Hari Ini untuk Semua Hari

So am I still waiting…..?”

Dengan berat aku buka mataku yang masih kantuk ini. Kucoba untuk duduk di tempat tidurku, namun aku tak sanggup. Kucari sumber suara yang adalah bunyi telepon genggamku jika menerima pesan baru.

Bro sorry ya, gue ga bisa dateng ke rumah lu. Ada janji darurat dengan pacar tercinta.”

Kubuka keterangan dari pesan ini.

“21 April 2012”

“08.54.”

Aku mendongak melihat jam dinding, dan waktu menunjukan pukul 13.00. Setidaknya, pantas saja jika teman-temanku menyebut aku kebo.

Ya, ini malam minggu, dan aku juga baru ingat jika temanku itu pasti ada janji dengan belahan hatinya. Sejenak, aku berpikir. Aku sudah putuskan akan kemana aku nanti, sendirian.

Waktu menunjukan pukul 18.37, dengan dandananku yang biasanya, sendal jepit, kaos oblong yang kututupi dengan jaket, celana panjang jeans yang selalu kugunakan kurang dari pinggang, jam tangan, dan helm yang sudah kukenakan. Tak lupa, dompet dan 2 benda lain yang tak akan pernah lupa, rokok dan korek. Sudah kutentukan, aku akan pergi ke salah satu restoran cepat saji, sendiri, duduk sejenak melepas semua penat dan stres yang sekarang sedang kualami.

“Mau pesan apa, Mas?” tanya seorang pramusaji perempuan kepadaku.

“Pepsi, kentang goreng yang large, sama burgernya ya, Mbak,” jawabku seraya merogoh dompet di kantong belakang celana jeansku.

“Berapa, Mbak?” tanyaku lagi, seraya menatap wajahnya, yang jika kupikir-pikir, cukup cantik juga. Kucoba lihat nametag namanya.

“ROSSA VANIA,” begituah tulisan yang tertera.

“Mas… Mas,” suara pramusaji itu menyadarkan aku dari lamunanku.

Andai ada keberanian yang lebih, pasti sudah aku ajak dia berkenalan. Walau aku hanya mengetahui namanya saja.

“Jumlahnya tiga puluh tiga ribu lima ratus rupiah, Mas.”

In,i Mbak, uangny.” Aku menyerahkan uang sebesar Rp.50.000. Aku ambil makanan yang sudah aku pesan dan langsung aku bawa keluar. Aku memilih duduk di luar, selain karena bisa menikmati udara malam, alasan lain adalah aku ingin merokok. Ku duduk, sambil memakan burger yang kupesan dan kunyalakan rokok. Aku tidak bisa manahan mulutku yang sudah asam ini. Kubaca buku yang berjudul Dosa-dosa Media Amerika, yand memang aku bawa dari rumah.

Hah! Suasana sepi memang aku butuhkan di sela-sela rutinitasku yang cukup memuakkan. Setidaknya, aku belum mencapai masa jenuh. Hanya masa di mana aku butuh refreshing sejenak.

Sembari membaca dan menatap motorku, Supra X yand memang kuparkir dekat aku duduk tadi, di sela-sela kegiatan sendiriku ini, aku melihat sesosok perempuan yang sangat cantik. Sembari membawa nampan yang berisi makanan dan minuman, yang dipesanya juga dari restoran cepat saji yang sama denganku, ia duduk tepat di meja depanku.

Beruntung sekali aku hari ini!

Sempat terlintas di benakku, wajah pramusaji yang melayani aku tadi. Setidaknya, perempuan yang berada di depanku ini jauh lebih cantik. Aku diam sejenak, kututup bukuku, dan kunyalakan batang rokokku yang ke-lima. Aku sempat mempunyai niat untuk mengajaknya berkenalan. Akan tetapi sebelum niatku terkumpul, seorang laki-laki yang cukup ganteng dibanding aku datang menghampiri perempuan itu.

“Kamu kemana aja, sih? Lama banget aku tungguin dari tadi juga. Katanya janjian tepat waktu. Ah kamu paya!”

“Masih mending aku bisa dateng. Kalo ga kamu sendirian di sini. Nunggu sebentar aja ga mau. Dasar wanita, bisanya cuma cerewet aja.”

“Kamu, kalo sama pacarnya sendiri, marah-marah doang bisanya……”

“Ya ,gimana ga marah kalo aku baru dateng aja, kamu udah cerewet. Bukannya disambut, kek?! Apa, kek?!”

Percakapan antara kedua pasang sejoli: seorang perempuan yang ingin aku ajak berkenalan dan laki-laki yang membuyarkan niatku.

Kuambil buku yang tadi aku tutup.

Parah juga kata-kata laki-laki itu. Tidak bisa menghargai makhluk Tuhan yang begitu sangat indah. Seandainya aku yang jadi pacar perempuan itu, tak akan aku sia-siakan, deh! Belum nikah aja, udah ada kekerasan di dalam hubungan. Dia sudah punya pacar, tapi tidak bisa menghargai pacarnya.

Kembali aku berpikir, aku ingat ini Hari Kartini. Seorang pahlawan bagi kaum perempuan. Bagaimana ia berjuang supaya kaumnya mendapatkan pengakuan, kesetaraan dan perhatian untuk lebih dihargai lagi.

Ingatanku kembali ke pramusaji yang cukup lama aku pandangi dan perempuan cantik yang duduk di depanku tadi.

Aku belum siap untuk punya pasangan. Bukan karena tampang atau apa yang berkaitan dengan fisik, melainkan karena aku belum bisa menghargai perempuan yang berujung aku bisa membuatnya sakit hati, seperti perlakuan laki-laki bodoh di depan ini. Sayup-sayup aku masih mendengar suara mereka yang sedang bercekcok. Sesaat kemudian, kulihat perempuan cantik itu pergi dengan kesal meninggalkan pacarnya, meninggalkan makanan yang belum sempat disentuhnya.

***

Hari Kartini dirayakan untuk mengingatkan kita terhadap perjuangannya bagi kaum perempuan. Mengingatkan kepada kaum adam juga, bahwa kewajiban kita untuk menghargai dan menghormati hak dan kewajiban seorang perempuan. Jadi, buat apa ada Hari Kartini jika memang kita selama ini sebagai kaum adam belum bisa menghargai perempuan. Bukan hanya di Hari Kartini, Hari Ibu dan hari-hari yang berhubungan saja kita menghargai perempuan. Akan tetapi di setiap hari di dalam kehidupan kita semua. Ya, Hari Kartini untuk semua hari.

Ciganjur, Jakarta Selatan, 21 April 2012, 23.30

Andreas Meiki Sulistiyanto

____________________________________________________

Tentang Penulis

Andreas Meiki Sulistiyanto

Biasa disapa Meiki atau Andre atau Item. Orang ini mudah dikenali melalui ciri-ciri fisiknya: jarang melepas kacamata warna hitam dari wajahnya serta memiliki kulit hitam walaupun dia berasal dari keturunan Suku Jawa asli. Maka dari itu ia sangat menentang politik Apartheid. Mahasiswa Kriminologi FISIP UI angkatan 2011 ini selain aktif di Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM) FISIP UI, bagian divisi Buletin WPC, dia juga aktif di kegiatan jurnalistik fakultas yang dikenal dengan FISIPERS (Pers Mahasiswa Sosial Politik Universitas Indonesia). Gemar mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals yang dianggapnya sebagai suara jiwa para rakyat kecil Indonesia. Rokok adalah bahan bakar utama disaat otaknya sudah mengalami kebuntuan. Saat ini sedang berusaha membangun sebuah blog untuk dirinya sendiri.


One thought on “Hari Ini untuk Semua Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s