Singa Malam

Semua bukti yang ada sudah tertuju pada Bimo tapi, kenapa instingku mengatakan dia tidak bersalah. Mungkinkah memang dia? atau bukan? aku harus membelanya atau justru membenarkan dugaannya.”Menurutmu bagaimana Yam?” Tanya Dio

“Apanya bagaimana?” ucapku sedikit bingung. “Bimo. Bagaimana menurutmu?” Tanya Dio seolah bisa membaca pikiranku

“Aku tak tahu, sudah berpuluh-puluh ribu kali aku memikirkan kemungkinan dia tidak bersalah, tapi semua hasilnya nihil selagi dia tak mau berbicara” jawabku masih dengan pemikiran yang sama. “Memangnya kau sudah memikirkan berapa kemungkinan?” Tanyanya bingung.

“Aku tak tahu, semua terasa seperti terlalu dramatis” jawabku sambil tercenung.

Meski aku mencoba mencari penjelasan yang logis mengenai kasus ini, tetap tidak bisa kenapa semua insting dan pemikiran logikaku tak ada yang meringankan dia. Seolah jika aku berkata maka hukumannya akan semakin berat. Kasus ini terlalu mudah, tapi akan merugikan orang yang menurutku tidak bersalah.

”Yama, ada yang mencarimu” Dio memanggilku.

“Siapa?” jawabku merasa terganggu.

“Pak Yono, kepala polisi daerah ini” jawabnya.

“suruh masuk saja” kataku dengan perasaan bingung.

“Ada apa pak?” tanyaku bingung “Bimo kemarin mengatakan bukan dia yang salah, bukan juga singa itu”

“Lalu, apalagi katanya?” tanyaku mencoba mencari setitik harapan untuk kebebasannya.

“Tak ada Yam, dia kemudian terdiam, menangis, kemudian mengumpat para warga desa yang membunuh singa tersebut.” Jawab pak Yono sembari berpikir.

Emm… kira-kira saya masih bisa ke tkp lagi tidak sekarang pak ?” Tanyaku yang merasa memiliki sedikit harapan baru.

“Bisa … bisa, anda ingin kesana jam berapa, biar saya antar.” Jawab polisi itu

“Saya akan mengajak Dio dan Meca untuk kesan jika diizinkan, tapi terlebih dahulu saya akan mengunjungi Bimo, bisakah anda memberikan izin pada saya.” Jawabku tegas.

“Tentu saja Yama. Akan saya atur pertemuannya.”

Tanpa harus aku jelaskan pertemuan kami, yang jelas dia masih sama diamnya saat kemarin bertemu denganku pertama kali, kalau bukan karena ibunya yang meminta bantuanku, mungkin aku tidak akan mau menyelesaikan kasusnya yang dia sendiri pun tak mau membantuku. Aku pergi ke tempat tersebut bersama dengan dua orang temanku, kami mencoba mencari suatu bukti yang kami sendiri tidak yakin mampu menyelesaikannya.

***

Malam itu teriakan seorang perempuan yang terdengar seperti petir membangunkan seluruh warga didaerah Ketahun, Bengkulu Utara. Warga sekitar terkaget-kaget dan berlari kocar-kacir sembari berteriak-teriak membangunkan warga lain menuju ke sebuah hutan yang luas dan gelap dengan berbekal obor, senter, pentungan dan tak lupa golok, hampir dua puluh orang menghampiri perempuan tersebut, di sampingnya tergeletak seorang lelaki bersimbah darah dengan mukanya yang hancur seperti dicakar hewan yang sangat buas, dan benar kira-kira satu meter dari situ berdiri seorang lelaki muda kira-kira usianya 24 tahun, dengan seekor singa miliknya yang biasa digunakan untuk sirkus keliling.

Ketika semua warga datang menghampiri perempuan itu, teriakan perempuan itu semakin menjadi, membuat semua warga panik. “Apa yang terjadi Vina?” Tanya seorang warga pada perempuan tersebut.

“Dia… dia… singa itu, membunuh Abe, laki-laki itu yang menyuruhnya.” Jawab Vina sembari menangis terisak-isak.

“Tangkap laki-laki kurang ajar itu, bunuh singa biadab itu, hancurkan mereka berdua” Teriak salah seorang warga dan diikuti oleh beberapa warga.

Dengan berbekal golok panjang dan pistol para warga membunuh singa tersebut dengan cara yang benar-benar diluar batas kemanusiaan. Laki-laki itu  juga dipukuli hingga hampir mati, pakaiannya tercabik-cabik, bibirnya pecah dan berdarah, kulitnya tersayat-sayat oleh gesekan tanah, mata kanannya bengkak, telinganya berdarah-darah dan kaki kanannya ditembak, beruntung ada dua orang polisi datang sehingga laki-laki itu bisa selamat.

***

Aku menapaki hutan tersebut dan mencoba berpikir, menjelajah dalam pikiranku, mencari titik kebenaran dari laki-laki itu mencoba menemukan sedikit saja petunjuk untuk membuktikan dia tidak bersalah. Meski aku tidak mengenal dia ataupun latar belakangnya, aku tahu laki-laki itu tidak bersalah. Bukan karena aku dibayar ibunya, bukan pula untuk menunjukkan eksistensiku disini, tapi aku yakin, benar-benar yakin dia tidak bersalah.

Tanpa sadar kakiku tersandung batu yang kemudian aku terjatuh, kepalaku terbentur sebuah batu yang sangat besar yang menyebabkan pelipisku terluka, kedua temanku membantuku bangun dan membersihkan darah di pelipisku. Aku merasa mendapatkan sedikit pencerahan dari kasus ini, aku berlari menuju rumah korban tersebut yang rencananya akan dikuburkan hari ini, teman-temanku bingung melihatku, tapi mereka tetap saja mengikuti langkah kakiku, hingga akhirnya aku tiba dirumah laki-laki bernama Abe tersebut, aku menyamar sebagai teman Abe dari kota, aku duduk tepat disebelah mayat laki-laki itu yang terlihat sangat tampan meskipun mukanya sudah tercabik-cabik, kulihat goresan lukanya, kuamati dalam-dalam luka diwajahnya yang masih dialiri darah terus-menerus, aku tercenung cukup lama, hingga akhirnya aku berdo’a untuknya dan pergi dengan terlebih dahulu berpamitan dengan ibu korban tersebut.

Aku berlari sekencang-kencangnya seperti seekor citah menuju tempat dimana aku terjatuh tadi, kutinggalkan kedua temanku jauh, hingga mereka kembali ke kamar sewa kami. Aku mendatangi batu yang membuat pelipisku terluka, ku amati batu itu dalam-dalam dan tanpa sadar kutemukan sebuah goresan tali karet yang cukup tebal, tanganku gemetar sembari mencari di kontak handphone ku nomor kepala polisi di daerah itu, aku suruh dia datang dengan membawa garpu rumput yang berukuran kecil, dan tidak lupa membawa tali karet yang sangat mudah dijumpai di daerah tersebut, kusuruh juga dia untuk membawa gunting rumput yang tajam.

Aku mencoba mengkonstruksikan bayanganku mengenai kejadian itu, aku ikatkan tali karet itu pada garpu rumput yang kemudian, aku ikatkan ujung satunya pada batu yang melukai pelipisku itu, kemudian kutarik ujung daribatu itu untuk mengoyak sesuatu dihadapanku, kemudian dengan mudah aku lepaskan tanganku, dan garpu rumput tersebut menghilang, aku kejar garpu rumput tersebut hingga menuju kesebuah sungai yang keruh, kulihat posisi batu yang kuikatkan tali karet itu, mundur kira-kira 5 cm, kupotong tali karet itu menggunakan gunting rumput. Kuminta polisi itu mencari kedalam sungai tersebut apakah ada garpu rumput lagi selain yang aku buang tadi, sejam kemudian polisi itu mengatakan ada dua garpu rumput dengan bentuk yang berbeda ditemukan di sungai tersebut, kuamati garpu rumput satunya, ukurannya lebih kecil dan lebih enteng, namun bentuk ujungnya lebih runcing menyerupai cakar hewan, kuamati dalam-dalam benda itu kemudian aku tertawa sekencang-kencangnya hingga semua polisi yang ada disitu bingung melihatku. Hatiku merasa gembira bisa menyelesaikan kasus ini meskipun aku masih harus menemukan motif dari perbuatan itu.

Kuketuk pintu rumah klien ku, kutanyakan pada nyonya rumahnya ada hubungan apa antara korban, pelaku serta perempuan itu. kudapati satu fakta penting bahwa perempuan itu menyukai Bimo sejak mereka masih duduk di kelas enam sekolah dasar, namun disisi lain, perempuan itu sudah dijodohkan oleh Abe, laki-laki anak juragan sawit yang berkuasa di daerah itu. kecintaan perempuan itu hancur seketika saat tersebarnya kabar bahwa Bimo akan menikah dengan Serly seorang gadis kota yang bertemu dengan Bimo saat dia sekolah SMA di kota dulu, perempuan yang mencintai Bimo dengan berlebihan itu, kemudian melakukan segala cara untuk menghancurkan rencana pernikahan tersebut, hingga melakukan pembunuhan terhadap calon suaminya sendiri. Kemudian fakta baru kudapatkan saat aku mengunjungi Bimo, malam itu saat terjadinya pembunuhan, perempuan itu menyuruhnya datang ke hutan dengan ancaman jika Bimo tidak datang maka ia akan bunuh diri, dia juga meminta Bimo membawa singanya, Bimo  menurut begitu saja, dengan anggapan dia tidak ingin mengecewakan perempuan  itu untuk kedua kalinya, namun sesampainya Bimo disana, justru perempuan itu berteriak mengungkapkan segala kekesalannya pada Bimo, dan saat korban tersebut datang ia justru merengek agar si korban membunuh Bimo, namun si korban menolak, karena kesal perempuan itu kemudian menggunakan garpu rumput untuk membunuh calon suaminya tersebut, seolah-olalh itu perbuatan Bimo dan kemudian berteriak sekencang-kencangya, namun sebelum perempuan itu berteriak dia sempat berkata kepada Bimo dia mencintai Bimo, namun, memang harus begini caranya agar Bimo bisa merasakan kesakitan apa yang dirasakannya selama ini.

Aku masih tercenung tak habis pikir atas apa yang dilakukan perempuan itu, aku mencoba mencari penjelasan yang dapat aku terima di otakku, namun aku tidak bisa benar-benar tidak ada pejelasan yang logis mengenai cinta yang dimiliki perempuan itu.

“Yam,,, cepat, nanti kita ketinggalan pesawat” panggil Meca yang dengan seketika membuyarkan lamunanku.

“Iya-iya… Dio dimana?” tanyaku.

“Dia sudah duluan di mobil, ayo cepat, ada Bimo dan keluarganya juga diluar.” Aku bersegera keluar dan berpamitan kepada keluarga klienku, kuucapkan terimakasih pada mereka, dan Bimo yang sekarang duduk di kursi roda karena kakinya yang ditembak itu, sempat membisikkan ucapan terimakasih padaku sambil meneteskan air mata karena dia bisa bebas meski dia sekarang sudah cacat, namun kebahagiaannya tidak bisa ditutupi karena raut wajahnya yang polos itu tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhannya karena kebebasannya.

_________________

Oleh: Nurlaili Oktaviani Faozan, Kriminologi 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s