Lilitan Kejahatan

Jam menunjukkan pukul 23.00 waktu gedung bertingkat di antara gedung-gedung yang ternyata lebih bertingkat daripada gedung tempat saya berada. Membiarkan diri terkungkung di depan layar buram yang disekelilingi papan yang membentuk sebuah kotak persegi. Lalu, saya akan kembali meneguk secangkir kopi hitam panas, kembali membiarkan kafein menjelajahi tubuh saya yang sudah terlalu letih. Lalu, kafein pasti akan mengambil alih tubuh dan khususnya lambung saya. Tapi, saya suka ini.

Jemari saya masih menari di atas keyboard sebuah komputer tua. Aneh, di negara yang amat tergolong konsumtif dengan barang-barang mewah, tapi kantor saya ini masih memilih menggunakan komputer lama. Walaupun ini bukan kantor biasa, gedung ini adalah gedung sebuah perusahaan media cetak ternama. Sudah berdiri lama. Tapi masih menggunakan komputer lama. Terlalu aneh untuk bertahan di antara manusia-manusia yang berlomba-lomba memperbaharui apa yang mereka punya. Mungkin sebulan lagi komputer-komputer ini akan berubah menjadi notebook-notebook dengan merk paling terkenal, dan fasilitas paling canggih. Untuk hal itu saya hanya akan mengamini dalam hati. Buat kita para buruh tulis di kantor ini, yang terpenting berita kita dibaca banyak orang, yang terpenting etika jurnalistiknya kita ikuti dengan baik, dan paling penting dari yang terpenting mungkin akan tetap masalah uang. Ya, tetap yang terpenting adalah gaji mengalir, nggak peduli harus menulis di atas keyboard notebook yang halus atau harus menari di atas keyboard yang sudah dipenuhi bintik-bintik hitam.

Saya lalu kembali meneguk kopi hitam panas yang saya buat sendiri di pantry kantor. Lalu, kembali membaca deretan kata yang menghiasi layar komputer. Menelusuri perlahan kata-kata yang saya coba tulis dengan apik. Sekali lagi berita kriminal. Bertahun-tahun bergulat berasama hal ini, membuat saya terkadang jenuh. Lulus sarjana dengan jurusan yang sangat menarik, Kriminlogi. Empat tahun mempelajari kejahatan, lalu kembali bergelut dan menulis berita kriminal dalam sebuah harian di Jakarta. Membiarkan diri menari atau lebih tepatnya terkukung bersama lilitan kejahatan. Darah, police line, senjata, korban, darah lagi, pelaku, polisi, penjara, darah lagi, dan uang. Saya benci hal terakhir. Uang?. Iya, karena tanpa disadari uang adalah pemicu kejahatan, walau tak selamanya. Dan saya benci kungkungan ini. Terkadang, saya ingin kembali pada saat lulus SMU, kenapa saya tak memilih menjadi guru? Mungkin kini saya terkungkung berasama para pejuang bangsa, bersama jawaban-jawaban ujian, bukan dengan jawaban pelaku kejahatan yang kadang membuat kita mengeluskan dada.

“ Ram, gua pulang duluan! Pak Sarmin masih di bawah,” tiba-tiba seruan Dodi, rekan kerja saya, membuat saya tersontak. Saya baru menyadari bahwa dia masih di kantor, ternyata. Mungkin berita selebritis sekarang membuat dia harus terjaga hingga jam segini.

“Sebentar lagi, Dod! Tanggung!” saya menjawab sambil melambaikan tangan padanya. Lalu kembali terkungkung di antara tulisan-tulisan di depan mata saya. Kadang saya jenuh dengan kata, jenuh dengan darah, jenuh dengan yang ada. Lalu akan berpikir, untuk apa hidup bila lalu jenuh? Manusia selalu begitu bukan.

Saya menghela nafas teramat panjang. Selalu begini. Kalau kantor sepi dan sudah tidak ada manusia yang berlalu lalang, maka saya lebih banyak mengawang daripada menulis. Kafein mungkin ambil alih untuk ini.

Kata-kata di depan layar saya, kembali saya telusuri. Kali ini kasus korupsi. Lagi-lagi kejahatan para orang-orang berdasi. Dulu waktu kuliah, saya ingat bahwa semua teman tertarik sekali dengan kajian ini: “white collar crime”; kejahatan kerah putih. Meskipun siapa yang tahu bahwa satu di antara kita bisa saja berpeluang menjadi pelaku kejahtan yang satu itu. Saya benci kejahatan yang ini. Mungkin tidak hanya saya yang membencinya. Mereka lebih kejam dari apa pun. Dan terkadang hukum berpihak pada mereka. Mereka kebal hukum. Mereka orang ber-uang, yang haus uang lalu menghamburkan uang untuk membayar hukum karena kehausan mereka akan uang. Haa, lilitan uang! Lilitan kejahatan. Dulu saya pernah menghindari masuk ekonomi, ketika ditanya guru saya kenapa tidak masuk jurusan ekonomi, saya hanya menjawab,

“Saya takut korupsi, Pak!”

Guru saya itu lalu tertawa dan kembali menjawab,

Emangnya orang ekonomi doang yang bisa korupsi? Yang lain juga bisa!”

Dan guru saya itu benar. Kejahatan kerah putih seperti korupsi adalah kejahatan orang-orang yang bisa melakukannya karena pekerjaannya mendukungnya. Akan panjang awang-awang saya jika membahas bagian kejahatan yang satu ini. Tidak akan ada darah di sini, tidak akan ada police line, tidak akan ada senjata di sini, disini hanya akan ada dasi, uang, mobil, harta, kebohongan, klise, munafik, pelarian, setan, iblis, dan ini saya benci.

Dulu, dulu sekali. Saya memutar waktu kembali ke masa lalu. Saat ayah saya terkungkung dalam kejahatan. Dia tidak pernah sekali pun jahat, buat saya. Yang jahat adalah keadaan. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP. Saya ingat betul bagaimana polisi datang, kemudian menyeret ayah saya. Dia menyeret layaknya kami tak punya harga diri. Dia membawa ayah layaknya ayah saya adalah pembunuh. Dia bukan pembunuh, bukan pula pemerkosa, apalagi koruptor. Apa yang bisa dikoruptorin bagi buruh pabrik seperti dia. Dia hanya tidak sengaja menemukan dua kaleng biskuit milik pabriknya, yang dia pikir sudah tak terpakai. Kemudian pihak pabrik marah dan menuntut. Kami bisa apa, waktu itu? Saya hanya diam. Menyaksikan ayah saya dibawa polisi, diadili, diliput media, dibicarakan tetangga. Dan saya hanya diam. Saya mau apa? Berteriak pada hukum? Sudah. Tapi hukum memalingkan wajahnya dari saya. Lalu, pada siapa saya harus mengemis kedailan itu? Pada mereka yang ber-uang, pada mereka yang berkuasa? Saya benci, waktu itu

Ayah lalu kena hukuman penjara selama 2 bulan. Hanya karena tidak sengaja mengambil kaleng. Bagaimana dengan para koruptor dan cukong-cukong negara? Mereka apa kabar? Kalau pun dipenjara, penjaranya berfasilitas kelas tinggi seperti di hotel berbintang. Negeri ini tidak adil. Lalu, saya benci itu. Saya membenci hukum, saya membenci uang. Saya lalu menenggelamkan diri dalam lilitan kejahatan. Bermain bersama penjahat dan berbicara bersama para penegak.

Tapi saya masih Rama yang memilih diam. Saya memilih jadi jurnalis yang hanya diam dan berada di balik kata. Saya memilih tak ambil andil. Saya memilih hanya diam di balik kata yang teruntai sejalan fakta.

Saya kembali mengawang. Melupakan deretan kata di hadapan saya yang harus segera terselesaikan. Kasus korupsi oleh para cukong negara. Ingin berteriak rasanya. Tapi kemudian untuk apa. Saya pernah berteriak pada hukum, meminta keadilan, tapi hukum memalikkan wajahnya dari saya. Saya biasa apa. Saya bukan apa-apa, dan malas menjadi apa-apa jika akhrinya seperti mereka.

Saya mengawang lagi. Lalu kermbali ke depan layar penuh dengan kata. Kembali meneguk kopi yang sudah dingin, sedingin hawa malam kota Jakarta yang hingar bingar. Saya melongok ke cangkir kopi yang sudah kosong hanya bersisa ampas hitam. Dan mengehela nafas panjang. Kemudian membiarkan jari kermbali menari di atas keyboard. Menghentikan awangan, kembali pada kehidupan dengan realita yang ada.

Jam sudah menunjukkan pukul 24.00, hari sudah berganti. Tulisan saya hampir kelar. Tapi saya lalu kembali kalah oleh godaan kafein dan nikotin. Mengeluarkan sebungkus rokok dan membawa cangkir kopi turun ke bawah. Jam segini pos satpam masih ramai, lebih baik di sana. Ya, di sana lebih baik.

Saya kemudian turun ke bawah. Menghentikan waktu yang dari tadi kalah oleh lilitan kejahatan. Kalah oleh untaian kata yang minta ditulis. Sejenak melupakan kejahatan, sejenak bermain oleh para penonton panggung kriminalitas Indonesia

Saya meninggalkan komputer tua itu dalam keadaan stand by. Lalu turun ke bawah. Ya, mungkin turun ke bawah lebih baik. Terkadang manusia lupa kalau sedang bermain di atas, bukan? Haa, saya jenuh! Tapi, buat apa hidup bila tak ingin jenuh.

Saya kemudian tersenyum dan menghela nafas panjang.

“ Tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah ada, lalu?”

_________________________________

Tentang Penulis

Laila ‘Lele’ Nurazizah

Mahasiswi Kriminologi angkatan 2009, yang akrab disapa Lele ini sudah hobi menulis sejak lama. banyak sekali karya-karya yang telah dia hasilkan.  Pada tahun 2010 dan juga 2011, Lele aktif pada BEM FISIP UI di bidang Seni Budaya. Karya yang telah ia hasilkan adalah Memorabilia. Pada bulan April 2012, karya selanjutnya juga telah ia lahirkan yaitu kumpulan cerpen yang berjudul Sanubari Jakarta. Ia juga terlibat dalam pembuatan film, yang judulnya sama dengan karya keduanya sebagai scriptwriter.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s