Sang Penari: Konstruksi dan Objektifikasi

Status dan peran perempuan tidak hanya dikonstruksikan secara langsung dalam kehidupan sosial. Melalui karya-karya seni, konstruksi tersebut juga dapat digambarkan. Konstruksi sosial terhadap perempuan tidak jarang menjadikan perempuan sendiri sebagai objek. Dalam tulisan ini, tim penulis berupaya menganalisis sebuah karya seni berupa film lokal yang dianggap relevan untuk menggambarkan objektifikasi terhadap perempuan.  Berdasarkan hal tersebut, tim penulis memilih film Sang Penari sebagai bahan analisis.

Ringkasan Isi

Srintil, seorang anak perempuan yang mengagumi seorang penari ronggeng dewasa, memiliki mimpi untuk menjadi ronggeng, yang konon memiliki dampak magis pada desanya.  Cerita ini berlatar di sebuah desa bernama Dukuh Paruk dengan setting tahun 1960-an.  Terdapat keyakinan di dalam desa tersebut mengenai kekuatan magis dari seorang penari ronggeng.  Tarian ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kesenian belaka, melainkan urusan dapur, kasur, dan sumur – yang sangat identik dengan urusan perempuan di masa itu.  Ketika seseorang menjadi ronggeng, maka ia adalah milik warga desa.  Film ini menekankan pada cerita cinta Srintil dewasa yang akhirnya terpilih secara tidak langsung menjadi ronggeng, yang kemudian berkonflik dengan kekasihnya Rasus karena keputusannya tersebut.  Srintil harus menerima kenyataan bahwa kini ia “milik” bersama.  Pula, Rasus kecewa dengan keputusan Srintil dan memutuskan untuk menjadi anggota tentara.

 Dalam proses peresmian menjadi ronggeng, terdapat satu ritual yaitu bukak klambu,yang mengharuskan Srintil untuk berhubungan seks dengan seorang laki-laki Dukuh Paruk, dengan tujuan “mengambil” keperawanan Srintil untuk mengawali ritual-ritual lainnya.  Laki-laki yang dapat melakukan bukak klambu tersebut haruslah dominan secara materiil.  Selanjutnya, kegiatan berhubungan seks menjadi suatu ritual yang biasa dilakukan, yang konon harus dilakukan untuk tujuan kesejahteraan desa.  Setelah Srintil secara resmi menjadi ronggeng, ia menjadi seseorang yang dihormati oleh warganya sekaligus dituntut oleh Nyai dan seorang tokoh adat di desanya untuk terus melakukan ritual yang dimaksud.  Bahwa Srintil tidak diperkenankan untuk menolak permintaan laki-laki di desanya, terutama mereka yang berasal dari kelas atas.  Bahkan pada satu titik, ketika Srintil merasa tertekan akan statusnya tersebut, warga desa tetap menuntutnya untuk memenuhi peran dari status yang disandangnya.

Analisis

Standford Encyclopedia of Philosophy (2010) menjelaskan objektifikasi sebagai kegiatan memandang dan/atau memperlakukan seseorang, pada umumnya perempuan, sebagai suatu objek.    Secara khusus, Oxford Online Dictionaries (2011) menjelaskan kata objectify sebagai mendegradasikan status dari suatu objek.  Amy Slater dan Marika Tiggemann (2002:343) menjelaskan lebih lanjut bahwa penganggapan perempuan sebagai objek, terutama objek seksual, berimplikasi pada hilangnya kuasa terhadap diri mereka sendiri. Berdasarkan relevansi penggunaan makna objektifikasi untuk menganalisis perempuan, kedua pengertian tersebut dapat diintegrasikan.

Marilyn Corsianos (2007: 865) dalam temuannya menunjukkan bahwa mayoritas penggarap karya-karya tertentu yang mengobjektifikasi perempuan, seperti pornografi, adalah laki-laki.  Mengutip Sen (1994: 116), Felicia Hughes-Freeland (2008:142) mengemukakan bahkan film yang digarap oleh perempuan sekali pun melihat dengan mata laki-laki dan berbicara dengan suara seorang lelaki.  Dalam konteks sistem budaya patriarki, konsekuensi praktis dari hal tersebut adalah kecenderungan kesan yang seolah mendegradasi diri perempuan.  Terlepas dari hal tersebut, tidak menutup kemungkinan apabila sebuah karya seni secara intensional digarap untuk menggambarkan objektifikasi terhadap perempuan.  Kemungkinan besar, film Sang Penari digarap secara intensional untuk menggambarkan objektifikasi tersebut khususnya dalam kompleksitas nilai kebudayaan dan keyakinan lokal.

Dalam film Sang Penari, kondisi yang tergambar di Dukuh Paruk identik dengan penegasan peran diantara perempuan dan laki-laki.  “…..baik gagasan mengenai gender maupun ketidaksadaraan gender merupakan sesuatu yang dikonstruksikan secara sosial” (Chambers, 1992: 46).  Hal ini dapat dilihat dari banyak aspek secara visual, seperti perbedaan jenis pakaian yang dikenakan –di mana perempuan cenderung lebih terbuka, memperlihatkan bagian dada dan tidak terlihat satu pun yang mengenakan kaus– dan  sistem pembagian kerja –di mana perempuan lebih banyak melakukan pekerjaan yang dianggap tidak berat, seperti memasak dan menanam padi–.  Hal ini menunjukkan bahwa peran antara perempuan dan laki-laki merupakan persoalan konstruksi yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin mereka.  Perbedaan tersebut selanjutnya akan berimplikasi pada kehidupan sosial perempuan di desa tersebut.

Mengerucut kepada peran tokoh utama, yaitu Srintil, sang ronggeng, bila ditelusuri lebih dalam lagi, titel “ronggeng” dapat dikatakan hanya menjadi suatu kamuflase untuk menutupi peran dibaliknya, yang melibatkan unsur erotisme dari dirinya.  Ketika seorang laki-laki melakukan hubungan seksual dengan Srintil maka laki-laki tersebut diyakini akan menjadi subur.  Hal tersebut ditemukan merupakan suatu alibi untuk melanggengkan kepentingan laki-laki.  Hughes-Freeland (2008:103) berpendapat bahwa menjadi ronggeng tidak membicarakan imoralitas, melainkan sebuah pernyataan mengenai keteraturan. Pengulas berpendapat bahwa keteraturan yang dimaksud tidak lain merupakan asumsi bahwa erotisme yang ditampilkan merupakan hal yang alamiah.

Chambers (1992:49) mengatakan bahwa salah satu kunci untuk menjadikan satu sistem dominasi laki-laki sukses adalah untuk membuatnya menjadi terlihat seperti alamiah.  Dalam film ini, tradisi dan keyakinan akan kekuatan magis dari penari ronggeng dan ritual di dalamnya, sudah terinternalisasi ke dalam pola pikir masyarakat desa tersebut sehingga menganggap keyakinan yang dimaksud sebagai hal yang alamiah dan sudah seharusnya dilakukan untuk menjaga kesuburan laki-laki desa dan ketenteraman desa.  Kondisi yang dianggap terberi tersebut sebetulnya telah mengobjektifikasi sang ronggeng sebagai perempuan.  Sebaliknya, bila warga desa tidak melaksanakan ritual yang seharusnya maka kesejahteraan desa diyakini akan terancam.  Yang kemudian perlu dikritisi adalah, mengapa perempuan yang dijadikan objek ritual?

Berangkat dari pertanyaan tersebut, pengulas meminjam pernyataan MacKinnon, bahwa “hasrat laki-laki merupakan hasrat untuk memiliki dengan dominasi erotisme, sementara hasrat perempuan merupakan bentuk dominasi maskulinitas dengan erotisme yang tersubordinatkan” (Chambers, 1992: 51).  Menjadi semakin jelas bahwa status serta peran yang dibawa oleh Srintil sebagai penari ronggeng adalah konstruksi dari masyarakat patriarki di Dukuh Paruk.  Hasrat seksual laki-laki yang dominan terepresentasi melalui objektifikasi mereka terhadap Srintil sebagai perempuan, juga sebagai ronggeng, dengan dalih tradisi dan keyakinan.

Lebih jauh lagi, meminjam gagasan Bourdieu bahwa gender dikonseptualisasikan dengan kekerasan simbolik, di mana ketidaksetaraan gender merupakan kekerasan simbolik karena perempuan (dan laki-laki) memenuhi perannya secara sukarela, tanpa perlu lagi melakukan paksaan, dan bahwa dampaknya adalah untuk menciptakan gambaran normatif mengenai perilaku gender yang ideal.  Peran laki-laki di desa tersebut sebagai “konsumen” seks dan Srintil (perempuan) sebagai “penyedia” seks menjadi satu konstruksi yang tidak perlu diperdebatkan dan dipertentangkan oleh warga desa – terutama  perempuan yang secara nyata menjadi objek – karena peran yang demikian merupakan perilaku gender yang dianggap ideal di desa tersebut.

“Ronggeng itu bukan hanya persoalan menari, tetapi urusan dapur, kasur, sumur.” (Film Sang Penari, 2011).  Secara tersirat, perkataan ini telah menggambarkan bagaimana status sosial perempuan di sana tidak berpengaruh terhadap pengurangan objektifikasi dirinya.  Bahkan Bernstein (2005: 104) menjelaskan bahwa dalam konteks tertentu, seks adalah harta kebudayaan.  Hal ini pula yang digambarkan oleh film Sang Penari di mana “kewajiban” ronggeng salah satunya adalah memenuhi tuntutan kebutuhan seks para laki-laki untuk kesuburan mereka.  Karenanya, istri dari laki-laki yang dilayani pun tidak segan untuk mengizinkan suaminya melakukan hubungan seksual dengan sang roggeng.  Film Sang Penari telahmenggambarkan bahwa seks bukanlah sesuatu yang privat atau dengan kata lain, bahkan dalam konteks yang bukan prostitusi, seks tetap merupakan suatu komoditas.  Rene T. A. Lysloff (2002:5) mengutip Hughes-Freeland (2008:103) menegaskan pernyataan pengulas dengan mengatakan bahwa menjadi ronggeng bukanlah prostitusi, yang ditolak keberadaannya oleh masyarakat, melainkan prostitusi yang tidak terkontrol atau dengan kata lain prostitusi yang diterima keberadaannya oleh masyarakat.

Mengambil kesimpulan dari artikel jurnal yang ditulis oleh Hughes-Freeland (2008), penulis mengidentifikasi bahwa hal yang mendasari objektifikasi secara khusus terhadap tokoh Srintil adalah anggapan bahwa perempuan penampil merupakan pribadi yang tidak memiliki hasrat seksual dan sebaliknya laki-laki merupakan pribadi natur seksual.  Berdasarkan hal tersebut, objektifikasi yang ada ditemukan merenggut hak-hak seksual Srintil, sesuai dengan gambaran bahwa sang ronggeng terpaksa melepaskan hubungan romantisnya dengan seseorang dan mematikan hasrat seksualnya yang merupakan motivasi baginya untuk melakukan hubungan seksual dengant tulus.

Pada akhirnya, film Sang Penari cukup dapat dikatakan menggambarkan objektifikasi perempuan khususnya sebagai ronggeng dalam kompleksitas kebudayaan dan keyakinan lokal.  Yang butuh menjadi perenungan adalah tidak seharusnya hal yang (dianggap) terberi, dalam hal ini kebudayaan dan keyakinan, diterapkan begitu saja hingga menimbulkan kerugian bagi perempuan.

REFERENSI

Corsianos, Marilyn. 2007. Mainstream Pornography and “Women”: Questioning Sexual Agency. Critical Sociology 33, pg. 863-885

Hughes-Freeland, Felicia. 2008. Gender, Representation, Experience: The Case of Village Performers in Java. Dance Research: The Journal of the Society for Dance Research 26, No. 2, pg. 140-167

Lysloff, Rene T. A. 2002. Rural Javanese “Tradition” and Erotic Subversion: Female Dance Performance in Banyumas (Central Java). Asian Music 33, No. 1, pg. 1-24

 

DAFTAR PUSTAKA

Bernstein, Elizabeth dan Laurie Schaffner. 2005. Regulating Sex: The Politics of Intimacy and Identity (Chapter 7). New York: Routledge

Chambers, Clare. 2008. Sex, Culture, and Justice: The Limits of Choice (Chapter 2).  (Kota tidak diketahui) USA: The Pennsylvania State University

__________________________

Tentang Penulis:

Penulis merupakan tiga mahasiswa Kriminologi angkatan 2011 yakni Leni Novitasari, Putu Pande, dan Raisa Marsaulina. Untuk berdiskusi dengan penulis, dapat menghubungi penulis disini: Leni , Putu, dan Raisa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s