Monster di Kolong Ranjang

“ada monster di sana…”

Arumi memutuskan untuk melarang anaknya kelak membaca dongeng. Setiap kali anaknya mau masuk sekolah ia akan menyortir terlebih dahulu buku pelajaran bahasa Indonesia sehingga tidak ditemukan cerita rakyat yang tak masuk akal di sana. Sebisa mungkin setiap malam, ia akan mengalihkan ketertarikannya pada kabar harga saham gabungan yang jatuh di pasaran. Ia tidak ingin anaknya kelak memiliki khayalan yang berbahaya.

Tapi Arumi sendiri tidak pernah merasa ingin memiliki anak. Petuah ini semata-mata ia tuangkan untuk dirinya sendiri.

“Saya dulu selalu percaya bahwa ada monster di bawah tempat tidur saya,” begitu Arumi membuka percakapan.

Untuk urusan Arumi, bukan cerita seram yang menyebabkan ia meyakini demikian, melainkan ayahnya. Pria itu datang setiap malam untuk menjalankan satu ritual: berjongkok dan melongok barang sebentar ke kolong ranjang. Ketika pria itu masih kecil seekor beludak pernah menyelusup dan bersembunyi. Lengannya digigit dan ia terlambat menyadari bahwa perkara yang demikian ini bisa bikin nyawa melayang. Maka ketika sampai di rumah sakit, kulitnya telah biru. Jadilah sang ayah buntung satu bagian. Ia selalu kesulitan berdiri setiap kali habis berjongkok.

Ayahnya seorang yang pendiam. Pertanyaan Arumi ada apa gerangan di bawah tempatnya tidur tidak pria itu jawab. Selalu setelah berdiri, pria itu berlalu dengan ucapan selamat tidur.

Jadilah Arumi yang menerka-nerka sendiri.Barangkali ayahnya itu mencari benda yang hilang. Tapi mungkinkah ada sebuah benda yang selalu hilang tiap malam dan ditemukan di bawah kolong ranjangnya? Arumi mengambil kesimpulan yang lebih abstrak: ada monster di bawah tempat tidurnya.

“Ayah saya adalah seorang penjaga yang selalu melakukan patrol di malam hari,” kata Arumi tersenyum pada Veronika. Dahulu ia juga mengucapkan hal yang sama, kepada ibu guru TK-nya. Gurunya percaya, mengira bahwa ayah Arumi adalah pengawas kargo yang siap dihanyutkan esok pagi.

Nyatanya, ayah Arumi tidak memiliki pekerjaan. Tidak banyak orang yang mau mempekerjakan seseorang yang tidak bisa menulis dengan cepat, tidak bisa mengetik dengan cermat, bahkan tidak bisa membawa nampan kopi. Anggapan orang-orang, yang seperti ini biasanya tampil di jembatan penyebrangan, berbekal wadah plastik.

Meskipun menyandang cacat, jangan anggap ia lemah! Terbukti, pada malam-malam terburuknya, dimana depresi berkepanjangan yang melandanya sedang dalam kondisi puncak, ia masih sanggup melayangkan sebelah tangan menuju pipi istrinya. Hingga roboh perempuan itu atau paling tidak terhuyung-huyung hebat.

Pada akhirnya sang ayah diusir dari rumah. Lewat sebuah surat keputusan yang dikirimkan pengadilan, ayahnya mengepak barang-barang dalam satu tas ransel dan dua kardus mie instan. Supir taksi disuruh mengangkut barangnya. Arumi baru malamnya menyadari bahwa penjaga tempat tidurnya telah tidak ada.

“Saya tidak pernah melihat ayah saya lagi.” Arumi berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan, “Dan  sejak itu saya menjadi semakin ketakutan apabila disuruh tidur. Bagi saya penjaga yang setiap malam selalu membuat para moster tunduk dan sembunyi di kolong ranjang telah tiada.”

Ia dahulu berpikir bahwa monster hanya keluar ketika lampu kamar dimatikan. Maka aktivitas ini selalu jadi yang terakhir untuk dilakukan. Arumi terlebih dahulu melaksanakan rutinitas yang dipelajari dari televisi. Menggosok gigi di wastafel dan mencuci kaki di kamar mandi. Tidak lupa juga akan kewajiban seorang anak, ia mengucapkan selamat malam ke ibunya yang biasa masih tenggelam di halaman koran. Barulah ketika yakin tiada lagi yang perlu dilakukan, ia akan mematikan lampu meja di samping ranjangnya.

Lalu ia hanya melewati malam dalam gelap. Gelap oleh dirinya sendiri. Ia tidak berani membuka matanya. Tidak berani beranjak dari kasurnya. Bahkan kadang tidak bergerak sedikit pun. Siapa tahu si monster akan menyerang jika ia bergerak.

Arumi ingat ia pernah meminta ibunya memeriksa kolong ranjang. Menjelang tidur ia berkata ada monster di bawah ranjangnya dan menyuruh beliau memeriksa ketika lampu kamar sudah dimatikan. Perempuan itu disuruh masuk diam-diam sambil membawa obor menyala (monster selalu takut api dan cahaya). Tapi akhirnya diputuskan senjata sang ibu cukuplah sebuah senter.

“Ibu harus buka pintunya pelan-pelan ya. Jangan sampai monster itu denger!”

“Seperti detektif?” Ibunya tersenyum.

“Seperti detektif. Arumi akan pura-pura tidur.”

Tentu saja tidak ditemukan monster saat ibunya memeriksa. Ia baru teringat masalah ini ketika sedang mencari kopi untuk menyelingi kerja lembur. Perempuan itu masuk menjeblak pintu, melongok ke kolong sebentar. Ketika memastikan yang ada hanya debu, ia mematikan senter, mengecup dahi anaknya, dan pergi.

Paginya, Arumi masih saja takut dan juga tegang. Ditunggunya sampai sinar matahari benar-benar menembus gorden jendelanya, baru berani ia membuka mata. Menjejak lantai, ia perlahan berlari mencari ibunya. Dicarinya di ruang tamu yang hanya tersisa piring dan tudung saji. Ibunya telah berangkat pagi-pagi ke kantor.

Ibunya pun seperti lupa akan masalah itu ketika kembali. Pikirannya menggembara dalam berkas pekerjaan. Namun bagi Arumi persoalannya lain. Monster itu telah membuat pikiran ibunya lupa!

 “Setelah itu yang ada di pikiran saya adalah adalah jangan sampai keluarga saya dilibatkan dalam urusan ini,” kata Arumi.

Veronika berusaha tertawa. Tapi langsung cepat berhenti ketika melihat yang empunya cerita tidak senyum sedikit pun. Ia sadar barangkali gadis nama Arumi ini sudah kehilangan tawanya, seperti pada kasus beberapa kliennya. Ia mencoba menawarinya minum.

Veronika mengenal Arumi empat minggu yang lalu. Ketika ia tengah membayar belanjaan di kasir, suara telepon genggamnya berbunyi. Ia terkesiap dan tanpa acuh meninggalkan roti, selai, cokelat yang tengah dihitung harganya. Untuk berbicara di telepon genggamnya yang model ini, ia perlu ketenangan.

“Nama saya Arumi,” lalu hening lama hingga nyaris dikira oleh Veronika bahwa pembicaraan telah putus. “Boleh kita bertemu?”

Tapi nyatanya pada pertemuan mereka yang pertama, Arumi tidak bicara sepatah kata pun. Veronika paham. Ia tahu kewajibannya untuk tidak mendesak perempuan ini bercerita. Beberapa pertemuan setelahnya membuat Veronika berpikir ulang. Barangkali orang ini hanya iseng menghubungi nomor yang tertera di website.

Namun pagi ini berbeda. Arumi menghubungi Veronika dengan ketenangan yang luar biasa. Ia berkata singkat, “Hari ini aku akan bercerita.” Kedua perempuan itu telah siap.

Ketika bercerita Arumi mengingat lagi ibunya. Perempuan itu kerap marah ketika mencabut seprai dan membaui noda yang ada di sana. Ia merasa heran, padahal toilet berada persis di hadapan kamar pintu Arumi. Arumi tidak menceritakan bahwa kadang-kadang ia masih sadar ketika membiarkan air kencing membasahi seprai. Pikirnya apa yang menanti kalau ia ketahuan bangun akan lebih mengerikan dari geraman ibunya.

Satu hari di bulan Desember, ibunya menyuruh ia tidur lebih larut. Lewat jam sembilan seorang pria mengetuk pintu dan datang membawa buket bunga besar. Untuk Arumi, sebuah boneka dengan rambut seperti serpihan jerami. Makanan telah dingin namun mereka tetap melahapnya.

Hari-hari berikutnya sang pria menjadi sering berkunjung. Malah pertengahan Januari, pria itu memutuskan pindah ke rumah Arumi. Kamar tidur di rumah hanya ada dua buah saja. Tidak ada tukang bangunan yang dipanggil dan ibunya secara khusus mengajukan satu buah permohonan kepada Arumi. Mulai hari esok Arumi tidak lagi memanggilnya Om Heru, tapi Papa Heru.

“Tapi bukannya Papa telah pergi?”

“Oh, Arumi.” Desah ibunya panjang. Lalu ia mengulangi lagi permohonan itu, mengabaikan pertanyaan Arumi.

Bagi Arumi, ayah adalah orang dengan rambut yang disisir klimis, hidung lancip mengikuti muka yang tirus, dan tangannya tinggal sebelah. Sedangkan ayah yang baru ini punya tubuh tinggi setara perempuan bersepatu hak, kepala tiada menyisakan rambut, dan lengkap dua tangan yang bisepnya selalu melendung.

Ayahnya yang baru itu seorang pedagang kain. Dijual olehnya berbagai macam kain dari seberang negeri, ada yang dibuat dari sutra halus, ada yang serat-seratnya kasar sehingga terlihat menyembul benangnya sana-sini, ada juga yang setipis pembalut tahu.

Tiap minggu Papa Heru pulang membawakan Arumi buku cerita bergambar. Tapi ia tidak membacakan cerita yang ada di situ. Malah sebaliknya, dimintanya Arumi membaca keras-keras dan ia akan duduk bersila di sebelahnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Suatu kali ia membawakan boneka anak gadis dengan pakaian warna pink. Ayahnya tidur-tiduran di karpet ketika mengamati bagaimana anak tirinya menyisir rambut boneka itu.

Barangkali itu caranya mengembangkan hubungan ayah-anak. Istrinya membiarkan saja, malah dipikirnya bagus; Arumi jadi banyak mainan.

Ayahnya yang baru suka mencubit. Tidak pernah sakit, sebab hanya ditempelkan jemarinya dan digerak-gerakkan sedikit. Kadang pipi Arumi yang kena, sekali lengan, dua kali pahanya. Ayahnya mencubit apabila Arumi salah mengerjakan penjumlahan dan―barangkali―karena terlalu gemas padanya.

“Arumi senang kan punya ayah seperti Papa Heru?” tanya ibunya suatu kali.

“Iya, Ma,” ucap anak itu polos.

“Baguslah kalau begitu.”

“Tapi Ma…”, perkataan itu terhenti. Saat itu ia berpikir untuk mempercayakan tugas penjaga malam kepada ayahnya yang baru. Namun ia ragu. Mengutip perkataan-perkataan pahlawan di film: ini belum saatnya.

Sampai di sini cerita Arumi lumayan lancar. Lalu, tiba-tiba ia menahan napasnya, diam selama sedetik dua detik. Ia membiarkan Veronika menatapnya lama. Bibirnya mulai melantunkan cerita lagi, kali ini lebih syahdu. “Suatu hari saya terbangun di malam hari dan menemukan monster di bawah tempat tidur saya.”

Ya, suatu malam ia akhirnya berkesempatan menemui monster. Seperti titik-titik bernomor dalam majalah anak yang kalau dihubungkan akan membentuk gambar―sebagian orang yang tidak suka bermetafora menyebutnya takdir―pada malam yang tidak ada nomor urutnya itu, ia seperti sudah direncanakan untuk bertemu dengan sang monster.

Tapi, monster itu malah memanggilnya ramah, “Arumi, ayo main bersama.”

Arumi diajak untuk mengecil seukuran kancing. Tubuhnya melayang ketika jatuh dari ranjang. Menjejak di lantai ia mengikuti suara sang monster dari kolong ranjangnya. Di penglihatannya kolong ranjang tidaklah menyeramkan sama sekali. Melainkan ceria, ada kelereng yang seperti memantulkan cahaya warna-warni, kepunyaannya dahulu yang tidak berani ia ambil. Kelinci-kelinci berlompatan sebelum masuk ke ceruk semen pengisi kisi-kisi keramik.

Rupa monster itu adalah dirinya. Ia sama-sama memiliki gigi seri rata, rambut kuncir dua, dan tubuh kurus yang pipinya berlemak. Dan kolong ranjang tiada lebih dari kamarnya sendiri yang dipenuhi keajaiban-keajaiban aneh. Ada meja belajarnya, gantungan handuknya, tempelan kalender, dan tempat tidurnya. Ia merasai kasurnya, begitu empuk. Suara sang monster itu terdengar lembut:

“Tinggallah di sini.”

Sekali lagi terkutuklah dongeng anak-anak yang aneh! Sebab ketika sang monster mengatakan demikian pada Arumi, ia seketika melompat. Telah banyak tertera dari cerita-cerita itu rupa monster persolek yang pintar memainkan lidah. Sang monster mencengkramnya dan Arumi seperti melihatnya menangis.

“Jangan kembali ke sana!”

Namun ia terus memberontak dan seketika terbangun. Hari-hari selanjutnya, mimpi itu tidak hilang, seperti terus menempel di dahinya.

Sejak mimpi aneh itu, Arumi mulai sedikit berani. Ia merasa seperti sudah menaklukkan monster yang bersemayam di bawah tempat tidurnya. Maka ia mulai berani membuka mata ketika lampu di kamarnya sudah dimatikan, mulai berani duduk di ranjang lama ketika malam tiba.

Malam yang lain ia terbangun juga. Ayahnya yang baru ada di situ, membelakangi ranjangnya. Perasaan yang terbentik pertama di pikiran Arumi adalah kasihan ayahnya. Apakah monster di bawah kolong ranjang itu masih ada dan melucuti celananya? Ia tidak tahu. Sang ayah merintih, tampak kesulitan.

Cerita Arumi mulai agak kacau. Ia merasa sendiri bahwa mulutnya terasa kelu. Veronika menggenggam tangannya. Arumi melanjutkan.

Sejak itu, ibunya jadi lebih sering marah-marah kepadanya. Ibunya berpikir betapa bebalnya anak ini dalam urusan kelamin. Setelah urusan ngompol, Arumi juga suka minta dibelikan celana dalam baru. Ia berkata bahwa akhir-akhir ini banyak celana dalamnya sering hilang dan longgar karetnya.

Satu kali ia melihat lagi ayahnya datang ke kamar. Ayahnya menatapnya lama, Arumi diam saja namun diam-diam tahu. Pinggang ayahnya ditekuk hingga ia hampir sejajar dengan kasur Arumi. Seketika ia merasa dingin, kancing bajunya telah terbuka. Ada gesekan di atas selimutnya dan ia terlanjur geli. Tidak tertahankan suara tawanya. Ia ketahuan telah bangun tidur.

Arumi tidak lanjut bercerita. Veronika tidak memintanya melanjutkan. Ia sudah sering kedatangan pencerita-pencerita yang punya gaya yang khas untuk bercerita. Ada perempuan usia lima puluh tahun yang ketika bercerita meletakkan kedua tangan di bawah pusar dan menyatukan dua tungkai rapat-rapat. Ia juga pernah kedatangan seorang gadis yang mau masuk kuliah. Ketika gadis itu tengah bercerita, suaranya hilang sendiri. Misterius memang, seperti juga air mata yang tiba-tiba datang menular, mulainya dari mata perempuan itu lalu berlanjut ke mata Veronika. Suatu kali, lewat telepon, seorang karyawati minimarket pernah bercerita kepadanya.Ceritanya menggantung di tengah jalan dan ketika dicek lagi perempuan itu telah meninggal. Selama bercerita itu tidak lepas sepotong silet dari pergelangan tangannya.

Arumi ingat mata ayahnya malam itu. Urat merah menyembul dengan pola sungai sentrifugal. Pupil matanya hitam legam. Bulu matanya berdiri tegang, menyalak. Semua lipatan di sekitaran matanya membuka sehingga tampaklah bola mata yang seperti ingin melompat keluar.

Arumi menatap Veronika. Dipikirnya untuk mengakhiri sesi ini. Ia berkata, “Ada monster di atas ranjang saya.”

_______________________________

Tentang Penulis:

Penulis bernama Albert Wirya S, merupakan mahasiswa aktif di Departemen Kriminologi Universitas Indonesia, 2011. Albert merupakan anggota Divisi Kajian Literatur dan Riset di wepreventcrime. Selain aktif di wepreventcrime, Albert juga menjadi anggota bantuan hukum di Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tulisan-tulisannya dapat dilihat di http://coretandiataspasir.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s