Sepeninggalanmu, Kak…

Ilustrasi oleh Tooftolenk Manshur ZIkri

Kala itu, sejauh yang mampu kuingat, tangan Ibu basah berlumuran darah Bapak.

Merah.

Ya, dimana-mana merah. Di batik baru ibu yang bewarna ungu pucat, di dinding kayu tipis kamar itu, di seluruh permukaan dipan kak Dewi, lalu sisanya tumpah meruap, menetes dalam gumpalan-gumpalan tak berbentuk ke atas lantai tanah rumah kami.

Kala itu, telingaku nyaris ndak mampu mendengar apapun kecuali jeritan Ibu. Jeritan itu merontokkan debu di atap rumah, berjatuhan ke dalam bola mata kak Dewi yang melotot keluar, mengotori rambut putih Bapak yang terbaring di atasnya. Kakakku itu kini sudah ndak bernyawa, dalam keadaan setengah-telanjang dengan bekas tangan bapak yang hitam-membiru di lehernya.

Kata orang, Bapakku itu gila.

Kata mereka juga, Ibuku itu perempuan ndak benar yang suka dipanggil (nah, yang ini aku ndak tau maksudnya apa).

Dan itu, keluargaku ditambah satu, seorang kakak, yang tak memakai baju hingga memamerkan anu.

Mereka juga bilang, aku ini bukan anak bapakku.

Lah, kalau dia bukan bapakku, kenapa aku memanggilnya Bapak?! Kalau dia bukan bapakku, lah terus bapakku siapa? Yang kutahu, seperti halnya teman-temanku si Ningsih atau Sari yang punya bapak dan ibu, aku pun punya bapak dan ibu. Iya, toh?

Ya, bapak yang sekarang sudah mati itu, bapak yang dihantam lesung padi Ibu.

Dan Ibuku, ya, itu, Ibu yang menjerit saat memergoki anak perempuannya menjerit. Ibu yang memergoki anak perempuannya yang ditindih bapak, dan ibu yang memukul bapak berulang kali dengan lesung padi.

“Retno, kalau mau ikut mati, matilah saja!” katanya padaku, yang terduduk kaku.

Ibu lalu pergi entah kemana dengan membawa buntalan kain besar.

Saat ibu menghilang itulah, orang-orang kampung kemudian menemukan bapak dan Kak Dewi yang mulai membiru. Mereka bertanya ini-itu, dan aku menjawab sekenaku. Lalu Ibu-ibu itu mulai melihatku dengan tatapan sendu, memelukku dengan tubuhnya yang gemuk, bukan seperti tubuh ibuku yang langsing lagi berbentuk. Namun dari tubuh mereka tercium harum masakan—mungkin gulai ayam kesukaanku—bukan seperti ibuku yang senantiasa berbau harum wewangi bedak dan gincu.

Lalu, orang-orang kampung mulai mengerjai bapak dan kak Dewi. Mereka dimandikan lebih dahulu, diberi wewangian, lalu dibungkus dengan kain putih hingga mereka jadi mirip lontong. Mereka kemudian diletakkan di depan imam shalat, lalu mereka berbondong-bondong shalat menghadap tubuh bapak dan kak Dewi.

“Bapakku dan kak Dewi hebat ya, Ningsih?!” Bisikku ke sahabatku.

“Hebat apanya, Retno? Kata Mas Tarjo, bapak dan kakakmu itu mati berdosa. Sudah pasti masuk neraka. Kata ibuku, mereka udah bikin aib di kampung kita, bikin malu,” balas Ningsih kesal.

“Lah, tapi sekarang mereka disembah begitu, tuh?” tanyaku, semakin heran.

“Duh emang susah bicara sama orang idiot!” Ningsih menggelengkan kepalanya kesal, dan berlalu dari hadapanku.

Aku kira ibuku akan muncul saat bapak dan Kak Dewi mulai ditanam di pekarangan rumah kami. Namun, ibu tak kunjung muncul. Pakaian ibu yang bagus-bagus pun sudah hilang entah kemana.

Saat itulah, orang-orang kampung mulai berbisik-bisik saat melihatku.

Kasihan, “Retno itu kan idiot, kalau dia sendirian dan ndak ada yang merawat, bisa-bisa dia ikut bapak dan kakaknya ke alam kubur sana.” Ada juga yang bilang “Lah, dia itu anak wanita ndak benar, bapaknya ndak jelas pula siapa. Pasti dia akan bawa bencana ke Kampung kita!” Namun yang membuatku sedih, ada pula yang mengatakan hal yang mirip dengan ibu, “Harusnya sekalian saja dibunuh, biar ndak merepotkan orang!”

Duh, bingung aku jadinya! Aku kan masih punya ibu? Kalau bapak dan Kak Dewi memang ndak bisa keluar lagi dari lubang itu, wong diatasnya ditimbun begitu. Tapi ibuku, kan masih ada. Dia mungkin memang sedang pergi, tapi ia akan kembali lagi, kan? Wong dia ibuku.

Iya, toh?

Kemudian, seorang wanita gemuk dengan pipi bebercak merah besar mendekatiku. Ia bilang ibuku punya hutang padanya, jadi aku harus bekerja padanya supaya hutang itu lunas. “Jadi apa, Nyai?” aku bertanya. “Lihat saja nanti, Nduk. Yang penting hutang ibumu bisa lunas,” jawabnya. Giginya besar-besar sekali saat ia tersenyum.

Jadi, akhirnya aku tinggalkan rumah kami dengan bapak dan Kak Dewi di pekarangannya. Aku dan si Nyai menaiki kereta besi yang berbunyi berisik, yang mampu berjalan sendiri tanpa ditarik kuda, melintasi perkampungan yang penuh dengan gubuk-gubuk batu tak pernah kulihat.

Kami kemudian berhenti di depan gubuk-batu muram beratap merah. Disini, bau bapak ketika menindih Kak Dewi tercium kuat sampai aku ingin muntah. Mungkin, di sini juga ada bapak-bapak lain yang menindih Kak Dewi yang lain.

“Kamar barumu, Nduk. Nyai menunjuk bilik seluas kakus dengan dipan bau. Tidur disini, Nduk. Besok kamu mandi, lalu pakai saja baju di lemari itu.” Aku bertanya padanya kenapa aku harus mandi. “Kalau kamu bau, nanti ndak ada lelaki yang mau sama kamu, Ndu,,” jawabnya kesal. Ia memandangku seakan aku bodoh sekali.

Dadaku terasa sesak. Aku bias, ndak mengerti apa yang tengah terjadi. Tapi bayang-bayang Kak Dewi menari-nari di otakku, menyesakkan. “Apa aku akan jadi seperti Kak Dewi, Nyai? tanyaku. Wanita gendut itu berbalik dari pintu, memandangku heran, lalu terkikik. “Lah, ya tentu, mau jadi apa lagi kamu selain itu? Walau idiot, tampangmu toh cukup ayu, turunan ibum,” jawabnya sambil tertawa. “Sudah, tidur sana, Nduk! Besok kamu mulai bekerja!

Aku berbaring. Dipan yang ini ndak sekeras milikku di rumah sana. Namun ndak ada wangi pandan yang diselipkan ibu di dalam bantalnya. Ndak ada siulan angin dan nyanyian jangkrik sebagai teman tidurnya. Yang ada hanya suara sayup-sayup lenguhan lelaki yang mirip bapak. Tapi, disini Kak Dewi-nya tak berteriak sakit dan memohon ampun, Kak Dewi di sini justru berteriak ah ah dan tertawa kegirangan.

Dan lagi, di sini ndak ada Kak Dewi yang berbaring diam-diam di sampingku setelah itu semua selesai, menangis diam-diam sembari mengelus pelan rambutku.

Dadaku panas terbakar, membuat mataku jadi panas-panas basah. “Sakitkah, kak?” Pernah aku bertanya saat ia tengah menangis. “Sangat,” jawabnya. “Tapi ndak apa-apa, Dek, asal bukan kamu. Asal kamu ndak disentuhnya, ndak apa-apa.” Lalu ia memelukku lama sekali, hingga air matanya membasahi rambutku.

Duh, Kak! Tak bisakah kamu keluar dari lubang itu, Kak? Aku takut, sungguh takut. Ibu meninggalkanku, malah menyuruhku ikut mati bersamamu. Dan wanita itu menyuruhku jadi kamu, Kak. Tak bisakah kamu keluar dan melindungiku lagi, Kak? Kak, bisakah aku menjaga anuku sendiri, kak? Aku terus menangis hingga ayam mengumumkan kedatangan sang mentari.

Namun, tak kunjung ada tangan yang datang dari kegelapan, tak kunjung ada yang mengelus rambutku, menidurkanku dengan suara merdu.

Ndak ada.

Padahal, aku masih punya ibu. Ya, ibu yang menyuruhku mati dan meninggalkanku setelah membunuh Bapak.

Aku berharap masih memiliki malaikatku. Satu malaikat, yang sesuci perawan saat ia masuk ke dipanku setelah malam-malam usai ia disiksa. Yang masih menggontorkan tangis dengan lantunan ayat. Ya, satu malaikat itu, yang kutahu kini tengah berbaring di taman surga, mungkin mengingatku dan melaporkan nasibku yang sama buruknya pada Gusti Allah.

Kak, mungkinkah ibu benar, Kak? Haruskah aku menyusulmu sekarang saja, Kak? Lubang itu tak begitu sempit untuk kita berdua, bukan begitu? Atau aku harus menunggu saja, Kak? Menunggu ibu yang menyuruhku mati menyusulmu?

Entahlah, Kak! Entah! Yang sekarang kuingat hanya tubuh kakumu. Tanpa baju. Hingga terlihat kemana-mana anu-mu.

_____________________

Tentang Penulis

Suci Khairunnisa Nabbila

Mahasiswi Kriminologi (2010), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia. Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Suci mengelola sebuah blog pribadi, Hallucinareal: Karena Halusinasi dan Nyata Berbatas Tiada


8 thoughts on “Sepeninggalanmu, Kak…

    1. kaga nyambung, kak. cuma ya itu (-__-) cerpen yang ini sama yang kemarin gue buatnya waktu gue magang di LBH APIK, ya cuci otak gitulah, jadi feminis berat–jadi sensi sama violence crime pada anak dan perempuan.

    1. makasi🙂 tapi berhubung gue bukan orang jawa, kemungkinan besar banyak salah. kalau ada yang harus dibenerin, kasi tau gue yaa ^^

  1. Suci, kira-kira bisa bikin cerpen sbg representasi realitas sosial terfaktual gak? Ya, misalnya kayak kasus si MAN, pelaku penusukan teman kelasnya sendiri, Syaiful Munif,?? Itu kasus faktual tentang anak di Depok.. atau yang lainnya gitu,, biar maikn #asyek

    1. gue pernahnya bikin yang terkait kasusnya Lian yang dicuci otak sama NII itu kak. ntar gue kirim kalau udah selesai diedit. thankyou ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s