Preman: Organized Crime versi Indonesia?

Hanya selang satu minggu ketika warga Jakarta dihebohkan oleh kasus John Kei, berita tentang bentrokan antar kelompok preman di Jakarta kembali menjadi pusat perhatian.

Kamis, 23 Februari 2012, sekitar pukul 02.30 dini hari terjadi bentrokan antar kelompok di RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat. Kejadian tersebut merupakan bentrokan yang melibatkan antar sesama Kelompok Ambon. Dua orang tewas, dan empat orang lainnya terluka dalam peristiwa tersebut. Hingga saat ini, baik kasus John Kei maupun kasus bentrokan antar Kelompok Ambon di RSPAD Gatot Subroto tersebut, masih dalam penanganan pihak kepolisian. Kemunculan kedua kasus tersebut banyak dikait-kaitkan sebagai kasus premanisme oleh kelompok-kelompok kekerasan yang memang kerap kali terjadi di Jakarta.

Menurut Cloward dan Ohlin dalam Reksodiputro (1997), Preman, secara harfiah, berarti orang bebas, merdeka. Lebih lanjut lagi, pemahaman tentang preman dapat diidentifikasi melalui sudut pandang sub-kebudayaan kriminal. Dalam sudut pandang ini, kata “preman” digunakan untuk menyebutkan mereka yang terlihat bertindak sebagai orang-orang yang mengutamakan kekerasan dan menonjolkan sifat jagoan, dan karenanya mereka sering membahayakan kelompoknya.

Mengapa muncul?

Keberadaan preman sebagai sub-kebudayaan kriminal di Indonesia seringkali disebutkan sebagai kejahatan terorganisasi (organized crime) versi Indonesia. Menurut Howard Abadinsky, kejahatan terorganisasi adalah suatu organisasi yang memiliki ciri non-ideologis, berhierarki, memiliki keanggotaan yang eksklusif, langgeng/bersifat kontinyu, menggunakan tindakan kekerasan dan penyuapan dalam melakukan aktivitas bisnis ilegalnya, memiliki pembagian kerja, bersifat monopolistik, dan memiliki aturan-aturan ketat yang mengatur anggota-anggota yang termasuk dalam suatu organisasi kejahatan. Jika dilihat dari ciri tersebut, sebenarnya preman tidak dapat seutuhnya dikategorikan sebagai kejahatan terorganisasi (organized crime). Namun, menurut pemahaman penulis, hanya sebatas semi organized crime. Hal ini disebabkan keberadaan preman sebagai suatu kelompok tidak memiliki aturan (rules) seketat kejahatan terorganisasi. Misalnya saja dalam hal keanggotaan. Keanggotaan kelompok preman yang ada di Indonesia (khususnya Jakarta) masih hanya berdasarkan latarbelakang etnik-etnik tertentu saja, seperti Ambon, Betawi, dsb. Berbeda dengan kejahatan terorganisasi yang memang sistem keanggotaannya benar-benar eksklusif, bahkan bisa hanya dalam lingkup hubungan darah (keluarga) saja. Di samping itu, keberadaannya pun tidak cukup bersifat kontinyu. Kelompok-kelompok tersebut timbul tenggelam seiring dengan munculnya kelompok-kelompok baru yang lebih kuat, baik dari segi ekonomi, sosial, dan politik. Begitu pula dalam hal bisnis ilegal yang mereka jalani. Bisnis ilegal yang dijalankan oleh kelompok preman tidak “sebersih” yang dijalani oleh organized crime.

Menurut Adrianus Meliala (1998) dalam tulisannnya mengenai pemanisme, perilaku preman muncul karena beberapa faktor, antara lain: sebagai akibat dari proses belajar masyarakat kelas bawah kota dalam beradaptasi dengan lingkungan atau struktur sosial yang dianggap kurang bersahabat, tertutup, dan elitis; sebagai akibat dari proses perubahan yang cepat dalam masyarakat kita, pembangunan hanya ditujukan untuk masyarakat kelas atas; tidak berfungsinya lembaga atau pranata dalam masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul; sebagai hasil proses belajar warga kelas bawah kota ketika harus berhadapan dengan pemegang otoritas ketertiban kota.

Faktor-faktor tersebut kemudian mewujud menjadi motif-motif yang melatarbelakangi secara nyata bisnis-bisnis ilegal yang dijalankan oleh kelompok preman tersebut. Motif-motif tersebut mayoritas berkaitan dengan uang (materi), politik (kekuasaan), dan motif sosial. Penguasaan lahan parkir, sengketa tanah, bisnis peredaran narkoba, hingga profesi debt collector pun menjadi motif ekonomi yang paling diusung oleh kelompok preman tersebut. Hal itu pula lah yang kerap menyulut bentrokan antar kelompok yang ada. Namun, menurut penulis, sebenarnya ada faktor lain yang lebih berpengaruh dalam persaingan kelompok-kelompok preman tersebut, yakni rasa chauvinisme yang lebih kuat di dalam kelompok-kelompok tersebut.

Masyarakat Indonesia yang memang plural sesungguhnya masih belum terlepas dari sifat primordial masing-masing etnis. Hal ini banyak ditunjukkan dengan banyaknya label-label khas yang mencirikan latarbelakang etnis individu-individu masyarakat Indonesia. Keberadaan seseorang dari etnis tertentu di Jakarta menjadi bagian dari keseluruhan etnis yang melatarbelakangi orang tersebut. Permasalahan apa pun yang menimpa salah seorang dari anggota mereka, akan menjadi permasalahan bersama yang juga akan dibela bersama. Permasalahan inilah yang sesungguhnya menjadi “api dalam sekam” yang hidup di dalam masyarakat saat ini.

Preman dan kekerasan

Salah satu ciri khas premanisme adalah keberadaan kekerasan di dalamnya. Kekerasan menjadi sesuatu yang biasa, bahkan diharuskan kepada anggota-anggota kelompok preman. Hal ini ditujukan untuk menunjukkan eksistensi dari kelompok preman tersebut. Artinya, ketika suatu kelompok preman ingin menjadi suatu kelompok yang diperhitungkan dan “dipandang” oleh kelompok preman lainnya, kelompok tersebut harus “berbuat sesuatu” sebagai bentuk sebuah upaya ”penaklukan”. Upaya penaklukan tersebut tentunya sangat berkaitan dengan tindakan kekerasan, baik berupa penyerangan atau pun perkelahian antar kelompok preman. Seperti bentrokan-bentrokan yang kerap terjadi di Jakarta, baik yang melibatkan kelompok-kelompok dari latarbelakang etnis yang sama maupun berbeda.

Dibenci dan Dinanti

Keberadaan preman dalam masyarakat juga banyak menuai unsur pandangan pro dan kontra. Banyak kalangan masyarakat yang menilai bahwa aktivitas preman yang syarat akan kekerasan membawa dampak negatif bagi mereka, dan mereka merasa banyak dirugikan dari hal tersebut. Namun, ada juga masyarakat yang berpendapat bahwa keberaaan preman dalam masyarakat juga memiliki manfaat, walaupun tidak terlalu signifikan.

Manfaat tersebut dapat dirasakan ketika keadaan masyarakat tengah berada dalam kondisi yang tidak seimbang dan tanpa pengamanan. Dalam hal ini, maka keberadaan preman dapat difungsikan sebagai “kepanjangan tangan” dari pihak kemanan resmi negara (kepolisian). Ketika kondisi seperti itu terjadi, maka preman memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan keadaan dan “menjaga”, dan mengembalikan keadaan masyarakat agar berada pada kondisi seperti pada umumnya, yakni kondisi dimana terdapat keteraturan yang hidup dalam masyarakat. Tidak heran jika banyak pihak yang menduga bahwa keberadaan preman-preman tersebut juga tidak lepas dari adanya hubungan kongkalikong antara pihak berwajib dan preman-preman itu sendiri. Oleh sebab itu, proses hukum yang melibatkan preman-preman tersebut kerap berjalan lamban, tidak jelas, atau bahkan tidak diproses sama sekali.

***

Bagaimanapun, keberadaan kelompok preman tersebut merupakan bagian dari masyarakat. Upaya represif berupa pemberantasan dengan segera terhadap kelompok preman tersebut juga bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak hal yang dapat menghambat, baik dari pihak yang berwajib maupun pihak-pihak lain yang terkait dengan masalah keberadaan kelompok preman ini. Oleh karena itu, keputusan sesungguhnya ada pada kesiapan dari setiap pihak untuk memilih jalan hidup mana yang lebih diinginkan, jalan hidup damai atau tetap seperti saat ini?

________________________________________

Tentang Penulis

Lilis Lisnawati

Terlahir sebagai seorang perempuan bernama asli Lilis Lisnawati selama hampir 22 tahun. Pemegang motto hidup “pemenang tak pernah menyerah, orang yang menyerah tak pernah menang” dan “Rejection is God’s way of saying ‘Wrong direction’ – Will Smith”. Saat ini, mahasiswi kriminologi FISIP UI angkatan 2008 ini kehidupannya sedang disabotase oleh skripsi. Di luar itu, kegiatan iseng-iseng yang dilakukannya adalah menjadi sahabat Pusat Kajian Perpustakaan Suwarniyati Sartomo, Departemen Kriminologi, menjadi seorang sahabat dari sahabat-sahabatnya, dan menyahabati ide-ide maupun tulisan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s