Kriminologi dan Film Warkop DKI

Kriminologi ilmu baru? Kriminologi kurang terekspos? Tarik omongan anda! Kriminologi nyatanya pernah diangkat menjadi tema sebuah film komedi populer, yang pemerannya juga bukan artis sembarangan!

Salah satu adegan dalam film ‘Setan Kredit’ yang dibintangi Warkop DKI. Perhatikan baju hitam yang dipakai Dono.

Take a look at pictures above, and let’s see, kriminologi sama sekali bukan ilmu baru yang tidak terekspos. Nyatanya sebuah film nasional pernah mengangkat ilmu ini ke layar lebar. Film nya pun bukan film ‘berat’ yang bakal menguras otak seperti jurnal-jurnal internasional yang sering kita baca, atau juga bukan macam serial investigasi yang tidak terjangkau oleh penonton yang tidak berlangganan TV kabel. Kriminologi justru pernah diangkat ke film komedi (jelas genre yang ramah untuk ditangkap masyarakat luas), dan bintangnya pun Warkop DKI, yang sedang berada di puncak popularitas di banyak kalangan pada saat itu.

Film berjudul Setan Kredit tersebut diproduksi pada tahun 1981 dan selain Warkop DKI, beberapa aktris terkenal pada masanya seperti Minati Atmanegara dan Alicia Djohar juga turut membintangi film garapan sutradara Iksan Lahardi tersebut. Film berdurasi 90 menit ini kurang lebih bercerita tentang Dono, Kasino, dan Indro (diceritakan sebagai mahasiswa FIS UI, yang menjadi cikal bakal dari FISIP UI) mendengar berita hilangnya seorang anak melalui radio pemancar milik Indro yang menawarkan hadiah bagi yang menemukan. Mereka bertiga tertarik dengan hadiah yang diberikan dan kemudian mendatangi tempat yang disinyalir menjadi lokasi hilangnya si anak tersebut. Ternyata mereka malah tersesat ke sebuah tempat keramat dimana Sang penunggunya meminta syarat kepada mereka untuk mendatangkan orang-orang yang mau menerima kredit. Akhir cerita dari film ini adalah diketahui bahwa si anak hanya tertidur di gerobak es di depan sekolahnya, dan tidak pernah hilang sama sekali (saya jamin film ini jauh lebih menghibur ketimbang sinopsis singkat garing yang saya tulis, oleh karena itu saya sarankan untuk menonton filmnya sendiri).

Memang, kata ‘kriminologi’ cuma disebut sekali dalam film itu, dan entah apakah mahasiswa kriminologi saat itu sudah mulai mengidentifikasi warna hitam sebagai identitas mereka (seperti yang dikenakan oleh Dono, yang memerankan seorang mahasiswa Kriminologi). Yang menarik, film ini sepertinya bebas pengertian dangkal mengenai kriminologi, seperti kriminologi itu berada di fakultas hukum, atau kriminologi itu ilmu untuk menjadi polisi. Dalam film ini, radio pemancar yang dimiliki Indro rencananya akan digunakan untuk membantu salah satu metode pencegahan kejahatan berbasis komunitas, yaitu siskamling. Selain itu, film ini juga semacam membongkar (walaupun secara santai) kebusukan sistem kredit pada masa itu, yang bisa dibilang salah satu bentuk corporate crime yang merugikan banyak orang, dikarenakan sistem pemasarannya yang menyembunyikan beberapa kerugian yang akan diterima oleh pengguna jasa kredit.

Sayangnya, di kalangan mahasiswa kriminologi sendiri film ini kurang populer muatan kriminologinya. Film ini dianggap biasa-biasa saja, artinya film ini dianggap sama seperti film-film Warkop DKI lainnya. Beberapa teman saya pun kaget ketika saya beritahu tentang Warkop DKI yang memerankan mahasiswa kriminologi di film ini. Akan tetapi, menururt saya sendiri film ini cukup untuk sekedar memperkenalkan kriminologi kepada masyarakat luas, baik dari sisi ‘nama’ maupun muatan. Yah mungkin sebagai lecutan untuk pembuatan film ‘berbau’ kriminologi lainnya.

_____________________________________________

Tentang Penulis

Gerald Radja Ludji

Gerald, mahasiswa Kriminologi angkatan 2010, menyukai hal-hal serius yang dibawakan dengan santai. Having fun while doing serious things, termasuk dalam membicarakan suatu isu, baik lingkup kecil maupun yang lebih luas, seberat apapun harus dibumbui lelucon maupun sampahan sejenak, karena jika dibawakan terlalu serius akan menimbulkan kesan kaku, membosankan dan cenderung mudah dilupakan. Seorang awam penikmat seni,pernah ikut menulis buletin kritik sosial bernama buklethapmas, yang menyajikan kritik nyeleneh di lingkungan kampus FISIP UI. Penggemar Warkop DKI yang saat ini merupakan anggota BEM FISIP UI 2012 ini sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong dan bertukar informasi melalui obrolan-obrolan santai. Di wepreventcrime ia menjadi salah satu kontributor tetap dan berharap biografi dan fotonya ini bukan menjadi satu-satunya postingan di situs ini.


3 thoughts on “Kriminologi dan Film Warkop DKI

  1. saat pertama kali nonton film ini sewaktu gue masih muda dulu :p (lupa kapan tepatnya) gue sempat mengira ‘kriminologi’ yang diperankan disana itu fiktif sakin nggak pernah dengernya, lho. Ngebaca tulisan lo ngasih gue ide nih, kalau mempromosikan kriminologi ternyata ga cuma bisa dari artikel ya, tapi lebih asyik kalau ada bumbu ‘entertain’nya ya, sebangsa film, novel, atau cerpen.

  2. yak, itu dia ci, kadang2 memang kalo tujuannya mau nyebarin awareness mengenai kriminologi harus pake cara2 yang populer, moga2 aja beneran ada suatu hari nanti, hahahahahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s