Sanubari Jakarta dan Isu LGBT

Berangkat dari sisi lain Kota Jakarta, Film Sanubari Jakarta mengajak kita untuk melihat hal lain dari segi percintaan sosial di Jakarta. Gambaran segi lain percintaan sosial Jakarta ini terakumulasi dalam beberapa cerita kelas sosial yang berbeda. Cerita yang sekaligus menghadirkan kaum minoritas untuk mensejajarkan diri dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan mereka juga memiliki hak yang sama untuk hidup dan memilih. Sebuah realita yang tidak dapat dipungkiri keberadaanya.

LGBT(Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender), inilah kaum yang digambarkan oleh Film Sanubari Jakarta. Minoritas namun memiliki kekuatan yang cukup untuk diakui. Berkaca dari cerita pertama yang memberikan kita sebuah transisi pemikiran bahwa seorang gay tidaklah harus dikatuti. Cerita yang berjudul “½” ini menghantarkan kita untuk melihat kesungguhan kasih seorang gay untuk laki-laki yang dikasihi. Rela menyembunyikannya untuk satu keyakinan murni yang akan didapatkan. Kesungguhan yang digambarkan seorang gay tersebut sangatlah menyentuh. Bermula dari dia meminta teman perempuannya untuk mendekati laki-laki yang dikasihinya. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang hidup dan kebiasaanya, sehingga ia dapat menjadi seseorang yang juga mendapatkan perhatiannya. Namun kendalanya, laki-laki yang dikasihinya sama sekali tidak menggubrisnya, ia malah berbalik mengasihi teman perempuan yang ia suruh. Sampai hal seperti ini pun ia mampu untuk menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada laki-laki yang benar-benar ia kasihi.

Cerita kedua yang berjudul Malam Ini Aku Cantik. Menggabarkan dunia malam bagi kaum transgender. Seorang laki-laki yang hampir menyentuh umur paruh baya yang bekerja dengan segenap cinta untuk keluarganya khususnya buah hatinya. Dunia malam yang keras harus dihadapinya. Sebagai penjaja seks sebenarnya bukan pekerjaan yang dia mau. Namun kenyataan berkata lain. Tidak ada hal yang dapat ia kerjakan lagi. Ia terpaksa berdandan layaknya perempuan malam dengan sumpelan kaus kaki yang berguna sebagai buah dada palsu.

Cantik hanyalah topeng kerja

Di lubuk hatinya yang paling dalam, cintanya masih murni. Kasih sayangnya juga masih terjaga. Layaknya bapak kepada buah hatinya. Meskipun terkadang dia harus menelan pil pahit dari kehidupan. Cemoohan masyarakat yang sebenarnya tidak mengerti tentang hidup.

Berlanjut ke cerita tiga yang berjudul Lumba-lumba. Seorang perempuan yang bekerja sebagai guru playgroup, Adinda, yang juga penyuka lumba-lumba. Berawal dari salah satu muridnya, Alisya, yang pulang ke rumah dengan membawa gambar lumba-lumba yang ia kerjakan di saat sekolah. Kemudian mama Alisya, Anggia, memiliki keingintahuan lebih terhadap lumba-lumba saat ia ditunjukkan gambar lumba-lumba oleh Alisya. Rasa keingintahuan ini akhirnya di dapatkan dengan mencari arti lumba-lumba. Lumba-lumba, penyuka sesama jenis dan setia, itulah kesimpulannya. Anggia yang juga penasaran tentang guru anaknya mulai meluangkan waktunya untuk mengantar dan menjemput Alisya. Sampai pada akhirnya, Adinda dan Anggia berkenalan dan kemudian Anggia mengajak Adinda untuk berkunjung ke rumahnya. Anggia memiliki kepribadian ganda, sebagai seorang yang memiliki suami ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap perempuan. Begitu juga suaminya, yang juga memiliki perasaan cinta yang sama terhadap sesama jenisnya. Namun keduanya memiliki komitmen untuk setia.

Cerita ke-empat yang berjudul Terhubung. Memberikan kita pengertian tentang hak dan kewajiban sampai dengan teratur dan diatur. Tika adalah perempuan yang terjebak dalam situasi yang mengharuskan dia untuk mengikuti kewajiban. Kewajiban untuk memilih Daniel sebagai pasangan hidup yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Sebenarnya Tika adalah perempuan yang memiliki orientasi seksual penyuka sesama jenis, yang juga sudah memiliki pasangan, yaitu Ta (nama panggilan). Namun mereka harus merelakan kehilangan sebagian hidup mereka, karena Tika yang sudah dijodohkan. Namun keduanya, baik Tika maupun Ta, masih memiliki kontak batin yang tidak bisa dihilangkan oleh keduanya.

Cerita kelima yang berjudul Kentang. Cerita yang sangat memberikan makna namun dibalut dengan kelucuan dari adegan dan dialognya. Bercerita tentang sepasang laki-laki yang juga sebagai anak kuliahan. Saling berorientasi seksual penyuka sesama jenis. Ajat Sudrajat, sebagai salah satu anak kuliah yang harus berulang kali berbohong kepada orang tuanya tentang pengerjaan skripsi dan seseorang yang dia cintai, yang ternyata adalah laki-laki. Percintaan yang merelakan pengorbanan. Namun semua terbentur karena kenyataan bahwa tidak semua orang dapat menerima perbedaan yang dimiliki tiap orang.

Berlatar kehidupan buruh pabrik, cerita keenam yang berjudul Menunggu Warna. Menghantarkan sebuah momen kebahagiaan yang di dambakan tiap penyuka sesama jenis. Berawal dari laki-laki yang terpincut oleh seorang laki-laki-laki saat ia lewat di depannya. Kemudian laki-laki itu bertemu kembali di persimpangan lampu merah. Dan kemudian akhirnya ia bisa memberikan tumpangan kepada laki-laki tersebut. Awal yang indah tercipta, mereka berbagi cinta dan kasih. Hidup dengan kebahagiaan yang sangat mencukupi. Mereka pun akhirnya berkomitmen untuk keluar dari pabrik dan memilih kehidupannya mereka berdua. Namun semuanya berubah, setelah ia tersadar bahwa itu hanya angan semata. Ia masih diatas motornya dan menunggu lampu merah dan laki-laki yang dikejarnya masih berdiri di persimpangan lampu merah. Lampu yang tak kunjung berubah pun berkata lain untuk hidupnya.

Pembalut cerita ke tujuh yang mengambil tema percintaan yang rumit, dua orang perempuan yang saling mengasihi dan mencintai. Abi, perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki namun sangatlah membenci laki-laki. Pasanganya adalah Tere, perempuan yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Bagi Abi dan Tere, orang yang mencium mereka berdua selain mereka sendiri adalah bajingan. Abi yang sangat obsess dengan Tere sangatlah menyesal karena Tere tidak memilih memutuskan hubungan dengan laki-laki yang sudah dijodohkan dan berpaling kepada dia. Bagi Tere pilihan dijodohkan itu bagai menstruasi yang tidak dapat dihalangkan kehadirannya. Kemudian Abi memberikan kalung kupu-kupu kepada Tere sebagai tanda terakhir darinya. Ternyata semua berubah, saat Liona datang dan menginginkan kembali kepada Abi, mantan pacarnya dahulu. Dan menjadi kacau saat ternyata Abi juga memberikan kalung yang sama kepada Liona sebagai tanda perpisahan dahulu.

Cerita ke-delapan bercerita tentang perempuan bertekad baja yang berjudul Topeng Srikandi. Diawali dengan wayang kulit sebagai pengantar. Diangkat karena cerita ini adalah perempuan. Berjuang untuk berdiri karena perempuan. Perempuan ini bernama Srikandi. Dari kecil ia tidak mau seperti ibu, tapi ingin seperti ayah.

Kamu bisa jadi ayah untuk jadi pejuang perempuan

Kemudian ia memutuskan untuk menyamar sebagai laki-laki di kantornya. Ia sangat miris sekali melihat perempuan yang seringkali dilecehkan di kantornya. Sampai suatu ketika ia mempresentasikan tugasnya di depan bosnya yang juga laki-laki dan ia diberikan applause yang meriah atas hasil kerjanya. Namun di akhir presentasinya, ia membuka kedoknya sebagai laki-laki. Ia adalah perempuan yang diusir seperti binatang saat dikantornya dahulu. Tak dihargai. Tak didengar. Tatapan iba dan penuh nafsu. Dan sekarang Srikandi itu ada di depan mereka bukan dibelakang. Tanpa topeng. Bukan laki-laki dan tak perlu topeng. Perjuangan tak akan berakhir. Kisah ini bernama Topeng Srikandi.

Berlatar rumah, cerita ke-sembilan, Untuk A,  menghadirkan kehidupan yang sendiri dari seseorang yang dahulunya perempuan. Ia menulis kisahnya dahulu. Warna merah yang terus keluar. Baunya sangat jijik dan merusak otak namun itu adalah kodrat. Baginya cinta adalah seimbang. Pintar menuangkan. Cinta juga sepaket dengan pahit. Ia jatuh cinta dengan perempuan pertama kali saat SMP. Perempuan manis yang sekaligus merasakan pahit. Ia juga menanam apa yang harusnya ditanam. Ia menemukan teman yang senasib. Teman berbagi yang baginya adalah anugerah. Wulan, teman yang menerima apapun yang belum tentu orang lain terima. Sebuah keadaan yang dapat dihabiskannya rasa cinta. Nama laki-laki itu adalah Haris.

Di akhir film Sanubari Jakarta ini, Kotak Coklat, cerita yang digambarkan begitu dramatis dan penuh kasih sayang. Ben adalah laki-laki yang cukup tampan dan sederhana. Saat ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, kemudian datang seorang perempuan temanya Ben. Ia dikenalkan dengan Ben. Perempuan itu seorang fashion designer. Merasa cocok, mereka saling jatuh cinta. Dan akhirnya Ben memberikan cincin kepada perempuan itu. Namun pada satu satu ketika, ia melihat kotak yang pernah ia kenal di dalam kamar perempuan itu. Ben penasaran terhadap kotak itu, setelah ia tahu ternnyata ia benar-benar mengenal baik kotaknya. Kotak itu ternyata merupakan kotak yang pernah dibawa teman laki-lakinya saat kecil dahulu. Teman yang pernah ia sakiti karena pernah mengolok-oloknya dan mematahkan bonekanya dahulu. Ben tersadar, dan ia tidak apa yang harus diperbuat. Namun seketika Ben memutuskan untuk meminta maaf dan menerima kembali perempuan itu.

Saya masih jatuh cinta dengan perempuan ini. Perempuan yang pernah saya sakiti atas wujudnya

Sanubari Jakarta Dalam Kajian Kriminologi

Film ini mengingatkan kami akan kajian dalam kriminologi menyangkut masalah LGBT. Dari sini kami akan mengambil beberapa teori yang akan kami hubungkan dengan film ini. Memang pada dasarnya oleh masyarakat kaum LGBT dianggap sebagai tindakan penyimpagan. Dalam film ini, kita akan melihat bagaimana kehidupan LGBT mempunyai masalah yang sama dengan pasangan-pasangan yang normal lainya.

Teori Labelling (Gibbs dan  Erickson, 1975). Di film ini kita mengetahui bahwa masih adanya masyarakat yang beranggapan bahwa LGBT merupakan bentuk penyimpangan yang dianggap tidak boleh dilakukan. Imbasnya hampir semua masyarakat menganggap LGBT itu merupakan tindakan yang haram. Parahnya lagi kaum LGBT sekarang merasa terpinggirkan karena labelling ini.

Menurut Declaration Universal of Human Rights beranggapan bahwa semua manusia mempunyai hak dan martabat yang sama. Dengan adanya labelling dari masyarakat dan masih banyaknya diskriminasi dan tindakan kekerasan yang dialami oleh kaum LGBT, hak mereka tidak dapat terakomodasi seperti apa yang tertulis dalam deklarasi internasional tersebut. Bentuk diskriminasi ini bukan hanya dirasakan oleh kaum LGBT, dalam cerita Topeng Srikandi. Labelling yang beranggapan bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah juga terjadi. Dengan demikian perempuan selalu ditindas oleh kaum laki-laki.

Teori Anomie (Emile Durkheim). Anomie adalah kondisi yang dialami masyarakat yang terjadi kebingungan terhadap norma-norma dasar. Dalam hal ini norma hukum yang mengatur tentang LGBT tidak ada di Indonesia. Salah satunya Negara Belanda yang sudah mengatur kebebasan berekspresi bagi kaum LGBT. Karena tidak adanya norma hukum yang mengatur tentang LGBT maka para kaum LGBT sulit untuk mengetahui secara tepat apa yang diharapkan terhadap dirinya. Dalam cerita Malam Ini Aku Cantik, depresi ekonomi juga dirasakan oleh pemeran utama. Dimana ia harus bekerja menjadi seorang waria yang menjajahkan tubuhnya demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Juga terjadinya viktimisasi bekelanjutan, dimana pemeran utama yang berprofesi sebagai waria terus mengalami vikitimasasi saat dia bekerja sebagai waria. Selain itu viktimisasi berkelanjutan juga terjadi bagi kaum LGBT, yang mengalami segala bentuk tindakan diskriminasi dan tindak kekerasan.

Sekarang kita harus merubah label yang ada di masyarakat. Perempuan dan LGBT adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan yang lainnya. Menganggap mereka berbeda dengan yang lainnya adalah bentuk dari awalnya tercipta proses labelling. (Meiki/Agra/Kahfi)

 


4 thoughts on “Sanubari Jakarta dan Isu LGBT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s