Siaran Televisi Anda di Malam Hari

Gerbang rumah kos tempatnya tinggal selama lebih kurang empat tahun terakhir ini sudah dikunci ketika Mayang, seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas negeri di Depok, melenggang pulang. Jarum pendek di jam tangan yang melekat di lengan kirinya sudah menghunus tepat di angka dua belas tepat ketika ia sampai di gerbang berwarna oranye yang sudah ditutup rapat itu. Firma hukum di bilangan Jakarta Selatan, tempatnya magang untuk menempuh pendidikan dalam rangka tugas akhir memang menempatkannya pada shift sore hingga malam hari beberapa minggu terakhir ini. Secara otomatis, Acil, seorang lelaki yang merupakan penjaga rumah kosnya seringkali dipanggil Mayang untuk membukakan gerbang rumah kos ketika ia mendapatkan shift malam hari.

Setelah mengucapkan terima kasih dan basa-basi sedikit dengan Acil, Mayang segera masuk ke kamarnya yang berukuran tiga kali empat, standar untuk harga sewanya yang empat ratus ribu per bulan. Mengingat ada beberapa laporan yang harus ia selesaikan, Mayang tak bergegas bermanja-manja dengan bantal dan kasurnya. Televisi empat belas inci yang dibawakan oleh kerabatnya di Jakarta saat ia duduk di semester empat lalu dihidupkan agar suasana kamar tidak terlalu sepi sehingga ia tak mengantuk ketika mengerjakan laporannya.

Tak lama, layar audiovisual itu memunculkan channel stasiun televisi yang diketahui Mayang dimiliki oleh politisi brewok yang sedang berjuang dengan mesin politik (baca: partai) barunya untuk rebutan suara dan simpatisan dalam pemilihan umum 2014. Seorang news anchor, mulai membacakan kilas berita hari itu, begitu menurutnya. Sama seperti Acil yang akhir-akhir ini begitu sering ditemui Mayang saat ia kebagian shift malam, tayangan berita malam pun menjadi sering ia pantengin.

“Seorang Bapak, tega mencabuli anak tirinya yang berumur empat belas tahun. Diketahui melalui laporan kepolisian, bahwa si Bapak sudah enam kali melakukan perbuatan asusila tersebut,” ujar si news anchor dari kejauhan. Berita hari ini, terjadi pencabulan oleh bapak terhadap anak tirinya, gumam Mayang sambil meneruskan laporannya.

“Kawanan rampok yang ditengarai berasal dari Ogan Ilir, Sumatera Selatan kabur dengan membawa tunai puluhan juta rupiah setelah merampok sebuah toko emas di kawasan Glodok, Jakarta Utara. Kelompok yang bersenjatakan pistol dan senjata laras panjang ini pun melukai seorang penjaga toko yang dinilai memperlambat aksi perampokan. Polisi sampai saat ini masih mencari kawanan yang sangat berbahaya dan profesional ini,” tutup si news anchor diselingi dengan tayangan yang menunjukkan kerusakan pada toko dan bercak darah dari si penjaga toko yang ditembak lengannya. Perampokan memang seperti sudah lazim di kota-kota besar, pikir Mayang dalam hati.

“Laporan utama kami, pemerkosaan dalam angkutan umum semakin marak terjadi. Kali ini terjadi di daerah Jakarta Selatan, ketika seorang mahasiswi yang menaiki angkot jurusan Kebayoran Lama-Ciledug. Korban yang dianiaya dan diperlakukan asusila oleh lima orang tersangka yang masih buron, saat ini sedang menjalani pemeriksaan di RSCM. Sementara pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” demikian berita hari ini, sembari si news anchor menutup acara itu. Wah mengerikan sekali tampaknya kasus pemerkosaan dalam angkutan umum ini, mungkin itu yang dipikirkan Mayang sembari mencoba mengganti ke stasiun televisi lain yang dimiliki oleh seorang pebisnis media besar keturunan yang juga gembar-gembor sedang terjun ke dunia politik.

Program yang ditayangkan malam itu, tentu saja bertajuk “Berita Hari Ini”. News anchor di televisi yang juga terkenal dengan kontes-kontes menyanyi dan kritikan meremehkan dari para jurinya itu mulai membacakan kilas “berita hari ini”.

“Seorang mahasiswi menjadi korban pemerkosaan di dalam angkot! Pelaku yang berjumlah lima orang saat ini masih dalam pencarian kepolisian. Sementara korban masih menjalani proses kesaksian di Polres Jakarta Selatan,” ujar news anchor dengan nada serius. Wah berita pemerkosaan dalam angkot lagi, sudah dua kasus saja hari ini terjadi pemerkosaan dalam angkot dalam hati Mayang yang tidak perhati betul bahwa itu adalah kasus yang sama seperti yang ditayangkan di stasiun televisi milik politisi brewok.

Pariwara pun menyela tayangan berita malam itu, Mayang kembali memencet remot televisinya. Ia mengganti tayangan ke channel milik seorang pebisnis yang baru saja mengeluarkan sebuah buku yang seingat Mayang mempopulerkan anekdot “Anak Singkong”. Sudahlah tak terlalu peduli Mayang dengan hal itu.

Lagi-lagi Mayang disuguhi dengan tayangan “Berita Hari Ini” di stasiun televisi tersebut. Apabila betul itu berita hari ini, seharusnya Mayang sudah bisa keliling Indonesia mengetahui berita hari ini yang terjadi di gugusan Nusantara. Kali ini news anchor dengan air muka yang gelisah dan cukup prihatin mulai membacakan racikan redaksinya untuk “Berita Hari Ini”.

“Polisi Resor Jakarta Selatan masih mendalami kasus pemerkosaan dalam angkot yang menimpa seorang mahasiswi. Bla bla bla bla,” Mayang mulai tidak konsentrasi dengan liputan berita di televisi karena ia sudah mulai mengantuk. Kebetulan laporannya pun sudah akan selesai tinggal membuat beberapa detil kesimpulan. Tapi ada rasa aneh ketika ia mengetahui banyak terjadi kasus pemerkosaan dalam angkutan kota akhir-akhir ini.

Jadi, apakah berita hari ini di televisi Anda juga sama seperti berita hari ini di televisi milik Mayang? Dalam kriminologi, ada sebuah konsep mengenai fear of crime atau ketakutan akan kejahatan. Menurut Garofalo dan Farral (2007) fear of crime sendiri merujuk pada sebuah respon atau reaksi perlawanan yang muncul atas suatu tindakan kejahatan yang diperoleh berdasarkan pengalaman pribadi atau orang lain. Lantas, seperti tebakan Anda bahwa media massa, dalam tulisan ini berbentuk “Berita Hari Ini”, adalah salah satu medium penyebaran fear of crime yang paling efektif.

Girling, seorang pengamat media massa dan juga kriminolog mencoba memaparkan sebuah konsep mengenai crime talk yang termasuk didalamnya narasi, cerita, pembicaraan, pemberitaan, peliputan media, anekdot, ataupun candaan mengenai kejahatan. Buruknya, terjadi metafora dalam proses pembuatan crime talk di media massa kita saat ini –dan mungkin saat lalu juga. dimana di dalam faktor tersebut termasuk bagaimana media melakukan over-reporting dalam pemberitaan kejahatan, hal ini lah yang bisa memunculkan rasa fear of crime masyarakat, karena pemberitaan yang terlalu berlebihan sehingga gambaran publik tentang suatu kejahatan tertentu akan menjadi semakin menakutkan karena adanya distorsi dari pihak media yang dilakukan untuk menarik minat dari si penonton.

Ketika fear of crime sudah dikultivasi sedemikian rupa di dalam pemikiran penonton media, maka tidak mungkin terjadi sebuah perubahan pola pikir dalam memandang suatu fenomena sosial. Mayang yang tadinya biasa saja ketika memandang fenomena orang-orang menggunakan transportasi angkutan kota, setelah melihat berita mengenai pemerkosaan di angkutan umum, terlebih lagi tanpa literasi media yang baik dan kejelian dalam menangkap informasi yang diberitakan pers, tentu akan berubah total pandangannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan angkutan kota.

Tidak heran, jika melihat kasus terbunuhnya seorang mahasiswa UI karena melompat keluar dari angkutan kota karena ditengarai adanya ancaman pemerkosaan, penulis pribadi mendakwa bahwa tersangka utamanya adalah media massa kita. Bukan tidak mungkin, program “Berita Hari Ini” yang anehnya selalu tayang di malam hari dan selalu dipenuhi berita kriminalitas.

___________________________________

Tentang Penulis: Penulis merupakan mahasiswa aktif Kriminologi UI angkatan 2010, bernama Tubagus R. Ramadhan, untuk berdiskusi mengenai tulisan ini dan bertukar pendapat dapat menghubungi Tubagus melalui twitternya disini


18 thoughts on “Siaran Televisi Anda di Malam Hari

  1. Saran untuk penulis, menurut saya, nama stasiun televisi dan nama pemilik perusahaan media massa yang bersangkutan itu disebutkan saja. Ini bukan persoalan tentang merusak citra atau nama baik, tetapi kita membicarakan realita yang ada, bahwa stasiun televisi yang dideskripsikan di atas memang demikian adanya. Sebagai kalangan mahasiswa yang kritis, saya rasa tidak ada salahnya langsung menyebut stasiun televisi yang dimaksud (selama ada sumber data yang valid, seperti nama program apa, tayang jam berapa, sehingga bisa dikonfirmasi konten beritanya). Nah, data-data itulah yang kemudian dapat dianalisis dengan tajam dari sudut pandang teoritis kriminologi. Selain itu, tulisan itu bisa memberikan kritik secara langsung terhadap pelaku media massa yang berangkutan, sekaligus menawarkan solusi dari perspektif akademik. Dengan begitu, tulisan yang disajikan mencerminkan posisi yang tegas. #asyek

    Salam,
    Tooftolenk Manshur Zikri.

    1. ah, kalau ngomong solusi dari perspektif akademik yang selalu berkata idealita agaknya sulit walau bisa aja diterapkan sedikit demi sedikit untuk menuju ke arah sana). Realita yang ada di negara kita, memang pengawasan dan sanksi (check and balance) akan hal tersebut masih lemah, belum lagi masyarakat kita yang sangat suka dengerin konflik-kontroversial, dsb… Wajar memang akhirnya media memberitakan hal hal yang demikian dan diulang ulang terus menerus, ratingnya tinggi, dan media agaknya memang ga peduli dampak sosial yang ditimbulkan dari pemberitaannya. hehe.. IMHO

      1. Agaknya kita jangan pesimis dengan aksi-aksi yang dapat diusahakan melalui cara akdemik. Sebab, pengkajian secara akademik itu mampu memberikan cara pandang yang lebih luas ketimbang spekulasi-spekulasi tak berdasar. Jika persoalannya berkaitan dengan realita bangsa ini yang memang penuh dengan korupsi sehari-hari, saya rasa di situlah pentingnya media seperti wepreventcrime untuk menggalakkan aksi-aksi yang demikian. Melalui penelitian dan pengkajian yang memiliki dasar-dasar ilmiah, kita tidak hanya menyajikan sebuah “hiburan” kepada publik, tetapi juga wawasan yang dapat mengusung agenda “melek terhadap media” itu sendiri.

    2. Terimakasih atas sarannya. Kami akan mencoba menyampaikan saran ini kepada penulis yang bersangkutan. Harapannnya, dengan melalui proses penelitian yang lebih metodologis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, wepreventcrime dapat menyajikan tulisan-tulisan yang lebih baik dan solutif lagi.

  2. sebenarnya media (blog wpc) ini juga lucu bila dilihat dari tulisan ini, ya.. liat aja pargraf terakhir, “terbunuhnya seorang mahasiswa UI karena melompat keluar dari angkutan kota karena ditengarai adanya ancaman pemerkosaan”.. apa apa yang dianggap kematian tidak wajar dibilang pembunuhan.. mungkin kalau kasih contoh lebih baik juga liat psikologis dan latar belakang korban saat itu, yaitu korban menelepon keluarganya, korban bukan orang asli jakarta, supir angkutan umum yang memang :terlalu baik”, dan lain sebagainya.. mungkin kalau enak misalnya dikaitkan ama ketakutan kita itu pas teroris, saat itu bahkan bungkusan sampah aja dianggap isinya bom.. haha

  3. Gue rasa medianya kekurangan bahan pemberitaan, makanya berita2 yang udah lama diangkat terus. Mungkin maksudnya biar masyarakat terus berwaspada. Tapi kenyataan tidak sesuai dengan harapan. hmmmm…..

      1. Setuju dengan Ridha… saya rasa persoalan menurunnya kualitas konten berita di media massa sekarang ini memang kembali pada etos kerja dan pertanggungjawaban etikao jurnalistik si wartawan. Terlebih lagi jika kita berbicara tentang berita kejahatan… perlu ada usaha-usaha untuk memperbaiki sistem pemberitaan yang selama ini dipakai oleh wartawan berita kejahatan. Pengetahuan tentang kriminologi di kalangan wartawan menyebabkan konten berita yang seharusnya memberikan informasi lambat laun berubah menjadi suatu sajian yang mengejar sensasi semata, sebagaimana yang diutarakan pada tulisan yang dibuat oleh Tubagus di atas.

      2. iya bener juga do. Berarti yang dipertanyakan sekarang kenapa media cenderung mengangkat berita yang itu-itu aja ?
        ada kepentingan kah disana ?

      3. Tentu saja media massa memiliki kepentingan-kepentingannya sendiri. Sebagaimana yang kita ketahui dalam studi jurnalistik bahwa “agenda seting” merupakan sesuatu yang tak dapat dihindarkan dalam jurnalisme. Persoalannya, kita sebagai masyarakat pembaca atau penyimak media massa, apakah kita sadar (melek) terhadap media massa itu… Ini lah yang menjadi alasan penting untuk menggalakkan gerakan “melek media”.

      4. kalau ngomong kepentingan jelas ada lah.. media kita ga ada yang ga “dekat” dengan politisi sebagai pembuat, pengawas, dan pelaksana kebijakan yang ada.. haha

      5. Setidaknya mulai dari media seperti Wepreventcrime ini, diharapkan selalu menghadirkan berita dan wacana yang netral, tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu dan sesuai dengan apa yang terjadi dilapangan.

  4. Terkait dengan konten isi pemberitaan yang dijelaskan oleh penulis, secara pribadi memang betul adanya berita televisi banyak yang memberitakan hal seperti itu. Seolah-olah ungkapan “bad news is a good news” ditelaah secara mentah-mentah. Apakah media-media lain yang sedang berkembang juga berpikiran setali tiga uang dengan media televisi? Bagaimanakah harusnya media mengkaji dan memunculkan suatu berita yang dapat dikatakan sebagai “good news” sebenarnya, hal itulah yang perlu dikaji bersama.

  5. Terkadang tidak dapat dipungkiri bahwa setiap berita yang ditayangkan di negeri ini memang bertujuan untuk memuluskan setiap kepentingan pihak-pihak tertentu.
    Menciptakan kesan, ketakutan, kebingungan, bahkan mungkin kericuhan yang berpeluang menciptakan suatu “permintaan pasar” atas komoditi produk barang/jasa tertentu.
    Sebagai contoh, maraknya pemberitaan mengenai modus pencurian kendaraan bermotor yang kian hari kian canggih di satu sisi mendorong permintaan terhadap alat-alat pendukung keamanan yang semakin canggih pula seperti kunci ganda, gembok, alarm, kamera CCTV, bahkan sensor gerak demi mengamankan kendaraan untuk memperkecil peluang untuk menjadi korban kejahatan curanmor.
    Dan tentu saja saya rasa banyak dari mahasiswa kriminologi yang sudah lebih aware dengan jenis-jenis pemberitaan yang mengandung tujuan-tujuan seperti itu dibanding masyarakat awam pada umumnya.

  6. Salam.
    Saya melihat bahwa penulis mengangkat tema mengenai keterkaitan pola pemberitaan media massas dengan terbentuknya fear of crime. Setelah saya membaca berulang-ulang, yang saya dapatkan yaitu:
    1. Deskripsi pola media massa dalam pemberitaan khususnya berita kriminalitas.
    2. Penjelasan singkat mengenai korelasi media massa dan terbentuknya fear of crime
    3. Penjelasan contoh kasus yang terjadi dengan konsep media dan fear of crime

    Berdasarkan dari blog ini sendiri yaitu ” We Prevent Crime”, saya pribadi mengharapkan dari tulisan akan menjadi knowledge bagi masyarakat tentang konsep fear of crime dalam bungkus yang mudah diserap dan dimengerti. Saya rasa, sasasaran dari tulisan ini bukan hanya kepada para mahasiswa, akademisi, para jurnalis, politikus dan pejabat otoritas, namun juga masyarakat awam yang belum mengerti konsep media dan kriminologis.

    Harapan saya selanjutnya, sesuai dengan nama blog ini “We Prevent Crime”, para penulisnya bisa memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat bagaimana merespon terhadap pemberitaan media massa yang baik dan memberikan rekomendasi yang strategis terkait pencegahan dampak dari gaya pemberitaan media massa dan fear of crime.
    Itu hanyalah sebuah saran dan harapan. Mohon maaf jika ada hal yang keliru, karena saya sendiri bukan jurnalis. Terima kasih dan sukses buat “We Prevent Crime”.

    1. Terimakasih atas tanggapan, saran dan kritikannya, Bang Arip. Semoga kami akan mempertimbangkan saran ini dalam kerja tim, dan harapannya kami dapat menyajikan tulisan lanjutan (atau mungkin dengan tema yang berbeda) yang memberikan konten terkait dengan solusi-solusi konkret. Semoga tulisan ini dapat menjadi pemicu bagi teman-teman mahasiswa/i di Departemen Kriminologi, FISIP UI, untuk tergerak menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih berkualitas lagi.
      Oh iya, kalau berkenan, Bang Arip juga bisa mengirimkan tulisan untuk memperkaya sumber pengetahuan di blog ini. Dukungannya sangat berarti bagi kami.

      Salam,
      Redaksi WePreventCrime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s