Elegi Tentara Anak Perempuan

Kebanyakan konflik bersenjata di akhir abad ke 20 dan 21 awal melibatkan penggunaan anak.[1] Banyak dari anak-anak tersebut berasal dari negara konflik seperti Sri Lanka, Sierra Leone, Sudan, Uganda, Mali dan masih banyak lagi negara yang berada dalam situasi konflik. Ironisnya, mereka bukan lagi sebagai korban dari konflik kekerasan dan perang, tapi juga dipaksa untuk menjadi tentara anak. Dari data yang dilaporkan UNICEF, lebih dari 300.000 anak-anak perempuan dan laki-laki dibawah umur 18 tahun berperang dalam lebih dari 30 konflik di seluruh dunia.[2] Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen atau 120.000 tentara anak-anak adalah anak perempuan, namun sayangnya penderitaan yang sering muncul dan menjadi perhatian internasional sebagian besar berfokus pada anak laki-laki.[3]

Secara global, ketika orang berbicara tentang tentara anak-anak, pemikiran yang muncul adalah anak laki-laki. Padahal masih terdapat banyak ratusan ribu anak perempuan yang juga dijadikan sebagai tentara anak. Sayangnya, mereka kurang terlihat bahkan sama sekali tidak terdeteksi, atau biasa disebut sebagai tentara bayangan (shadow armies) dalam konflik di seluruh dunia.

Tentu saja hal tersebut mengacu pada konsep bagaimana perempuan dipandang tidak sejajar dengan laki-laki. Hal tersebut berakibat pada tidak terselesaikannya kasus-kasus mantan tentara anak perempuan. Di mana sebetulnya tentara anak perempuan mendapatkan perlakuan yang lebih buruk ketimbang tentara anak laki-laki. Meskipun PBB telah mengeluarkan Disarment, Demobilisation dan Reintegration (DDR) untuk rehabilitasi mantan tentara anak-anak, namun penggunaannya masih perlu dikaji ulang.

Sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam penggunaan anak perempuan sebagai tentara. Mengingat anak perempuan sangatlah rentan terhadap dominasi. Sehingga mereka dapat dengan mudah dijadikan tentara anak. Ketika menjadi tentara anak, anak perempuan cenderung mendapatkan perlakuan yang lebih buruk ketimbang anak laki-laki. Selain itu, saat berhasil keluar dari tentara anak, anak perempuan tidak mudah untuk diterima kembali ke dalam masyarakat ataupun keluarga.

Secari garis besar perlu diketahui bahwa anak-anak memiliki perlindungan umum, anak-anak perlu dilindungi dari keadaan darurat yang membahayakan, kesewenang-wenangan hukum, eksploitasi termasuk kekerasan, dan diskriminasi. Tentu saja, perlindungan tersebut harus dilakukan, mengingat anak-anak merupakan suatu bagian dari kehidupan dan harus mendapatkan kepentingan yang terbaik. Bukan dijadikan sebagai hak milik atau pun tempat untuk menggantungkan harapan. Terlebih anak perempuan, yang notabennya– memiliki kebutuhan khusus yang harus didapatkan secara rutin.

Dewasa ini, perkembangan dunia secara global tidak jauh dari konflik. Di mana terdapat pemberontakan yang dilakukan secara sporadis oleh orang-orang yang merasa dirinya tidak puas. Pemberontakan yang berujung konflik ini mengakibatkan terganggunya sistem kehidupan bermasyarakat di daerah konflik tersebut. Kerusakan ini berakibat pada hilangnya kesempatan seseorang untuk untuk mendapatkan haknya, terutama anak-anak, dan khususnya anak perempuan.

Pada konflik itu, para pemberontak yang berkuasa memaksa seluruh elemen masyarakat untuk bergabung. Tidak terkecuali anak-anak, khususnya anak perempuan. Pada kasus anak perempuan, mereka berpikir dengan adanya anak perempuan mereka dapat mendapat keuntungan ganda, pertama mereka akan mendapatkan tenaga seperti anak laki-laki, kedua mereka dapat mengekploitasi seksual anak perempuan. Pemikiran tersebut merupakan representasi patriarki dan subordinasi pada anak perempuan. Tentu ini merupakan bentuk paling kejam. Mengingat kedua hal tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat. Belum lagi, rehabilitasi pasca keluar dari tentara anak yang carut marut. Dalam hal ini tentu saja mantan tentara anak perempuan memiliki kondisi yang sangat berbeda dengan mantan tentara anak laki-laki. Anak perempuan memiliki kerentanan yang semestinya tidak dijadikan sebagai peluang negatif.

Bentuk-Bentuk Kekerasan Saat Menjadi Tentara Anak Perempuan

Penggunaan anak perempuan untuk dijadikan tentara anak merupakan satu bentuk eksploitasi yang sangat kejam. Anak perempuan tidak lagi dilindungi sebagaimana mestinya. Mereka diperlakukan seperti sapi perah yang terus dikeruk habis sumber daya dalam dirinya. Seperti tak kenal puas, para tentara dewasa memperlakukan tentara anak perempuan dengan buruk secara terus-menerus. Tidak ada sedikitpun kesempatan untuk anak perempuan mendapatkan hak-haknya. Malah mereka cenderung dilecehkan.

Menurut Brett dan McCallin (1996) anak laki-laki dan perempuan cenderung memiliki tugas yang sama, namun banyak anak perempuan yang dilecehkan dengan dijadikan istri para tentara. Anak-anak banyak mengalami kekerasan fisik. Anak-anak banyak mengalami kekerasan fisik, dipermalukan, dan juga dikenalkan pada narkoba dan alkohol. Hal ini senada seperti yang diungkapkan Grace Akallo, mantan tentara anak perempuan di Lord’s Resistance Army (LRA) yang dimuat kisahnya di situs Inter Press Service (IPS) oleh Isabelle de Grave. Ia mengatakan, ketika pertama kali anak perempuan diculik, mereka sama seperti anak laki-laki. Mereka dipukuli dan dianiaya. Tapi menurut Akallo anak perempuan semakin diperlakukan beda, banyak dari tentara anak perempuan mendapatkan kekerasan seksual, termasuk dirinya. Namun ia beruntung karena ia tidak hamil dan terkena infeksi HIV atau penyakit kelamin lainnya. Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar anak perempuan disembunyikan untuk dijadikan sebagai istri oleh komandan LRA.

James A. Mitchel dalam studinya di Sri Lanka (2006) mengungkapkan kelompok Liberation Tiger of Tamil Elam (LTTE) menggunakan anak perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri. Anak-anak perempuan tersebut dicuci otaknya dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan memiliki masa depan kalau tidak ikut bertarung pada perang yang sudah dimulai sebelum mereka lahir untuk negara mereka. Kejadian tersebut benar-benar menimpa anak perempuan di Sri Lanka, seperti yang dikatakan oleh salah satu tentara anak perempuan Sri Lanka yang dilansir oleh Yvone E. Kearins dalam The Voice of Girl Child Soldiers, bahwa:

“Sebelum kami diberi senjata untuk dibawa. Kita harus membawa sepotong kayu (contoh). Sementara kami semua harus membawa dan cukup beberapa hari menggunakan itu, kami diberi senapan. Pada hari saya mendapat senapan, saya sangat senang dan bahagia.”

Tentu saja hal tersebut merupakan satu bentuk kegelisahan yang muncul secara signifikan. Di mana anak-anak perempuan dalam keadaan yang sangat mengerikan dan penuh dengan ancaman pencucian otak.

Perlakuan yang Didapatkan Anak Perempuan Setelah Tidak Lagi Menjadi Tentara Anak

Menjadi tentara anak bukanlah sebuah pilihan. Melainkan paksaan. Terlebih bagi anak-anak perempuan yang terpaksa menghabiskan masa kecilnya di dalam cengkraman penguasa. Mereka tidak lagi bisa tersenyum, bermain seperti teman-teman sebayanya. Mereka dihadapkan pada medan perang yang sebenarnya bukan bagian dari hidupnya. Mereka diperlakukan secara tidak manusiawi. Terutama ekploitasi seksual yang sering mereka dapatkan. Menjadikan mereka mengalami guncangan hebat dalam diri mereka.

Menurut Leibig (2005) dalam studinya yang berjudul Girl Child Soldiers in Northern Uganda: Do Current Legal Frameworks Offer Sufficient Protection, mengungkapkan ketika berumur 14 atau 15 tahun anak perempuan akan dipaksa menjadi istri komandan LRA yang mana mereka mendapatkan potensi bahaya pemerkosaan, penularan penyakit seksual dan kehamilan dini. Kalau mereka kabur dari kamp, mereka juga akan sulit diterima oleh masyarakat karena dianggap telah kehilangan kemurniannya. Hal tersebut terjadi pada Florence Armony, mantan tentara anak perempuan yang direkrut oleh LRA pada 9 September 1990, yang dimuat oleh Beatrice Lamwaka di situs Women News Network (WMN). Ia mengatakan reintegrasi ke masyarakat sangatlah sulit. Masyarakat Uganda menyebut orang-orang yang diculik sebagai “dug paco” yang artinya kembali. Namun, arti kembali di sana merupakan kembali dengan tidak sama lagi dengan masyarakat biasa atau biasa dipanggil “cen”, yang secara harfiah Uganda adalah orang-orang jahat. Tentu hal ini merupakan bentuk diskriminasi yang diterima oleh anak-anak perempuan yang mau kembali ke masyarakat.

Disarment, demobilisation dan reintegration (DDR) merupakan sebuah program yang dilakukan PBB sedari tahun 1980 dan dijadikan aturan formal di tahun 2006 belum lah begitu tepat. Hal ini mengingat, program yang diperuntukkan untuk mantan tentara anak-anak ini tidak sensitif gender. Mengingat, tidak semua mantan tentara anak-anak tersebut laki-laki dan mereka tidak dieksploitasi. Karena permasalahannya ialah banyak dari mantan tentara anak perempuan, dulunya dijadikan sebagai budak seks dan istri dari para komandan LRA. Sama seperti yang terjadi oleh Akallo dan Armony. Bagi mereka tidak mereka tidak mudah dengan kembali begitu saja dengan keluarga mereka, mengingat ada aturan dan budaya di keluarga mereka yang dari dulu sudah tertanam.

Tidaklah mudah menjadi mantan tentara anak perempuan. Mereka merupakan bagian dari kejamnya sistem dominasi dan patriarki yang melenggangkan pelanggaran HAM. Kekerasan demi kekerasan terus mereka dapatkan sampai dengan bentuk kekerasan seksual. Tentu saja hal ini menyakiti kondisi psikologi ataupun sosial mereka. Perlakuan tidak mengenakan tersebut tidak saja mereka dapatkan saat menjadi tentara anak. Melainkan setelah tidak menjadi tentara anak mereka juga masih mendapatkan. Terbukti, mereka masih mendapatkan diskriminatif. Kembali hal itu bersumber dari sistem yang sangat mendominasi dan patriarki.

Perlu disadari secara bersama bahwa sistem yang mendominasi dan patriarki merupakan awal dari sebuah malapetaka bagi perempuan, terutama anak-anak perempuan. Hal tersebut berlaku pada mantan tentara anak perempuan. Di mana mereka masih mendapatkan subordinasi dan diskriminatif saat dan setelah menjadi tentara anak perempuan. Tentunya yang harus dilakukan ialah menghapuskan sistem tersebut tanpa ada syarat sedikitpun. Mengingat, dominasi dan patriarki telah menyebabkan pelanggaran HAM yang berat. Seperti yang terjadi pada mantan tentara anak perempuan.

Daftar Pustaka

Leigib Abigail. 2005. Girl Soldiers in Northern Uganda: Do Current Legal Frameworks Offer Sufficient Protection?. Nortwestern University Juournal of International Human Rights,.Volume 3.

Brett, Rachel dan Margaret McCallin. 1996. Children: The Invisible Soldiers. Vaxjo: Radda Barnen

M, Tynes Robert. 2011. Child Soldiers, Armed Conflicts, and Tactical Innovations. State University of New York.

Mitchel, James A. 2006. Soldier Girl? Not Every Tamil Teen Want to Be A Tiger. The Humanist.

Wessels, Michael. 2006. Child Soldiers: From Violence to Protection. USA: President and Fellows of Harvard College.

Wessels, Michael. 1999. Child Soldier: The Destruction of Innocene. Global Dialogue.


[1] Robert M. Tynes, Child Soldiers, Armed Conflicts, and Tactical Innovations, State University of New York, 2011, hal .1

[2] Laporan UNICEF hal. 1

[3] Matt Hobson, Forgotten Casualties of War, 1. Juga lihat Joe De Capua, “120,000 Girls Believed to Be Child Soldiers,” April 25, 2005, Voice of America News, http://www.voanews.com/english/archive/2005-04/2005-04-25-voa27.cfm (Di akses 10 Desember 2012); dan Jonathan Steele, “Armies of Girls Caught Up in Conflict,” The Guardian, April 25, 2005, which also refers to Hobson, Forgotten Casualties of War, http://www.guardian.co.uk/international/story/0,,14669358,00.html (Di akses 10 Desember 2012).

 

 

 

________________________

Tentang Penulis:

Kahfi Dirga Cahya

“Aku berpikir maka aku ada”, Rene Descrates. Setidaknya itu yang menjadi prinsip dasar bagi bujang yang satu ini. Baginya, berpikir dapat memberikan dia ketenangan dan menganggap dirinya sendiri ada, serta hidup di muka bumi. Kahfi juga aktif dalam berbagai tempat, di antaranya  sebagai direktur litbang di Khatulistiwamuda, dan redaktur pelaksana di media online Tepiwaktu, sertafreelance editor di berbagai penerbit. Pemuda yang berstatus mahasiswa Kriminologi 2011 ini sudah mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM) FISIP UI sejak tahun 2012, dan sekarang masih menjadi staff wepreventcrime, dan bertindak sebagai tim Kajian Kita.


2 thoughts on “Elegi Tentara Anak Perempuan

    1. jika melihat pada pemberitaan media permasalahan tentara anak di Indonesia belum pernah diangkat, keterlibatan tentara anak dalam gerakan separatis di Indonesia akan kami cari tahu lebih lanjut dan kami diskusikan dengan penulis, terima kasih atas pertanyaannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s