Intensitas dan Konsistensi

Berpangku pada tangan sendiri dan bermenung tanpa berbuat sesuatu itu adalah aktivitas pribadi yang dungu. Toh, dunia kita bukanlah dunia si Pungguk merindukan bulan. Siapa bilang ‘ceramah’ di kelas yang membosankan tak memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari?

Masyarakat beserta dengan dinamikanya merupakan wacana yang tak akan ada habisnya untuk dibahas hingga akhir dunia. Begitu pula dengan kejahatan. Sebagaimana gagasan fungsionalis Durkheim, yang kemudian dijelaskan oleh Dellos H. Kelly dalam Deviant Behavior: A Text-Reader in the Sociology of Deviance (1993), penyimpangan dan kejahatan dari individu atau kelompok masyarakat adalah hal yang wajar, dan dengan demikian tidak akan pula bisa hilang sama sekali. Bukan berarti mengamini eksistensi atau fenomena kejahatan, wepreventcrime justru sedang berusaha melemparkan tali pengait ke sebuah pulau mimpi yang beterbangan di langit: tatanan harmonis tanpa kejahatan. Setidaknya, dengan cita-cita ideal nan utopis telah menjadi arang penyala api untuk berbuat lebih jauh: mengaktualisasikan diri dengan landasan pengetahuan kriminologi yang dimiliki.

Mahasiswa Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI), memiliki hasrat untuk menumpas kejahatan. Paling tidak, mengurangi atau mencegahnya terulang kembali. Namun, mahasiswa kriminologi bukan lah detektif handal layak Hercule Poirot atau Miss Marple ciptaan Agatha Christie, bukan pula agen khusus sebagaimana para penegak hukum beraksi di dalam televisi. Akan tetapi, mahasiswa kriminologi adalah para analis, yang mampu membaca masyarakatnya, lantas memberikan rekomendasi untuk membentuk tatanan masyarakat yang lebih baik. Mahasiswa kriminologi mencegah kejahatan dengan serangkaian penelitian (memahami fenomena secara mendalam), kajian (menelusuri akar masalah satu kejahatan), karya (gagasan-gagasan yang membangun) dan juga terbitan-terbitan jurnal ala mahasiswa (media baca untuk khalayak). Jelas, ini merupakan sebuah aksi konkret yang bukan sekedar mimpi.

Melakukan aksi ini tidak rumit. Hanya ada dua kata yang menjadi modal dan kekuatan bagi mahasiswa kriminologi dalam menjalankan aksinya: intensitas dan konsistensi. Bukankah itu yang diseru-serukan oleh rekan-rekan mahasiswa lainnya di lingkungan kampus FISIP UI? Maka tetap hidup dan bergeraklah mahasiswa kriminologi.

wepreventcrime


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s