Rumah Tangga

Mama menikah lagi. Dengan papa. Jadi, mama dan papa bercerai ketika aku berusia 12 tahun, dan kini mereka menikah kembali. Mereka bercerai karena papa selingkuh sejak akhir tahun pertama pernikahan. Mama ditipu selama 11 tahun. Ah, tapi itu biasa. Papa berselingkuh dengan sekretarisnya, menikah sirri tanpa sepengetahuan mama, dan ternyata sudah punya anak yang usianya hanya terpaut 1 tahun denganku. Tepat 1 tahun.

Dahulu, papa bilang, mama tidak sepadan dengan sekretarisnya yang lulusan S2 dan berdarah Jawa – Sunda. Dan hal itu pasti menimbulkan percekcokan karena mama merasa terhina, dan berkata pada papa bahwa harusnya dia cukup berkata bahwa dia menyesal telah menikahi mama. Tidak perlu sampai membanding-bandingkan begitu.

Dahulu, mama bilang, papa hanya depresi karena nilaiku tidak kunjung membaik. Loh, kok aku yang disalahkan? Entahlah, mama terlalu bodoh untuk mencari alasan. Mungkin sekretaris itu, selingkuhan papa itu, pandai berbohong kepada klien-klien papa yang hendak membuat appointment. Mungkin dia berkata bahwa papa ada meeting di belahan dunia mana, padahal sesungguhnya mereka sudah menyusun reminder untuk hole in one di hotel bintang 5. Dan klien-klien itu percaya. Dan papa kagum padanya. Dan aku punya adik tiri.

Dahulu, aku bilang, mama dan papa bercerai karena perusahaan papa ketahuan korupsi dan papa ikut kena akibatnya. Papa tidak mau mama ikut-ikutan menderita karena takut akan kedatangan debt collector, sehingga lebih baik bercerai saja. Itu yang diketahui teman-temanku. Kisah yang cukup romantis, bukan? Dan mereka cukup bodoh untuk bisa diperdaya.

Aku tidak paham pikiran mama. Dia sering mengeluhkan segala apa yang kulakukan, tentu karena depresinya yang tidak juga mendapat sentuhan. Tapi apa itu berarti dia harus kembali bersama papa? Mana itu, sumpah serapah yang acap kali dijeritkannya baik pada waktu sadar dan tidak sadar? Mana itu, anti-depresan yang membuat uang jajanku dikurangi? Sial!! Kenapa jadi aku yang rugi.

Papa tidak bercerai dengan sekretarisnya. Mereka terpisahkan oleh jalan terakhir cinta sejati: kematian. Sekretaris itu mati pada usia 36 tahun. Tebak karena apa? Karena dia terlalu banyak mengkonsumsi makanan dengan zat pewarna yang tidak baik. Ah, apa tidak ada penyebab sakit yang lebih keren? Sok imut sekali kedengarannya.

Ya sudah, mama dan papa akhirnya resmi kembali menjadi pasangan. Mungkin bahagia. Mungkin tidak bahagia. Aku tidak bahagia. Aku tidak peduli.

Rumah kami kini terisi oleh 4 orang : mama, papa, aku, dan adik tiriku itu. Cuma adik tiriku itu yang merupakan makhluk asing di sini. Mama menyuruhku berbaik-baik padanya, tapi kenapa aku harus berbaik-baik kepada orang asing? Memang kami ini satu ayah, tapi ayah hanya menyumbangkan 1 spermanya untuk menghadirkan dia dunia. Oh, dan uang papa juga. Meski anak asuh papa juga banyak yang masih hidup dengan sumbangan papa. Berarti, dia anak asuh? Yah, aku anggap saja begitu. Anak asuh juga tidak hina, kok. Mungkin dia tidak hina.

Saat ini aku berusia 16 tahun dan dia 15 tahun. Waktu kecil, aku sering bilang ingin punya adik kepada mama dan papa. Dan aku ingat jelas, mereka akan saling pandang dengan muka jijik bila mendengarku berkata begitu. Aku jadi paham, 11 tahun pernikahan mereka itu tidak lebih untuk menyelamatkan aku.

“Kak, aku Susan,“ kata adik tiriku itu. Mencoba berkenalan. Aku sudah tahu sejak dulu namanya Susan. Bagaimana tidak, aku melihat fotonya di dompet papa. Di balik foto itu ada namanya, Susan Arianti Putri, 15 Maret 1993. Di dompet papa juga ada fotoku. Lebih kecil tapi. Dan dibaliknya ada nama juga, tapi cuma nama panggilan. Talitha, 15 Maret 1992. Kenapa harus diberi nama? Apa papa masih punya banyak anak di luar sana?

“Oh, ya,“ aku menjabat tangannya. Tersenyum simpul, dan kembali chatting. Untuk apa juga aku mengenal lebih jauh? Toh, tidak akan ada simbiosis yang terjadi.

Diam-diam, aku memang cukup iri dengan Susan. Dia cantik. Wajahnya persis sekretaris yang sudah mampus itu. Lama-lama aku juga paham kenapa papa lebih memilih sekretarisnya. Dia cantik dan pintar. Bukankah itu cukup untuk menjalani kehidupan yang beruntung meski harus mengambilnya dari orang lain? Ah, barang kali mama yang tidak cantik dan tidak pintar itu memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk mengambil yang sisa-sisa saja, tidak perlu sok mencari yang bukan bekas pakai.

Aku ini tipe cewek 5B. Behel, belateng, BlackBerry, Black Menthol, dan bego. Susan hanya kurang 2, dia tidak bego dan tidak menghisap Black Menthol. Aku tidak canggung dengan itu. Suatu hari nanti dia akan mengikuti jejakku. Dia akan jadi seperti aku. Veter. Yah, untung kami berbeda sekolah.

“Kamu ngga ngobrol-ngobrol sama Susan?“ tanya mama.

“Mau ngomongin apaan?“ aku berbalik tanya.

“Yaaa, gimana bisa mamanya mati, ngapain aja mamanya sama papa kalau ada waktu luang, berapa uang belanja yang dulu papa kasih ke mamanya..“

“Itu kan hal-hal yang mama mau tau sendiri.“

“Memang.“

“Terus?“

“Makanya tanyain.“

“Persetan,“ dan aku pergi. Malas. Tidak muak. Lucu malah. Sayangnya tidak bisa membuat tertawa. Lebih baik aku cyber sex saja di kamar.

Susan ada di kamar sebelah. Kamar kami tidak dibatasi oleh tembok, entah dibatasi apa aku juga tidak tahu. Yang pasti aku masih bisa mendengar suaranya. Atau musik dari speaker-nya yang berharga dan jauh lebih mahal dari yang diberikan papa padaku. Ponselnya jarang berbunyi. Aku lebih sering mendengarnya bicara sendiri, berpidato di depan cermin. Untuk lomba ini itu. Mungkin dulu mamanya juga begitu.

“Mamanya meninggalnya abis seminggu di rumah sakit,“ kataku suatu hari pada mama.

“Oh, ya? Terus, terus?“ mama berbinar.

“Kalau senggang, biasanya mereka bertiga main tenis di lapangan komplek mereka yang dulu. Tapi Susan lebih sering ngga diajak. Ditinggal aja sama si Mbok di rumah.“

“Uang belanjanya gimana, uang belanjanya?“ mama makin semangat. Tubuhku sampai diguncang-guncang.

“Dia ngga tau berapa, tapi tiap bulan, selain uang jajan, tabungannya Susan diisi sampai sejutaan lebih,“ kataku. Lalu pergi. Muka mama menyeramkan. Pasti nanti malam ribut. Itu menyenangkan.

Betul, kan. Ribut. Susan takut. Dia ke kamarku. Aku sudah biasa mendengar teriakan-teriakan mereka, atau bunyi pecah sana-sini, bahkan sesekali darah juga ada.

Ternyata Susan tidak biasa dengan suasana itu. Aku berkesimpulan bahwa yang menyebabkan keributan selalu mama.

Setahun berlalu sejak pernikahan kembali antara mama dan papa. Sekarang akhir Februari. Bulan depan aku..dan Susan, ulang tahun. Aku yang ke 17 tahun. Sweet seventeen. Aku harus didahulukan.

Selama setahun itu, tentu saja mama dan papa sering ribut. Apa lagi kalau bukan masalah uang dan keparnoan mama untuk ditipu lagi. Susan pasti berlindung di kamarku kalau ada keributan. Dan kami akan diam dalam 1 kamar itu. Biasanya dia akan membaca novel-novel pornoku dan sesekali berdesis jijik. Aku akan menatapnya dingin, dan dia diam. Sesekali kembali ke kamarnya. Lalu ke kamarku lagi karena takut kalau-kalau mama dan papa menghampiri kamarnya, untuk ribut di sana. Dasar bodoh.

“Kamu mau apa untuk ulang tahun, Susan?“ tanya papa suatu hari, ketika kami sedang makan-makan di restoran Jepang.

Susan diam. Dia tahu kalau ulang tahunku berbarengan dengan ulang tahunnya, tapi aku tidak ditanya apa-apa oleh papa. Dia takut kalau mama mengamuk karena papa seolah melupakan aku. Oh, mungkin benar-benar lupa.

“Kamu tidak mau apa-apa, Susan?“ papa bertanya lagi. Susan melirik padaku. Aku tahu dia melirik padaku. Untuk apa? Aku tidak perlu dikasihani. Lebih baik dia cepat menjawab, sehingga mama marah dan terjadi keributan di sini.

“Kamu lupa ulang tahun anak kamu sendiri?“ tanya mama pada papa. Nadanya ketus. Seperti biasanya.

“Eh? Ulang tahun kamu 15 Maret kan, San?“ papa menghentikan makannya sejenak, untuk memperhatikan wajah Susan. Aku tahu Susan ketakutan setengah mati. Susan mengangguk saja. “Tuh, 15 Maret kok, betul.“

Byur! Mama menyiram papa dengan kuah shabu-shabu. Papa melepuh. Susan menjerit. Aku diam dan menyiram papa dengan semua minuman dingin yang ada di meja tanpa bicara. Semua orang memperhatikan kami. Manajer datang menghampiri, bertanya kenapa. Susan menjelaskan sambil menangis. Mama melotot. Papa merutuk mama, berteriak-teriak, hingga beberapa pelayan harus menenangkannya. Aku hanya chatting saja. Toh, aku sudah berbaik hati untuk mendinginkan papa.

Urusan ini sampai ke kepolisian. Aku tidak peduli. Aku pulang ke rumah. Susan ditawarkan untuk pergi ke psikolog. Manja sekali dia. Papa harus dirawat 3 hari penuh.

Beberapa hari kemudian, psikolog Susan datang ke rumah. Dia perempuan dengan merah-merah di leher. Aku tidak peduli padanya. Aku tidak banyak bicara. Untuk apa? Dia tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantuku karena aku pun memang tidak mau dibantu. Aku sudah cukup bahagia dengan ini dan tidak ada yang perlu diubah.

“Katanya, papamu hanya ingat ulang tahun adikmu, ya?“ tanya psikolog itu.

Aku mengangguk.

“Kamu sedih?“

Aku menggeleng.

“Lalu?“

“Biasa saja.“

“Tapi itu kan ulang tahunmu yang ke-17.“

“Apa bedanya dengan yang lain?“

“Kamu pasti paham.“

“Basi.“

Psikolog itu diam. Aku tidak peduli lagi dengan sweet seventeen atau apalah. Peristiwa di restoran Jepang itu cukup membuatku senang dan terpukau. Hiburan unik yang belum tentu bisa didapatkan orang lain. Aku bangga dengan itu. Dan dia tidak mungkin paham perasaanku.

Akhirnya, psikolog itu pulang dengan kekalahan. Padahal aku ini lemah. Tapi dia lebih lemah lagi. Dasar payah. Pasti waktu remaja, dia seperti Susan.

“Maaf ya kak,“ kata Susan sambil menangis.

“Buat apa?“ aku berekspresi datar saja.

Susan menangis pilu. Sesekali menjerit. Tangisan depresi. Aku tahu jenis-jenis tangisan, karena mama selalu mencekoki aku dengan itu. Tangisan buaya, tangisan terharu, tangisan depresi, tangisan orang gila, hingga tangisan untuk merangsang.

Tentu saja aku diam. Sibuk chatting. Duniaku lebih penting dari dunianya. Aku tidak butuh maaf. Aku tidak butuh apa-apa. Pakaian pun boleh-boleh saja aku tanggalkan. Yang penting aku bisa makan.

“Kamu tau nggak,“ aku mulai buka suara. Susan diam sejenak. Kepalanya diangkat. “Mama dan papa itu bisa saja bunuh-bunuhan. Bisa saja di depan kamarmu. Bersandar di pintumu. Lalu darah mulai masuk dari sela-sela di bawah pintu. Itu sangat mungkin. Tapi kamu ngga akan pernah tau kapan. Karena aku juga ngga tau. Kamu itu ngga tau apa-apa. Makanya kamu disayang. Aku tau tabiat mereka. Kamu ngga tau. Harusnya kamu menyesal masuk keluarga ini. Harusnya kamu sadar mamamu itu pelacur. Sama seperti mamaku.“

Susan diam. Mungkin tercengang. Entahlah, eksperesinya terlalu lucu untuk kujelaskan.

“Besok mama pulang, papa juga pulang. Mereka harus ke psikolog keluarga. Ke psikolog bodoh itu. Ke psikolog yang kamu cari sendiri tanpa tau apa-apa. Kamu memang tidak pernah tau apa-apa. Kamu itu lebih bodoh dari pada aku, sebenarnya. Kamu ngga tau dunia itu seperti apa. Kamu ngga tau kalau mamaku itu sangat ganas. Kamu ngga tau kalau papaku itu gampang kepancing. Soalnya kamu itu anak manja. Ah, kamu ngga akan paham.“

Susan bicara pelan sekali. Pandangannya ke bawah, “Aku harus ngapain dong..?“

“Kamu mau mati atau hidup? Di sini, kamu bisa dibunuh kapan saja,“ kataku. Lalu aku pergi. Aku mau tidur. Susan tidak akan mengerti. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku ucapkan. Siapa peduli?

Besok paginya, Susan sudah tidak ada di kamar. Tidak ada surat. Tidak ada yang dibawa kecuali dompet. Dia pergi dan tidak pernah kembali. Aku kembali menjadi anak tunggal yang tinggal di keluarga predator. Lebih baik begini.

Dan lebih baik lagi, ketika aku bertemu Susan di diskotik tempat diselenggarakannya ulang tahunku. Dia bekerja sebagai massage girl.

Tulisan ini pernah dimuat dalam blog pribadi penulis : http://tulisanolga.blogspot.com/

                                                                                  

Tentang Penulis

Miranda Olga Viola

Mahasiswi bertubuh mungil ini memiliki hobi menulis sejak SMA, dimulai dari mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik hingga menjadi kontributor di media harian nasional. Olga, biasa disapa, sekarang sedang aktif di media kampus sebagai reporter wepreventcrime dan Suara Mahasiswa. Selain itu Olga juga rajin menulis di blognya yang beralamat di Tulisan Olga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s