Sahur On The Road, Refleksi Kenakalan Kita

“Pagi yang tenang itu sedikit terganggu ketika linimasa seolah dibanjiri tweet yang berpaku pada satu topik, yaitu Sahur on the Road.”

Yang menarik, mayoritas dari topik di lini masa pagi itu adalah kekesalan atas kegiatan sahur on the road yang memang biasanya marak dilaksanakan di bulan puasa seperti sekarang. Mulai dari organisasi kepemudaan, supporter klub sepakbola hingga anak-anak SMA tidak mau kalah dalam menyelenggarakan acara ini. Kebetulan sahur on the road yang disorot pada pagi itu adalah yang diselenggarakan oleh kelompok yang terakhir disebut.

Komentarnya beragam, mulai dari yang menyebut acara ini hanya ajang pamer yang dibalut kegiatan amal, yang lainnya menyebut kegiatan ini sudah kehilangan makna ketika anak-anak muda berteriak-teriak dari jendela mobil yang sebetulnya milik orang tua mereka atau yang membandingkan kegiatan mereka dengan kericuhan yang dibuat supporter sepakbola atau majelis pengajian yang memotong jalan atau yang mengungkit-ungkit sebuah kasus kecelakaan yang menimpa sekelompok anak SMA yang sedang dalam kegiatan sahur on the road dan mengingatkan betapa berbahayanya kegiatan ini. Bahkan ada yang menyebut singkatan SOTR sebagai stupids offending the road. Wow!

Ketimbang mencaci anak-anak ini begitu saja,lebih baik kita mulai melihat lebih dekat. Pertama-tama, baik penyimpangan maupun kejahatan harus dilihat berbeda jika pelakunya adalah anak (berusia 18 tahun kebawah)[1], sebab anak masih dalam proses berkembang secara fisik maupun mental, bahkan terkadang tidak tahu apa akibat dari tindakan yang dilakukannya. Oleh karena itu tindakan mereka yang dianggap mengganggu akan lebih bijak jika tidak semerta-merta disamakan dengan para ‘pengganggu’ lainnya yang sudah dewasa, dan digolongkan sebagai kenakalan.

Secara umum, kenakalan atau delinkuensi adalah suatu konsep ketika seorang anak melalaikan kewajibannnya dan kemudian ia dianggap menyimpang oleh masyarakat. Ada beberapa dimensi yang bisa digunakan dalam melihat sebuah kasus kenakalan, seperti dimensi peran, yaitu seorang anak dianggap nakal jika ia melalaikan kewajiban dan perannya, lalu juga ada dimensi hukum, yaitu ketika tingkah laku anak melanggar norma dan hukum.

Dimensi lainnya adalah pandangan masyarakat, yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang pertama disebut “status offence”. Tindak kenakalan itu jika dilakukan oleh orang dewasa tidak menjadi sebuah tindak pidana misalnya seperti pelanggaran berjalan jauh dari rumah, membolos dari sekolah, dan melanggar perintah yang sah dari orang tua. Yang kedua disebut tindak pidana, yaitu tindakan seorang anak adalah sebuah tindak pidana, namun karena yang melakukan adalah masih anak-anak maka dianggap si pelaku belum mampu mempertanggungjawabkan tindakannya.

Walter Reckless (1961) mengemukakan dimana lingkungan sekitar dari seseorang dapat mendorong seseorang untuk mengikuti norma yang berlaku dalam sebuah kelompok karena tekanan dari lingkungan kelompok tersebut. Outer containments, yang meliputi identifikasi dengan kelompoknya, kebersamaan, kepuasan, tujuan dan nilai dapat digunakan oleh sebuah kelompok untuk mengontrol perilaku dan tindakan seseorang, yang kadang dapat mengarahkan pada tindakan kenakalan atau disebut pull factor oleh Reckless. Hal ini adalah wajar jika melihat bahwa mereka sering bertemu dengan teman-teman sepermainannya, sehingga mereka akhirnya melakukan tindakan kenakalan secara bersama-sama. Anak-anak sendiri biasanya mempunyai rasa penasaran yang besar terutama di masa-masa menjelang remaja, dan cenderung ingin mencoba hal-hal baru[2].

Kembali lagi ke SOTR, jika memang kegiatan ini dilaksanakan secara rutin di setiap bulan puasa termasuk oleh anak atau remaja, maka kegiatan ini mungkin dapat dimasukkan sebagai sebuah youth culture yaitu “seperangkat jalan hidup dari remaja, yang meliputi norma, nilai dan praktek yang diakui dan disebarkan kepada anggota kelompok remaja sebagai petunjuk-petunjuk dari kegiatan mereka”[3]. Artinya dalam kegiatan ini, mungkin juga ada pengaruh lingkungan sekitar yaitu peer-group yang mendesak mereka untuk melakukan beberapa hal, yang mungkin tidak sesuai dengan norma pada umumnya. Dimana jika mereka tidak melakukan seperti yang dituntut oleh lingkungan sepermainannya, bias jadi seorang anak akan dianggap sebagai outsider atau dijauhi.

Apa hubungan semua catatan panjang lebar diatas dengan semua ini? Yah, baiknya para pihak yang mencaci maki para peserta SOTR ini mulai merefleksikan tindakannya itu. Kenakalan anak adalah bagian dari objek studi kriminologi yang paling mudah dipelajari, sebab hampir semua dari kita pernah melakukannya. Bukankah dulu kita sering kesal jika rambut kita dianggap terlalu panjang atau terlalu aneh? Tapi itulah kultur kita dulu sewaktu anak-anak. Hal itulah yang membuat kita diterima di lingkungan teman-teman kita. Jadi apakah kita semua yang mencaci maki para peserta SOTR mulai terdengar seperti para orang tua yang dulu mengomentari rambut kita?😉

Okay, penjelasan diatas terlalu rumit? Kalau begitu ada cara yang lebih sederhana. Ingatlah, beberapa tahun yang lalu, ada juga seseorang yang menyalakan rokok pertamanya. Tentu saja, orang itu sedang melakukan sesuatu yang berbahaya, dengan menggunakan uang dari orang tuanya. Dimana dia sekarang? Ambilah sebuah cermin, mungkin dia ada disana😉 .


[1] Konvensi Hak Anak, UU Perlindungan Anak

[2] Shaw & McKay (1929-1942)

[3] Rice, F. (1996). The adolescent: Development, relationships and culture (7th ed.). Boston: Allyn & Bacon.

______________________________________

Tentang Penulis

Gerald Radja Ludji

Gerald, mahasiswa Kriminologi angkatan 2010, menyukai hal-hal serius yang dibawakan dengan santai. Having fun while doing serious things, termasuk dalam membicarakan suatu isu, baik lingkup kecil maupun yang lebih luas, seberat apapun harus dibumbui lelucon maupun sampahan sejenak, karena jika dibawakan terlalu serius akan menimbulkan kesan kaku, membosankan dan cenderung mudah dilupakan. Seorang awam penikmat seni,pernah ikut menulis buletin kritik sosial bernama buklethapmas, yang menyajikan kritik nyeleneh di lingkungan kampus FISIP UI. Penggemar Warkop DKI yang saat ini merupakan anggota BEM FISIP UI 2012 ini sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong dan bertukar informasi melalui obrolan-obrolan santai. Di wepreventcrime ia menjadi salah satu kontributor tetap dan berharap biografi dan fotonya ini bukan menjadi satu-satunya postingan di situs ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s