Intervensi Anomie Antara Rusaknya Akomodasi dan Kondisi Teodisi

Salah satu contoh kasus kekerasan yang sempat menggemparkan ranah publik Indonesia adalah peristiwa penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Padenglang. Berkat kasus itu, masyarakat menafsirkan bahwa radikalisme dalam pencarian kesepakatan masih membudaya di Indonesia. Peristiwa ini menjadi tamparan bahwa negara kita seakan menyalahi Hak Asasi Manusia dan aturan dalam pluralitas. Penafsiran masyarakat tersebut tidak salah dan seharusnya kita tahu secara rinci akar permasalahannya agar dapat memberikan pandangan serta pendapat secara tepat.

Analisis sosiologis mengenai hubungan etnik disebut dengan accommodation. Artinya, sebuah proses individu beradaptasi pada perbedaan, ketegangan, tanpa menyelesaikan konflik dasar. Ini berarti bahwa sebagai masyarakat yang heterogen, kondisi masyarakat harus memenuhi aturan accommodation ini. Hal ini karena proses pengambilan keputusan dengan cara penyesuaian terhadap aturan universal yang telah disepakati lebih diutamakan. Bagi pihak mayoritas dan minoritas harus saling memodifikasi aktifitas mereka agar sesuai dengan kesepakatan dan keharusan dunia.

Theodicy, merupakan suatu justifikasi keadilan Tuhan, terlepas dari eksistensi kejahatan. Max Weber mengeksplorasi bagaimana kepercayaan religius dapat melegitimasi keistimewaan secara sosial. Dorongan pihak mayoritas untuk mengambil alih tatanan sosial yang ada dalam masyarakat menjadi suatu ego yang mendiskriminasi pihak minoritas. Konsep theodicy ini merupakan fenomena yang terjadi tidak hanya di Indonesia, namun di belahan dunia manapun. Konsep ini merupakan akibat adanya kekuasaan pihak dominan dalam kekuasaan status kepercayaan.

Bila keadaan accommodation sudah parah, ditambah dengan kondisi theodicy akan menimbulkan masalah yang serius. Kekacauan accommodation dan theodicy tidak akan berlaku bila tanpa intervensi situasi anomie. Dalam kondisi sosial, dapat dicirikan pada keruntuhan norma-norma yang mengatur interaksi sosial. Cara masyarakat mengatasi masalah atas ketidaktercapaian adalah dengan membatasi hasrat manusia untuk memasukkan tujuan-tujuan tertentu yang berpeluang tercapai. Ini berarti bahwa pihak yang memiliki massa banyak atau kekuatan lebih adalah yang memegang kendali atas tujuannya. Gambaran situasi anomie merupakan keruntuhan kerangka kesepakatan interaksi sosial.

Kondisi anomie menimbulkan kekerasan massa yang dianggap normal dalam kelompok tertentu. Bagi mereka, menindas pihak minoritas yang notabene berbeda tujuan dengan mayoritas merupakan suatu kondisi yang harus dilakukan. Batasan-batasan yang sudah menjadi keputusan interaksi soasial telah menghilang. Norma pun hanya sebuah peraturan tanpa dijalankan. Jadi, cara kekerasan dijadikan sebagai titik termudah dalam penyelesaian segala urusan.

Melihat dari perspektif sosiologi, intervensi anomie sangat besar pengaruhnya terhadap tumbuh kembangnya suatu masalah sosial. Untuk mengatasi kondisi yang sudah kacau dalam kekerasan massa, dibutuhkan kekuatan hukum yang mendukung keberagaman. Dengan kata lain, kesepakatan ada di antara masyarakat. Dibutuhkan juga pelayanan keamanan masyarakat demi pencegahan tindak amuk massa. Keamanan yang siap sedia pada daerah rawan konflik juga perlu diperkuat lagi.

Setelah terjadinya kekerasan massa, pastinya akan terbentuk suatu stereotip pada sebuah kelompok tertentu yang sering membuat kacau. Hal ini juga perlu pembersihan nama baik bagi kelompok tersebut. Hal ini agar prasangka umum terhadap kelompok tersebut hilang. Ini semua demi keamanan dan kenyamanan bersama. Akan lebih baik lagi jika Pemerintah aktif dalam pembinaan kelompok tertentu agar mereka memahami tentang interaksi sosial yang universal.  Bagi pihak yang bar-bar mendapatkan sanksi atas tindakannya, dan lembaga penegakan hukum harus tegas dalam menyelesaikan kasus ini. Agama hanya menjadi kambing hitam dalam kekerasan tersebut. Pada dasarnya, kekerasan berawal pada kondisi yang lebih kompleks dari itu.

___________________

Tentang Penulis

Hardiat Dani Satria

Biasa dipanggil Dani, penggemar Radiohead yang tidak hafal lagu-lagunya. Menyukai astronomi dan arkeologi serta tidak pandai aritmatika. Dani aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UI periode 2012. Di WPC, Dani menjadi kontributor tetap yang secara berkala menyumbangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s