempuan mengalami kekerasan atau pelecehan seksual. Perempuan dan pakaiannya hanya menjadi korban objektifikasi masyarakat patriarki. Salah satu riset yang menjadi acuan dalam tulisan ini adalah riset Moor (2010), Johnson, Heglan, dan Schofield (1999), yang menjelaskan tentang perbandingan antara laki dengan perempuan terhadap kecenderungan atraktifitas seksual yang muncul akibat cara berpakaian. Riset tersebut menunjukkan bahwa gelagat seksual yang ditunjukkan perempuan tidak memiliki korelasi yang kuat dengan cara berbusananya. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki pandangan yang berbeda dalam hal mengekspresikan gelagat seksual melalui pakaian. Hasil riset menunjukkan bahwa perempuan tidak memiliki intensi menggunakan pakaian sebagai sebuah atraksi seksual. Sementara laki berpikiran sebaliknya. Hal ini mengakibatkan fenomena blaming the victim pada korban kekerasan seksual, terutama perempuan..

Melalui penjelasan demikian, sudah jelas tidak ada hubungan antara penggunaan pakaian tertentu oleh perempuan dan terjadinya suatu kekerasan atau pelecehan seksual. Contoh kasus di Arab yang telah sedikit dipaparkan di atas dapat menjelaskan jika baik tertutup ataupun tidak, perempuan akan tetap menjadi korban jika tidak dibangun kesadaran dan rasa menghargai atas diri perempuan secara seutuhnya.

Merupakan ironi jika kita berada dalam masyarakat yang lebih cenderung mewanti-wanti perempuan agar menjaga dirinya agar tidak menjadi korban pemerkosaan ketimbang mengajarkan laki-laki untuk melindungi dan menghormati perempuan seutuhnya serta menahan nafsunya. Saatnya perempuan bersuara!

Tabik!

Ghasani Sabrina Putri

Sumber

Moor, Avigail. 2010. She Dresses to Attract, He Perceives Seduction: A Gender Gap in Attribution of Intent to Women’s Revealing Style of Dress and its Relation to Blaming the Victims of Sexual Violence. Journal of International Women’s Studies, 11, 115-127.

Chambers, Clare. 2008. Sex, Culture, and Justice. USA: The Pennsylvania State University Press.

Berberick, Stephanie Nicholl. 2010. The Objectification of Women in Mass Media: Female Self-Image in Misogynyst Culture. Vol.5. Univeristy of Buffalo.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s