Bullying, Budayakah?

Bullying, ya bullying memang merupakan salah satu bentuk kenakalan yang juga dianggap sebagai suatu kejahatan yang sangat memprihatinkan akhir-akhir ini. Banyak negara yang telah menanggapi fenomena ini dengan serius mengingat bullying yang terjadi semakin ekstrim. Di Indonesia sendiri bullying memang sudah dianggap sebagai suatu kegiatan yang membudaya, terlebih saat menjajaki masa Sekolah Menengah Atas.

Yanuar Permadi, mahasiswa Kriminologi FISIP UI 2011, mengaku merasa miris melihat keadaan bullying yang semakin marak di Indonesia. “Bullying itu menurut gue, nggak banget ya terutama main fisik. Menurut gue orang-orang yang melakukan bullying itu masih hidup di zaman primitif, tapi beruntung deh di sekolah gue dulu ngga ada bullying.”, ujarnya. Yanuar juga berpendapat bahwa tidak semua kegiatan yang menekan mental seorang siswa merupakan bullying, namun terkadang bullying diselipkan oleh para Senior yang merasa berkuasa untuk memuaskan keinginannya tersendiri. Sependapat dengan aliran pemikiran interaksionis yang mengatakan bahwa kejahatan merupakan definisi yang dibuat oleh penguasa untuk melindungi kepentingannya, Yanuar berkata bahwa apapun yang dilakukan anak baru akan dianggap sebagai hal yang salah oleh Senior agar mereka bisa melakukan bullying.

Selain itu, teman dari Yanuar Permadi, M. Luthfian Pramanda juga menambahkan pendapatnya mengenai bullying. “Menurut gua sih, susah ya untuk berhentiin kaya gituan, pertama dari pihak sekolah sendiri terlalu ngasih kebebasan ke senior untuk ospek murid baru, sedangkan ada beberapa senior yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Kalo gua pikir alasan utama itu tetap berkembang adalah tradisi.” ujar Luthfi yang merupakan alumni dari SMA N 1 Jakarta, yang dulu terkenal dengan bullying dan tawuran. Menurutnya SMA N 1 Jakarta memang merupakan sekolah yang banyak budaya bullying dan itu semua sulit untuk dihentikan karena sampai sekarang masih banyak senior yang menanamkan budaya balas-dendam kepada murid-murid baru.

Bulllying memang merupakan fenomena yang sulit untuk dihentikan. Akankah hal yang sudah dianggap sebagai budaya ini akan terus berlanjut terutama di kalangan pelajar? Entahlah, hanya kita yang merupakan pelajar yang tau dengan baik bagaimana menyikapi ini.

__________________________

Tentang Penulis

Tua Maratur Naibaho

Mahasiswa Kriminologi 2011, lahir di Jakarta 14 Februari 1994.. Mahasiswa yang hobi ngaskus ini sudah pernah mempunyai pengalaman jurnalis freelance di Majalah Hai, walaupun bidang yang diambil sekarang di Buletin WPC sangat berbeda dengan yang sebelumnya ia tekuni. Akan tetapi dia mau mencoba untuk belajar memperdalam mengenai jurnalistik di bidang kajian kriminologi. Selain mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM) FISIP UI, divisi Buletin WPC, dia juga aktif sebagai wirausaha di forum dunia maya, Kaskus.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s