Hancur Semalam

Dingin.  Angin tidak lagi berhembus. Mereka mulai memakanku. Tulang-tulangku berteriak kedinginan, tapi otakku menolak diperintah. Tubuhku diam tidak bergerak. Merasakan kebekuan keringat disetiap pori-poriku.  Jangkrikpun enggan bernyanyi. Kesunyian memelukku. Kesepian menemaniku. Aku tetap duduk disana, memandang sang dewi malamyang hanya setengah.

Kau lihat bulan itu? karena kita bersama, maka ia terlihat bulat sempurna

 

Telingaku menangkap setiap irisan dalam nafasku. Mataku terpejam, berusaha melenyapkan seluruh resiko kesendirian ini. Ketenangan seperti ini yang kubutuhkan. Teras ini begitu besar malam ini. makhluk hidup hanya aku. Teras ini duniaku malam ini. hanya aku disini. Beratapkan kayu cokelat muram yang melindungi setengah tubuhku. Aku tersenyum getir.

Aku ingin kau tahu. Memelukmu seperti ini membuatku merasa utuh

 

Aku menapakkan kakiku pada tanah, membiarkan seluruh cahaya bulan menyinariku. Aku tidak lagi terlindung. Bintang-bintang menatapku nanar. Mengapa mereka mengejekku? Karena mereka banyak, dan aku sendirian? Kemarahanku surut. Ya. Aku sendirian sekarang. Kenangan menundukkan kepalaku. Seorang manusia berdiri terpaku. Membeku tanpa suara, menutup setengah kedua mata , menghentikan bendungan kecil yang nyaris terpecah.

Demi Tuhan, hanya senyummu yang bisa membuat mataku terbuka lebar

 

Senyumku memudar. Aku butuh hangatnya harapan. Kucoba menyelusup kalbu dalam hati, mencari secercah musim semi. Yang kudapat hanya pukulan serpihan salju yang berwujud badai. Matahari di hatiku telah lenyap. Hamparan tulip terlihat mati tertimpa bongkahan es. Aroma Hortensia berubah menjadi bau bangkai yang menyesakkan. Denting piano peri hutan terdengar bagai gesekan memilukan dewa kematian. Ya. Kematian. Sesuatu yang selalu kutakutkan. Hal terakhir yang kuharapkan terjadi.  Mengerikan. Menyakitkan. Namun sekarang, aku tahu rasanya. Setengah tubuhku mati.

Sadar tidak? kita satu, satu individu utuh yang hidup bahagia.

 

Luapan perasaanku mengalir turun membasahi pipi yang biasa tersentuh sebuah tangan besar dan hangat. Kehangatan yang yang membuatku hidup. Kehangatan memompa aliran darahku. Kehangatan yang kurindukan. Kehangatan yang kuinginkan namun tak mungkin lagi kudapatkan.  Satu, dua, tiga, lima, sepuluh bintang mulai meninggalkanku. Mereka enggan menggangguku lagi. Mereka tahu, aku makhluk yang paling rapuh. Aku bisa menjerit kapan saja.  Aku bisa tertawa kapan saja. Aku bisa mati kapan saja. Pikiranku kalut setengah waras.

Yah.. Pikiranku selalu sejernih danau hutan yang tak tersentuh saat kau di sisiku

 

Mulutku terbuka, mencoba mendendangkan lagu terakhir kita. Lagu penuh kelembutan cinta dan kekalnya kebahagiaan. Lagu yang melumuri setiap serpihan organ bersiratkan namamu disetiap jengkalnya.  Tidak ada suara. Tidak ada melodi. Hanya isakan.  Riuh dedaunan  menyamarkan melodi kasar yang tumpah dari tangisku. Angin menghancurkanku. Serpihan tubuhku menari pergi .  terbawa nafasku yang terputus tipis. Setengah paru-paruku membusuk.

Sulit jauh darimu, sayang. Nafasku, nafasmu juga.

 

Lelah. Semua tumpah. Malam pecah. Kendali diriku musnah. Aku yang berdiri kukuh dihadapan batu itu, aku yang memeluk punggung gemetar calon adik iparku, aku yang mengusap lembut bunga-bunga harum yang menjadi permadani indah diatas tanahmu. Menyedihkan. Itu aku sekarang. Tersiksa cinta yang terputus waktu. Terpenggal oleh cinta yang terputus takdir. Terkoyak oleh cinta yang terputus paksa.  Aku merindukanmu. Detik tidak lagi terdengar, sayang. Kau bagian dari waktuku. Waktu hidupku hilang sebagian.

Kita bersama selamanya ya

 

Selamanya kau akan berada disana. Melihatku yang tidak berdaya tanpamu. Mendengar raunganku yang menginginkan pelukan hangatmu, yang tidak akan pernah bisa kau berikan lagi padaku. Aku berdiri tegak dan menancapkan langkah lemahku. Kemana tubuh ini membawaku pergi? Ah.. kerumahku. Ke tempat pertama kali kau bertemu denganku, ke tempat pertama kali kau menciumku, ke tempat pertama kali kau berjanji untuk menjadi milikku seutuhnya, ke tempat terakhir kali kau tersenyum padaku dan berkata ‘aku mencintaimu’. Ke rumah dimana kenanganmu menetap kekal seperti cintamu pada aliran darahku.

Bintang-bintang hilang sepenuhnya, bulan lenyap ditelan awan, tubuhku terselimuti bayangan atap. Kubuka pintu rumah dan menyelinap masuk. Kututup mataku pelan, sepelan irama jantung yang tidak akan pernah lagi berdetak cepat. Pintu kayu itu menyapu lantai teras dan tertutup dengan bunyi keras yang mengagetkan. Persis seperti bunyi tembakan penghormatan terakhir untuk mengantarmu, seorang pemuda yang abadi dalam pikiranku, ke tempat peristirahatan terakhirmu.

Kita tidak akan pernah lagi utuh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s