Mencegah Korupsi, Emang Bisa?

Korupsi. Siapa yang tidak kenal kata satu ini yang mulai didengung-dengungkan oleh berbagai media massa, baik dari televisi, internet, bahkan dari obrolan mulut ke mulut. Kejahatan yang sulit terlihat ini menjadi topic terhangat dengan media mulai memberitakan angka-angka “0” (nol) yang terkadang membuat mata kita sedikit menyipit untuk menghitungnya saking banyaknya. Kejahatan kerah putih ini, yang pelakunya dilambangkan sebagai tikus berjas/ berdasi, seolah telah menjadi suatu bagian dari birokrasi kita yang carut marut, ga karuan, paska reformasi 1998.

Sudah banyak diskusi dan seminar dengan mengangkat tema ini. Baru-baru ini saja ada diskusi yang dilakukan LDF FSI FISIP UI dengan mengangkat tema vonis mati yang diberikan kepada koruptor. Jauh sebelumnya, banyak lagi yang telah berupaya mengawasi dan menuntut agar kasus-kasus korupsi besar yang mulai terombang ambing (Century, Wisma Atlet, dsb) segera diselesaikan secepatnya, bahkan hal tersebut telah menjadi PR baru bagi KPK kepemimpinan Abraham Samad di tahun ini agar bias diselesaikan secepatnya.

Akan tetapi, terlepas itu semua, pernahkah kita memikirkan solusi agar dapat mencegah korupsi ini? Mungkin kita pernah mendengar kantin kejujuran, atau mungkin di tingkat lebih jauh adanya seminar atau diskusi mengenai tema korupsi, atau bahkan banyaknya organisasi atau kelompok tertentu yang menyuarakan anti korupsi, seperti Suara Pemuda Anti Korupsi (SPEAK), dan lain sebagainya. Tapi toh, nyatanya korupsi tetap ada dan akan terus ada sepertinya.

Kalau mau dianalisis sih, pada tingkat paling dasar korupsi dapat dibagi menjadi tiga hal: by need (karena kebutuhan), by system (karena ketidaksempurnaan sistem) dan by greed (karena keserakahan). Nah, korupsi di Indonesia kalau dilihat-lihat sudah sistemik, sifatnya berjamaah, mau orang baik ataupun idealis saat masih mahasiswa bakalan ada kemungkinan bisa korupsi pula saat masuk suatu sistem birokrasi atau pemerintahan karena telah tergerus dalam system (sistem mark up suatu proyek lah, bagi hasil kinerja, jalan-jalan ga jelas, dsb). Lalu, kita mungkin bertanya-tanya lawannya korupsi apa sih? Apakah KPK? Atau kepolisian?

Ya, menurut gw sih lawan utama korupsi yang udah berbentuk sistem adalah sesuatu yang berbentuk sistem juga, yaitu sistem transparansi. Semakin bagus dan terbuka sistem transparansinya, kejahatan korupsi pun dapat diminimalisir. Tetapi sayangnya, mari kita lihat saja sistem informasi dan teknologi pemerintahan kita, contoh kecil saja, saat gw bersama kelompok gw mau meminta data ke kepolisian, maka proses birokrasinya lama dan ribet, bahkan terkadang ada data yang hilang.

Tetapi lebih jauh lagi, di salah satu mata kuliah kriminologi, yaitu strategi pencegahan kejahatan, maka khusus untuk kejahatan korupsi ini, pencegahan yang cocok adalah pencegahan kejahatan secara sosial (social crime prevention).  Pencegahan ini lebih menekankan kepada suatu masyaarakat luas dan berjangka waktu panjang. Artinya efek dari strategi ini tidak akan langsung berasa begitu saja, ada jangka waktu tertentu dan ada evaluasinya (seperti per 5 tahun ataupun 10 tahun kemudian).

Cara konkrit untuk mencegah korupsi dengan strategi pencegahan kejahatan berbasis sosial adalah dengan mengajarkan/ mensosialisasikan generasi muda (anak-anak dan remaja) tentang pengertian korupsi, bagaimana melakukannya, dan bagaimana mencegahnya. Bukankah dokter harus tahu suatu jenis penyakit tertentu baru setelahnya dapat memberikan suatu obat/resep? Begitu pula dengan kejahatan, di mana pendefinisian inilah yang penting dan cara melakukannya, sehingga ada kemungkinan di masa 5 atau bahkan 10 tahun yang akan datang korupsi menjadi suatu ilmu pengetahuan yang diketahui menyeluruh, sehingga setiap anggota masyarakat tahu bahwa ada suatu jenis kegiatan yang dapat digolongkan korupsi dan bersama-sama dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya. Tetapi, cara ini bak pedang bermata dua, yaitu mempunyai kemungkinan lain. Kemungkinan lainnya adalah kemungkinan korupsi  menjadi suatu budaya atau kebiasaan sehingga dianggap sebagai suatu hal yang wajar di masyarakat. Sebagai contoh, bukankah korupsi jalanan oleh aparat kepolisian menjadi suatu hal yang dianggap biasa di masyarakat yang melanggar tata tertib lalu lintas dan berkendara?

 Ya, gw hanya berharap korupsi kalau bisa janganlah banyak-banyak. Bukankah Tuhan mengajarkan agar janganlah berlebih-lebihan? hehe

______________________________

Tentang Penulis

Muhammad Ridha Intifadha

Panggilannya adalah rido, bukan rida. Ridha itu pemberian orang tuanya sewaktu ia lahir. Aktif di berbagai kegiatan di kampus, baik tingkat fakultas maupun UI. Suka diskusi dan membaca puisi karangan TB (krim 2010) pada saat demo. Karir politik kampusnya diawali dengan memasuki dunia pergerakan mahasiswa melalui Siaga FISIP UI 2010, Kastrat BEM FISIP UI 2011 dan saat ini sebagai staff di Salam Palestine Center (Space) LDK SALAM UI 2012. Sangat gemar membaca komik dan bermain game, khususnya DOTA.Saat ini sedang berusaha mencari suatu kebenaran dan jati diri.


2 thoughts on “Mencegah Korupsi, Emang Bisa?

  1. Wes, kakak kelas saya nih. haha
    bagus, kak, tulisannya😀

    saya cuman mau nambahin dikit,

    “…Cara konkrit untuk mencegah korupsi dengan strategi pencegahan kejahatan berbasis sosial adalah dengan mengajarkan/ mensosialisasikan generasi muda (anak-anak dan remaja) tentang pengertian korupsi, bagaimana melakukannya, dan bagaimana mencegahnya….”

    lebih konkret lagi, strategi ini bisa diterapkan salah satunya dengan cara mewajibkan mata pelajaran/kuliah “ANTI KORUPSI” untuk diajarkan di institusi2 pendidikan dari mulai SD sampai universitas. CMIIW sejauh ini matkul Anti Korupsi baru diadakan di Universitas Paramadina dan ITB, (bahkan di Paramadina menjadi matkul wajib).

    tapi ya, buat saya itu lebih tentang urusan manusia-manusia langitan. yg bisa saya pribadi lakukan utk terlibat dalam sosialisasi itu adalah berusaha memperkuat stigma masyarakat terhadap para koruptor, that koruptor adalah jahat, merugikan, dan harus diberantas sampai akar. Via tulisan, seperti apa yg dilakukan Abang yg satu ini. secara langsung atau tidak langsung bisa menjadi hukuman informal buat para pelakunya. dan, menurut saya kekuatan hukuman informal (yg dibarengi hukuman formal yang adil) bisa bikin mereka jera. semoga.

    http://edukasi.kompas.com/read/2008/05/30/12185994/Paramadina.Wajibkan.Mata.Kuliah.Antikorupsi.

    http://us.detiknews.com/read/2012/01/31/123505/1830160/10/penasihat-kpk-soal-kuliah-antikorupsi-bisa-tiru-itb-paramadina

  2. Thx atas komennya..

    sebenarnya dari yang gw pelajari, hukuman berbasis penjeraan tidaklah cukup, karena korupsi kalau sudah sistemik akan susah juga, seperti misalnya kita yang sering idealis dan independen waktu kuliah, akan tergerus pula saat berbenturan dengan sistem yang seolah-olah diwariskan oleh para pendahulu sebagai sesuatu yang dianggap sebagai biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s