Yang Bersalah

“Sudahlah dek, kita gugurkan saja ya?”

Sungguh mengherankan bagaimana manusia bisa dengan sangat cepat berubah.

Lelaki yang dulu kukenal sebagai sosok yang dewasa, penyayang, dan selalu bisa diandalkan—kini tengah menggigil cemas, berkeringat deras dalam kepanikan di depan tagihan pertanggungjawaban.

Kalimat sepanjang ‘mas pasti akan menikahi kamu dek, mas nggak akan meninggalkan kamu’ yang dulu terucap, kini telah digantikan oleh pernyataan yang lebih pendek ‘kamu yakin dek, itu anak mas?’.

Sakit? Pasti. Hanya saja saat ini kepala dan tubuhku tengah dikuasai belitan permasalahan sehingga terasa terlalu kebas dan mati rasa untuk menangis dan menyalahkan.

Umurku baru 16 tahun. Dan kini tengah membawa janin berumur 10 minggu.

Seharusnya ini masa dimana aku sibuk memikirkan bagaimana masa depan, sibuk bermain dengan teman-teman—bukannya sibuk meyakinkan seorang lelaki tak bertanggungjawab bahwa janin yang kukandung ini memang berasal dari aktifitas kenikmatannya.

“Adek nggak mau membunuh anak kita, mas. Nggak mau.” Kataku—berusaha mengucapkan kata-kata yang sejujurnya ingin kudengar dari dirinya.

“Aduh kamu kok bebal sih. Kamu tuh mikir, dek, kamu baru 16 tahun. bisa-bisa mas ditangkap polisi kalau ketahuan! Belum lagi orangtuamu, bisa-bisa mas bonyok dihajar bapakmu!” mas Gunawan, seharusnya kamu itu yang mikir saat kamu memaksaku melakukan ‘itu’ dulu.

“Aku nggak mau aborsi, mas!” nadaku mulai meninggi, ketakutan.

“Sudahlah dek, nggak usah mikir yang macam-macam. Tenang saja, percaya saja sama mas, ya? Mas sudah nanya kemana-mana, ada dukun beranak yang biasa aborsi. Sudah terjamin, dipercaya!” percaya, mas? Masihkah kata percaya itu ada setelah apa yang kau lakukan dulu dan kau katakan sekarang?

“Kenapa kita tidak menikah saja mas?” ya, aku masih mencoba. “Anak ini berhak dilahirkan, mas. Bagaimanapun dia benih kita ber…”

 “DIAM!!” dia membentakku, tangannya mencengkram  lenganku dengan terlalu erat, mengguncangnya, menebarkan ancaman. “Kamu ga usah banyak bicara. Kamu ga mau kenapa-kenapa, kan? Makanya, udah! Nurut aja kamu!” di mataku, pria ini tengah menjelma menjadi sosok yang sama sekali lain dengan yang selama ini kuingat.

Aku menghela nafas, panjang. Berusaha menahan jatuhnya air mata dengan mengigiti bibir bawah. Perlahan tanganku mengelus bagian bawah perut, mencoba merasakan detak jantung yang entah sudah ada atau belum.

Duh anakku, maukah kamu mengerti kelemahan dan kebodohan ibumu ini? Maukah kamu mendengar ketidakberdayaan ibumu ini? Bukan ibu tidak mencintaimu. Ya, ibu mencintaimu. Bahkan jika kau belum berbentuk dan bisa merasa. Bagi ibu, sekalipun tak pernah terlahir—kau ini hidup…

Air mata itu bergulir menerobos pertahanan yang sejatinya sudah diusahakan dibangun.

Air mata itu bergulir pelan, terlihat, namun diabaikan.

* * *

“Cah ayu, ini letakkan di bawah lidah ya… nanti 2 butir lagi bibi bantu masukin ke ‘anu’ kamu.”

Tangan keriputnya seperti carut marut setan. Wajahnya tersenyum, ekspresi yang sungguh tak cocok dengan bau neraka yang dikeluarkannya. Iblis yang akan merebut anakku itu mengulurkan 4 butir obat kecil berbentuk segienam dan bewarna putih ke hadapanku.

“Apa ini?”

“Itu cycotec misoprostol. Tahu kan buat apa? Sudah, minum saja, dek.” Sambar Mas Gun. Sedari tadi ia hanya melihat—mengawasi mungkin, lebih tepatnya. Mencoba memastikan semuanya lancar seperti keinginannya.

Merasa mendapat dukungan, iblis itu menarik rahangku dengan kasar, menyorongkan obat-obat itu ke bawah lidah. Perlakuan kasar itu mengejutkanku. refleks, aku mendorong kasar dukun beranak itu dan meludahkan obat yang pahit itu.

PLAKK!

Seketika pandanganku bercampur antara kerlap cahaya dan permainan warna. Tamparan keras yang dilayangkan Mas Gun ke wajahku membuatku terjerembap ke atas dipan.

Dablek! Sudah dibilang, kamu itu nggak usah macam-macam, dek! Dasar perempuan, bisanya hamil terus! Dikit-dikit bunting, dikit-dikit minta nikah!”

Aku menangis. Keras. Rasa sakit di pipi hanyalah butiran kecil dibanding sesak yang menggila di dada. Tiba-tiba saja teringat di mataku sosok bapak dan ibuku. Mereka membesarkanku dengan penuh kasih bukan untuk menjadi seperti ini. Digauli, hamil, lalu dipukul ketika mencoba menyelamatkan anak sendiri.

“Dek, awas kamu. Kalau kamu berontak lagi, jangan salahkan mas kalau besok pagi kamu sudah ngapung di kali!” bisik mas Gun di telingaku.

Aku terkesiap. Tangisanku berhenti, mataku tak mampu berhenti mendelik. Mulutku ternganga, tak kuasa berbicara. Seriuskah dia, mengancam membunuhku?

“Paksa saja, Bi. Kalau ngelawan lagi, pukul saja kepalanya pake batu!”

Iblis itu maju, kembali menyorongkan obat yang telah kusemburkan tadi. Saat aku mencoba memberontak, kusadari bahwa ancaman mas Gun bukanlah sekedar kalimat. Tamparan demi tamparan kuterima hingga akhirnya aku tak memiliki tenaga tambahan untuk mencegah iblis itu membunuh anakku.

Perlahan, obat itu diletakkan di bawah lidahku, lalu ia beranjak ke bawah, dan sensasi mengerikan di bawah tubuhku memberitahu bahwa perempuan iblis itu telah menyelesaikan pekerjaannya.

Obat itu tidak menunjukkan reaksi di beberapa menit pertama. Namun kemudian, rasa sakit yang sangat mulai datang seperti tamu yang tak diundang.

Menit demi menit berlalu dan aku terus menangis kesakitan—rasanya perutku seperti digilas mobil. Namun aku tak kuasa bertindak lebih dari itu. Di tangan mas Gun kini sudah ada pipa besi, yang akan ia gunakan dengan senang hati jika aku mencoba menyelamatkan anakku.

Aaahh, di saat seperti ini, kata ‘seandainya’ menjadi sangat menyakitkan—terutama karena aku sungguh berharap konten ‘seandainya’ itu bisa terwujud.

“Ah! Sudah mulai, Mas!” bisik iblis itu kegirangan, menatap bagian bawah tubuhku.

Ketakutan, aku mencoba bangun dan melihat apa yang mereka lihat.

Jeritan tertahan meluncur dari bibirku sebelum sempat dicegah. ‘anu’ku mengeluarkan darah. Banyak darah. Yang segar dan bergumpal. Bukan seperti darah ‘datang bulan’ yang menetes pelan. Darah ini mengucur deras dan merembes kemana-mana.

“Kamu tidur saja, cah ayu!” iblis itu mendorongku ke dipan, lalu membasuhi tubuhku dengan lap basah yang panas.

“Mas!” dalam kepanikan, aku kembali mencoba. “Sudah, mas! Kita pulang saja ya, Mas? Ya? Aku takut, Mas! Nanti aku mati, mas!” jeritku pada mas Gun. Tanganku menggapai ke arahnya, mencoba memohon, mencoba meminta. Namun yang kuterima justru pandangan murka.

“Ga usah mikir macam-macam! Kamu itu nggak akan mati! Kalau kamu mati aku yang repot, tahu? Sudah tenang saja disitu!” sembur mas Gun.

Bersamaan dengan kekecewaan yang membanjir, aku merasakan kesadaranku mulai menjauh. Rasa dingin telah merambati tubuhku seperti selimut tak terlihat. Dan dengan semakin banyaknya darah yang keluar, iblis betina itu kini mulai memijit dan mengurut perutku. Setiap gerakannya menambah penderitaanku. Menghadirkan kesakitan demi kesakitan yang datang gelombang-gelombang besar dan menghanyutkan.

‘Bapak baca apa kok seru sekali?’ ibu mengedarkan piring. Aku dan adik laki-lakiku menatap rakus ke ayam goreng dan tumis sayur di meja makan—mencoba menemukan potongan ayam mana yang paling banyak dagingnya.

Bapakku menurunkan korannya. ‘Ini, ada bocah perempuan dan pacarnya yang ditangkap polisi lagi gara-gara ketahuan aborsi. Kasihan, pacarnya mengubur mayat bayinya dangkal. Mayat bayinya dicabik-cabik dan dimakan anjing’.

‘Aduh si Bapak, kok ngomong begitu waktu mau makan. Jadi nggak selera nanti, Pak!’ ibu berdigik.

Aku mengerjap. Pemandangan hangat di meja makan kembali terganti dengan wajah pucat iblis itu dan mas Gun. Keduanya terlihat cemas, memelototi tubuhku seakan-akan aku menyimpan bom waktu.

“Tolong ambilkan handuk, Mas, di lemari sana. Yang banyak ya!” iblis itu memerintah.

Segera, mas Gun datang dengan tumpukan handuk. Handuk-handuk itu kemudian dijejalkan diantara pahaku. Disorongkan dengan kuat hingga mengganjal. Sebentar saja, aku sudah kembali merasa basah.

“Mmm… Bi? Memangnya darahnya sebanyak ini, wajar tho?” suara Mas Gun kembali samar, lalu hilang.

‘Kalau kayak gitu, ceweknya juga ditahan polisi ya, Pak?’ adikku bertanya, penasaran.

‘Ya kan salah. Udah dosa, ngelanggar hukum juga. Dia kan dianggap ngebunuh walau anaknya belum lahir. Pasal berapanya KUHP gitu, Bapak juga ndak jelas. Yang pasti dihukum bertahun-tahunlah.’ Bapak menjelaskan sembari mengambil nasi.

‘Pacarnya dihukum berapa tahun, pak?’ tanyaku—nimbrung.

‘Sama-sama saja, palingan. Paling beda beberapa bulan karena dia yang menguburkan.’ Jawab Bapak sembari mengigit ayam.

‘Kasihan, sebenarnya. Aborsi itu kan sama sakitnya seperti melahirkan. Udah bikinnya belum tentu enak, aborsinya sakit, dipenjara pula. Laki-laki doang yang enak. Bikinnya enak, nggak ngerasain aborsi, dihukumnya sama! Duh, memang nggak enak tho, jadi perempuan? Makanya kamu wes, jangan macam-macam, Ndari.’ Ibu memelototiku. ‘Jangan mau ditipu lelaki!’

 “NDARI!”

Aku seperti terbangun. Bedanya, kali ini aku terbangun tanpa merasakan sakit. Tubuhku ringan seakan mampu terbang. Di depanku, mas Gun terlihat pucat dan seperti mau menangis. Tadi, dialah yang rupanya memanggil-manggil aku dengan begitu berisik.

Salahkah aku untuk sedikit berharap bahwa akhirnya—dia jadi sedikit perduli mengenai aku dan anaknya? Salahkah aku jika masih berharap akhirnya ia mau membatalkan proses aborsi ini, menikahiku, dan menjadi bapak anaknya?

“Ndari, jangan mati! Mas minta maaf sama kamu, tapi tolong jangan tinggalkan mas! Tolong, Ndari!” jerit mas Gun, hilang kendali.

Duh, mas Gun ini bicara apa sih?

Aku mengawasi iblis betina itu, yang sejak tadi sibuk mengelilingi kami. Menempelkan handuk baru dan mencampakkan handuk lama yang baru sebentar saja sudah berlumur darah, mengusap tubuhku dengan lap panas, dan menyuntikku entah dengan cairan apa.

“Maaf, Ndari… maaf…” lirih mas Gun.

Aku ini nggak butuh maafmu, mas… aku cuma ingin kamu jadi manusia yang cukup dewasa untuk mengakui bahwa kebutuhan biologismu itu berdampak sebesar ini. Aku cuma ingin kamu berhenti menyalahkanku dan mau bertanggung jawab atas tindakan yang kau ambil. Aku hanya ingin mendengarmu masih berkata ‘aku cinta kamu’ setelah aku berucap ‘aku hamil’.

Dan ternyata mas, itu semua terlalu berat untuk ditanggung seseorang yang tidak pantas disebut ‘lelaki’ sepertimu…

‘Kenapa ibu bukannya bilang ke Surya—supaya dia nggak ngehamilin anak gadis orang?’ protesku. ‘Apa karena aku perempuan makanya ibu bilang jangan mau ditipu, jangan mau hamil. Lah yang nipu dan menghamili, kenapa nggak dilarang bu?’

Suaraku menggema, lalu perlahan mulai hilang. Aku hanyut dalam buaian tenang sesuatu yang tak terlihat. Rasa kantuk yang nyaman menyerangku, mendamaikanku. Ada suara-suara familiar di sekelilingku, memanggil dan mengundang.

Aah… aku lelah, Tuhan… izinkan aku berpulang… aku lelah menjadi perempuan di tengah-tengah masyarakat yang mendiskriminasi ciptaanMu. Aku lelah menjadi korban. Aku lelah menjadi ‘yang bersalah’.

Biarkan aku pulang, Tuhan… biarkan aku menerima pengadilanMu yang adil. Biarkan aku menerima keputusanMu yang tak berpihak…

Dan akupun menutup mata, menyambut apapun itu yang akan menjemputku.

 __________________

*Cerpen ini pernah dimuat dalam http://sucinabbila.blogspot.com/ dengan judul “Pada Akhirnya”, tanggal 19 Maret 2012.

Tentang Penulis

Suci Khairunnisa Nabbila

Mahasiswi Kriminologi (2010), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia. Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Suci mengelola sebuah blog pribadi, Hallucinareal: Karena Halusinasi dan Nyata Berbatas Tiada


4 thoughts on “Yang Bersalah

  1. Wwaaaaah baguuuuus..cerpen ini hrus mnjadi kandidat juara! Hahahahahahaha
    Keep writting and blogging suci nabbila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s