Kriminologi di Acara Komunikasi

Siapa sangka, acara yang diadakan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dan hampir tidak dihadiri oleh mahasiswa Kriminologi ternyata membahas kejahatan-kejahatan yang dilakukan media massa di Indonesia. Tontonan sehari-hari ini memang seolah hanya menjadi bahan caci-maki dan seakan luput dari kajian kriminologis yang lebih lanjut.

Dengan narasumber Maman Suherman, (alumni Kriminologi UI angkatan 1984), acara yang diselenggarakan di Aula Terapung, Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia ini membuka rangkaian acara Pekan Komunikasi 2013. Sesuai dengan tema dari rangkaian acara tersebut yaitu Media FunEthics, acara yang berbentuk seminar ini mengungkap bagaimana beberapa media massa di tanah air seringkali terlalu memikirkan sisi fun ketimbang ethics dalam melakukan kegiatan mereka.

Acara yang dimulai pukul 10.00 pagi ini diawali dengan pembahasan mengenai jurnalisme dan penyiaran di Indonesia dari sudut pandang narasumber yang selain dikenal sebagai penggagas diselenggarakannya Panasonic Award, juga mengawali karirnya sebagai jurnalis. Berdasarkan pengalamannya, beliau menceritakan bagaimana sinetron stripping yang mendapat hati di kalangan masyarakat yang menonton TV setiap harinya menyembunyikan fakta mengenai eksploitasi yang dilakukan oleh pemilik stasiun TV kepada para pekerja di dalamnya atau bagaimana infotainment tanpa etika menampilkan drama-drama yang sebetulnya tidak pantas untuk ditayangkan. “Seorang penulis skrip yang setiap hari dituntut bekerja, bisa saja mendapatkan kerjaan tambahan untuk merubah skripnya, melalui tuntutan pemilik TV yang berdasarkan lagi-lagi rating dari share penonton”

Komisi Penyiaran Indonesia seolah-olah tidak mempunyai kekuatan untuk mencegah agar tayangan-tanyangan ini sampai ke TV di rumah kita masing-masing, dengan alasan  Lembaga sensor tidak sempat melakukan sensor dalam proses pembuatan sinetron stripping yang dilakukan dengan waktu yang sangat terburu-buru.  Lebih jauh lagi, juga sering terjadi power abuse berupa suap seringkali dilakukan baik oleh para pekerja maupun stasiun TV itu sendiri yang bertujuan untuk menghindar dari sanksi moral masyarakat (sanksi, bukan hukuman yang dijatuhkan oleh pihak berwenang melainkan sanksi moral yang diberikan kelompok-kelompok tertentu).

Akan tetapi, beliau juga memberikan dukungan positif terhadap KPI yang akhir-akhir ini telah mengupayakan pencegahan penayangan tayangan yang tidak layak dengan memberlakukan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), meskipun menurutnya, regulasi itu hanya mengatur penerapan terhadap pihak penyiar dan bukan kepada narasumber. Ironisnya seringkali regulasi itu mengakibatkan pembatasan yang berlebihan namun justru lolos membatasi konten yang seharusnya dicegah. Seperti bagaimana rokok disamarkan dalam sebuah tayangan film, namun adegan kekerasan simbolik yang sering terjadi di sinetron-sinetron tidak pernah dibatasi.

Agak sulit membicarakan etika dalam proses penayangan sebuah acara TV. Maman mengambil contoh sebuah acara yang mempertemukan para pengacara di sebuah stasiun TV swasta. Acara ini memang awalnya dimaksudkan untuk membiasakan kebebasan berpendapat setelah kekangan selama lebih dari 30 tahun. Akan tetapi,  acara yang sebelumnya mempunyai tujuan pencerdasan ini pun akhirnya juga menyerah kepada share jumlah penonton yang meningkat dari penyiaran tersebut saat para pakar yang saling memaki lebih menarik ketimbang pembahasan isu-isu hangat yang lebih cerdas.

Antusiasme para peserta seolah tidak mau kalah dengan bagaimana bersemangatnya Maman Suherman membawakan materi. Sayangnya,  fasilitas sound system yang tidak terlalu baik terutama saat pemutaran video serta suara-suara berisik yang membuat suasana sedikit tidak kondusif (yang anehnya berasal dari beberapa orang yang menggunakan baju putih bertuliskan ‘Commitee’ yang memenuhi venue) agak membuat acara ini seperti kurang maksimal. Meskipun begitu, peserta seminar sepertinya tetap menikmati materi yang disampaikan oleh Maman Suherman dan seminar ini pun berjalan interaktif dengan munculnya beberapa pertanyaan dari peserta kepada narasumber.

Dalam sesi tanya jawab yang dilakukan setelah seminar, Maman Suherman juga memberikann kenang-kenangan berupa buku berjudul ‘Bokis’ yang ditulis oleh narasumber sendiri, yang isinya membahas beberapa pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh media kepada seorang peserta dari Universitas Bunda Mulia yang telah berpartisipasi dalam sesi tanya jawab tersebut.

Sebagai penutup, Maman menyarankan agar media watch segera dilakukan oleh lembaga independen yang berasal dari masyarakat, karena media massa penyiaran adalah milik publik yang menggunakan fasilitas frekuensi yang juga merupakan milik publik. Beliau lebih menekankan agar pengawasan media dilakukan oleh mahasiswa, terutama para mahasiswa media dan jurnalistik.

 ‘’Saya bukan penggemar Kartini, tapi saat ini saya akan mengutip kata-kata beliau, yaitu habis gelap terbitlah terang”. “Begitupun dunia jurnalisme, yang seharusnya berperan untuk membuat yang gelap menjadi terang dengan menjalankan prinsip elightenment dan enrichment, media yang baik adalah media yang melakukan pencerahan.’’ begitu pesan beliau sebelum acara ini usai.

Lalu, dimanakah peran para mahasiswa kriminologi untuk dapat berkontribusi dan ikut serta dalam menyikapi tayangan-tayangan yang tidak layak untuk ditayangkan karena merugikan konsumen? Ah, untuk sementara biarlah mahasiswa komunikasi saja yang melakukannya😉 .

– Penulis baru datang di acara sekitar pukul 11 dan karena itu tidak sempat menyimak materi mengenai jurnalisme yang disampaikan di awal acara, selain itu penulis tidak sempat mengambil gambar apapun karena telepon seluler penulis kebetulan tidak aktif karena kehabisan energi.

____________________

Tentang Penulis : Gerald Radja Ludji (Ketua Himpunan Mahasiswa Kriminologi 2013) – Kontributor Lepas wepreventcrime. Untuk menghubungi Gerald mengenai tulisan ini dapat melalui twitternya disini


One thought on “Kriminologi di Acara Komunikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s