Pornografi: Kebebasan Ekspresi yang Patriarkis

Pernahkah kita menyadari bahwa hampir setiap hari kita memiliki pengalaman visual tentang pornografi? Acara televisi di pagi hari, yang sejatinya ditujukan untuk anak-anak pun, terdapat unsur pornografi. Film yang diputar di studio ternama, yang bertemakan tentang moral dan agama, juga tidak terlepas dari unsur pornografi. Berbagai media secara terus menerus memeperlihatkan kepada kita gambar perempuan berpakaian minim, atau bahkan tampilan visual tentang perempuan tanpa pakaian sama sekali. Tubuh perempuan menjadi alat andalan utama bagi pelaku produksi media untuk menarik minat konsumen. Dan pernahkan kita menyadari tentang penderitaan yang sesungguhnya dialami oleh perempuan yang menjadi model materi pornografi itu?

Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup manusia selalu dikelilingi oleh ancaman pornografi. Seolah-olah hal itu memang dibutuhkan, semua media seringkali menampilkan sajian yang mengandung unsur pornografi atau hal-hal bersifat cabul. Baik itu acara televisi, siaran radio, media massa, seperti koran dan majalah, film, dan bahkan beberapa media-karya lainnya, dengan berbagai alasan yang diajukan para pelakunya. Katherine N. Kinnick, seorang profesor komunikasi di Kennesaw State University, mengutip istilah dari Jane Caputi, menyatakan bahwa sekarang ini kita hidup di era “everyday porn”. Manusia hidup di lingkungan yang semuanya berbau pornografi karena kuatnya pengaruh media mainstream, yang menjadikan tema seksual sebagai barang produksi untuk konsumsi masyarakat karena dapat menghasilkan uang yang banyak bagi para pelaku industri media.[1]

Pornografi adalah salah satu masalah di masyarakat yang menjadi perdebatan tiada ujung.  Terdapat beberapa pihak di kalangan masyarakat yang secara tidak langsung mendukung pornografi. Mereka adalah para pelaku di balik layar media-media mainstream, atau para pelaku yang mengaku sebagai seorang seniman. Alasan yang selalu diberikan adalah pose telanjang sebagai suatu bentuk pengungkapan ekspresi tentang keindahan; tubuh perempuan adalah seni. Walaupun demikian, seharusnya kita sadar bahwa kebebasan berekspresi yang menjadi landasan para pelaku pornografi (pornokrat) pada dasarnya hanya menjadi alasan pembenaran dalam sudut pandang patriarki, yang menjadikan perempuan sebagai objek atau alat pemuas hasrat laki-laki.

Alasan utama dari para pelaku pornografi untuk membenarkan tindakan mereka adalah pornografi merupakan salah satu cara untuk bebas berekspresi. Lebih parah lagi, semua pihak yang berkontribusi dalam produksi pornografi menyatakan bahwa gambar-gambar perempuan telanjang itu adalah karya seni. Para pornokrat juga sering membela dari sudut pandang kebebasan pers. Landasan argumen mereka pada dasarnya lemah, tetapi memiliki asas karena menggunakan alasan estetika dan kebebasan pers.[2]

Jika kita melihat dari sudut pandang estetika, yang berangkat dari pemikiran modernis, pada dasarnya alasan estetika tidak dapat digunakan untuk membenarkan praktek pornografi. Kunci utama dalam memahami pengalaman estetik (aesthetic experience) adalah disinterestedness (tak berpamrih). Shaftesbury (1671-1713) menjelaskan bahwa disinterestedness memiliki makna bahwa estetika yang sejati itu tanpa pamrih dalam arti moral. Dengan kata lain, suatu karya seni yang memiliki nilai estetik harus memiliki dampak dan makna moral, tidak boleh bercampur dengan motif-motif egoistis.[3] Meninjau gambar-gambar pornografi yang dihasilkan oleh pornokrat, dapat dipahami bahwa pose erotik dari perempuan merupakan sesuatu yang mengundang, menuntut pamrih. Terdapat unsur ego yang dapat mempengaruhi orang yang melihat, seperti mengundang hasrat dan birahi. Materi pornografi menampilkan nilai ekstrinsik, bertujuan lain di luar dirinya (promosi, meningkatkan penjualan, membangkitkan syahwat, kekerasan seksual); foto-foto panas para artis model itu membangun situasi pragmatik untuk bertindak “strategis” (menguasai, merayu, memaksa, dan sebagainya).[4] Hal ini menegaskan bahwa perempuan yang dijadikan objek materi pornografi merupakan sebuah alat untuk tujuan-tujuan tertentu yang diinginkan oleh para pornokrat tersebut.

Pornografi merupakan bentuk penindasan dan perendahan martabat perempuan. Pernyataan ini juga diperkuat dalam sudut pandang estetika pos-modernis. Rasuanto menjelaskan bahwa dalam sudut pandang estetika pos-modernis, yang menjadi masalah bukanlah apakah sesuatu itu merupakan seni atau tidak seni, tetapi perempuan-perempuan yang berpose telanjang itu ditampilkan sebagaimana laki-laki ingin melihatnya. Materi pornografi hanya menjadi suatu penegasan struktur masyarakat yang patriarkis. Ideologisasi seni, yang selama ini menunjuk bahwa tubuh perempuan merupakan sesuatu yang indah, pada dasarnya merupakan suatu bentuk eksploitasi dan marginalisasi perempuan; perempuan menjadi objek, dan dengan sendirinya mencerminkan suatu tingkatan yang menyebabkan perempuan berada di bawah laki-laki.[5]

Di sisi lain, pemikiran para pakar feminisme dengan tegas menolak pornografi. Dasar pemikiran yang dimiliki oleh para feminis penentang pornografi adalah bahwa aktivitas yang paling seksual dalam masyarakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang dinginkan oleh laki-laki, atau sesuatu yang diidentifikasi berdasarkan sudut pandang laki-laki. Perempuan selalu dikungkung oleh kenyataan bahwa tubuh mereka hanya untuk memuaskan hasrat laki-laki yang rakus. Kita, khususnya perempuan, hidup dalam suatu budaya yang memposisikan ucapan dan perilaku seksual bagi perempuan masih sangat terbatas. Pornografi seolah-olah menjadi satu-satunya cara bagi perempuan untuk berbicara tentang seks dan variasi seksual.[6] Praktek pornografi secara tidak langsung mengandung suatu kekerasan yang sejatinya menyerang perempuan itu sendiri.

Berbeda dengan pemikiran kelompok fundamentalis, yang lebih melihat pornografi sebagai hal yang dapat merusak moral, para feminis memandang pornografi sebagai bentuk kekerasan terselubung terhadap perempuan, yang dapat memicu bentuk kekerasan fisik, seperti pemerkosaan dan kekerasan seksual lainnya. Meskipun berbeda satu sama lain, feminis dan fundamentalis sama-sama memiliki sikap yang antipasti terhadap materi pornografi dan cenderung untuk mendukung penekanan hukum dari materi tersebut.[7]

Kita sebagai manusia yang berakal-budi, manusia yang memiliki moral, pikiran dan hati, seharusnya sadar bahwa masalah pornografi bukan hanya terletak pada kerugian yang dapat ditimbulkannya bagi masyarakat karena pengaruh buruknya. Kesadaran kita tentang pornografi harus diperdalam dan diperluas mencakup seluruh aspek, termasuk memahami sudut pandang dan perasaan para perempuan yang menjadi objek dari materi pornografi. Merupakan suatu hal yang terang bahwa perempuan yang menjadi objek pornografi mengalami suatu penderitaan yang tiada tara, menanggung rasa malu, dan umumnya mereka tidak menyadari bahwa diri mereka telah menjadi barang yang dapat diatur sedemikian rupa oleh kekuasaan laki-laki. Seperti yang dinyatakan oleh Shelley, seorang mantan aktris porno yang berjuang melawan industri pornografi:

So the porn industry actually lures in these kind of people to exploit them. So basically when someone is watching pornography, what you’re really doing is contributing to the demise and destruction of adult survivors of sexual child abuse who are on drugs and have physical disease. That’s really what you’re watching because I promise you, nobody in that industry is healthy”[8]

Industri pornografi hanya sebuah umpan untuk mengeksploitasi perempuan. Ketika kita menikmati suatu materi pornografi, berarti kita memberikan kontribusi bagi kematian dan kehancuran dari korban pelecehan seksual, khususnya pelecehan seksual anak, yang candu terhadap obat-obatan dan terjangkit penyakit kelamin.

Pornografi merupakan salah satu cara bagi para pornokrat untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, dan juga sebagai bentuk penegasan tentang kuatnya possi mereka di atas perempuan; kebebasan ekspresi yang patriarkis. Oleh karena itu, melawan pornografi dapat dikatakan sebagai suatu cara untuk melawan penindasan terhadap perempuan. Harus ada instrument (hukum) yang dapat menekan produksi, pengembangan, dan penyebaran dari materi pornografi itu sendiri, selain untuk menyelamatkan moral masyarakat, juga sebagai bentuk upaya untuk mengembalikan harkat dan martabat perempuan.


Endnote

[1]Katherine N. Kinnick, “Pushing the Envelope: The Role of the Mass Media in the Mainstreaming of Pornography” dalam Ann C. Hall & Mardia J. Bishop, Pop-Porn: Pornography in American Culture (London: Preager Publisher, 2007), Hlm. 7

[2] Bur Rasuanto, “Pornografi: Soal Etika, Bukan Estetika”, dikutip dari http://arsip-makalah.blogspot.com/ 2008/11/pornografi-soal-etika-bukan-estetika.html, 26 April 2011, 11:29 AM. Lihat juga di http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/9908/11/opini/porn04.html

[3] Mudji Sutrisno, “Oase Estetis: Estetika dalam Kata dan Sketza” (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), Hlm. 55

[4] Bur Rasuanto, loc cit.

[5] Ibid.

[6] Kate Ellis, Barbara O’Dair, & Abby Tallmer, “Feminism and Pornography”, in Feminist Review, No. 36 (Autumn, 1990). Hlm. 15-18

[7] Ted G. Jelen, “Fundamentalism, Feminism, and Attitudes toward Pornography”, dalam Review of Religious Research, Vol. 28, No. 2 (Desember, 1986), Hlm. 97-103

[8] Quotasi dari Shelley Lubben, yang ia tulis dalam website milikya: http://www.shelleylubben.com/anti-porn-quotes

_________________________________

Tentang Penulis

Tooftolenk Manshur Zikri

Pencinta jurnalisme warga, penggemar diskusi, penikmat sastra, serta secara tiba-tiba jatuh hati kepada film dan video. Di wepreventcrime, dia berperan sebagai Koordinator Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Mahasiswa kriminologi angkatan 2009 ini juga berkegiatan di Forum Lenteng sebagai jurnalis di akumassa.org. Dia memiliki blog pribadi, manshurzikri.wordpress.com, yang berisikan karya-karya tulisan dan sketsa yang ia buat sendiri dengan maksud membuat waktu luang menjadi waktu yang bermanfaat. #asyek


3 thoughts on “Pornografi: Kebebasan Ekspresi yang Patriarkis

  1. bagaimana dengan pornografi di jepang? saya rasa menarik untuk dikaji karena selama ini orang cenderung berpatokan pada industri pornografi Amerika Serikat dalam melakukan kajian terhadap hal ini,
    Di Jepang sendiri, berbeda dengan Amerika, aktris2 porno biasa disebut Adult Video Idol (AV Idol) yang konotasinya berbeda dengan ‘pornstar’, dalam artian mereka mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan ‘kompatriot’ mereka di Amerika, mereka terbiasa tampil di acara-acara TV mainstream, singkatnya mereka dianggap seperti selebritis pada umumnya, yang mungkin kemudian menjadi penyebab banyaknya perempuan-permpuan muda disana untuk terjun ke dunia AV

    terima kasih

    (sumbernya nyari dulu ya karena gua lupa, hahaha)

    1. Menurut saya, baik pornografi di Amerika maupun di Jepang, jika kita melihatnya dari salah satu sudut pandang yang saya berikan dalam tulisan di atas, yakni feminis, maka pornografi itu tetap dilihat sebagai bagian dari praktek diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan. Meskipun di Jepang profesi sebagai AV Idol itu dianggap sebagai sesuatu yang bukan ‘porn’, saya pribadi melihatnya tetap sebagai sebuah representasi dari masyarakat kita yang terkungkung dalam pola pikiri yang patriarkis itu. Sesungguhnya, pola pikir ini bukan hanya ada dalam kepala laki-laki, tidak sedikit, perempuan pun, sadar tidak sadar, juga dipengaruhi oleh pola pikir yang patriarkis tersebut sehingga seringkali kebiasan dalam hal gender juga muncul dari perempuannya sendiri. Jadi, jika ada perempuang Jepang yang ingin menjadi AV Idol, itu salah satu contoh bukti yang diakibatkan oleh struktur masyarakat yang tinggi konsumerismenya dan terjebak dalam pola patriarkis tersebut. Tentunya, hal ini harus kita lawan.

      Satu hal yang selalu saya ingat dalam pelajaran di kriminologi: “Meskipun ada pengakuan bahwa seseorang itu mau melakukan dengan sukarela, apakah itu menjadi hal yang umumnya dianggap sebagai pelaku penyimpangan/kejahatan, dia tetap menjadi korban jika seseorang itu adalah perempuan dan/atau anak.”

      Jadi, dalam konteksnya dengan masyarakat di Jepang, berangkat dari kerangka teoritik dalam tulisan di atas, menurut hemat saya, tetap dilihat sebagai hal yang patriarkis; sebuah praktek yang merugikan perempuan. Dan itu harus kita lawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s