Terang Bukan Kenangan

Pagi hari, tanggal 20 April 2012, saya mendapatkan sebuah link dari seorang penulis bernama Ronny Agustinus. Habis Gelap Belum Terbit Terang: Suatu Sketsa atas Surat-Surat Kartini, karyanya yang pernah dimuat di edisi khusus bulanan ekonomi-politik Indikator No.03/II/Februari 2000 itu, memaparkan sebuah pembacaan tentang gagasan-gagasan dan pemikiran Kartini yang tergambarkan melalui surat-suratnya. Di penghujung tulisan, Ronny menjelaskan bahwa surat-surat Kartini itu “nyata sedang bercakap-cakap dengan kita semua: Anda, saya, siapa saja.” Sebuah curahan yang menceritakan zaman ketika “kata-kata dirampas dari mulut perempuan dan kebebasan seluruh manusia sedang dipertaruhkan”.

“Maka Kartini sebenarnya bukanlah kenangan. Ia lebih menyerupai masa depan ketimbang masa silam. Sebuah tugas, sebuah revolusi, atau barangkali, sepancar terang, yang menurutnya sendiri “tidak bisa dipercepat tapi sudah ditakdirkan.”.” (Ronny Agustinus, Februari 2000).

Seratus delapan tahun berlalu sudah, sejak kepulangan Kartini ke pangkunan Sang Khalik. Saya, sebagai anak bangsa zaman sekarang, mengetahui kisah-kisahnya hanya dari buku-buku dan cerita-cerita. Tidak pula sebagai mitos, tetapi sebagai kisah tentang seorang tokoh yang memiliki daya pikir melebihi orang-orang pada zamannya. Menjalani status sebagai mahasiswa tiga tahun belakangan ini, saya menyadari bahwa Kartini, dengan segala bentuk pemikirannya, telah menjadi salah satu tokoh favorit saya.

Sejenak, saya ingin berbagi certa. Awal perkenalan saya dengan Kartini ialah ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), di Pekanbaru, Riau. Masih teringat jelas di kepala saya figur seorang gadis manis yang terlukiskan dalam sebuah karya lukisan pahlawan-pahlawan Indonesia, yang ditempel di dinding kelas. R.A. Kartini, begitulah nama yang tertera di lukisan itu.

Di kepala seorang bocah kelas 2 SD, pahlawan Indonesia hanya lah sekedar pahlawan yang berperang. Saat itu saya berpikir bahwa ia lah perempuan pertama di Indonesia yang berjuang melawan penjajah melalui jalan pendidikan, bukan turun ke medan perang, tetapi sosok yang menyusun strategi dan menumbuhkan keberanian rakyat pribumi kala itu. “Kartini mengajarkan keterampilan bagi perempuan masa itu untuk menghasilkan karya kerajinan tangan,” jelas guru saya. Sedangkan ibu saya sendiri berkata, “Kartini itu guru. Dia berperang melalui jalur pendidikan.” Dengan kata lain, waktu itu saya hanya menduga-duga dan mengkhayalkan bagaimana Kartini berjuang melawan ketidakadilan yang menimpa rakyat Indonesia (masyarakat “Hindia”).

Sedikit lebih besar, dari bangku SD ke bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya mulai mengenal nama “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kumpulan surat-surat Kartini yang menjadi buku. Akan tetapi saya hanya sekedar tahu, dan tidak pernah membacanya. Jujur saja, bahkan hingga sekarang pun, saya belum membaca Habis Gelap Terbitlah Terang secara utuh. Paling-paling, saya tertarik pada beberapa kuotasi Kartini dalam kumpulan surat itu, yang saya dapatkan di internet. Penggalan-penggalan itu kemudian saya ‘main-mainkan’ dalam tulisan baru, puisi, atau sekedar mengutipnya untuk status di facebook atau twitter. Niatnya, ya biar terlihat keren saja!

Di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ketika saya mulai meragukan banyak hal, saya sempat pula meremehkan Kartini. “Alah, palingan dia bisa berbuat begitu karena keturunan ningrat. Kan, Belanda memperlakukan secara berbeda antara ningrat dan jelata. Kartini itu beruntung!” seperti itu lah kira-kira kalimat yang ada di kepala saya, waktu itu. Saya terus saja meragukan Kartini hingga saya baru mulai mengenakan jaket kuning.

“Kamu sudah baca bukunya, belum?” kata Otty, Bibi saya, pada suatu hari, menirukan pertanyaan Ugeng, seorang periset di Forum Lenteng. Waktu itu, Otty bercerita tentang sebuah perdebatan yang pernah terjadi antara Ugeng dan beberapa pemuda-pemudi yang meragukan Kartini. “Kalau kamu sudah baca, kamu akan mengerti bagaimana sedihnya menjadi seorang Kartini, bagaimana hebatnya seorang Kartini.” Otty menceritakan hal itu untuk mengajarkan saya bahwa kita tidak akan bisa tahu dan memahami sesuatu jikalau belum ‘bersentuhan’ dengan sesuatu itu. Membaca segala hal tentang Kartini merupakan salah satu cara untuk ‘bersentuhan’ dengan Kartini.

Tertuntut oleh kebanggaan menyandang status mahasiswa, saya lantas tertarik untuk mengulik Kartini lebih jauh. Saya mulai mencoba mencari buku Habis Gelap Terbitlah Terang, tetapi saya tidak menemukannya, hingga sekarang. Mungkin saya perlu berusaha lebih jauh lagi untuk mendapatkan buku itu di kemudian hari. Alih-alih, saya justru menemukan sebuah buku yang kemudian mengubah cara pandang saya dalam memahami Kartini. Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer. Melalui penuturan Pram lah, akhirnya, saya jatuh hati kepada perempuan yang memiliki semangat juang melawan tembok feodalisme adat istiadat yang sempit itu.

***

Berdasarkan pengalaman, saya seringkali menemui orang-orang sepantaran saya yang meremehkan Kartini, sebagaimana saya dulu. Nyatanya, banyak dari kita yang memandang sebelah mata perjuangan seorang perempuan yang sebagian besar masa kecilnya dihabiskan berada di dalam rumah menjalani proses pingit karena tradisi turun temurun yang dianut keluarganya ini.

Memang, Kartini adalah seorang tokoh ‘produk’ atau ‘orbitan’ pemikiran Barat. Berbagai sumber literatur mengatakan bahwa Kartini, secara otodidak, belajar tentang dunia melalui buku-buku yang ia dapatkan dari kiriman teman-teman penanya dari Eropa. Kartini adalah seorang perempuan pribumi yang mengidolakan Barat sebagai sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Belanda dan segala pemerintahannya merupakan sebuah harapan bagi Kartini untuk bisa mengangkat derajat masyarakat tempat ia dilahirkan. Kenyataan ini kemudian, bagi banyak orang (terutama yang saya temui), sedikit mengurangi rasa kagum terhadap Kartini.

Tidak sama sekali dengan saya. Saya mengagumi Kartini, bukan mempermasalahkan siapa dan apa idolanya; tumbuh dan kembang dari mana pemikirannya. Saya, sebagaimana yang saya percaya, mengapresiasi Kartini begitu tinggi karena kejujuran yang ia miliki, dan bagaimana ia dapat bertahan menghadapi segala rintangan yang harus ia hadapi untuk melakukan yang ia inginkan: sebuah konflik batin yang tidak gampang untuk dilakukan oleh orang lain. Terlepas apakah sumber literatur yang saya baca valid atau tidak—bahkan buku Pram pun bisa saja salah interpretasinya—cerita-cerita atau curahan hati Kartini tentang masyarakatnya dan harapan-harapannya akan sebuah masa terang bagi “Hindia” terlihat tulus dan penuh dengan semangat juang. Bayangkan, di saat rakyat tunduk dengan tradisi mengakar ribuan tahun, seorang pribadi yang sederhana justru melawannya dengan ‘berbincang’ langsung terhadap ‘akar tradisi’ itu: feodalisme adat istiadat yang begitu mengekang. Namun demikian, Kartini tidak egois, Kartini tidak obsesif, Kartini bukan pembangkang. Toh, akhirnya ia kembali kalah oleh tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakatnya tersebut. Akan tetapi, ia mampu menghasilkan sebuah pemikiran yang kemudian dapat menginspirasi orang-orang setelahnya, yang memiliki peluang untuk melawan dengan cara yang lebih garang.

Oleh karenanya, ‘terang’ yang didambakan oleh Kartini bukan lah sebuah kenangan masa lalu, melainkan sesuatu yang memang harus kita perjuangkan. ‘Terang’ itu beriak-riak di masa sekarang, dan harus kita ramu untuk menjadi terang yang sesungguhnya di masa datang. Mungkin, Kartini tidak akan pernah tahu. Akan tetapi saya berani berkata, ‘terang’ Kartini adalah sebuah masa depan yang pasti akan datang, ketika kita bisa memahami esensi dari perjuangan sang tokoh yang berhasil memperkenalkan Batik Jepara ke seluruh jagat raya ini, lantas melakukannya dalam sebuah wujud aksi yang konkret tanpa banyak kata.

Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 20 April 2012

____________________________
Tentang Penulis

Manshur Zikri

“Saya hanya menginginkan kehidupan yang dinamis dan menjauhi lingkungan yang monoton. Satu-satunya solusi adalah dengan berkegiatan. Apa saja. Kalau masih ada yang bertanya, kegiatan yang seperti apa? Ya, saya tetap menjawab ‘apa saja’, yang penting tidak berdiam diri, atau lebih tepat diistilahkan sebagai ‘beternak diri’ seperti yang dilontarkan Pram untuk menghujat pemuda masa kini. Intinya, jangan mau menjadi ‘ternak’. Melakukan kegiatan yang bermanfaat ala racikan mahasiswa itu menjadi satu keharusan. Oleh sebab itu kehadiran lembaga-lembaga mahasiswa di lingkungan kampus menjadi satu hal yang diamini. Akan tetapi, saya memiliki cara sendiri yang sedikit berbeda dari orang-orang kebanyakan. Membuat ‘kerusuhan’ ala Tooftolenk itu merupakan satu hal yang menyenangkan: tidak perlu kemeja, tidak perlu sepatu, tidak perlu IP tinggi. Toh kita punya tangan, mata dan telinga yang bisa didayagunakan tanpa harus mengoles citra atau kharisma. Kita punya suara yang bisa dilemparkan kapan saja. Bersuara dengan bijak, tentunya. Apa yang menjadi penting adalah kemauan dan intensitas. Itu saja! #asyek!” begitulah kata Tooftolenk, nama lain dari Zikri, pada suatu hari di kantin kampus, dalam sebuah perdebatan yang membosankan karena kehabisan persediaan rokok dan kopi di malam hari.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s