12 Years A Slave; Antologi Perbudakan Apartheid di Amerika Serikat

download (1)

Sebagai sebuah media seni, sebuah film tidak murni muncul sebagai sarana hiburan. Sebuah film memiliki pesan dan makna yang tersirat di dalam setiap adegan yang ada di dalamnya. Fritz Hippler, sutradara film The Eternal Jew (1940), mengatakan bahwa sebuah film memiliki dampak psikologis dan propaganda yang sangat kuat jika dibandingkan dengan karya seni lain, karena efek dari sebuah film bukan hanya dari sisi intelektualnya saja, namun juga mencakup visual dan emosi. Sebuah film tidak hanya memiliki target untuk memengaruhi pandangan kaum elit atau pakar seni, tetapi juga berusaha merebut perhatian masyarakat secara luas. Sebagai hasil akhir, sebuah film dapat memengaruhi pandangan dalam masyarakat yang lebih bertahan lama daripada lingkungan keagamaan atau institusi pendidikan, bahkan media cetak atau radio (Hoffmann, 1996: v). Hal inilah yang menyebabkan industri perfilman menjadi salah satu industri yang paling berkembang di era globalisasi ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, salah satu unsur yang paling mencolok dari produksi film adalah sisi imajinatif dan kreativitas pembuat film. Pembuat film mengembangkan berbagai cara baru untuk menciptakan dan menghasilkan suatu film dari sudut pandang yang berbeda. Hasil akhirnya adalah kualitas film yang tidak maksimal akibat banyaknya tuntutan untuk para pembuat film agar dapat diterima oleh pasar komersial (Reeves, 1999: 238). Dengan semakin banyaknya film yang bermunculan di masyarakat, tuntutan akan film berkualitas semakin meningkat dan memicu sutradara-sutradara di seluruh dunia untuk menghasilkan film yang berkualitas. Selain berkualitas, sebuah film harus mampu mengangkat suatu isu sosial atau tema-tema tertentu yang memperhatikan kehidupan masyarakat dan bukan hanya sebagai sarana hiburan semata. 12 Years a Slave adalah salah satunya.

12 Years a Slave—yang digarap oleh sutradara Afro-American, Steve McQueen—yang terinspirasi dari kisah nyata Solomon Northup, mengisahkan tentang perjuangan untuk membebaskan dirinya dari perbudakan apartheid dengan mengambil setting sosial di Amerika Serikat bagian selatan pada 1840-1850an.

Solomon Northup, seorang pemain biola Afro-American yang tinggal di New York, Amerika Serikat, bersama istri dan kedua anaknya, ditawarkan sebuah pekerjaan di daerah Washington, DC. Ia kemudian diajak mengikuti makan malam dan minum anggur sebagai perayaan atas pekerjaan barunya. Adegan selanjutnya yang terlihat adalah ia sudah dirantai di dalam sebuah ruang gelap dan dituduh sebagai budak yang berusaha kabur. Ia berusaha keras untuk membuktikan bahwa ia sesungguhnya adalah orang yang bebas (freeman). Namun, tanpa adanya dokumen yang jelas, ia tidak dapat membuktikan eksistensinya sebagai orang yang bebas. Akhirnya, ia dipaksa menjadi bagian dari korban perbudakkan di Louisiana, jauh di bagian selatan Amerika Serikat, sebuah lingkungan dengan kondisi sosial yang sangat asing baginya. Selama 12 tahun ia dijadikan budak dengan nama panggilan “Platt” dan melakukan berbagai macam usaha untuk keluar dari perbudakan. Kekejian dan siksaan yang dilakukan atasannya—seorang kulit putih—kepada dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya, memicu Northup menghadapi sebuah pertentangan batin; terus menjalani hidupnya sebagai budak dengan harapan suatu hari nanti nasib dirinya berubah 180 derajat, atau melarikan diri.

Dalam realita yang terjadi di masyarakat Amerika, perjuangan untuk menghapuskan perbudakan pun tidak semudah yang dibayangkan. Jika dilihat dari sejarahnya, perbudakan Afrika-Amerika sudah dimulai sejak imigran Afrika-Amerika tiba di Amerika pada abad ke-17. Sejak kedatangannya, mereka telah menerima diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan akibat ras mereka yang berbeda. Gagasan abolisionis terhadap perbudakan baru muncul di Amerika Serikat pada abad ke-19 dan sempat gagal pada tahun 1830an. Perjuangan anti perbudakan ini dianggap sulit karena reaksi masyarakatnya yang beragam terhadap penghapusan perbudakan. Di satu sisi, kelompok yang mendukung perbudakan Afrika-Amerika berargumen bahwa perbudakan membantu peningkatan ekonomi di Amerika (Adiprasetya, 2002; 109-111). Di sisi lain, kelompok abolisionis menganggap bahwa perbudakan merupakan perbuatan yang dehumanisasi dan keji. Kelompok abolisionis ini yang terus memperjuangkan hak imigran Afrika-Amerika di Amerika Serikat (Adiprasetya, 2002: 109-111).

Kekejian perbudakan digambarkan dengan jelas di sebagian besar adegan di film 12 Years of Slave. Pada awalnya kita melihat bagaimana leher Northup digantung di sebuah pohon oleh Tibeats, seorang pengawas budak, akibat berusaha membela dirinya ketika diserang oleh Tibeats.. Kekejian ini semakin tergambar setelah Northup dijual kepada Epps, majikan barunya yang dikenal kejam dan tidak segan melakukan kontak fisik apabila Northup melakukan kesalahan. Di perkebunan kapas Epps, Northup berkenalan dengan Patsey, seorang budak perempuan Afrika-Amerika yang tidak disukai oleh istri Epps. Patsey juga acapkali disetubuhi oleh Epps. Di dalam perjalanan kisahnya menjadi budak Epps, kita melihat betapa keji dan tidak berprikemanusiaannya perbudakan apartheid tersebut dan betapa kerasnya usaha Northup untuk bertahan pada kondisi perbudakan yang dialaminya.

Salah satu adegan yang juga cukup menarik perhatian saya adalah adegan dimana Northup dipaksa oleh Epps untuk mencambuk Patsey akibat keinginan sederhananya, mendapatkan sabun agar ia dapat membersihkan diri, tidak dipenuhi oleh majikan dan istrinya. Dipenuhi oleh amarah, Epps memaksa Northup untuk mencambuk Patsey. Di adegan ini kita dapat melihat bagaimana Solomon berhadapan dengan sebuah dilema, karena sesungguhnya ia tidak ingin melakukan hal tersebut kepada Patsey, namun ia tidak berdaya untuk menolaknya karena ia berada di bawah tekanan majikannya sehingga mau tidak mau ia harus mencambuk Patsey. Kita dapat melihat dengan jelas ketidakberdayaan Northup dan Patsey di bawah tekanan Epps dan istrinya.

Disini jika kita fokuskan pada tokoh Patsey, kita dapat melihat dengan jelas betapa kaum perempuan Afrika-Amerika mengalami diskriminasi berganda. Selain terkena dampak dari apartheid, ia juga mengalami diskriminasi gender sebagai perempuan. Perjuangan untuk kesetaraan hak dan gender perempuan memang tidak mudah. Jika dilihat dari perspektif diskriminasi gender, kita melihat bagaimana Epps memperkosa ia berkali-kali walaupun ia melakukan pekerjaannya dengan maksimal, dan tidak segan mencambuknya ketika Epps terbawa nafsu amarahnya, sedangkan apabila dilihat dari sisi apartheidnya, kita melihat bagaimana ia dilempari bahan pecah belah oleh istri majikannya sebagai dampak dari kecemburuannya terhadap suaminya yang terbawa nafsu ketika melihat Patsey.

Sebagai sebuah film produksi Hollywood, 12 Years A Slave mampu muncul sebagai film yang eksepsional dibanding dengan film lain yang membawa tema diskriminasi rasial. Dengan derasnya dominasi Kaukasoiddi Hollywood, 12 Years a Slave muncul sebagai film eksepsional yang mampu mengangkat derajat Afrika-Amerika di industri perfilman. Tidak heran jika film ini kemudian mampu memenangi berbagai macam penghargaan dari berbagai festival film di dunia, mulai dari sinematografinya secara keseluruhan hingga para pemerannya.

Namun, diluar berbagai prestasi yang diperoleh film ini, terdapat beberapa kelemahan. Hal yang paling jelas terlihat di film ini adalah terdapat banyaknya bagian yang masih menggantung dan tidak jelas kelanjutannya seperti apa, salah satunya di bagian kredit akhir cerita mengenai Northup yang memperjuangkan kesetaraan ras sesudah terbebas dari perbudakan. Di adegan tersebut tertulis bahwa Northup mengalami kesulitan dalam menempuh jalur hukum sehingga ia menulis buku untuk menjelaskan keadilan yang mungkin akan terwujud pada anak cucunya. Pada saat itu kita memang dapat meninjau sisi kriminologisnya lewat bagaimana Afrika-Amerika terdiskriminasi akibat banyaknya orang Kaukasoid yang tidak suka orang Afrika-Amerika yang bebas, namun bagian tersebut dirasakan akan menjadi lebih baik apabila tetap dibuat dalam bentuk adegan. Film ini kurang mengadvokasikan pergerakan membebaskan Afrika-Amerika dari perbudakan dan terasa tidak seimbang dalam pemberitaannya. Jika tujuan awal film ini dibuat adalah untuk menunjukkan kesetaraan antara kaum imigran Afrika-Amerika dan kulit putih, film ini tidak berhasil memicu adanya perjuangan untuk kesetaraan tersebut. Dan apabila film ini ingin mengadvokasikan hak imigran Afrika-Amerika, seharusnya tidak hanya kisah perbudakan Northup yang diceritakan, melainkan juga kehidupan dan perjuangannya sesudah ia bebas dari perbudakkan.

Perjuangan untuk membebaskan diri dari apartheid di abad ke-20 semakin digalakkan. Sekitar tahun 1940 – 1950, kaum imigran Afrika-Amerika beraliran radikal seperti Paul Robeson dan W. E. B. Du Bois merupakan orang-orang yang dominan dalam menggalakkan politik anti-kolonialisme yang dilakukan ras Kaukasoid terhadap etnis Afrika-Amerika. Melalui Council of African Affairs, kaum radikal ini berusaha untuk memengaruhi politik luar negeri Amerika Serikat melalui pendudukan, demonstrasi, maupun petisi. Mereka juga mengumpulkan sumbangan untuk korban apartheid dan kolonialisme dan mensponsori diskusi oleh kaum nasionalis Afrika dengan menggunakan berbagai macam jurnal ilmiah digunakan sebagai sumber kredibel (Nesbitt, 2004: 16).

Daftar Pustaka:

Adiprasetya, Joas. 2002. Mencari Dasar Bersama: Etik Global dalam Kajian Postmodernisme dan Pluralisme Agama. Jakarta: Gunung Mulia.

Hoffmann, Hilmar. 1996. The Triumph of Propaganda: Film and National Socialism, 1933-1945: Volume 1. New York: Berghahn Books.

Nesbitt, Francis Njubi. 2004. Race for Sanctions: African American Against Apartheid, 1946-1994. Indiana: Indiana University Press.

Reeves, Nicholas. 1999. The Power of Film Propaganda: Myth or Reality. London: Cassell.

Gambar

nypost.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s