Wacana Politik Seksual Nasional dalam Pementasan Teater

Teater adalah sebuah pertunjukan, juga merupakan sebuah hiburan. Akan tetapi, pertunjukan teater mempunyai peran dalam perubahan paradigma berpikir masyarakat.

Teater Sastra UI adalah teater kampus tertua di Universitas Indonesia. Teater ini sudah cukup dikenal di panggung nasional sebagai kelompok seni pertunjukkan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga ajang pembelajaran dan refleksi untuk turut berperan dalam perubahan paradigma pikiran Indonesia, khususnya masyarakat urban Jakarta.

Setelah sukses dengan pementasan teater di tahun-tahun sebelumnya, seperti Macbeth (2009), Sketsa Robot Ver. 2.0.(2010), Baju Baru Sang Raja (2011), dan Musuh Masyarakat (2012), Teater Sastra UI mempersembahkan pementasan sebagai bagian dari program tahunan dengan tema dan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, Teater Sastra UI mempersembahkan Multimonolog SELINGKUH: Eksploitasi Tubuh Perempuan dan Wacana Politik Seksual Nasional. Pementasan ini bercerita tentang perselingkuhan seorang perempuan bernama Ida dengan seorang pengusaha Batak bernama Hendrik Pangabean. Suaminya, Ahmad Zakaria, seorang musisi, memilik kelainan seksual berupa kegemaran menyiksa istrinya di ranjang. Tidak sampai disitu, perselingkuhan ini juga dibumbui oleh keberadaan tokoh-tokoh lain yaitu seorang pengacara/politisi bernama Fahri Asbun, seorang dukun populer bernama Ki Tejo Asmoro, dan seorang produser sinetron bernama Vijay Benggali.

Dibawah arahan sang sutradara,  I. Yudhi Soenarto, Teater Sastra UI menonjolkan keunikannya pada pementasan tahun ini. Seluruh jalan cerita dan pemikiran tokoh disampaikan dalam format monolog yang menggambarkan format kebudayaan nasional Indonesia kontemporer. Dalam teater ini, semua orang saling bermonolog. Dari soal kenegaraan, ekonomi sampai gosip selebriti, sehingga akhirnya hanya ada dialog bisu (monolog). Masing-masing karakter membicarakan perselingkuhan dari sudut pandang dan kepentingan masing-masing, sehingga wacana gender, industri media, politik seksual, politik praktis dan mistisisme khas Indonesia ikut masuk dan memperkaya isi pertunjukkan.

Dalam pmenetasannya nanti, setiap tokoh akan tampil dalam kotak kubus yang menjadi panggung sekaligus pembatas dunia mereka. Para tokoh tidak akan banyak bergerak dan tidak akan berinteraksi secara fisik dengan tokoh-tokoh lain. Satu-satunya hal yang menghubungkan mereka adalah plot cerita.

“Monolog ada sebelum dialog, namun saat dialog tak lagi dua arah, kita kembali bermonolog, dan ketika semua pihak bermonolog maka kesunyian dan kehancuranlah yang menanti dibalik pintu,” ungkap I. Yudhi Soenarto. Pementasan sendiri akan diselenggarakan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 25 sampai 26 Oktober 2013.

Untuk informasi, bisa menghubungi Pingkan Persitya (+62853 1268 4060 dan kontak email : pingkan.persitya@ui.ac.id.atau dapat mengunjungi http://selingkuh.teatersastraui.org

Redaksi wepreventcrime


One thought on “Wacana Politik Seksual Nasional dalam Pementasan Teater

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s