Depok dan Pembegalan: Bagaimana dari Sudut Pandang Kriminologis?

images

Sekapur Sirih

Beberapa waktu belakangan ini, Kota Depok dibuat ramai dengan fenomena kejahatan jalanan (street crime) yang sudah ada sejak dulu, hilang dari peredaran, dan di tahun 2015 ini muncul kembali sebagai salah satu fenomena kejahatan yang acap kali menjadi buah bibir masyarakat Jabodetabek, yakni begal.  Istilah begal bukanlah kata yang baru, hanya saja mengalami pendaur ulangan kata yang memiliki arti sebagai perampasan properti milik orang lain (property related crime) disertai dengan penggunaan kekerasan oleh pelaku terhadap korbannya yang terjadi di jalan raya. Dengan kembali maraknya model kejahatan tersebut, tulisan ini kemudian akan mencoba menganalisis dan memberikan gambaran lain mengenai fenomena pembegalan dalam perspektif kajian kriminologis.

Melihat Dari Sudut Pandang Kriminologis

Cohen dan Felson dalam Teori Aktivitas Rutin (Routine Activity) yang ditulis ulang oleh Mustofa (2010) berargumen bahwa perubahan struktur dalam pola aktivitas rutin mempengaruhi tingkat kejahatan melalui pemusatan pada tiga unsur hubungan langsung kejahatan. Tiga unsur tersebut antara lain; adanya calon yang memiliki motif pelaku kejahatan (motivated offenders), adanya sasaran atau calon korban yang sesuai (suitable targets), dan ketidakcukupan pengawasan terhadap pelanggaran (absence of capable guardianship), pada waktu dan tempat tertentu (Runturambi dan Sudiadi, 2013). Hal inilah yang kemudian sering disebut sebagai Crime Triangles.

Teori ini dapat membantu dalam memahami kejahatan (dalam hal ini, kejahatan konvensional) bahwa kegiatan rutinitas sehari-hari mempengaruhi terjadinya kejahatan, terutama kejahatan jalanan. Sebagai contoh, individu biasanya meninggalkan rumah mereka kira-kira pada pukul 07.00 tiap harinya untuk pergi bekerja atau sekolah dan kembali pada pukul 19.00 kerumah. Hal ini menciptakan suatu pola rutinitas yang menjadi acuan prediksi para potential offender dengan memahami kegiatan sehari-hari calon korban.

Berdasarkan hasil audiensi Himpunan Mahasiswa Kriminologi 2015 pada tanggal 28 Januari 2015(1), terdapat informasi bahwa para pelaku merupakan masyarakat yang sudah dua tahun mengamati pola aktivitias dan persebaran geografis kota Depok. Hal ini mengindikasikan bahwa para pelaku sudah mengenal tempat atau daerah mana yang sesuai dan cocok dijadikan tempat kejahatan –mulai dari argumentasi daerah yang sepi, kurang penerangan ataupun kurangnya penjagaan pihak berwenang.

Dalam konteks Kota Depok, adanya kebutuhan ekonomi dan juga letak geografis yang dekat dengan ibu kota Jakarta, secara otomatis akan meningkatkan kebutuhan masyarakat –baik yang sifatnya basic needs maupun secunder needs. Kaitannya dengan peningkatan kejahatan baru-baru ini adalah Depok sebagai kota penyangga ibu kota dinilai belum optimal dalam segi pembangunan infastruktur untuk menopang dinamika sosial tersebut. Ditambah lagi carut-marut perencanaan tata ruang yang tersentralisasi di sekitaran Margonda membuat hal tersebut memicu timbulnya titik kerawanan terjadinya tindak kejahatan jalanan. Latar belakang sosial inilah yang kiranya dapat memicu dan memotivasi para pelaku untuk melakukan kejahatan dengan berbagai motif dari kejahatan begal itu sendiri.

Hal lain yang menarik adalah identifikasi para korban yang memiliki spesifikasi kendaraan yang beragam. Pelaku dalam hal ini tidak secara khusus memfokuskan target pada kendaraan bermotor dengan spesifikasi tertentu. Para pelaku disini dapat diartikan melancarkan aksinya juga dengan melihat keadaan sekitar –sepi, gelap dan kurang penjagaan.

Pihak berwenang yang dalam hal ini adalah Kepolisian memiliki peran yang besar. Kurangnya “keberadaan” di beberapa tempat yang dianggap rawan tentunya akan meningkatkan risiko dari kejahatan begal ini sendiri. Secara spasial, keadaan Kota Depok di malam hari yang sepi, kurang penerangan dan tidaknya adanya kontrol dari pihak Kepolisian kemudian dengan sendirinya meningkatkan potensi terjadinya kejahatan begal.

Begal dalam konteks ini kemudian telah memenuhi tiga kriteria dari Cohen dan Felson. Begal dalam tulisan ini terjadi karena terdapat perubahan sosial, pembangunan tersentralisasi di satu titik, infastruktur yang belum optimal dan korban yang sesuai untuk menjadi target kriminal –baik secara spasial maupun kultural. Dengan demikian, fenomena pembegalan ini dapat diintervensi dari tiga kerentanan tersebut: mengurangi motivasi calon pelaku, mengurangi kerentanan calon korban dan menghadirkan penjaga yang memiliki kapabilitas pencegahan yang baik.

Pendekatan Pencegahan Kejahatan Situasional

Mengacu pada paparan diatas, Kriminologi menawarkan sebuah pendekatan yang sering disebut dengan pencegahan kejahatan situasional. Pendekatan ini mengacu pada adanya konsep peluang (opportunity), dan berfokus dengan mengurangi atau bahkan menghilangkan peluang dari suatu situasi yang berdasar pada konteks kejahatan.

 

Situational crime prevention dikembangkan sebagai prinsip untuk desain perkotaan yang mengedepankan argumen bahwa “modifikasi fitur khusus desain perkotaan akan mengurangi kejahatan” (Brantingham dan Brantingham, 1981a:18).(2) Situational crime prevention juga mengklaim bahwa: “adalah mungkin untuk mengurangi kesempatan kejahatan melalui upaya meningkatkan risiko dan mengurangi nilai penghargaan dalam kejahatan, dan dengan alasan mengeliminasi kejahatan. Meningkatkan guardianship dan membatasi vulnerability of targets adalah dasar untuk pencegahan kejahatan situasional.(3) Pendekatan ini memiliki tiga indikasi untuk menentukan definisinya, yaitu:

  1. Diarahkan pada bentuk-bentuk kejahatan yang spesifik.
  2. Melibatkan manajemen, desain atau manipulasi keadaan lingkungan sekitar dengan cara yang sistematis.
  3. Menjadikan kejahatan sebagai suatu hal yang sulit untuk terjadi, mengkondisikan bahwa kejahatan yang dilakukan akan kurang menguntungkan bagi pelaku (Clarke, 1997).(4)

Kemudian ketika dihadapkan pada pandangan dari teori pilihan rasional yang menekakan pada rasionalitas dari keputusan pelanggar mengenai kriminalitas, maka spesialisasi kejahatan menjadi signifikan (Cornish and Clarke 1986). Para pelaku pembegalan merupakan aktor yang rasional. Mereka secara rasional memikirkan tempat-tempat mana yang potensial menjadi tempat terjadinya pembegalan, terdapat sedikit polisi dan jumlah pelanggar termotivasi dapat ditemukan di daerah sekitarnya. Pencegahan secara situasional berusaha mengurangi kesempatan untuk kategori kejahatan tertentu dengan meningkatkan resiko (bagi pelaku) yang terkait, meningkatkan kesulitan dan mengurangi rewards (Clarke, 1997).

Pada tahun 1992, Clarke memperkenalkan 12 teknik yang dibagi dalam empat garis besar dalam pendekatan pencegahan kejahatan situasional, yakni: Increasing Perceived Effort, Increasing Perceived Effort, dan Reducing Anticipated Reward(5). Dalam poin pertama, increasing the effort, merupakan suatu upaya untuk meningkatkan usaha dari pertahanan tempat, terdiri dari target hardening (menguatkan kekuatan tempat), access control (kontrol terhadap akses luar-dalam), deflecting offenders (tindakan yang menawarkan cara alternatif atas perilaku yang tidak diinginkan, misalnya menyediakan tempat tongkrongan anak-anak muda yang jauh dari kantor), dan controlling facilitators (membatasi dan menghilangkan situasi atau item yang berkontribusi terhadap kejahatan, seperti senjata, minuman beralkohol, atau telepon umum yang mungkin dapat digunakan dalam kejahatan pengedaran obat terlarang). Aktor pembegalan dalam hal ini harus dibatasi ruang geraknya dengan melakukan kontrol di area tertentu dan juga menyediakan sebuah sistem pencegahan yang efektif.

Poin yang kedua, increasing the risk, merupakan upaya pengawasan formal maupun informal, yang terdiri dari entry/ exit screening (suatu bentuk pengawasan yang memungkinkan pendeteksian pelaku potensial), formal surveillance (seperti penempatan kamera pengawas infra merah, penguatan petugas keamanan, atau penggunaan alarm), surveillance by employees (pegawai kantor ikut serta dalam usaha pencegahan dengan menangkap pelaku atau mengawasi pelaku potensial), dan natural surveillance (misalnya dengan penerangan lampu jalanan). Kondisi geografis Kota Depok yang minim penerangan menjadi kesempatan tersendiri bagi para calon pelaku. Pencegahan kejahatan situasional menawarkan untuk melakukan pencegahan berdasarkan rekayasa lingkungan, dengan pemasangan CCTV di area strategis dan penambahan lampu jalanan.

Dan poin yang ketiga, reducing the rewards, yang meliputi target removal (membatasi hal-hal yang membuahkan hasil besar bagi pelaku, misalnya tidak menyimpan uang atau barang-barang berharga), identifying property (memberi perhatian pada setiap properti yang berpotensi untuk dicuri atau dirusak oleh pelaku), removing inducements (menghapus hal-hal yang merangsang pelaku potensial, seperti menghindari memarkir mobil mewah atau sepeda motor yang tidak dikunci), dan rulesetting(sarana menetapkan standar perilaku dan kepatuhan bagi masyarakat). Dikarenakan para pelaku pembegalan merupakan aktor rasional, mereka kemudian dapat dipastikan mengidentifikasi korban potensial. Hal yang dapat dilakukan bagi para pengendara adalah memastikan ketika berada di jalan, tidak mengambil perhatian pelaku ataupun pulang bersama-sama.

Jangan Takut Akan Begal

Begal pada dasarnya merupakan kejahatan yang sudah lama ada, dan hanya mengalami pendaurulangan eksposur oleh media massa. Hal ini dilakukan untuk mengisi ruang pemberitaan berita-berita kriminal yang sering kali menjadi lumbung rating bagi berbagai media massa mainstream. Selain peran sentral media massa dalam memberikan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak menimbulkan dan melakukan glorifikasi fear of crime, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam usaha pencegahan pembegalan dengan melaporkan kegiatan mencurigakan ke pihak berwenang.

Selain masyarakat, kehadiran pihak Kepolisian dalam mengisi peran law enforcement juga menjadi sebuah keharusan. Namun, melakukan patroli dalam hal  ini dinilai tidaklah cukup. Perlu dibentuk sebuah Satuan Tugas (Satgas) yang memiliki misi khusus dalam upaya preventif maupun represif dari kejahatan begal ini. Disisi lain, kehadiran dari pihak Pemkot Depok yang lamban dalam penanggulangannya juga dibutuhkan. Memperbaiki tata ruang kota dari aspek sekuritas mutlak diperlukan, seperti kehadiran kamera pengawas dan juga penambahan lampu jalanan.

Pada akhirnya, pencegahan kejahatan yang didasari pendekatan situasional pada akhirnya merupakan salah satu dari sekian banyak usaha dalam mencegah dan menanggulangi fenomena pembegalan. Pencegahan dengan pendekatan situasional yang berbasis rekayasa lingkungan diharapkan setidaknya mampu membatasi dan memperlambat ruang gerak dari para pelaku pada masalah, tempat, orang, atau waktu tertentu.

 

Rinaldi Ikhsan Nasrulloh

Alvin Nicola

 

 

Daftar Pustaka

(1) Audiensi Himpunan Mahasiswa Kriminologi 2015 & Polres Kota Depok: bit.ly/AudiensiHIMAKRIM01

(2) Dermawan, Mohammad Kemal. (2013). Memahami Strategi Pencegahan Kejahatan. Jakarta: Departemen Kriminologi FISIP UI. Hlm. 142

(3) Brandon R. Kooi. (2007). Policing Public Transportation An Environmental and Procedural Evaluation of Bus Stops. US:  LFB Scholarly Publishing LLC. Hlm. 37

(4) Clarke, Ronald V. (1994). Situational crime prevention: Successful Case Studies. Second Edition. New York: Harrow and Heston Publisher. Hlm. 11

(5) Ibid. Clarke (1994). Hlm. 110-118

Gambar

bogortimes.com

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s