Pertolongan Pertama pada Korban Perkosaan

Saat ini, berita mengenai kasus perkosaan seakan menjadi ‘primadona’ bagi media. Tak jarang, dalam pemberitaan ini juga disebutkan detail-detail sadis mengenai kasus perkosaan tersebut. Dan kita, sebagai konsumen media, terkadang justru menutup mata dan menganggap bahwa mereka – korban perkosaan – bukan bagian dari ‘dunia kita’. Kita kerap berasumsi bahwa diri kita maupun orang di sekitar kita tidak akan bernasib ‘sama’ selama kita berjuang melakukan tindakan pengamanan dan pencegahan.

Permasalahannya kemudian, masyarakat kerap hanya memfokuskan diri pada tindak pencegahan. Kita dikuasai oleh common sense bahwa ‘jika seorang perempuan berpakaian sopan dan tidak berkeliaran malam-malam, maka ia akan aman.’ Hingga kemudia muncul tindak pencegahannya, yaitu dengan menjaga busana dan membatasi pergerakan. Bahkan dalam studi dari Maxfield (1984) menyebutkan bahwa seperlima dari responden perempuan yang diwawancarai tentang mengapa mereka tidak pernah keluar malam khususnya yang tinggal di pusat kota, mengemukakan alasan untuk menghindarkan diri diri menjadi korban kejahatan (Morris, 1987:160-161).

Berpakaian sopan bukanlah ‘jaminan’ bahwa seseorang tidak akan menjadi korban perkosaan. Banyak kasus perkosaan yang kemudian membuktikan bahwa tidak sedikit perkosaan yang menimpa mereka yang dianggap berpenampilan ‘tidak menarik.’ Seperti yang menimpa Nenek Ijah (78 tahun) di Cilandak. Ia diperkosa hingga delapan kali oleh tetangganya. Kasus ini nyaris tidak terbongkar karena korban sendiri menderita pikun dan tidak mampu mengingat wajah pelaku  (Heru & Arief, 2002).

Membatasi pergerakan dan interaksi dengan orang asing juga tidak selamanya menjadi jaminan. Menurut data kasus di LBH APIK (sebuah lembaga bantuan hukum untuk perempuan) tahun 2010, 75% perkosaan dilakukan oleh orang yang dikenal atau orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban. Berapa banyak kasus perkosaan yang pelakunya merupakan ayah kandung atau saudara dari si korban sendiri? Bahkan dalam kasus RI, bocah 11 tahun yang harus meregang nyawa setelah tertular virus akibat ratusan kali diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri  (Laili, 2013).

Melakukan tindak pencegahan sekali tidak keliru, namun kita harus menyadari bahwa perkosaan bisa dialami oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, pada semua perempuan (bahkan lelaki) dari berbagai kedudukan, profesi, dan status dalam masyarakat.

Sehingga kemudian menjadi sangat penting untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika diri kita atau orang terdekat kita mengalami tindak perkosaan. Namun sayangnya, korban perkosaan seringkali mengalami shock berat hingga kebingungan untuk menentukan tindakan apa yang harus ia lakukan. Bahkan terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama bagi korban untuk berani menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Untuk itulah kemudian penting bagi orang-orang terdekatnya untuk segera mendeteksi ‘anomali’ pada perilaku korban agar tindakan perkosaan ini tidak terus berulang atau menimbulkan kerusakan yang tidak mungkin diperbaiki lagi.

Bagaimana mengenali korban perkosaan?

Memang, dalam sebagian besar kasus, akan sangat sulit mengenali korban perkosaan. Terutama, karena tidak seperti tindak kejahatan lainnya yang kerugiannya jelas dan mudah dideteksi (misalnya pada pencurian, barang yang hilang itu jelas). Korban perkosaan justru kerap menyembunyikan kerugiannya. Stereotipe yang dilekatkan terhadap perempuan sebagai individu yang lemah, inferior diadopsi oleh mereka sehingga perempuan sering menyalahkan diri sendiri pada saat terjadi viktimisasi (Sihite, 2007).

Buktinya saja, pada banyak kasus, tindak perkosaan baru terungkap setelah si korban hamil, ada pihak lain yang mengetahui (misalnya dipergoki oleh ibu kandung atau tetangga), atau menderita luka-luka fisik hingga kematian seperti yang dialami oleh RI, anak 12  tahun yang diperkosa oleh Ayah Kandungnya hingga tertular virus dan tewas.

Secara kasat mata, terdapat beberapa ‘tanda’ berupa perubahan perilaku yang biasanya cukup signifikan pada korban perkosaan yang harus diingat. LBH APIK yang kerap menerima kasus perkosaan, menjelaskan bahwa biasanya terdapat dampak yang berbeda-beda pada setiap korban:

  1. Korban yang berusaha menahan perasaan dan bersikap tenang
  2. Korban yang menunjukkan luapan emosinya dengan memaki pelaku atau menangis
  3. Korban yang menarik diri dengan berhenti berkomunikasi dengan lingkungannya (korban jenis ini sangat berpotensi mengalami depresi akut hingga kegilaan).

Secara umum, dapat dilihat bahwa korban perkosaan cenderung lebih banyak menarik diri dari pergaulan, menangis, murung, marah, takut, dan sebagainya. Korban juga memperlihatkan reaksi fisik seperti tidak nafsu makan, susah tidur, mual, rasa sakit pada perut dan vagina. Trauma dan phobia juga ditemukan pada banyak korban perkosaan, misalnya mengalami mimpi buruk yang berkelanjutan, trauma pada tempat gelap atau orang lain, dan sebagainya.

TINDAKAN APA YANG HARUS DITEMPUH?

Dalam hal ini, saya mengajukan dua pilihan yaitu menempuh jalur hukum, atau tidak menempuh jalur hukum.

Jika korban ingin menempuh jalur hukum:

  1. Setelah adanya tindak perkosaan, jangan segera membersihkan diri atau mandi. Karena sisa sperma, rambut, kulit, dan keringat pelaku dapat menjadi bukti yang sangat kuat. Darah dan luka pada alat kelamin yang baru mengalami trauma juga dapat dijadikan bukti di pengadilan.
  2. Kumpulkan semua bukti yang bisa didapatkan seperti bentuk wajah pelaku (jika pelaku merupakan orang yang tidak dikenal), nomor plat mobil, pakaian, atau barang milik pelaku. Segera amankan semuanya dalam kantong kertas atau plastik.
  3. Segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan surat keterangan yang menyatakan ditemukan tanda pemaksaan persetubuhan, juga untuk mendeteksi jika adanya kemungkinan penularan penyakit dan pengobatan bagi luka-luka yang dialami.

Bagaimana jika perkosaan ini terjadi di waktu yang lampau? Korban dapat menyusun kronologi lengkap mengenai peristiwa itu, tetap di-visum, dan mengumpulkan bukti yang masih ada.

MENGAPA TIDAK KE KANTOR POLISI TERLEBIH DAHULU?

Jika korban dibawa ke kantor polisi terlebih dahulu, pada kebanyakan kasus, polisi biasanya hanya akan mencatat laporan dan memberikan surat pengantar untuk memeriksakan korban ke rumah sakit (yang mana pada kenyataannya, kerap memakan waktu yang cukup lama dalam prosesnya). Akibatnya, bukti-bukti penting terlanjur rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi (contohnya, sperma pelaku yang hilang karena masa hidup sperma yang terbatas).

Sementara, jika korban langsung dibawa ke rumah sakit, korban dapat langsung meminta dokter untuk mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan ditemukannya tanda pemaksaan persetubuhan yang sama kuatnya dengan visum et repertum.

HAL PENTING YANG HARUS DIINGAT

–          Pergerakan sperma di liang vagina korban perkosaan yang hidup, berkisar kurang lebih 4-5 jam setelah persetubuhan.

–          Sperma masih bisa ditemukan kurang lebih 24-36 jam setelah persetubuhan

–          Bila korban perkosaan dibunuh, sperma masih bisa ditemukan 7-8 hari setelah persetubuhan.

–          Luka-luka pada liang vagina korban perkosaan dan persetubuhan atas dasar suka sama suka memiliki perbedaan

–          Selaput dara yang sobek akan mengalami proses penyembuhan dalam waktu 7-10 hari.

Atas dasar inilah kemudian penting untuk segera memeriksakan diri setelah terjadinya persetubuhan. Jika korban menunda pemeriksaan medis, hal ini hanya akan merugikan korban di pengadilan karena kehilangan alat bukti yang sangat kuat berupa sperma pelaku dan kondisi luka.

Sementara, jika korban memutuskan untuk tidak menempuh jalur hukum:

Walaupun saya sangat merekomendasikan korban perkosaan untuk segera menempuh jalur hukum, namun kembali lagi dalam hal ini yang harus diutamakan adalah kepentingan terbaik korban sehingga segala keputusan berpulang pada keinginan dan kesiapan korban. Adapun, jika korban memang memilih untuk tidak melaporkan atau membawa kasusnya ke ranah hukum, saya menyarankan beberapa langkah yang tetap harus ditempuh oleh korban yaitu:

  1. Melakukan upaya pengamanan dari pelaku. Selama pelaku tidak ditahan oleh pihak yang berwajib, maka korban sangat berpotensi mengalami repeat victimization (berulangkali menjadi korban dari tindakan kriminal). Karena kejahatan tidak terjadi secara acak, dimana berdasarkan data British Crime Survey oleh Farrell dan Pease (2001), 44% total kejahatan berkonsentrasi pada 4% korban saja dan beberapa korban repeat victimization tinggal bersama atau memiliki hubungan dengan pelakunya (Waller, 2003). Maka dari itu, tindakan yang harus korban lakukan adalah melakukan upaya pengamanan dan mengambil jarak sejauh mungkin dari jangkauan pelaku.
  1. Tetap periksakan kondisi fisik korban ke dokter. Luka akibat perkosaan dapat menimbulkan infeksi yang sangat parah. Bahkan tidak jarang korban terjangkiti penyakit menular seksual dari pelakunya. Untuk itulah, pengobatan ke dokter sangat diperlukan. Jangan takut bahwa dokter akan menyebarkan aib korban, ingat bahwa sebagai pasien, korban memiliki hak untuk dijaga privasinya.
  2. Jangan memendam beban sendirian, lakukanlah konseling ke Psikolog! Kebanyakan orang berpikir bahwa konseling ke psikolog sama halnya dengan mendeklarasikan bahwa dirinya ‘orang gila’. Harus diingat, bahwa psikolog berbeda dengan psikiater. Selama korban masih mampu berkomunikasi dengan normal dan memiliki orientasi penuh pada lingkungan, maka korban sama sekali tidak gila. Konseling ke psikolog sangat diperlukan karena korban perkosaan pasti mengalami trauma luar biasa akibat kekerasan yang dialaminya. Namun kadang trauma ini kerap diremehkan karena memiliki bentuk yang tidak jelas dan terkadang baru terlihat dampaknya setelah timbul tekanan pada diri korban setelah bertahun-tahun kemudian. Trauma ini mampu berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari depresi akut yang berujung pada kegilaan. Nah, apabila korban sudah mencapai tahap ini, maka pengobatannya akan jauh lebih sulit dibandingkan apabila korban bersedia mengobatinya sejak awal.

Referensi:

Heru, J., & Arief, E. (2002, Desember 17). Sopir Bajaj Memperkosa Nenek Sepuh. Retrieved Februari 06, 2013, from Liputan6.com: http://news.liputan6.com/read/46528/sopir_bajaj_memperkosa_nenek_sepuh

Laili. (2013, Januari 18). RI Ternyata Diperkosa Ayah Kandungnya Sendiri. Retrieved Febuari 06, 2013, from tabloidnova.com: http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Peristiwa/RI-Ternyata-Diperkosa-Ayah-Kandungnya-Sendiri

Sihite, R. (2007). Perempuan, Kesetaraan, dan Keadilan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Waller, I. (2003). Crime Victims: Doing Justice to Their Support and Protection. Helsinki: Heuni.

______________________________________________________

 Tentang Penlis: Penulis bernama Suci Khairunnisa Nabbila, mahasiswi aktif Kriminologi Universitas Indonesia 2010. Untuk berdiskusi atau memberi tanggapan mengenai tulisan ini bisa menghubungi Suci melalui twitternya disini


One thought on “Pertolongan Pertama pada Korban Perkosaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s