WE CARE 2012 – Kepolosan yang Tak Terhadang Dinding

Pada tanggal 16 Juni 2012, Departemen Pengabdian Masyarakat dari dua Fakultas, yaitu Psikologi dan Hukum Universitas Indonesia mengadakan acara We Care. Program kerja We Care untuk tahun ini diadakan pada Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang. Bagi Fakultas Hukum, kunjungan pada Lapas Anak Pria Tangerang merupakan kegiatan rutin, sehingga diusulkanlah program ini untuk bergabung bersama Program We Care milik Psikologi. Acara ini diusung oleh tema self-control atau kontrol diri dengan tagline “I’m The Captain of My Life”, serta terdiri dari tiga segmen utama, yaitu Edukasi, Motivasi, dan Hiburan.

Seluruh Panitia berangkat menggunakan Bis Kuning dan beberapa mobil pribadi, pada pukul 7.15 WIB, di depan Fakultas Hukum. Perjalanan menuju Lapas memakan waktu sekitar dua jam. Sekitar pukul 8.45 WIB, panitia bertemu dengan para penjaga Lapas yang langsung memberi kami berbagai petunjuk mengenai apa saja benda yang dapat kami bawa ke dalam lapas. Panitia perempuan diminta masuk terlebih dahulu, karena panitia pria harus diberi cap pada tangan sebagai identitas pengunjung. Dengan dipenuhinya aula Lapas oleh para andikpas, secara resmi dimulai pulalah acara We Care 2012.

Acara dibuka dengan sambutan yang diberikan oleh Ketua BEM Psikologi UI, Ekki Primanda, dan Ketua BEM Hukum UI, Ali Abdillah, serta perwakilan Kepala Lapas Anak Tangerang, Pak Bagus Santoso. Sebagai segmen pembuka, motivasi diisi oleh Dosen Psikologi UI, Mas Edward Andriyanto Sutardhio serta Kepala Yayasan pengembangan Sumber Daya Manusia Rumah Kita, Herman Mustamin dan anggota yayasan yang pernah menempuh pendidikan di Lapas Anak Pria Tangerang, Ahmad Andri. Motivasi yang diberikan sepanjang satu jam ini terlihat menarik perhatian para andikpas, dengan adanya berbagai tanggapan dan komentar yang diutarakan kepada para narasumber. Setelah segmen motivasi, acara dilanjutkan dengan segmen Edukasi yang diberikan oleh Mahasiswi Fakultas Hukum, Ajeng. Materi yang diberikan merupakan bentuk edukasi penerapan hukum yang dapat membantu para anak-anak menegakkan hak-hak mereka. Materi ini mendapat sorotan dari para andikpas, terutama bagi mereka yang belum melalui sidang. Tips yang diberikan oleh Mbak Ajeng tampak diperhatikan dengan sangat baik. Setelah pemberian materi selama 1.5 jam, para andikpas yang mulai tampak bosan duduk diam.

Tepat dengan bosannya andikpas, dimulailah segmen ketiga dari rangkaian acara We Care 2012, yaitu hiburan. Hiburan ini dimulai dari sesi bermain games berkelompok. Dengan jangkauan umur 14-18 tahun, panitia sempat berpikir bahwa akan sulit untuk mengajak teman-teman andikpas untuk membuat kelompok, tapi kenyataannya tidak begitu. Mereka mengikuti musik yang diputar, mengikuti petunjuk permainan dan segera membentuk kelompok.

Permainan pertama disebut sebagai “Tangkap Aku”. Di sini, setiap kelompok didampingi oleh dua teman-teman dari Psikologi dan Hukum. Permainan menggunakan dua sarung ini ditujukan untuk membentuk kerjasama yang baik antar setiap permainannya. Dengan ada music dan waktu yang terbatas, setiap pemain harus berpegangan tangan serta mengoper sarung yang dilingkarkan pada tubuh kepada teman di sebelah mereka. Permainan ini memiliki tantangan dimana ada dua sarung yang berlawanan arah, dan yang akan keluar adalah yang mendapat kedua sarung saat musik berakhir. Dengan waktu yang mengejar, andipas Nampak mapu mengontrol ketenangan dan diri untuk menyelesaikan permainan ini J Setelah lelah bermain, setiap kelompok diberi waktu untuk mengobrol dengan teman Hukum dan Psikologi. Sesi ini nampak menyenangkan untuk diihat, karena setiap kelompok terlihat sedang seru mengobrol, lebih lagi ditemani dengan snack dan permen. Ada yang terdengar sedang membahas gossip terhangat mengenai selebriti, kehidupan mereka di rumah, rasa rindu mereka akan bermain dengan kelompok bermain mereka dirumah, serta berbagai cerita mengharukan lainnya. Entah mengapa pada titik itu kami benar-benar lupa bahwa kami sedang berada di lapas, seolah-olah kami hanya sedang mengobrol dengan anak sekolah pada umumnya.

Masih bersama dengan kelompok yang sama, kini panitia membagikan selembar kain kanvas, cat berwarna biru, merah, kuning, serta cotton bud. Kini setiap kelompok diberikan kesempatan untuk menggambar, entah perasaan, impian, harapan, atau isi hati. Saat ini suasana terlihat benar-benar cair antara para teman-teman Hukum dan Psikologi, serta para andikpas. Setelah menggambar, waktu menunjukkan bahwa waktu penutupan sudah semakin dekat. Para andikpas pun sudah tidak sabar untuk menunjukkan penampilan yang telah mereka siapkan. Penampilan pertama diisi oleh grup pemain angklung yang terlihat telah membawa angklung ke dalam aula sejak pagi. Mereka bermain dengan kompak dan berhasil menyelesaikan lagu dengan sempurna. Mengingatkan kami semua kepada ekstrakulikuler ansambel pada saat sekolah dahulu. Sayangnya setelah penampilan ini, mereka diminta untuk apel wajib sabtu depan kamar masing-masing. Waktu bersenang-senang pun ditunda sejenak, dan dilanjutkan kembali setengah jam kemudian. Dengan cepat aula kembali penuh oleh andikpas yang siap menampilkan band dan ingin menyaksikan band persembahan teman-teman hukum. Band dari andikpas pun mampu meramaikan suasana dengan berbagai lagi Andra and the Backbone. Lebih seru lagi ketika mereka meminta teman-teman panitia untuk ikut bernyanyi bersama mereka. Faisal sang MC pun maju, tapi tidak disambut dengan ramai, sepertinya karena Faisal laki-laki, haha. Lalu teman Psikologi Hana Maryana pun maju menggantikan Faisal, dan suasana seketika menjadi ramai. Seorang teman andikpas maju membawa bunga yang ia petik di kebun Lapas dan memberikannya kepada Hana. Semua bersorak dan Hana pun kesulitan bernyanyi. Tidak cukup satu orang, andikpas kedua dan andikpas ketiga pun ikut maju membawa bunga kebun Lapas jenis lainnya. Lagu ditutup dengan sorakan ramai. Penampilan terakhir diberikan oleh teman-teman Hukum, dan mengikuti suasana ikut memberikan lagu Andra and the Backbone. Walau dengan vokalis pria, mereka tetap disambut. Suasana menjadi lebih ramai lagi ketika teman Hukum mengganti penampilan dengan vokalis wanita.

Sayangnya semua keramaian itu harus berakhir, dan acara ditutup dengan penyerahan plakat dan sumbangan buku kepada perwakilan Kepala Lapas, Pak Bagus Santoso. Hari ini menjadi hari yang tidak terluapakan bagi setiap yang terlibat dalam acara ini, dimana mereka mendapatkan kesempatan untuk menyasikan bahwa bahkan tembok tak dapat mematikan kepolosan manusiawi anak-anak. Sekali anak tetap anak, dimanapun mereka berada.

Oleh Putri Diani


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s