Media Misogyny: Demonizing “Violent” Girls and Women*

Meda Chesney-Lind, dalam Media Misogyny: Demonizing “Violent” Girls and Women, menyoalkan tentang bagaimana media memproduksi satu konstruksi tentang gambaran atas perempuan, baik muda maupun dewasa, yang melakukan kekerasan. Makalahnya mencoba menguji konstruksi media tersebut melalui perbandingan terhadap realitas dari keagresian perempuan, dan juga berspekulasi pada asal-usul dari daya tarik kita dalam membahas tentang ‘perempuan nakal’ (unruly women).

Sebelum membahas inti persoalannya, Meda Chesney-Lind terlebih dahulu memberikan gambaran global tentang kecenderungan-kecenderungan tercitrakannya ‘perempuan yang gahar’—itu pula yang menjadi alasan pemilihan kata demonizing ‘mengutuk’ atau ‘menyetankan’ tindakan perempuan yang melakukan kekerasan—yang identik dengan anggapan-anggapan bahwa perempuan yang ‘keras’ adalah mereka yang bergabung dengan geng, membawa senjata api, dan sering berkelahi dengan perempuan lain. Hal ini terjadi karena adanya sebuah gelombang dramatis yang muncul dari kepentingan jurnalistik dalam melihat perempuan dan memaknai perilaku kekerasan yang tidak lepas dengan maskulinitas.

Selain itu, penulis makalah ini juga melihat keterkaitan perempuan dewasa dengan kekerasan dalam perang budaya populer. Menurutnya, konstruksi tentang womanhood yang terlihat di budaya populer, terutama dalam kultur perfilman (movies), mulai mengarah pada munculnya fokus tertentu pada kekerasan oleh perempuan. Contohnya, film Basic Instinct, The Hand that Rocks the Cradle, Mortal Thoughts, Thelma and Louise dan lainnya, umumnya menyajikan representasi dari karakter perempuan yang melakukan kekerasan (membunuh).

Kerja dari peneliti media feminis menambahkan sebuah poin penting dalam memahami dan menginterpretasikan penemuan-penemuan tentang liputan media akan kejahatan perempuan. Sebelumnya, konstruksi media tentang aktivitas perempuan dipahami sebagai bagian dari pemenuhan kelembagaan gender: gender yang satu dianggap lebih istimewa dari gender yang lain. Khususnya, citra dari media tentang maskulinitas semakin menguatkan hegemonis maskulinitas tersebut yang menekankan subordinasi perempuan. Sementara pencitraan dari ‘keperempuanan’ ditampilkan dalam karakter mereka yang memiliki ketergantungan, ramah, rapuh dalam hubungan, dan kepasrahan dalam pernikahan, mengurus anak, yang dilihat sebagai sebuah jawaban bagi praktek diskriminasi terhadap perempuan. Hal ini menjadi alasan mengapa umumnya media, terutama dalam isu kejahatan, menggambarkan perempuan sebagai korban, sedangkan laki-laki sebagai pelaku.

Konsturksi media kemudian berubah terhadap perempuan, atau dengan kata lain mulai mengonstruksikan ‘feminitas’ sebagai bagian dari elemen lain dari ‘maskulintas hegemonis’. Penelitian yang dilakukan memperlihatkan bahwa konstruksi media tentang kekerasan perempuan merupakan sebuah maskulinasi perempuan, yang dipengaruhi oleh beberapa bentuk emansipasi. Umumnya, maskulinisasi perempuan ini digambarkan melekat pada mereka yang memiliki warna kulit, di mana perempuan berwarna kulit (bukan kulit putih) selalu diidentikkan dengan kejahatan dan hukuman. Perlakuan atau pecintraan dari media tentang kekerasan perempuan cenderung pada satu atau dua kasus kejahatan yang sensasional, terkadang dengan adanya laporan terperinci secara grafis dari luka-luka yang disebabkan oleh pelaku perempuan. Lebih jauh lagi, konstruksi dari media tentang kekerasan perempuan kurang seimbang dengan kekerasan laki-laki. Namun demikian, penggambaran ini kemudian, menurut Meda Chesney-Lind, menggeser wacana publik untuk kembali melihat argumentasi dangkal tentang apakah perempuan “yang sesungguhnya” mampu atau tidak melakukan kekerasan yang biasa melekat pada laki-laki.

Lantas muncul pertanyaan, yang dikedepankan kemudian, yaitu apakah pemahaman dan pencitraan maskulinasi perempuan ini adalah tujuan utama dari daya tarik pelaku media? Ada semacam kecurigaan bahwa itu bukanlah tujuan utama media itu sendiri. Karmen (1991) menjelaskan bahwa penjelasan yang paling mungkin tentang fenomena ini adalah adanya reaksi jurnalisme (backlash journalism) yang mengutuk (demonizing) feminis, mencatat efek negatif dari feminisme, dan untuk mengonstruksi perempuan pada batas ekonomi dalam masyarakat sebagai penggubah (mengarang) masalah-masalah mereka sendiri. Perdebatan sensasional pun terjadi. Agresi dan kekerasan oleh perempuan, dalam konteks sosialnya, telah lama diabaikan dan diremehkan. Kasus tentang perempuan sebagai pelaku kejahatan telah disaksikan oleh para peneliti atau pakar hanya muncul secara sporadis. Pada kenyataannya, yang sering muncul, terkait dengan kekerasan perempuan, ialah perempuan sebagai korban viktimisasi yang secara terus-menerus meningkat.

Perlakuan dan penggambaran media tentang kekerasan dan perempuan, yaitu lebih spesifik tentang ‘kekerasan yang dilakukan perempuan’, khususnya materi yang berisikan konten ideologis yang kuat, ditempatkan dalam konteks ideologi patriarkis sebagai sebuah sistem kepercayaan yang membenarkan atau melegitimasi kekuatan laki-laki di atas perempuan. Ketertarikan atau kepentingan patriarkis dilayani ketika kekerasan oleh perempuan ditolak, diminimalisasi, dianggap penyakit, atau diabaikan. Lebih jauh, kecenderungan pembatasan tentang wacana kekerasan perempuan itu, tindakan kekerasan oleh perempuan dianggap sebagai satu hal terkutuk sehingga harapannya dapat berfungsi sebagai peringatan terhadap kaum perempuan tentang resiko yang mendalam terkait dengan perempuan yang berperilaku kekerasan, yang seharusnya hanya melekat pada laki-laki.

Berdasarkan hasil penelusurannya itu, Meda Chesney-Lind menyimpulkan bahwa konstruksi media tentang kekerasan perempuan harus dihadapkan (ditantang) oleh mereka yang benar-benar tahu (yang benar-benar mengerti tentang perempuan). Sayangnya, para kriminolog yang seperti itu jarang ditampilkan oleh hasil kerja jurnalistik (wartawan mengabaikan para kriminolog feminis). Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah dialog yang tidak menyerahkan peliputan tentang kejahatan pada wartawan “cop shop”, yang merupakan pemahaman lama yang sudah tidak dapat dilihat sebagai praktek jurnalisme yang baik. Perhatian para kriminolog harus secara aktif mencari cara untuk mengarahkan para jurnalis agar tahu apa yang mereka lakukan dan untuk menjelaskan tentang kerangka kerja kriminologi dalam bahasa yang mudah dipahami oleh publik sehingga tidak memberikan sesat pikir terhadap masyarakat, khususnya tentang isu perempuan dan kekerasan. Selain itu, hal ini menjadi penting dalam kajian kriminologi, khususnya dalam wacana newsmaking criminology.

__________________________________________

Review Jurnal (Tugas Kuliah: Teori Kriminologi Post-Modernisme) oleh Manshur Zikri (Kriminologi, 2009) // Meda Chesney-Lind, “Media Misogyny: Demonizing “Violent” Girls and Women”, dalam Jeff Ferrell & Neil Websdale ( Eds). 1999. Making Trouble: Cultural Constructions of Crime, Deviance, and Control. New York: Aldine de Gruyter.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s