Insiden di Pasar Minggu

Musfihin duduk di dalam sebuah angkot sambil menyimak layar telepon genggamnya yang canggih: bisa internetan, buka facebook, twitter, miniblog, dan lain-lain. Dengan alat canggih di tangannya tersebut, dia dapat mengetahui skor pertandingan antara Brazil melawan Belanda dari status salah seorang pengguna twitter: Robinho mencetak gol, sekitar sepuluh menit setelah wasit meniup peluit di menit nol nol, 1-0 untuk Brazil. Ketika itu malam hari, sekitar pukul setengah sepuluh, di mana sudah jarang penumpang yang menaiki angkot.  Selain Musfihin, hanya ada dua orang penumpang, yaitu seorang anak muda yang mengenakan jaket hitam bertuliskan Forum Studi Islam, dan seorang tante-tante yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon genggamnya. Sementara itu, si supir angkot mengendarai mobil berwarna cokelat, bernomor 04 dan bertuliskan Depok–Pasar Minggu, yang melintasi Jalan Lenteng Agung, seraya menikmati sebatang rokok yang asapnya segera buyar diterpa angin.

Musfihin seorang remaja SMA, yang pergi sekolah ke SMA Negeri 28, Pasar Minggu. Akan tetapi, pada malam hari Jumat itu, dia menaiki angkot bukan untuk pergi sekolah, tentunya, melainkan untuk pergi ke Pasar Minggu, tempat dia biasa nongkrong. Lagipula, kalau dia tidak salah ingat, hari itu adalah hari libur semester. Mengapa saya katakan “kalau dia tidak salah ingat”? Karena baik dia maupun saya tidak mengetahui kapan anak-anak sekolah menengah mulai dan mengakhiri masa libur. Kalau saya, wajar saja tidak tahu, karena tidak memiliki ketertarikan untuk menyimak kalender serta memastikan kapan anak-anak remaja akan libur, padahal tugas saya masih banyak. Nah, kalau remaja Musfihin yang saya ceritakan ini, dia memang tidak pernah tahu. Hal itu disebabkan dia hampir tidak pernah pergi ke sekolah, atau bahkan dia juga tidak menyadari apakah namanya masih tercatat atau sudah tercoret dari daftar di SMA Negeri 28, Pasar Minggu tersebut. Dia adalah anak yang nakal, dan hobinya adalah nongkrong, nge-net, atau pacaran. Jumat siang, hari itu, dia pergi kencan dengan seorang gadis di Margo City hingga malam. Setelah kencan, dia melanjutkan aktivitas untuk nongkrong di Pasar Minggu, di mana banyak teman-temannya yang juga melakukan hal yang sama di malam hari. Oleh sebab itu, dia berada di dalam angkot berwarna cokelat itu sekarang.

Sesampainya di Pasar Minggu, seperti biasa dia langsung menuju gerombolan orang yang duduk berderet di tembok setinggi pinggang, di persimpangan tempat angkot-angkot berjejer memburu penumpang. Pukul sepuluh, angkot masih beroperasi, dan akan mulai berhenti apabila tengah malam tiba. Lewat tengah malam, peran angkot-angkot ini akan digantikan oleh angkot kalong, yang tarifnya sedikit lebih mahal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s