Kita Memilih; Kita Yakin

Indonesia sebagai Negara yang “katanya” menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama kembali lagi mendapatkan tantangannya sendiri. Tantangan ini tertuju untuk pemerintah dan rakyatnya yang selalu disebut sebagai masyarakat beragama. Tentu saja di sini berbeda dengan di Eropa Timur sana, di mana agama atau keyakinan menjadi sesuatu yang lebih sensitif dibandingkan dengan harga diri dan uang. Di sini, agama bisa dijadikan sebagai sebuah konsumsi publik yang hangat. Mulai dari berita artis yang telah tobat, calon Walikota jadi rajin datang ke tempat ibadah, sampai show off kekuatan fisik dari kelompok tertentu. Semua menjadi sajian berita yang tak terlewatkan untuk disimak. Bayangkan, betapa banyaknya kepentingan yang mengantri ingin menunggangi agama!?

Agama adalah hal yang sangat sakral. Saking sakralnya, agama bisa ditunggangi dengan kepentingan-kepentingan individu atau kelompok. Ibarat kata, sampai pada kondisi, jalan termudah mendapatkan simpati teriakan saja nama agama Anda! Terkadang kepentingan ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama kita masing-masing. Mungkin kita sendiri sudah melihat atau mengalami banyaknya kepentingan-kepentingan tertentu di sekitar kita. Terkadang, kepentingan itu bisa sangat tidak manusiawi dan tidak masuk akal, bahkan menimbulkan kejahatan dengan topeng-topeng agama di depannya. Belum adanya ketegasan dari pemerintah juga memiliki andil akan adanya fenomena ini. Sudah saatnya, sebagai manusia, kita harus bijak dan cerdas dalam beragama. Kita yang memilih, kita yang pelajari, kita yang meyakini tanpa menyampingkan rasa manusiawi.

Walaupun hidup beragama di Indonesia sangat unik, seperti saat kita mengisi pilihan ganda di ujian sekolah, kita bebas memilih, tetapi dengan pilihan yang sudah tersedia. Ketika jawaban tidak sesuai dengan pilihan, mau tidak mau kita harus tetap memilih pilihan tersebut. Tapi kembali lagi, keyakinan hanya urusan kita dan Tuhan.  Tidak memerlukan hitam di atas kertas. Karena kita manusia bebas dan bertanggung jawab. Selamat meyakini, selamat berpuasa teman.

Drajat Supangat (Kriminologi, 2009)

Redaktur Pelaksana Buletin wepreventcrime


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s