Ketika Kecelakaan Jadi ‘Pesta’

Melihat Jatuhnya Sukhoi Superjet 100 dari Perspektif Kriminologis

Rabu (9/5),2012, pesawat Sukhoi Superjet yang begitu dibanggakan Rusia jatuh di Gunung Salak di daerah Bogor, Jawa Barat. Pesawat tersebut menabrak tebing batu di lereng Gunung Salak yang memiliki ketinggian mencapai 7000 kaki.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) memiliki spesifikasi yang bisa dibilang termasuk pesawat canggih. SSJ 100 memiliki empat varian dengan dua kelas, antara lain SSJ 100-75 dan SSJ 100-75LR. Kelas pertama memiliki panjang 26,44 meter, tinggi 10,3 meter dan rentang sayap 27,8 meter. Sedangkan kelas kedua memiliki panjang 29,9 meter, tinggi 10,3 meter, dan rentang sayap 27,8 meter. Pembedaan varian itu adalah jarak tempuh, SSJ-100 75 dapat menempuh jarak 2.900 km, sedangkan SSJ-100 75LR dapat menempuh jarak 4.500 km.

Seluruh varian SSJ 100 mengandalkan dua mesin PowerJet SaM146 dengan kekuatan 156.000 lb. Mesin buatan Perancis dan Rusia ini mampu memberikan kecepatan maksimum 0,81 Mach atau 870 km/ jam.

Pesawat itu dipiloti oleh salah satu pilot terbaik Russia, Aleksandr Yablonstev dan co-pilot Aleksandr Kochetkov. Yablonstev merupakan orang yang membawa Sukhoi mulai dari nol sampai mendapatkan sertifikat. Dia juga memiliki pengalaman terbang lebih dari 10.000 jam.

Sukhoi Superjet 100 sedang melakukan ujicoba terbang di wilayah Indonesia. Pesawat buatan Russia tersebut didatangkan oleh PT. Trimarga Rekatama, agen Sukhoi di Indonesia, terkait pesanan Maskapai Kartika Airlines dan PT Sky Aviation. PT. Trimarga Rekatama sendiri, keberadaannya tidak jelas di mana. Kantor PT. Trimarga Rekatama merupakan ruko berlantai tiga yang berada di pinggit Pasar Asemka. Kantor tersebut, bisa dibilang, tak terawat untuk perusahaan menyuplai pesawat Sukhoi. Selain itu, kantor tersebut tidak memiliki plang nama perusahaan. Banyak dari purnawirawan TNI-AU yang bergabung dalam perusahaann itu. Tak heran, perusahaan yang menjadi pemasok pesawat jet canggih itu, menjadi partner TNI.

Kronologis Jatuh SSJ 100

Sebelumnya, SSJ 100 telah melakukan joy flight pada pagi hari dengan terbang mengitari sekitar kawasan Halim. Rabu, 9 Mei 2012, pukul 14.12 WIB, pesawat SSJ 100 melakukan joy flight untuk kedua kalinya dengan rute melewati Gunung Salak. Pada pukul 14.33, saat pesawat melewati Gunung Salak, pilot pesawat SSJ 100 meminta izin ATC Bandara Soekarno-Hatta untuk turun dari ketinggian 10.000 kaki ke ketinggian 6000 kaki. Padahal, Gunung Salak memiliki ketinggian mencapai 7000 kaki. Setelah itu, ATC Bandara Soekarno-Hatta kehilangan kontak dengan pesawat.

Bisa Jatuh

Pihak LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menyebutkan bahwa cuaca buruk menyebabkan SSJ 100 tersebut jatuh di Gunung Salak. Saat SSJ 100 tersebut jatuh, terdapat awan cumulonimbus, yang merupakan awan berbahaya untuk dimasuki pesawat karena kondisi awannya yang sangat tebal, pekat, dan gelap, yang dapat mengurangi jarak pandang dari pilot. Namun, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa saat pesawat jatuh, yang ada hanya awan dengan jenis altostratus dan altocumulus. Awan jenis ini adalah awan dengan ketinggian menengah. Pihak BMKG juga menambahkan bahwa jika jatuhnya pesawat karena masalah cuaca, seharusnya SSJ 100 dapat mengatasinya. Sebab, pesawat ini dilengkapi dengan radar cuaca sehingga dapat memudahkan pilot untuk tahu apakah awan yang berada di depan pesawat dapat dilewati atau tidak. Apakah dalam SSJ 100, pesawat yang dikatakan canggih, tidak ada radar cuaca yang mendukung pilot? Jika tidak ada, tentu hal ini akan berbanding terbalik dengan pernyataan pihak Russia.

Berbeda pendapat dengan dua lembaga di atas, pihak Russia mengatakan bahwa kecelakaan itu terjadi terjadi karena adanya human error. Memang, pilot SSJ 100 yang jatuh di Gunung Salak merupakan salah satu pilot terbaik Russia dan sangat banyak memiliki pengalaman terbang. Namun, pilot dan co-pilot ini sudah melakukan penerbangan maraton dari tanggal 3 Mei 2012. Sebelum ke Jakarta, pliot dan co­p-pilot ini sukses menerbangkan pesawat di Kazakhstan, Pakistan dan Myanmar. Secara fisik, dapat dikatakan ia kelelahan. Apakah tidak ada pilot lain yang menggantikan Yablonstv? Juga apakah pilot terbaik rusia hanya Yablonstv?

Yablonstv juga belum mempunyai pengalaman menerbangkan pesawat di Indonesia. Dengan demikian, Yablonstv belum  mengetahui kondisi geografis, demografis, dan cuaca yang ada Indonesia.

Terdapat kejanggalan dalam joy flight ini. Seharusnya, dalam joy flight, rute yang dipilih adalah rute yang lebih terang. SSJ 100 yang mengalami kecelakaan ini malah memilih rute Pelabuhan Ratu dengan melewati daerah pegunungan yang gelap. Jumlah penumpang yang diberitakan oleh PT. Trimarga Rekatama juga mengalami revisi perubahan dalam jumlah penumpang yang pasti. Sebelumnya, pihak PT. Tirmarga Rekatama menyebutkan jumlah penumpang yang lebih dari 45 orang. Pada akhirnya, mereka menyatakan jumlah penumpang seluruh pesawat beserta dengan crew berjumlah 45 orang.

Kajian Dalam Kriminologi

Jatuhnya pesawat SSJ 100 ini dapat dikaji secara kriminologis, baik dari penyebabnya jatuh, perusahaan yang mendatangkan, maupun pemberitaanya di media massa, meskipun belum diketahui secara pasti penyebab dari jatuhnya SSJ 100–dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menemukan penyebabnya. Black box yang menjadi barang penting dalam mengungkap penyebab jatuhnya pesawat sudah ditemukan, namun untuk mengetahui isinya memerlukan waktu yang lama pula.

Professional Occupational Crime

Dalam joy flight ini, terjadi kelalaian pihak perusahaan distribusi dan penerbangan. Pihak PT. Trimarga Rekatama tidak mencantumkan alamat yang pasti terkait dengan letak perusahaan itu berada. Selain itu, adanya kesimpangsiuran jumlah penumpang dalam pesawat juga menjadi salah satu aspek pertimbangan untuk mengarahkan anlisis ke sudut pandang ini. Secara tidak langsung, hal ini juga menyebabkan kesimpangsiuran dan disinformasi dalam pemberitaan terkait dengan jatuhnya SSJ 100.

Adanya kecerobohan salah satu pilot terbaik Russia, juga merupakan kesalahan yang berakibat fatal sehingga SSJ 100 dapat jatuh. Tindakan pilot yang meminta izin kepada ATC Bandara Soekarno-Hatta untuk turun ke ketinggian 6000 kaki patut dipertanyakan. Padahal, ketinggian Gunung Salak mencapai 7000 kaki. Selain itu, perlu dipertanyakan pula mengapa pihak ATC Bandara Soekarno-Hatta memberi izin kepada pihak pilot SSJ 100.

Pihak ATC, menurut Kementerian Perhubungan, memang menyetujui penurunan ketinggian. Ketua Federasi Pilot Indonesia, Hasfrinsyah, mengatakan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum pesawat dapat menurunkan ketinggian jelajahnya. Salah satu syarat yang cukup penting adalah adanya kesamaan pandangan antara pilot dan petugas lalu lintas udara (Air Traffic Control/ ATC) di bandara. Satu hal yang harus dipertimbangkan, sangat berbahaya jika mengizinkan pesawat untuk turun ke ketinggian di bawah batas aman, yaitu 2.000 kaki di atas puncak gunung. Pada dasarnya, pilot dengan pihak menara pasti sudah melakukan briefing office sebelum terbang. Jadi, ketika pesawat terbang di area terbatas untuk joy flight, pilot dan tower sudah sama-sama tahu medan yang dihadapi. Namun, di sisi lain, Yablonstv, sebagai pilot yang menerbangkan SSJ 100, belum mempunyai pengalaman terbang di dareah Indonesia sehingga ia belum mengetahui medan di Indonesia.

Persiapan penerbangan kelengakapan juga perlu disoroti, sehubungan dengan kemungkinan terjadinya bentuk kecerobohan. Sebelum mulai terbang, seorang pilot akan diberikan MSA (minimum sector altitude (ICAO)/minimum safe altitude). MSA adalah ketinggian minimum yang harus  dicapai seorang pilot dalam menerbangkan pesawat untuk berada di posisi aman. Bentuknya berupa airport chart yang akan memberi tahu berapa ketinggian minimum yang aman dari titik pusat penerbangan. Alat lain yang dapat membantu adalah GPWS (ground proximity warning system). Alat ini akan memberi tahu pilot jika pesawat mendekati daratan. Jadi, bila pesawat meluncur turun dan tidak dalam perencanaan terbang, maka GPWS akan memberikan suara peringatan “TOO LOW TERRAIN”, atau “TOO LOW GEAR”, atau “TOO LOW FLAPS”. Selain itu, PETA TERRAIN–Terrain merupakan visualisasi daratan dalam bentuk vertikal dan horizontal dari daratan–Terrain database harus selalu di-update karena data terrain akan dimasukkan ke pesawat. Pesawat yang akan terbang melalui daerah baru dengan kondisi alam pegunungan. Hal ini mewajibkan pilot untuk meminta dan mengonfirmasi data terrain daerah tersebut. Jadi, misalkan pesawat akan melawati daerah pegunungan dan database terrain belum diperbarui, sama saja pilot berbuat ceroboh dan membahayakan seluruh penumpang pesawat. Adalah wajar, dugaan kita bisa mengarah kepada kemungkinan bahwa database terrain SSJ 100 yang jatuh di Gunung Salak, belum diperbarui.

Agenda Setting dari Media Massa

Sebelum gencar pemberitaan tentang jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet di Gunung Salak, media massa gencar memberitakan tentang kasus-kasus korupsi. Mulai dari kasus cek pelawat Bang Indonesia Miranda Gultom, kasus korupsi para kader-kader Demokrat, dan kasus korupsi yang lainnya. Selain itu, juga ada pemberitaan tentang pernyataan kontroversial dari ketua DPR RI Marzuki Alie. Namun, setelah terjadi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 pada Hari Rabu, 9 Mei 2012, pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi dan pernyataan Marzuki Alie mulai teralihkan. Terdapat kecenderungan perilaku media, yang oleh Yvonne Jewekes, dalam Media and Crime: A Critical Introduction, Key Approaches to Criminology (2004) disebut sebagai political diversion.

Agenda setting sendiri berawal dari adanya asumsi dari media massa yang menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan diterbitkan atau disiarkan. Setiap kejadian atau isu, diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian. Panjang penyajian termasuk dalam ruang dalam surat kabar (media cetak) atau waktu pada televisi dan radio (media siar). Selain itu, juga ada pengaturan terkait dengan bagian mana yang harus ditonjolkan, termasuk di dalamnya ialah pengaturan judul, tata letak artikel dan gambar, pada media yang akan diterbitkan dan disiarkan, posisi dalam penerbitan, posisi dalam jam tayang.

Perlu diingat bahwa redaksi wepreventcrime, tidak ingin menaikkan rating terkait dengan jatuhnya SSJ 100 di Gunung Salak. Kami hanya ingin menyampaikan kejelasan dan kajian kami secara kriminologis.

Dengan adanya tragedi jatuhnya pesawat SSJ 100, media massa akhir-akhir ini lebih sering memberitakan dan menonjolkan pemberitaan tentang jatuhnya SSJ 100. Porsi pemberitaan yang besar pada jatuhnya pesawat SSJ 100 di Gunung Salak juga dapat terlihat dari pemberitaan media massa sekarang, khususnya media massa televisi. Peristiwa ini seolah menjadi ‘pesta’ durian runtuh bagi para pelaku media untuk menaikkan jumlah pembaca atau penontonnya. Dalam kajian news-making criminology, hal ini memang menjadi kecenderungan dari satu media, bahwa media memiliki kepentingan dalam mengonstruksi agenda pemberitaannya atas dasar alasan berbagai hal: konglomerasi media, politisasi berita, oplah dan rating serta masalah terkait kepemilikan media.

Harapan kita, ialah penyebab pasti dari jatuhnya pesawat Sukhoi dapat ditemukan. Memang membutuhkan waktu yang lama, sekitar lebih dari 3 bulan untuk dapat mengungkap isi yang ada di dalam blackbox. Bagaimana pun juga, jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak merupakan pukulan berat terhadap transportasi udara di Indonesia. Pemerintah harus lebih memperhatikan lagi masalah transportasi dan harus segera dibenahi.

Sumber Referensi:

Jewkes, Yvonne. 2004. Media and Crime: A Critical Introduction, Key Approaches to Criminology. London: Sage Publications

Majalah Detik, edisi 24, www.tempo.com

_____________________________________________________________

Tim Kajian:

Ilustrasi


10 thoughts on “Ketika Kecelakaan Jadi ‘Pesta’

  1. mungkin ini sok tau, tapi, adakah kemungkinan kalau memang masyarakat sekarang memang lebih menyukai sebuah berita dramatis seperti sukhoi? singkatnya setting media massa sebenarnya bisa jadi hanya memanfaatkan ‘selera’ masyarakat sekarang, dalam rangka mengeruk untung, yang mungkin bagi masyarakat sekarang, bad news memang berita yang mereka tunggu2. pertanyaannya sekarang bagaimana peran kriminolog untuk memberi solusi untuk masalah setting media ini, mengingat tujuan ekonomis diatas, dimana media juga jelas berisi para pekerja yang membutuhkan uang (tanpa menghilangkan rasa hormat pada pekerja media), melalui berita yang mereka liput,

    terima kasih😉

    1. salah seorang teman gue di Forum Lenteng pernah mengikuti seminar tentang agenda setting oleh media. Dia menceritakan bahwa dalam seminar itu terbahas secara detil tentang bagaimana para pelaku media bekerja serta dampak yang dihasilkannya. Salah satu hal yang menarik, dikatakan bahwa tidak benar jika ada anggapan bahwa media hanya mengikuti kehendak atau selera dari masyarakat pembaca atau penonton yang sudah terbiasa dengan sajian konstruktif. Sebagai kalangan intelektual yang sadar, kita harus memiliki stand point bahwa memang media lah pelaku utama dalam membentuk selera masyarakat. Akibat ulah media yang mengandalkan rating dan oplah (yang sesungguhnya bukan hasil representasi suara dari masyarakat yang riil), mereka secara terus-menerus menyajikan berita atau tontonan yang itu ke itu saja. Akibatnya, masyarakat tidak memiliki alternatif bacaan dan tontonan. Dengan kata lain, selera masyarakat telah dipaksa oleh pelaku media demi kepentingan mereka.
      Kita lihat contohnya dalam keseharian, persentase tontonan sinetron terlalu berlebihan, sementara tontonan edukatif sangat sedikit sekali. Apakah ini karena media mengikuti selera masyarakat? Gue rasa nggak sama sekali. Media justru memaksa sajiannya. Al-hasil, penonton tidak memiliki pilihan lain (dipindah-pindah pun channel TV, tetap akan menemukan sinetron, terutama pada jam-jam primetime). Karena tidak ada tontonan lain, tidak ada pekerjaan lain di waktu santai, mau tidak mau masyarakat kita mengonsumsi sajian tersebut. Hal ini berlangsung lama, dan wajar ketika konsep ‘sinetron’ melekat pada kepala penonton.
      Apakah mungkin jika disajikan tontonan alternatif lain, dan apakah masyarakat akan suka? Pertanyaan itu sempat muncul dalam diskusi antara gue dan teman-teman di Forum Lenteng. Namun, gue dan teman-teman di lembaga riset Forum Lenteng dan media jurnalisme warga akumassa telah membuktikan, bahwa tontonan alternatif ternyata bisa menarik minat dan antusiasme masyarakat. Hal itu terlihat dalam gelaran acara yang kami lakukan di beberapa tempat, yang menyajikan tontonan ‘anti-mainstream’ atau ‘anti-tv’. Sama halnya dengan tontonan, tulisan-tulisan berita dengan kemasan yang berbeda dari media mainstream pun ternyata juga dapat menarik perhatian masyarakat. Ini bukti konkret, telah dilakukan oleh Komunitas Pasir Putih di Lombok yang mencoba memproduksi informasi sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada media arus utama.
      Peran disiplin ilmu kriminologi dan para kriminolog, sangat jelas, dibutuhkan dalam hal ini. Yang menjadi fokus utama ialah bagaimana mencerdaskan masyarakat dan memberikan kesadaran media bagi masyarakat pembaca dan penonton (literasi media). Kajian ‘news-making criminology’ menjadi penting karena membuka ruang berpikir yang lebih jauh dalam melihat dan memahami proses produksi sebuah berita (baik cetak maupun siar) besertaan dengan dampaknya. Jika masyarakat telah sadar, mereka akan lebih hati-hati dalam memilah dan mengonsumsi sebuah informasi.
      Gue rasa, wepreventcrime dan HIMAKRIM memiliki peluang ini: mengurangi dan mencegah kejahatan; mengurangi dan mencegah kejahatan yang dilakukan pelaku media. Mengelola media secara mandiri menjadi semacam wacana tanding dan sebagai usaha konkret untuk mencerdaskan dan menyadarkan masyarakat kita. Media dilawan dengan media.

      Salam,
      Tooftolenk Manshur Zikri (Kriminologi, 2009)
      Koordinator Litbang wepreventcrime

      1. semoga hal ini benar adanya, after all, mencerdaskan pemikiran masyarakat pada umumnya (atau menambah cerdas, jika hasil penelitian sudah membuktikan kalau masyarakat seleranya tidak se-cheesy itu) adalah sebuah wacana yang menarik untuk diwujudkan, akan tetapi, tentu saja tak dapat dipungkiri, menyebarkan suatu wacana agar dapat ‘dinikmati’ banyak orang adalah membutuhkan banyak pengorbanan (tanpa bermaksud mendramatisasi), dan hal ini merupakan tantangan bagi baik Himakrim maupun wepreventcrime dalam mewujudkan sebuah berita yang tetap menarik dengan konten yang lebih cerdas,

        regards😉

  2. jikapun ada peran media disana dalam mengonstruksi agenda yang terlalu berlebihan bahkan bias akan konglomerasi media, politisasi berita, oplah dan rating serta masalah terkait kepemilikan media, lebih baik dilengkapi fakta dan bukti, terutama kritik untuk TV ONE dan Metro, (wajarkan yah, ini kan buletin mahasiswa?) bisa juga salah satu kontributornya menulis ttg “Media dalam Tragedi Sukhoi” menurut saya bisa lebih baik,🙂
    secara overall buletin online sama cetaknya sudah bagus, (dan nanya, dr jurusan laen boleh gabung ga yah? haha)

    1. Terimakasih sudah menanggapi, Jiwo.
      ya, ini mungkin dapat menjadi semacam kritik juga bagi para penulis, bahwa tulisan sebuah kajian akan lebih baik jika disertai data dan fakta (bukti) lapangan yang jelas. Harapannya, di lain waktu, redaksi wepreventcrime dapat menyajikan tulisan yang lebih baik dan lebih mendalam lagi. Dukugan dan apresiasi serta kritik dari rekan-rekan mahasiswa sungguh sangat diterima.
      Jika Jiwo ingin turut berkontribusi, tentu saja kami terima dengan senang hati. Lu bisa memberikan komentar-komentar membangun sebanyak mungkin terhadap sajian-sajian tulisan atau karya lainnya di dalam blog ini. Bagaimana pun, kriminologi tidak dapat berdiri sendiri. Lintas disiplin antara kriminologi dengan ilmu pengetahuan lainnya justru akan membuat blog wepreventcrime dapat menjadi lebih baik lagi.

      Salam,
      Tooftolenk Manshur Zikri (Kriminologi, 2009)
      Koordinator Litbang wepreventcrime

  3. Saya sependapat dengan Gerald, bahwa selera khalayak Indonesia memang patut dipertanyakan ‘kualitas’ atau rasionalitasnya. Organisasi media memang memiliki kepentingan ekonomi-politik, oleh sebab itu, tentu mengikuti permintaan pasar. Bila pasar/khalayak menyukai berita tragedi, musibah, dgn sisi2 humanis (kesedihan korban, keluarga yg ditinggal, dll) yg dramatis, tentu organisasi media akan mengejar pemberitaan itu *hla wong laku.

    pembahasan ‘sukhoi dan media’ saya rasa memang masih kurang pada tulisan di atas, hanya sekitar 4 paragraf. Saya rasa justru menjadi poin paling menarik pada topik sukhoi ini. Walau begitu, pembahasan kriminologis-nya juga sangat menarik dan memberi in-sight yang baru *bagi saya🙂

    klo boleh berspekulasi, sangat mungkin klo ada ‘konspirasi’ antara boeing dan airbus, pd kasus sukhoi ini..kompetisi pencitraan dalam industri bernilai triliunan dollar.

    1. Saya sendiri berpendapat bahwa ketika kita bertanya tentang kualitas atau rasionalitas selera masyarakat, secara tidak langsung kita mempertanyakan sistem yang melingkungi masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, bagaimana wawasan di dalam kepala individu-individu di dalam masyarakat itu dibentuk. Tentu hal ini tidak jauh-jauh dari persoalan pendidikan dan asupan ilmu pengetahuan. Namun, jika kita bisa melihat lebih jauh lagi, pendidikan dan pengetahuan tidak hanya dari apa yang disajikan oleh lembaga formal; lingkungan di sekitar kita (iklan, berita, sajian-sajian visual di berbagai jalanan, lagu-lagu, dan sebagainya) juga merupakan ‘lembaga’ atau entitas yang memiliki kontribusi untuk mendidik. Entitas-entitas itu secara tidak langsung menjadi referensi yang seringkali dirujuk seseorang untuk mendefinisikan bagaiaman dirinya dan interaksi yang ia lakukan (pengalaman). Nah, pertanyaan selanjutnya, siapa yang memproduksi entitas-entitas itu? Pada titik ini, saya tetap bersiteguh bahwa rendahnya kualitas masyarakat dan/atau buruknya sajian dari para pelaku media, itu semua disebabkan oleh ulah dari para pelaku media yang memang hanya mengedepankan keuntungan materil ketimbang idiil. Atau, singkatnya, “kita suka karena biasa”; semakin terbiasa dgn yg kualitas rendah, selera kita jadi rendah pula. That’s it! #asyek

      Manshur Zikri, Kriminologi 2009
      Koordinator Litbang wepreventcrime

  4. Senang sekali saya melihat antusias teman2 dalam menanggapi kehadiran wepreventcrime. Terimakasih juga untuk saran dan kritiknya🙂
    Menanggapi topik bahasan dalam diskusi ini, menurut saya memang benar adanya jika media lah yang mengkonstruksi wacana di dalam masyarakat. Hal ini justru sangat bertentangan dengan karakteristik jurnalisme itu sendiri.
    Laku seorang jurnalis saat ini sangatlah menyimpang dari jalurnya. Seperti yang disampaikan oleh Kovach dan Rosenstiel, seorang jurnalis harus loyal kepada citizens. Kondisi sesungguhnya saat ini adalah media bukan menjadi pelaku media, tetapi justru menjadi pelaku bisnis. Sesungguhnya bisnis media tersebut menjadi berbeda karakternya dengan bisnis yang lain. dalam bisnis media ini terdapat tiga aktor yang berperan, citizens, pembaca/penonton/pendengar dan pihak yang memasang iklan. Media harus menjaga fairness diantara ketiga hal ini bukan hanya keseimbangannya. Nah, laku jurnalis di Indonesia, menurut saya, masih bias. Mereka masih belum bisa menempatkan diri sebagai seorang loyalis kepada citizens. Dan ujung-ujungnya, mereka malah loyal terhadap pihak pemasang iklan yang bisa juga adalah pemilik media tersebut.
    Jadi, segala macam produksi berita yang dihasilkan bisaa jadi dipengaruhi oleh pihak pengiklan/pemilik media. Hal ini menyebabkan wacana yang berkembang di masyarakat tidak sesuai dengan apa yang menjadi kepentingan mereka tetapi yang berkembang adalah kepentingan pemasang iklan atau pemilik media.
    Maaf ya kalo agak ngawur :p

    ,Riefky Bagas Prastowo
    Kriminologi 2009, Redaktur Bahasa Buletin wepreventcrime

  5. Terima kasih saya haturkan kepada pembaca kajian sukhoi. Semoga dengan adanya kajian ini dapat menambah wawasan kedua belah pihak baik penulis maupun pembaca. Memang masih terdapat bebera kekurangan di kajian ini. Semoga masukan dari Bang Jiwo dapat memberi kemajuan apada kajian-kajian kami berikutnya.
    Kami belum berani dalam mengambil contoh konkrit seperti yang Bang Jiwo katakan, maklum kami masih newbie, tetapi pada lain waktu akan kami usahakan untuk dapat memberikan bukti konkrit walaupun itu berbau controversial. Dan ini bukan maksud kami menaikan rating we prevent crime sendiri.
    Sealain itu, semoga dari kajian sukhoi yang telah kami buat dapat menjadi bahan diskusi yang cukup menarik. Bukan hanya dari tragedi jatuhnya sukhoi, tetapi juga dari teori-teori kajian yang kami gunakan.
    Atas Nama Tim Kajian Sukhoi,
    Andreas Meiki S.
    Kriminologi 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s