Wacana Keadilan dan Kemanusiaan: PT. KAI Mempermainkan Hak Pedagang di Stasiun

DSC_4118 copy

Pasrah dan tak tahu harus berbuat apa. Atas nama pembersihan, peremajaan, keamanan dan lahan parkir, akhirnya putusan sepihak dikeluarkan oleh PT.  KAI (Perseroan Terbatas. Kereta Api Indonesia). Kios pedagang di stasiun kereta api dibombardir aparat keamanan, kali ini bukan dalam situasi perang dengan penjajah asing—melainkan bangsa sendiri yang berusaha menjelma menjadi otoriter. Sekarang, keadilan hanya tinggal wacana. Hanya tersisa puing-puing yang tak lagi bertuan.

Tepat tanggal 29 Desember 2012, pagi, puluhan mahasiswa Universitas Indonesia mulai bergerak menuju Stasiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan, untuk menghalangi penggusuran kios. Lengkap dengan spanduk tertera tulisan “tolak penggusuran” dan almamater (red: jaket kuning). Satu per satu perwakilan mahasiswa bergantian berorasi dengan lantang. Menyuarakan satu hal, tolak penggusuran kios di stasiun. Belum lagi perwakilan pedagang yang siap dengan keluh kesah mengenai penggusuran tempat mereka mencari sesuap nasi.

Sebelum pedagang di stasiun menyinggung tentang hak-haknya, terkait pembayaran sewa kios yang dilakukan kurang lebih selama lima belas tahun. Mahasiswa masih secara umum menjabarkan kepentingan mereka untuk bersama menolak penggusuran. Di antaranya, kesejahteraan sosial, perkeretaapian, sumpah perwira, Kepolisian, Tentara Nasional Indonesia, sampai dengan pokok-pokok agraria. Padahal, jika dilihat secara kontekstual, poin-poin tersebut belum sama sekali mewakili kepentingan yang diusung para pedagang di stasiun. Perlu diketahui, yang terpenting untuk pedagang stasiun ialah mendapatkan haknya yang telah membayar dalam jangka waktu selama lima belas tahun, serta relokasi usaha mereka.

Apa daya, karena tidak punya kekuatan akhirnya mahasiswa dan pedagang pasrah menghadapi penggusuran. Tepat pukul delapan pagi, 29 Desember 2012, penggusuran mulai dijalankan di Stasiun Lenteng Agung. Polri (Brimob) dan aparat keamanan di Stasiun sudah siap untuk menjalankan eksekusi penggusuran. Tak ayal, kios pun akhirnya diratakan menjadi tanah. Dialog yang dilakukan pedagang, mahasiswa dan pihak PT. KAI tak menemukan jalan tengah. Hanya penggusuran yang tiba-tiba keluar menjadi putusan sepihak dari PT. KAI.

Ironisnya terjadi bentrok saat mulai penggusuran. Mahasiswa dan pedagang berusaha menghalangi petugas yang mengeksekusi penggusuran kios. Tak punya banyak persiapan, akhirnya membuat mahasiswa dan pedagang tak kuat menghadapi petugas yang siap dengan perlengkapan dan peralatan yang mempuni. Tetiba muncul anak kecil yang merangsek masuk ke dalam barisan bentrok aparat dan mahasiswa serta pedagang. Tak ayal, anak kecil tersebut terkena tendangan dari salah satu anggota Brimob Polri.

Sambil menangis sendu, ia berkata, “..lagian warung saya digusur, kalo mereka kita gusur, mereka mau makan apa ?

Lain hal dengan yang terjadi di Citayam. Merasa tak ada perlawanan dari mahasiswa dan pedagang, maka di Stasiun Citayam, Bogor, pada hari yang sama juga dilakukan penggusuran oleh PT. KAI.

Malamnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tingkat universitas dam fakultas mulai bergabung memadati Stasiun Universitas Indonesia (UI). Mereka bernaung atas satu konteks yang sama, kepedulian dengan sesama. Dimulai dari pemutaran video tentang brutalnya penggusuran di Stasiun Lenteng Agung. Azhar (Fakultas Kesehatan Masyarakat), mengatakan, “..beberapa pedagang curhat kalo dulu beberapa dari mereka adalah kriminal.” Mereka kemudian membeli kios dan mulai berjualan dan bekerja dengan jujur. Tapi yang terjadi adalah kios mereka akan dibongkar. Dalam keadaan seperti ini tentu saja ini sangatlah miris. Karena penggusuran tersebut bisa memunculkan opsi bagi dia untuk kembali lagi menjadi penjahat.

Sebenarnya para pedagang di Stasiun UI bukan tanpa usaha untuk melakukan mediasi dengan pihak PT. KAI. Mediasi tersebut selalu dilakukan oleh pedagang. “Kita selalu mencoba melakukan mediasi dengan PT. KAI, tapi selalu menemui jalan buntu,” ujar Ibu Ayu, salah satu pedagang yang sudah berdagang sejak tahun 1986 di Stasiun UI. Tak pelak, penolakan yang berbuntut demonstrasi besar-besaran menjadi pilihan yang paling efektif untuk menghalangi penggusuran yang dilakukan PT. KAI di Stasiun UI. Saat itu bukan hanya pedagang dan mahasiswa UI saja, tapi juga ada mahasiswa UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta dan PNJ (Politeknik Negeri Jakarta).

“Apapun nama kampus kita, hak rakyat harus dibela,” teriak salah seorang mahasiswa yang ikut di dalam aksi kali itu.

Tepat 10 Desember hari HAM (Hak Asasi Manusia) Internasional dirayakan.

Kali ini PT. KAI merayakannya dengan merampas hak pedagang di Stasiun Depok Baru,” kata salah seorang yang tergabung dalam aksi tersebut.

Berkaitan dengan itu pedagang merasa terintimidasi dengan keberadaan militer yang berseragam lengkap mengawal aksi kali itu.

“kami pedagang, bukan teroris. Kenapa harus ada militer,” ujar salah satu pedagang di Stasiun UI.

Seketika semua sontak terdiam. Para mahasiswa dan pedagang yang ikut aksi mengarahkan matanya tepat ke orang-orang yang memakai seragam militer lengkap dengan senjata api. Rupanya kasus penggusuran pedagang stasiun membuat Komnas (Komisi Nasional) HAM ikut turut serta dalam penolakan penggusuran. Di hari yang sama Komnas HAM melayangkan surat untuk menunda penggusuran kios di stasiun.

Esok paginya, tanggal 31 Desember puluhan massa sudah siap untuk melakukan aksi penolakan penggusuran kios di Stasiun UI.

Mari bulatkan tekad. Seriuskan niat dan aksi kita di sini, yaitu memperjuangkan hak rakyat,” kata salah seorang yang melakukan orasi di depan.

Pada hari itu LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta turut serta dalam aksi. Pihak LBH Jakarta menjanjikan memberikan advokasi untuk mendapatkan ganti rugi dan relokasi tempat. Hal ini berkaitan dengan isu yang berkembang bahwa PT. KAI hanya menggusur PKL (Pedagang Kaki Lima) di Stasiun. Namun faktanya ialah pihak ketiga, yaitu pemilik kios yang akan digusur memiliki kontrak resmi selama 15 tahun dengan pihak kedua. Dalam hal ini pihak kedua memiliki kontrak resmi dengan pihak pertama, yaitu PT. KAI selama 20 tahun. Pihak kedua tidak ikut serta dalam kasus ini. Sementara itu pemilik kios tidak mendapatkan pemberitahuan secara resmi terkait penggusuran.

Belum sama sekali ada kejelasan dalam kasus ini, memaksa Komnas HAM terjun langsung ke lapangan untuk memberikan dukungan. Natalis Pigai, Ketua Komnas HAM, langsung bergegas menemui Kepala Stasiun UI, Darmawan. Komnas HAM menilai pelanggaran yang dilakukan PT. KAI adalah, pertama, urangnya sosialisasi penggusuran oleh PT. KAI. Kedua, kontrak belum berhenti antara pedagang dengan pihak yang memfasilitasi adanya perniagaan di Stasiun. Ketiga, adanya indikasi kriminalisasi terhadap pedagang dan mahasiswa yang melakukan pembelaan, karena terjadi tindak kekerasan. Keempat, tidak ada kerjasama yang baik dari pimpinan termasuk Direktur Utama PT. KAI dan DAOP (Daerah Operasi) 1 PT. KAI. Dalam perbincangan tersebut Pigaijuga mengatakan bahwa sedari tanggal 31 Desember 2012 sampai dengan 3 Januari 2013, pihak Stasiun UI untuk menghentikan aktivitas penggusuran.

Darmawan menaggapi dengan mengatakan, “Saya jamin tidak akan ada penggusuran sampai malam nanti.”

Tepat sehari setelah 3 Januari 2013, PT. KAI langsung memberi kabar bahwa akan ada sterilisasi kios-kios pedagang yang berada di Stasiun Pondok Cina, Depok. Lagi-lagi sterilisasi alias penggusuran ini dirasa tidak adil karena dilakukan secara sepihak. Tanpa ada dialog bahkan sosialisasi yang layak. Sedari pagi massa yang terdiri dari mahasiswa UI, PNJ, UIN, ISTN (Institut Sains dan Teknologi Nasional), LP3T-NF dan pedagang-pedagang berkumpul untuk berjuang bersama menolak penggusuran. Pada kesempatan itu, mahasiswa yang berorasi mengandalkan surat dari Komnas HAM, yang mengatakan penggusuran yang sudah dilakukan adalah melanggar HAM. Lalu, meminta PT. KAI untuk menunda penggusuran hingga dilaksanakannya diskusi. Pada saat yang bersamaan, aparat dari kepolisian dan pihak keamanan kereta sudah memenuhi pintu masuk Stasiun Pondok Cina, Depok. Untuk kedua kalinya, penggusuran akhirnya ditunda sampai adanya diskusi antara pihak yang terkait dengan kasus tersebut.

Tanggal 8 Januari 2013. Hari di mana kembali berkumpulnya kembali massa di Stasiun UI untuk menolak penggusuran kios di Stasiun.

PT. KAI telah menindas hak-hak para pedagang,” ujar salah seorang yang sedang berorasi di depan massa saat itu.

Ia melanjutkan dengan mengatakan alasan penggusuran yang dilakukan PT. KAI tidak logis. Dalam hal ini jika alasan penggusuran adalah untuk memperpanjang peron, kenapa kios-kios pedagang yang di samping dan di bawah peron digusur.

Ketua BEM UI 2013 mengatakan, “PT. KAI tidak mau berdialog. Ignasius Jonan mengatakan bahwa pedagang itu bukan urusan PT. KAI, melainkan urusan Pemda.”

Tak pelak ini menjadikan sebuah ironi sendiri. Di mana perilaku lempar tanggung jawab yang menjadi seonggok momok menakutkan masyarakat Indonesia. Belum lagi masalah ketidaksetaraan yang dilakukan PT. KAI, di mana saat kios-kios digusur, Indomart, Alfamart—yang notabennya representasi kapitalis masih berdiri tegak di area Stasiun.

Elegi tentang keadilan masih berkumandang lantang di negeri ini. Negeri yang menganut asas keadilan sosial, namun malah menciptakan sebuah kesenjangan sosial. Pemerintah yang tak lagi mengabdi pada rakyatnya, tapi pada segelintir orang yang memiliki kuasa. Selain itu, kemanusiaan memang penting, tapi bukan untuk diperjualbelikan. Karena hal yang menyangkut manusia bukan persoalan hidup dan mati, tapi juga bagaimana ketika manusia hidup harus berkembang dan maju. Pada akhirnya, keadilan dan kemanusiaan harus berjalan beriringan. Karena dengan begitu, kita dapat melihat bagaimana keduanya bisa menciptakan dunia yang damai.

_____________________

Tentang Penulis

kahfi

 Kahfi Dirga Cahya

“Aku berpikir maka aku ada”, Rene Descrates. Setidaknya itu yang menjadi prinsip dasar bagi bujang yang satu ini. Baginya, berpikir dapat memberikan dia ketenangan dan menganggap dirinya sendiri ada, serta hidup di muka bumi. Kahfi juga aktif dalam berbagai tempat, di antaranya  sebagai direktur litbang di Khatulistiwamuda, dan redaktur pelaksana di media online Tepiwaktu, sertafreelance editor di berbagai penerbit. Pemuda yang berstatus mahasiswa Kriminologi 2011 ini sekarang mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM) FISIP UI, divisi buletin WPC, dan bertindak sebagai staff redaksi.


One thought on “Wacana Keadilan dan Kemanusiaan: PT. KAI Mempermainkan Hak Pedagang di Stasiun

  1. Bro, boleh tolong kasih info? di dekat stasiun pondok cina ada penggusuran rumah-rumah, ini terkait sterilisasi PT. KAI, buat buka lahan parkir atau bagaimana kah? Terima kasih buat bantuan infonya, sekalian nambahin di beberapa lokasi stasiun telah berdiri mini market seperti Indo maret, alfamart, dan 7 eleven……..perjuangan teman-teman dapat dilanjutkan untuk melakukan investigasi mengenai hal ini. Di tunggu updatenya Kawan.

    Donal
    Freelance Photo Journalist
    http://www.donalhusni.photoshelter.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s