‘Bomber’ Gak Selamanya Nge-Bom!

Pada dasarnya, ruang berekspresi itu sangat penting mengingat Kota Bandung mempunyai sejuta inovasi baik dari segi musik, seni rupa, fashion sampai kuliner yang lebih dari setengahnya dari gebrakan-gebrakan tersebut berasal dari tangan-tangan anak muda. Namun apakah dari setiap segi sudah terpenuhi ruang berekspresinya? Sepertinya belum, mengingat beberapa peristiwa belakangan ini yang menyangkut nama anak muda yang selalu berbuat onar seperti geng motor, balapan liar, aksi vandalisme terselubung, dan sebagainya.

Sadarkah kalian dengan judul yang saya tulis di atas merupakan salah satu penyebab utama dimana para anak muda menyalahgunakan ekspresi mereka? Anak muda punya sejuta impian, dengan mengaplikasikannya dalam bentuk ekspresi yang sesuai minat dan bakat mereka. Namun hal ini pun harus disokong oleh sarana dan prasarana yang menunjang. Pada kenyataannya Pemkot Bandung rasanya belum mampu menyediakan sarana-prasarana tersebut.

Kami mengharapkan fasilitas dari pemerintah, seperti diberdayakan dan diberikan kerja dari hal seni. Seperti ruang rupa. Karna hal seperti itu sudah komersil. Kebanyakan ruang seni rupa diberikan kepada anak jalanan. Seharusnya kita juga diberikan fasilitas itu”. Kata Ali dengan tatapan mata yang kosong.

Perlu ada pembinaan dan pemberian fasilitas misalnya fasilitas olahraga atau kesenian demi meluruskan lagi kehidupan mereka yang sempat tersesat dalam pergaulan yang menjerumuskan.  Lalu para pelaku aksi vandalisme terselubung, mari kita lihat coretan-coretan yang jauh dari nilai seni sangat mudah kita temui di berbagai tembok kota Bandung. Aksi vandalisme remaja misalnya, menggelitik sekali ketika coretan dalam baliho yang terpampang ditengah keramaian kota Bandung seperti ‘Fuck with your Job’ secara gamblang terlihat. Tidak indah bukan? Tapi diluar itu juga sebenarnya banyak aksi vandalisme yang memiliki nilai seni dan enak dipandang hanya saja terkadang tempatnya yang tidak pas. Hmm, alangkah baiknya bila mereka diberi sarana seperti beberapa tembok kota yang direlakan untuk di corat-coret yang tentunya tidak melupakan nilai estetikanya, seperti yang telah dibuat di sekitar Babakan Siliwangi. Mungkin area seperti itu sudah harus ditambah  daripada terus-terusan terjadi aksi kejar-kejaran polisi dengan para Bomber layaknya Tom and Jerry.

Latar belakang kemunculan graffiti di Indonesia sangat berbeda sekali dengan Amerika dan Inggris. Dalam hasil penelitian yang dilakukan Oleh Obed Bima Wicandra dan Sopia Novita Angkadjaja. Ketika para Bomber diwawancarai tentang motivasi mereka membuat graffiti mereka hanya mengemukakan alasannya untuk memperindah kota di samping ingin menunjukan dirinya melalui graffiti. Selain itu komunitas graffiti dari Bandung menyebutkan motivasinya untuk membuat graffiti dilandasi oleh ketidak sukaannya terhadap bidang tembok yang dibiarkan tidak terawat serta begitu semerawutnya poster-poster iklan dan pamplet yang ditempel di dinding-dinding kota.

Kalau menurut saya gambar2 gitu gak merusak fasilitas publik kok. Kita hanya mengisi hal-hal yang kosong aja.  Jadi kita bikin gambar yang bikin jalanan atau fly over lebih keliatan aja. Ada sih beberapa yang melakukan itu untuk pemberontakan, kayak ga setuju karena ga dikasih wadah untuk kreasi. Kurang tersalurkan saja hobinya“ Ucap Almer sang Kepala Bomber.

Saat ini yang menjadi masalah dari ruang publik yaitu ruang tersebut banyak dikuasai oleh kapitalisme yang mengarah pada monopoli. Pada kenyataannya tidak ada ruang publik yang disediakan untuk para seniman seni publik. Maka dari itu tidak sedikit para “Bomber” yang menggunakan ruang publik tanpa ada izin untuk mengekspresikan karyanya. Kontroversi yang diakibatkan oleh penggunaan dinding ruang publik sebagai medianya,  membuat graffiti tersudut kedalam persepsi vandalisme.

Aksi corat-coret yang dilakukan oleh remaja-remaja ini selalu mendapatkan kecaman keras dari berbagai kalangan. Stigma negatif selalu menempel pada komunitas ini, bahkan jika kita lihat pemberitaan di media, aksi dan pelaku vandalisme selalu dilekatkan pada konotasi negatif dan sedikitnya pembelaan untuk kehidupan mereka yang terbilang ‘kurang beruntung’. Hal ini sangatlah ironis.

 “Masyarakat menganggap kami kurang kerjaan, padahal kami disini hanya menunjukan bahwa kami ini bisa. Selain ngganggur kami juga mau menunjukan bahwa kami bisa berkreasi. Maka daripada itu kami minta untuk difasilitasi. Kenapa sih kita ga diberdayakan? Orang-orang kayak kami. Kami disini nganggur. Nganggur itu sebenernya ga enak. Buat pemerintah yang melihat kami tidak diberdayakan, kan kami nganggur nyusahin masyarakat dan ortu, ngeliatnya udah ga becus ngapa-ngapain, pokoknya liat aja deh kita nganggur dan ga enak banget”, ucap Ali.

Pemda Kota Bandung pun pernah mengerahkan pasukan pamong praja khusus untuk  mengatasi aksi mereka  dan  meminta bantuan  aparat kepolisian  karena dipandang sebagai aksi yang merusak.  Bahkan musisi Ian Antono melalui penyanyi rock asal Bandung Niki Astrea pernah menjuluki para penulis graffiti ini sebagai  ”Tangan-tangan Setan”  sebagai salah satu judul lagunya.  Namun pengerahan pasukan pamongpraja dan kepolisian serta satire tersebut tidak pernah menyurutkan aksi-aksi kelompok untuk membuat graffiti dan coretan-coretan di tembok-tembok terbuka.

 “Biarin aja..Suka gak suka kita tetep ada kok. Kayak iklan dijalan, saya gak suka tetep ada juga kok” Papar Almer sang Bomber yang sudah bergelut dalam aksi vandalisme sejak SMP.

Graffiti sampai kapan pun mungkin bakal jadi kontroversi. Di satu pihak bakal bilang kalau graffiti itu perbuatan vandal, tapi pihak yang lain mengartikan seni, kebebasan berekspresi Kebebasan berekspresi bisa saja diredam, tapi nggak bisa dihentikan.

Itulah beberapa contoh relevansi antara beberapa tindakan anak muda Kota Bandung dengan kurangnya ruang gerak berekspresi bagi para pemudanya.  Maka sepatutnya kita sendiri respon terhadap pemberian ruang untuk penyaluran ekspresi tersebut. Sehingga secara teratur penggiat atau Bomber graffiti menjadi terorganisir lebih baik lagi. Semoga tulisan ini menjadi sebuah kritik dan masukan bagi pihak yang terkait, mengingat Kota Bandung dan Kota-kota lainnya di Indonesia melahirkan banyak inspirator dan inovator yang menjadi contoh positif bagi anak-anak muda di seluruh penjuru Indonesia. Atau mungkin kita sebagai anak muda bisa menjadi agen perubahan? Saya rasa bisa selama kita mau berusaha.

Tentang Penulis: Penulis bernama Ayu Permata Yuliana, mahasiswi Kriminologi Universitas Indonesia 2010. Untuk menghubungin penulis silahkan mengirim email ke ayupermata.yuliana@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s