Lele, Sang Scriptwriter Sanubari Jakarta

13 April 2012, merupakan hari di mana sebuah film berjudul ‘Sanubari Jakarta’ resmi dirilis di bioskop-bioskop tanah air. Film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini menceritakan tentang sisi lain kisah percintaan di kota Jakarta yang bagi sebagian besar orang dianggap tabu untuk diperbincangkan. Film ini mempresentasikan cinta yang universal dari segi yang berbeda, namun terdapat banyak tentangan dari masyarakat dan lingkungan sosial. “Sanubari Jakarta” merupakan sepuluh kumpulan cerita yang dikemas menjadi sepuluh film pendek yang berdurasi sepuluh menit dari sepuluh sutradara muda Indonesia. Dan secara khusus kami, tim We Prevent Crime dapat mewawancarai penulis skenario film ini sekaligus penulis novel sanubari jakarta yang juga merupakan mahasiswa aktif di Kriminologi UI, Laila Nur Azizah atau yang lebih akrab disapa Lele.

Foto oleh Muhammad Luthfian Pramanda
Laila ‘Lele’ Nur Azizah saat diwawancarai tim WPC

Dalam pandangan Lele, film Sanubari Jakarta ini adalah film yang menitik-beratkan tentang keberadaan dan juga kehidupan kaum LGBT (Lesbian Gay Bisexual and Transsexual) sebagai kelompok minoritas di lingkungan Jakarta. Film ini ditujukan bagi orang dewasa baik secara fisik maupun psikis. Menurut Lele, bisa dikatakan, menonton film ini bagaikan kita menyelami sebuah sungai yang gelap di Jakarta, tidak terlihat apapun di dalamnya sehingga dibutuhkan pandangan yang tajam serta kecermatan dan kehati-hatian dalam melihat kasus ini.

Lele juga menegaskan bahwa film ini bukan sebagai langkah nyata pembelaan kasus LGBT, namun lebih sebagai pemaparan pandangan tentang kaum yang tidak terlihat di Jakarta dan cinta yang bersifat universal.  “Menurut gua, film ini lebih bercerita tentang cinta, semua orang yang nonton film ini pasti setuju. Cuma cinta di film ini adalah cinta yang dirasakan oleh kaum-kaum LGBT, itu aja kok bedanya.” ujar Lele.

Proses pembuatan novel dan juga film ini tidaklah mudah. Lele sebagai script writer menerima ide atau cerpen dari para sutradara lalu dibutuhkan pengertian untuk di tulis ulang dan di representasikan menjadi film. Hasil dalam bentuk film ditulis menjadi cerpen yang akan dituangkan ke dalam novel Sanubari Jakarta. Diperlukan pemahaman mendalam dan kehati-hatian dalam menjelaskan kaum LGBT  agar tidak terjadi kebiasan, dan Lele beruntung telah mempelajari hal-hal tentang LGBT dalam kuliahnya di Kriminologi, “kalo dibawa enjoy sih nikmat aja. Yang susah itu gimana caranya gua menempatkan diri gua sebagai kaum itu untuk membuat naskah yang murni dan terkesan real!” ungkap  perempuan kelahiran Jakarta, 8 April 1991.

Saat ditanya mengenai harapan kedepan setelah diputarkannya film ini, Lele menjawab “ini sebenarnya juga film edukasi agar orang tahu bahwa disini bukan hanya masalah LGBT yang diangkat, ini masalah tentang keberadaan mereka, harusnya mereka mendapatkan tempat untuk hidup dan juga tempat mengapresiasi bentuk cinta mereka. Gue pengen masyarakat harus bersikap lebih baik dan ga against terhadap mereka.” Menurut penuturannya, film Sanubari Jakarta merupakan film indie dimana mereka tidak dibayar dan biaya pembuatan film berasal dari uang mereka sendiri. Begitupun dengan Lele, dia tidak dibayar untuk mengerjakan tugas skenario ini, namun ia menganggap ini bisa menjadi tempat belajar diluar Kriminologi.

Perempuan yang mempunyai akun twitter @lelelaila ini menuturkan “film ini bisa jadi, dan mendapat apresiasi yang luar biasa aja itu udah jadi bayaran yang sangat cukup bagi gua. Kru-kru dari film ini juga mencari dana sendiri untuk semua pendukung berlangsungnya film ini, dan gua salut banget.” Lele juga berkata bahwa Sanubari Jakarta merupakan film pertama di Indonesia yang sumber pemasukannya akan kembali ke para pembuatnya, bukan kepada investor.

“Hampir semua segmen gue suka, karena gue yang buat sepuluh-sepuluhnya setelah ngelewatin proses dan mendalami semuanya.  Sepuluh-sepuluhnya udah seperti anak gue sendiri dan semuanya punya ciri khas beda-beda. Di film Kentang gue dituntut jadi orang yang lucu, sarkas, dan gay. Di film A gue dituntut jadi orang yang paling puitis. Di film Merah Biru gue dituntut untuk berimajinasi tentang merah biru, apa adanya, bahkan saat menulis script film ini gue pake kacamata 3D hahaha. Di film Pembalut gue harus ngisi dialog mereka yang hanya diperanin oleh satu orang. Di film terakhir (Kaleng Coklat-red) gue disuruh jadi orang yang romantis banget dan menerima kenyataan yang lumayan mengejutkan bagi si tokoh utama. Di film Lumba-Lumba gue cuma mikirin gimana caranya dua pasangan lesbian ini terlihat romantis dan gombal banget. Di film Malam ini Aku Cantik gue dituntut untuk merepresentasi dan mengadaptasi cerita pendek menjadi sebuah gambar bergerak. Dan di film Menunggu Warna gue suka banget, disini gue dituntut untuk ga ngomong sama sekali tapi gue harus gambarin dua pasangan sangat ‘wow’, prosesnya seru dan ga perlu kalimat-kalimat.” Ujar Lele, ketika ditanya mengenai segmen yang paling disukai dalam film Sanubari Jakarta.

Sebagai bagian dari Kriminologi, Lele berpendapat bahwa kita sering mengatakan bahwa kaum LGBT ini merupakan kaum minoritas yang sering menjadi korban, namun sudah seharusnya pemikiran-pemikiran seperti tersebut dihilangkan. Bagaimanapun mereka ada dan sejajar seperti kita, namun itu hanya masalah kita banyak dan mereka sedikit, sehingga mereka merasa minoritas dan tersudutkan. Besar harapan Lele bagi anak Kriminologi maupun masyarakat luas untuk memahami bahwa bagaimanapun kaum LGBT itu ada di dalam sanubari kita, baik itu kaum LGBT ataupun mereka yang heteroseksual tidak perlu takut ataupun saling menakut-nakuti.  “Puas banget”, begitulah komentar Lele tentang hasil pembuatan film Sanubari Jakarta sekaligus mengakhiri wawancara kami. (Tua/Yanuar/Luthfi)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s