Waktunya (Bicara soal) Lelaki

“Perempuan.. Kalian bisa saja mengumbar kejujuran, namun kejujuran bagi lelaki hanya malam lah yang tahu!!”

lelaki

Kalimat di atas merupakan sebuah kutipan yang diungkapkan oleh salah satu tokoh dalam pertunjukan teater bertajuk “Waktunya Lelaki”. Pagelaran tesebut diselenggarakan oleh Teater Agora, sebuah komunitas kecil yang dicetuskan beberapa mahasiswa Filsafat, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pertunjukan berdurasi nyaris empat jam itu, merupakan salah satu rangkaian acara Philosofair yang digelar selama dua hari, 14-15 Mei 2013 kemarin. Waktunya Lelaki menceritakan tentang makna kebebasan, tanggung jawab, kuasa, juga dilema dan kerapuhan masing-masing tokohnya, dalam lima plot yang terpisah namun saling berhubungan.

Cerita pertama yang disuguhkan adalah tentang kekalahan seorang suami yang tidak dapat mempertahankan bahtera rumah tangganya karena kekecewaan mendalam sang istri akibat belum dikaruniainya anak. Cerita kedua, menyinggung tentang kekecewaan seorang lelaki dengan kecenderungan sifat dan sikap seperti perempuan, yang ditinggalkan kekasih yang ia percaya sebagai cinta sejatinya. Cerita ketiga, menyoal tentang seorang anak band yang baru akan memulai debutnya di panggug musik Indonesia, namun terpukul karena kabar kehamilan pacarnya serta tuntutan pertanggungjawaban yang dilayangkan kepadanya. Cerita selanjutnya, menghadirkan seorang sosok lelaki dengan jiwa seorang perempuan timbul tenggelam dalam dirinya, namun dengan keras ia menyatakan tidak ingin menjadi atau membutuhkan seorang perempuan dalam hidupnya. Cerita terakhir, menghadirkan sosok ayah yang tidak pernah bisa menunjukan kasih sayang dan senyuman di depan putrinya, sejak kematian sang istri secara mendadak beberapa tahun silam.

DSC_0929

            Waktunya Lelaki mencoba menghadirkan permasalahan peran seorang laki-laki dalam konteks masyarakat Indonesia, melalui berbagai konflik keseharian. Pemilihan jalan cerita dan karakteristik tokoh dalam pagelaran tersebut sengaja diambil guna merepresentasikan laki-laki, yang sesungguhnya (juga) hidup di atas tuntutan dan ekspektasi masyarakat. Sosok Ernest misalnya, menggambarkan kekecewaan seorang lelaki yang pada awalnya mengira sang istri cukup bahagia hidup bergelimang harta, namun ternyata hanya membutuhkan seorang bayi ditengah keluarga kecilnya. Suatu kebahagiaan yang belum dapat ia berikan pada sang istri.

DSC_0864

            Selama ini mungkin, kita hanya berfokus mempelajari feminisme. Dunia dengan segala ketidaksetaraan yang mewarnai hubungan laki-laki dan perempuan, dengan perempuan sebagai pihak yang dikalahkan. Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri, bahwa baik laki-laki maupun perempuan sebenarnya sama terlahir sebagai “becoming a men/women”. Inilah yang kemudian dibahas oleh salah seorang feminis eksistensialis Prancis bermana Simone de Beauvoir dalam wacana gendernya. Terdapat dua pertentangan mengenai tubuh manusia, yakni “tubuh sebagai alamiah” dan “tubuh sebagai konstruksi sejarah”. Sesungguhnya de Beuvior mencoba mengatakan bahwa seseorang dilahirkan dengan jenis seks tertentu sebagai faktisitas biologis, lalu seksnya menjadi gendernya, yang diperoleh dari signifikansi-signifikansi kultural dan historis. Kemudian, ketika tubuh diberi nama sesuai dengan klasifikasi jenis kelamin, seseungguhnya tubuh telah menerima tanda yang diberikan padanya melalui norma-norma gender.

Liska dan Messner menjelaskan bahwa konstruksi paradigma, dapat menjadi suatu interprestasi sosial yang mempengaruhi perilaku dan reaksi masyarakat. Hal inilah yang selanjutnya, menurut Schur, disebut sebagai suatu dasar dari pemberian label atau cap menyimpang pada perilaku atau ciri tertentu. Vito, salah satu tokoh dalam pagelaran tersebut, mengungkapkan kesedihannya akan reaksi masyarakat yang tidak menerima ia sebagaimana adanya dan malah cenderung melecehkan dirinya. Tindakan tersebut, menurut kriminologi, dapat diidentifikasi sebagai perilaku homophobia yang berawal dari proses labeling. Perlu dipahami bahwa homophobia bukan hanya tindakan yang terjadi pada lelaki homoseksual, tetapi juga pada lelaki dengan kecenderungan sifat keperempuanan. Vito merupakan sosok laki-laki yang menjadi korban dari ekspektasi masyarakat akan peran gender yang ‘seharusnya’ ia tampilkan.

DSC_0874

            Apa yang menarik sesungguhnya, adalah bagaimana naskah drama tersebut dibuat dan siapa yang membuatnya. Menilik pendapat Winship mengenai pembahasan seksualitas dalam teks, maka apa yang membedakan tulisan perempuan dengan laki-laki dalam pembahasan seksualitas adalah perempuan akan menggarisbawahi perbedaan feminimitas dan maskulinitas dalam kebudayaan mereka, kemudian memaparkan ide mengenai seks dan gender yang seyogyanya berkembang karena pengalaman manusia atas tubuhnya. Nah, jika bertumpu pada pendapat tersebut, dapatkah pembaca mengasumsikan sendiri siapa yang memproduksi naskah drama Waktunya Lelaki?🙂

 Tentang Penulis

Wara Aninditari Larascintya Habsari – Mahasiswi Kriminologi UI 2010

@waraaninditari


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s